Review Film

Review FIlm Laura & Marsha

April 23, 2014

Di salah satu April's Challenges saya adalah menulis review buku. Tapi,tidak ada buku baru yang bisa dibaca dan direview,jadi saya mereview film. Intinya sama, saya mereview sesuatu.
Jangan bayangkan Film The Raid 2 atau Rio 2 yang saya review. Saya hanya akan bercerita tentang film tahun lalu yang saya tonton.
Laura & Marsha. Itu film yang akan saya review hari ini. 

Laura ( Prisia Nasution ) adalah seorang single mother yang bekerja di agen wisata. Memiliki seorang anak dan ditinggalkan suaminya tanpa sebab yang jelas. Sedang Marsha (
Adinia Wirasti,) adalah sahabat Laura sejak SMA yang single dan bekerja sebagai penulis. Latar belakang Marsha kurang ditampilkan disini,penonton seakan disuruh menebak-nebak. Tidak seperti latar belakang Laura yang dijelaskan diawal.


Marsha mengajak Laura untuk trip ke Eropa, awalnya Laura menolak. Namun entah mengapa akhirnya ia mengiyakan ajakan Marsha. Laura dan Marsha adalah dua sahabat dengan karakter yang berbeda jauh. Laura sangat rapi,bergaya hidup sehat,perfeksionis, dan planner. Sedang Marsha jenis orang yang santai,impulsif,

#JustWrite

Review Film Edensor -Ekspektasi saya vs Realisasi filmnya-

Desember 27, 2013

Siang, panas , gerah dan mengantuk. Jujur saya ingin tidur, tapi tangan saya gatal untuk menuliskan apa yang saya lihat,dengar dan lakukan tadi. Jadi, tadi siang saya nonton Edensor dengan Opie dan Wara di 21 Grandmall.

Jika saya ditanya,"sebutkan 1 kata tentang film ini!" maka jawaban saya adalah,"Mengecewakan"

Maaf Om Benni, tapi film Edensor yang saya tonton jauh di luar ekspektasi saya. Saya membaca Edensor memang sudah lama sekali, SMP. Tapi yang saya ingat, ada cerita Arai dan Ikal keliling dunia, cerita sedih Arai yang terpaksa pulang ke Indonesia dan tidak melanjutkan studinya -kalau saya tidak salah- . Dan di film ini tidak ada, saya betul-betul kecewa.

Alurnya lurus,datar saja. Saya yang batu, atau bagaimana. Saya hanya sedikit tertawa, sedikit terharu, sedikit.  Tidak ada klimaks, bahkan terlihat seperti tidak ada konflik.

Ketika Pak Cik Andrea disorot kamera, sedang mengetik saya pikir ini adalah prolog sebuah cerita awal mereka berkelana. Tapi yang muncul adalah..... tara!!!  Nama-nama manusia yang menandakan film ini selesai.  Mungkin ingin membuat penonton terkejut, saya rasa ini berhasil. Saya berhasil terkejut filmnya sudah selesai dan tentu saja kecewa. Dan ternyata tidak hanya saya, di toilet, saya mendengar gadis-gadis lain membicarakan kekecewaan mereka.

Akting Lukman Sardi dan Abimana? Mereka bagus, hanya skenarionya yang mengecewakan.
Atau akan ada Edensor II?  Duh,kenapa harus ada part 1 part 2. Edensor tak setebal Harry Potter 7 jika harus dibagi dua. Tapi terserah produser dan sutradara juga.

Ada beberapa yang mengganggu mata saya, saya tahu sponsornya BTN,Kantor Pos, tapi la ya jangan disorot terus. Jadi bener-bener terlihat iklan. Habibie Ainun kenapa jadi kurang dapet suasana zaman dulunya? Karena tiba-tiba ada chocolatos dan Wardah. *Maap ya nyebutin merk.
Dan carrier serta koper yang dibawa, seperti nggak ada isinya, atau isinya terlalu sedikit ya. Kenapa 5cm dikritik para pendaki, salah satunya karena carriernya terlihat ringan sekali. 

 Saya mungkin terlalu berekspektasi tinggi-tinggi, hingga ketika melihat realita yang ada saya kecewa. Semoga Maryamah Karpov tidak difilmkan, saya mohon *)
maaf ya untuk semua kru film, next time jangan kecewakan penonton Indonesia
Sekian.


OssyFirstan
Penyuka Buku Edensor yang sedang kecewa dengan filmnya

Popular Posts

My Instagram