#JustWrite

Perihal Punggung Merana

Juli 28, 2024

Perihal Punggung Merana

Aku meyakini bahwa aku manusia karena aku punya punggung. Sebentar, tidak hanya manusia yang punya punggung. Manusia hanyalah salah satu makhluk bertulang belakang. Salah satu bukan berarti satu-satunya. Kuharap manusia tidak jumawa karena memiliki punggung. Sapi pun punya tulang belakang alias punya punggung juga. Namun, aku tidak tahu, apakah sapi mau disamakan dengan manusia atau tidak. Bisa jadi sapi merasa tidak sudi disejajarkan dengan manusia karena manusia tidak memiliki glandula mamae sebanyak mereka, dan kurang merdu saat menyenandungkan,"Mooooo!". Aku juga tidak tahu apakah sapi-sapi itu sebenarnya ikhlas jika manusia meminum susu mereka. Aku bahkan tidak pernah mendengar pendapat sapi mengenai apakah mereka setuju susu mereka diberi gula dan perasa stroberi.

Beranjak dari sapi, karena itu hanyalah contoh. Tidak seperti panggung, punggung ada di bagian belakang. Karena ada di bagian belakang, aku tak pernah memperlihatkan punggungku saat mengobrol atau membayar es krim di warung. Memunggungi lawan bicara sangatlah tidak sopan. Membayar es krim dengan posisi membelakangi kasir juga merepotkan. Bagaimana jika tanganku ikut menjadi korban karena harus berputar saat memberikan uang? Tentu tidak ada orang yang ingin menjadi korban di dunia ini. Namun, kadang-kadang ada pula yang sengaja menjadi tersangka. Tersangka berasal dari kata "sangka" dan dapat kita artikan sebagai orang yang diduga atau dicurigai. Mereka yang dicurigai belum tentu benar-benar melakukan. Jika sudah terbukti, tersangka akan menjadi terdakwa. Mereka akan mendapatkan dakwaan. Melirik kasus sakit punggung merana, ada beberapa tersangka, tetapi belum juga ditetapkan terdakwanya. Aku pun tak ingin sembarang menduga. Karena menetapkan tersangkat tak boleh coba-coba.

Sebelum kita mencari tersangka dan membuat putusan kasus punggung merana ini, aku perlu memperjelas sesuatu. Sebenarnya ini sudah jelas. Namun, perlu kujelaskan kalau-kalau ada yang lupa. Bahwa punggung  ada di bagian belakang. Kita tidak bisa melihat punggung kita sendiri. Padahal, punggung bertugas menopang tubuh. Seperti koki yang ada di dapur dan bertugas membuat makanan.

Tugas punggung amatlah berat. Hanya saja karena berada di belakang, punggung hampir tidak pernah terlihat. Punggung pun jarang diapresiasi, ia tak tahu apa itu afeksi. Jika tidak tahu apa itu afeksi, negara kita menciptakan KBBI. Pasti akan kita temukan apa itu afeksi di sana. Kembali soal punggung, dibandingkan diberi afeksi, ia lebih sering disiksa dan dipaksa bekerja. Ia dipaksa untuk terus menopang tubuh, tanpa kita tahu apakah sebenarnya punggung bersedia atau tidak. Sama halnya dengan kita dipaksa hidup, tanpa tahu apakah sebenarnya kita ingin ada atau tidak. Kadang-kadang perihal ini-apakah Tuhan pernah bertanya apa aku mau hidup- ingin aku tanyakan pada Tuhan. Namun, apakah bertanya kepada Tuhan harus menghadapi ketiadaan? Atau aku boleh bertanya kapan saja? Ah, nanti dulu urusan pertuhanan. Aku menyakini sila pertama Pancasila. Tenang saja.

Kembali soal punggung, yang jelas, tidak ada organ wicara di punggung sehingga ia tidak bisa menjerit. Padahal aku tahu, punggung ini menangis juga. Sayangnya, ketika terus-menerus dipakai duduk dan memikul beban yang berat, seperti beban negara atau beban masyarakat, punggung tak pernah buka suara. Berbeda dengan mulut yang 6 jam saja tak diisi, sudah mencari-cari makanan untuk menstimulasi. Punggung selalu diam. Namun, belakangan kusadari, punggung tidak sehening itu. Punggung hanya... sedikit pasif agresif? Si tulang belakang itu tidak berteriak-teriak seperti perut keroncongan. Punggung masih pendiam, tetapi dia melempar kode-kode yang menyakitkan. Tidakkah ini lebih menyengsarakan?

Punggung tidak memecahkan gelas biar ramai dan mengaduh sampai gaduh. Ia hanya membuat nyeri dari dalam, dan manusia yang mengaduh. “Aduh, sakit sekali,” atau,”Nyeri punggung membuatku tak bisa melakukan apa pun.”

Sejenak aku berpikir dan menemukan fakta bahwa punggung masih setia meskipun ia tahu siapa tersangka dan terdakwa yang membuatnya merana. Punggung masih berpura-pura tidak ada masalah, padahal aku yakin ia ingin berpisah dari tubuh yang menyakitinya. Siapa yang mau bertahan dengan kemelekatan yang menyakitkan seperti tulang punggung pada tubuh tidak tahu diri ini?

Aku harap punggung tidak begitu saja menerima takdirnya. Aku meyakini disakiti dan diajak kerja rodi bukan takdir.  Punggung kan bukan jantung yang ditugaskan berdegug sampai manusia berakhir. Punggung diciptakan untuk menopang tubuh, dan tidak selamanya tubuh berdiri atau duduk. Ada satu kegiatan bernama tidur, saat itulah seharusnya punggung libur. Namun, para tersangka ini seringkali meminta punggung lembur. Punggung hampir tidak pernah diberi hadiah. Orang-orang berkata, mengabdilah sepenuh hati, biar Tuhan yang mengapresiasi. Oh, mengabdi tentu sepenuh hati, tetapi bukan berarti hanya diberi setengah gaji.  Keikhlasan tidak seharusnya disalahgunakan, dan pengabdian bukan berarti diperas habis-habisan. Ah, beberapa kalimat terakhir mungkin tidak berkaitan dengan punggung secara langsung.  

Punggung selalu disandingkan dengan penderitaan. Tulang punggung keluarga,  begitu disebutnya. Jika dirimu pernah belajar Bahasa Indonesia, ada namanya kiasan, yang berarti bukan berarti makna sebenarnya. Ketika seseorang menulis, dia adalah tulang punggung keluarga, ini tidak bisa kita artikan sebagai dialah yang menjadi tulang untuk setiap orang di keluarganya. Setiap manusai memiliki tulang sendiri-sendiri. Kecuali jika kita ke Medan, ada tulang yang lain. Tulang punggung pada contoh itu bisa berarti, ia lah yang menanggung biaya hidup seluruh keluarganya. Oh, ini hanya contoh. Karena bisa jadi bagian membayar listrik bukan dirinya. Tidak semua orang ingin menjadi tulang punggung.

Punggung berbeda dengan lidah yang kerap dikaitkan dengan kenikmatan. Siapa yang mengecap kopi di pagi hari? Lidah. Siapa yang merasakan nikmatnya bumbu pecel? Tentu lidah. Namun, siapa yang merana akibat memikul semen demi memuaskan lidah dengan nasi padang? Punggung, siapa lagi. Kadang-kadang bahu, pinggang, dan pertulangan lainnya ikut menderita. Hal ini jadi membuatku bertanya, apa hidup setidak adil itu, bahkan pada tubuhmu? Ada bagian yang kerjanya menikmati jerih payah, dan ada pula bagian yang selalu bersusah payah.

Aku terdiam cukup lama hingga menyadari, punggung lebih sering merana dibandingkan lidah. Apakah ini berkaitan dengan lidah tidak bertulang? Sedangkan tulang punggung adalah tulang, dan bekerja sering disebut banting tulang. Mengapa tulang harus dibanting? Dan apakah menyiksa tulang untuk bekerja adalah hal yang penting? Lalu, untuk apa kita bekerja? Apa setiap manusia harus bekerja? Bagaimana jika kita hanya tidur-tiduran saja untuk menghormati punggung yang merana? Aku masih percaya Tuhan mengadakan aku untuk berpartisipasi mengelola bumi, bukan membanting-banting tulang dan punggung ini. Andai aku atlet beladiri, mungkin tujuan hidupku adalah membanting lawanku.

Beberapa orang pernah mengalami sakit punggung. Namun, tidak semua sakit punggung akibat kurang diapresiasi. Seperti tidak semua penyakit karena mental yang disakiti. Bisa jadi karena kerap diajak kerja rodi. Arti kerja rodi sudah mengalami pergeseran sejak zaman nenek terima raport hingga sekarang. Beberapa orang menyebut kerja rodi sebagai bekerja tanpa henti. Padahal ketika bekerja kita perlu sesekali berhenti.

Bekerja terus-menerus dan tak berhenti kabarnya bikin kita cepat mati. Apakah cepat mati adalah hal yang bagus? kurasa tiap orang memiliki pandangan berbeda. Pandanganku sendiri biarlah kusimpan di kepala untuk sementara. Sebab beberapa orang terkadang tidak menerima jika kepalamu berpikir berbeda. Padahal kita punya semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Perbedaan kan tidak selalu warna kulit. bisa jadi berbentuk perbedaan pendapat. Seperti pendapat-pendapat menyoal mengapa punggung bisa merana, siapa saja terdakwa dan yang akan menjadi tersangka. Siapa saja bisa menjadi tersangka, tinggal dari mana sudut pandangnya. Kita juga perlu melihat di manakah sakit punggung ini terjadi. Sebab beberapa tempat mungkin menjadikanmu tersangka tanpa sebab, atau membebaskanmu karena sebab tertentu.

Setelah menimbang-nimbang, aku jadi berpikir, mencari tersangka punggung  merana saat ini kuranglah tepat. Jika punggungku merana sebab kursi, bagaimana aku menuntutnya? Aku tidak tahu siapa yang membuat kursi ini. Aku juga tidak bisa menyalahkan si pembuat karena kursi ini kurang ergonomis. Pembuat kursi kan tidak tahu ukuran tubuhku saat membuatnya. Lagipula, bisa jadi ini salahku saat memilih kursi.

Aku jika tidak mau menyalahkan otakku karena lupa mengingatkan diri untuk menegakkan punggung saat bekerja. Tugas otakku sudah banyak, kurasa ia akan burn out jika kusuruh sedikit-dikit mengingatkan punggung untuk membungkuk. Namun, ini juga bukan salah punggung itu sendiri. Pasti ada sebab mengapa ia membungkuk, dan ia bisa lelah juga. Lalu dari berbagai kemungkinan-kemungkinan lain, aku memutuskan untuk berhenti mencari tersangka punggung merana ini. Mengapa aku sibuk menghabiskan waktu mencari mengapa-ini-terjadi ketimbang memutuskan bagaimana-ini-kutangani?

Terkadang, terus-menerus bertanya mengapa hanya membuat kita makin merana. Maka aku berhenti untuk meracau tanpa jeda. Malam ini aku akan yoga, juga mengoleskan Natrium Diklofenak pada punggung merana ini. Aku juga akan menambah asupan vitamin B kompleks, vitamin D, dan kalsiumku. Juga membenarkan posisi tubuhku yang kerap miring ke kanan dan kiri. Begitulah punggungku meminta. Sebab sudah kukata padanya, serukan yang lantang jika kau lelah dan merana.

Aku masih meyakini bahwa aku manusia karena aku memiliki punggung. Juga semakin yakin aku benar-benar manusia karena punggungku merana. Sebab rasa sakit manusia ada batasnya. Karena itulah punggungku berkata,”Aku merana!”.


28.7.2024

Saat Ginting baru saja menang, dan Rinov-Pitha digeprek 3-21.

 

 

 

 

 

 

 


#JustWrite

Tentang Kepalaku

Mei 21, 2024

Kadang-kadang, aku merasa kepala ini menyulitkanku. Misalnya, tiba-tiba kepalaku terasa pusing. Pernah juga aku jadi terhuyung-huyung tanpa sebab. Kepalaku juga pernah mencengkeramku ketika aku belum minum kopi. Tidak lupa, kepala adalah sumber kecemasan nomor satu yang kumiliki. Kepalaku butuh tidur, tetapi ia juga yang kerap memaksaku terjaga. Misalnya untuk menjawab pertanyaan yang aku tidak tahu jawabannya. ,"Kenapa kamu masih ada di dunia?" atau "Bagaimana melanjutkan hidup yang tidak pernah kausuka?"

Belakangan kepalaku semakin berat. Bersamaan dengan kabut kelabu yang kian hari kian pekat. Padahal ini bulan biasanya kepalaku berdebat. Namun, jika kuingat, kepalaku memang tampak terlelap di awal tahun. Padahal, awal tahun beberapa waktu ke belakang, kepalaku biasanya membuat ulah dengan adukan hormon yang membuatku kosong setiap bangun tidur. Kepalaku yang nakal ini seringkali kelabu ketika aku selesai berhibernasi. Namun, mengapa kini kepalaku harus sekarat saat tugas-tugas kian menumpuk menjadi berat? 

Ketika lahir, bagian yang paling besar adalah kepala. Ketika usia menanjak, masalah selalu datang dari kepala. Tentunya aku menyayangi kepalaku. Tanpa kepala aku kan hanya seonggok tulang dengan daging yang teramat tipis. Mungkin karena saat tidur pun kepalaku tidak tidur, ia menjadi semena-mena terhadapku.

Aku menyesali kepalaku yang harus berada di ruang kelabu sekarang. Padahal aku hendak mengerjakan hal-hal yang menyenangkan. Ada banyak hal yang kusukai yang pasti membuatku jumpalitan jika saja kepalaku sedang tidak kusut tak karuan. Bahkan hal-hal menyenangkan pun tidak diberi jalan untuk membuat hatiku riang. Dasar kepalaku!

Siang ini aku mengadukan kepalaku. Kali-kali saja sindiran ini menyadarkannya. Ia mungkin bisa membersihkan gumpalan awan-awan kelabu tak diundang itu.Aku akan kembali saat kepalaku menjadi peri baik hati lagi.

#JustWrite

Pada suatu hari...

Mei 11, 2024

 Pada suatu hari, yang aku inginkan adalah mati muda. Kukata pada Tuhan, izinkan aku berakhir sebelum dua puluh empat. Namun, Tuhan tidak mendengarkanku. Mungkin ada yang harus kulakukan, pikirku begitu. Entah apa pun, kurasa kuhanya terus-menerus dihantam kehidupan yang tidak menyenangkan. Tuhan tidaklah jahat, tidak, tidak pernah Tuhanku jahat. 

Pada suatu pagi, aku lalu berharap lagi. Tuhan, izinkan aku bergabung di klub dua puluh tujuh. Namun, doaku sepertinya terlalu jauh. Biar aku berpeluh, biar aku mengeluh, aku masih ada. Meskipun aku tiada tahu artiku ada untuk apa, aku masih ada. Meskipun aku tak berdoa berumur panjang, Tuhan memanjangkannya. Lihat, Tuhan terlalu baik padamu. Lihat, dia memberi kesempatanmu untuk menjawab pertanyaan yang sampai kini belum terjawab itu.

Pada suatu waktu, aku masihlah takut menua. Aku tetaplah manusia yang tak ingin mencapai usia terlalu tinggi. Aku manusia yang menyadari aku bukanlah apa-apa, dan Tuhan memberiku waktu untuk bersiap menghadapNya. Sebab bekalku belum cukup, sebab aku terlalu buruk, mungkin begitu. Sebab yang kutahu, menghadap Tuhan adalah kepastian yang paling pasti yang aku tahu pasti terjadi.

Pada suatu hari yang tidak pernah terjadi, aku ingin berterima kasih sebab Tuhan membuatku ada. Walau aku tidak pernah bisa menjawab mengapa aku harus ada, mengapa aku harus terus ada, dan mengapa aku harus bertahan untuk tidak meniadakan diri.

Aku ada bukan karena aku, maka tiada boleh kumeniadakan diriku. Maka pada suatu hari, aku akan menghadapnya dengan senyuman. Kalau-kalau saat bertemu denganNya lah aku tahu mengapa aku ada dan harus ada di dunia, sesuatu yang kurasa... tidak pernah kuminta.

#JustWrite

Mungkin aku harus menulis di blog lagi

Juni 13, 2023

 Sudah lama aku tak membuka blog, dan aku berpikir bukankah menyenangkan jika aku kembali dan kembali perlahan-lahan menulis fiksi lagi? Belakangan aku menyadari bahwa salah satu hal yang membuatku dulu bisa konsisten menulis adalah karena hampir setiap hari aku menulis di blog. Tulisan-tulisan yang muram, sangat muram, dan sebagian sudah ku unpublished karena terlalu muram dan depresif. 

Entah, ada apa dengan tampilan blog sampai aku merasa sangat bebas menulis di sini, lebih terbuka, bahkan merasa sangat nyaman ketimbang menulis di Word atau Google doc, misalnya. Mengenai menulis tangan tak usah dibahas karena tulisanku jelek, menuju kehancuran, dan aku benci menulis tangan.

Belakangan aku berpikir, mungkin saja jika aku ingin kembali menulis fiksi, aku harus kembali menulis di blog seperti dahulu. Mungkin, ini ide yang menarik untuk melatih habit menulisku lagi. 


#JustWrite

Kelinci di Lubang Sampah

Februari 02, 2021

Jikalau dongeng selalu dimulai dengan kata-kata seperti 'pada suatu hari' maka anggap saja tiga kata itulah yang memulai cerita ini. Pada suatu hari seekor kelinci kecil berbulu kelabu melompat-lompat di sebuah taman. Matanya menjelajah rerumputan, melihat bunga warna-warni yang basah oleh tetesan embun.  Musim panas telah tiba, ia bermain di taman dengan riang gembira.

Semuanya terasa menyenangkan, sampai ia melihat lubang berdiameter sekitar 37 cm di pinggir taman, di bawah pohon mangga yang sedang berbunga. Separuh bagian lubang itu tertutup oleh besi tua berbentuk lingkaran yang penuh karat. Besi itu seharusnya menutup lubang rapat-rapat. Namun, siapa yang tahu kalau ada tangan usil yang menggeser besi karat itu untuk membuang "sesuatu". Kotak sampah mungkin terlalu jauh hingga lubang pun menjadi solusi. Manusia menciptakan kotak sampah, tetapi mereka pula yang malas menggunakannya. Ya, begitulah manusia, makhluk paling merasa benar sedunia.

sumber gambar

Kembali lagi soal kelinci itu, ia adalah seekor kelinci yang iseng. Kadang-kadang ia tidak berpikir panjang, mungkin karena telinganya tidak begitu panjang. Kadang-kadang ia memanjat pohon lalu menangis hingga pemadam kebakaran datang menolongnya. Aku basah kuyup karena melompat-lompat di bawah air mancur yang berada di tengah taman. Hari itu ia pun tidak menggunakan gumpalan jeli di kepalanya untuk berpikir. Sepertinya, setan impulsif sedang bersamanya tatkala ia masuk ke lubang itu. Lubang yang dalam dan gelap. Lubang yang menjadi penyesalan terbesar dalam sejarah 24 bulan hidupnya di dunia.

Lubang itu gelap, becek, sempit, dan seperti tak berujung. Kelinci itu tidak berani melompat setinggi biasanya. Ia mendadak menjadi siput, berjalan pelan, mengendap, dan memastikan tak ada apa pun yang melukai dirinya.

 Sampah memenuhi kanan dan kiri jalanan di dasar lubang. Bungkusan-bungkusan bergambar kacang, tumpukan baju, hingga tak lagi bergambar terlihat bergerak ke kiri dan kanan di dasar lubang. 

Mereka tampak hidup! 

Sayangnya, setiap badan kelinci itu terkena bungkusan yang melambai-lambai tertiup entah angin dari mana, badannya tergores. Kadang hanya goresan tidak berarti, tetapi sesekali darah mengalir dari tubuh si kelinci. Bulu kelabunya sudah tak lagi mengembang, perlahan ia menjadi kelinci menyedihkan.

Lubang itu tidak menyediakan makanan yang layak tentu saja. Apa yang bisa kau harapkan dari lubang sampah? Kelinci pun kadang menyesali, mengapa sudah tahu lubang sampah masih ia masuki? Mengapa ia terlalu iseng kala itu? Juga kenyataan bahwa mengapa yang ditanyakan tak akan mengubah kenyataan. Jikalau penasaran apa yang dimakan Si Kelinci, kadang-kadang ia menemukan apel nyaris busuk, sepotong wortel, atau sayuran layu. Mungkin, dari pembuangan sampah atau... entahlah. Kelinci tidak dapat berpikir apa-apa selain bagaimana cara keluar dari lubang keparat itu. Sekeras apa pun ia berteriak, pertolongan tak kunjung datang. Sekuat apapun ia mengeluh, se

Kian hari lubang itu semakin gelap. Semakin kelinci itu bergerak maju, semakin banyak keanehan menyengsarakan yang ia temui. Ada raja semut yang menggigit apa pun hingga tubuhnya tambun. Ada ratu semut yang mungkin saja terus berceloteh sambil mengeluarkan api yang membakar apa saja. Termasuk mengenai bulu kelinci itu. Kadangkala ada katak bertanduk hingga kecoa-kecoa yang tak pernah berhenti mempertontonkan aksi terbang berbagai gaya

Kelinci itu terus berjalan dan tidak kunjung menemukan pintu keluar. Badannya sudah kian kurus sebab tak terurus, bulunya rontok, matanya sendu, telinganya tak lagi tegak. Jauh di dalam hati Si Kelinci, sekalipun ia tak ingin berumur panjang, ia tak mau mati di dalam lubang keparat nan mengerikan. 

Hari ini Si Kelinci Abu tidak lagi berjalan. Ia  meringkuk di dekat tumpukan kulit pisang. Ia tak tahu apakah binatang juga boleh bertuhan. Atau Tuhan sudah tak anggap ia binatang, tetapi bagian dari sampah yang hidup di lubang pembuangan. Tanpa tahu apa salahnya, mungkin Tuhan sedang menghukumnya. Jika Tuhan suka menguji manusia dengan kesenangan dan kesedihan, Si Kelinci tidak mengerti mengapa ia tak pernah merasakan apa itu kesenangan sejak masuk ke dalam lubang. Mungkin Tuhan tidak ada bagi kelinci, hingga lupa memberikan kesenangan meski berada di kegelapan. Mungkin Tuhan juga lupa ada kelinci, sebab sampah-sampah ini menutupi. Namun, Si Kelinci masih yakin Tuhan baik hati termasuk pada kelinci. 

Kelinci itu terus berdoa, jika usaha tidak lagi bekerja, mungkin satu-satunya yang ia masih bisa lakukan hanyalah berdoa.

"Kalau aku tidak bisa keluar dari lubang ini segera, biarlah aku mati muda. Lubang ini begitu menyiksa. Bukankah Tuhan Yang Mulia tidak akan pernah kejam pada hamba-Nya?"


2.2.2021

#FotoBercerita

Racauan Nikola tentang Mikola

Januari 15, 2021

 Sepertinya, sebelum kembali menulis  novel bernapas panjang, aku butuh pemanasan dengan rutin menulis Gambar Bercerita. Gambar Bercerita adalah kumilih gambar secara random, lalu kumenulis apa yang ada di kepalaku.

Selamat membaca ^^


sumber gambar


Nikola Tesla. Begitu lelaki kurus berambut berantakan itu memberiku nama. Berjuta kali ia menceritakan bahwa nama itu adalah nama fisikawan favoritnya. Tentu saja aku tidak tahu dengan jelas apa itu fisikawan. Setiap aku memandang lurus ke matanya untuk meminta penjelasan apa itu fisikawan, Miko --- nama lelaki itu--- malah beranjak ke rak kayu dan mengeluarkan bungkus snack kesukaanku. Aku tidak mengerti, apakah Miko sebenarnya tidak mengerti pertanyaanku. Atau... fisikawan sebenarnya berarti pemangsa kucing, dan ia menyembunyikan fakta itu dengan menutup mulutku dengan makanan. Aku harus mengakui bahwa makanan adalah penutup mulut paling ampuh, setidaknya bagiku.

Aku merasa nama ini terlalu panjang dan terdengar keren untuk seekor kucing domestik. Pasalnya, tetangga kamar kost Miko yang berambut seperti sarang burung, memelihara seekor kucing persia yang aduhai bulunya. Matanya pun bulat besar dengan hidup pesek sempurna. Si Persia ini dipanggil Dugong oleh pemiliknya. Jika saja kau tidak melihat betapa seksi liukan buntutnya, kau mungkin akan berpikir Dugong adalah kucing gempal yang bulat sempurna dan siap dijadikan bola. Dugong diadopsi beberapa minggu setelah aku tinggal di kamar kost Mikola yang begitu rapi. Mikola tidak pernah membiarkan spreinya berantakan, dan ia akan menumpuk buku berdasarkan warna. 

Omong-omong, izinkan aku bercerita bagaimana Mikola mengadopsiku. Ini bukan cerita yang tragis kalau-kalau tanganmu siap mengambil tisu. Aku adalah kucing tanpa nama yang lahir dari seekor betina di gedung tempat Miko berkuliah. Ibuku adalah kucing betina yang haus belaian dan begitu menggandrungi kucing garong berbulu kelabu yang tidak begitu tampan---konon ia ayahku juga. Jadi, begitu aku dan seekor saudaraku terlihat bisa tegak berjalan, ibuku meninggalkanku dengan pesan,"Hidup ini kejam, kamu bisa mati jika tak bisa bertahan." Kalau saat itu aku sudah sebesar saat ini---aku sudah melewati 7 purnama--- aku mungkin akan berkata,"Jika hidup ini kejam, dan Ibu tak bisa membuatku bertahan, untuk apa dan siapa aku dilahirkan?" 

Aku hampir mati kedinginan ketika Mikola menemukanku kehujanan di teras gedung kampusnya. Kembaranku sudah diambil seorang mahasiswi. Aku sebenarnya berlari mengejar kembaranku, tetapi manusia itu tidak menyadari. Tentu akan lebih baik kalau ia mengadopsi kami berdua. Oh, betapa malangnya aku. Ibuku yang bucin meninggalkanku, dan kembaranku diadopsi lebih dulu. Namun, Mikola datang seperti malaikat. Tangannya yang besar meraih badanku yang kurus kerempeng dan membungkusku dengan jaket hitamnya yang wangi.

"Ini obat cacing, dan kau harus meminumnya," begitu kata Mikola ketika sebuah jarum suntik tanpa jarum---sebagai kucing aku tidak tahu kata yang pas--- tepat di depan bibirku. Aku hanya menurut ketika cairan berwarna oranye kental dengan rasa asam itu masuk ke mulutku. Lalu Mikola berseru tatkala ada binatang menggeliat di bak pasir. 
"Cacingnya keluar! Cacingnya keluar! Hebat!" seru Mikola.
Cacing. Aku baru tahu kalau  bahwa seekor kucing bisa memelihara hewan di perutnya. Bukankah itu hebat, kawan? Lantas mengapa harus kukeluarkan?

Hari-hariku bersama Mikola sangat menyenangkan. Tubuhku mulai berisi, buluku mulai berkilau, dan Miko selalu mengajakku bermain. Sampai ... sampai Miko membawa bungkusan kabel-kabel. Sampai ia tidak pernah mengalihkan matanya dari benda kotak berlayar yang jika kau pencet-pencet, muncul sesuatu di layarnya. Kadang-kadang Miko berubah menjadi Miko yang tak pernah mandi karena menghabiskan waktu dari matahari terbit hingga kembali ke peraduan dengan kabel ini. Miko mulai mengabaikanku, ia pun kadang lupa membersihkan bak pasirku. 

Pagi tadi, Miko membawa bungkusan plastik makananku. "Kau boleh makan sepuasnya. Ada atau tiada aku, kau harus tetap hidup. Hiduplah dengan hati senang, Nikola Tesla," tiba-tiba Miko berkata demikian. Aku kembali memandanginya. Lalu seperti kesalahpahaman yang tak kunjung berakhir, Miko malah mengambil mangkuk makananku dan menuangnya ke mangkuk. Miko membiarkanku makan dengan lahap. Lalu ia mandi dan duduk di meja belajarnya.
"Kadang, kadang aku mau menyerah, Nikola Tesla. Kadang aku ingin mengakhiri apa yang tidak pernah kumulai. Kadang, kita tidak meminta dilahirkan tetapi diberi setumpuk beban," Miko menatapku. Aku sependapat, aku tidak pernah minta dilahirkan dari ibu yang hanya menginginkan bercinta dengan garong tidak tampan.

"Kadang aku ingin membelit leherku dengan kabel-kabel itu. Tentu enak, ya menjadi kucing. Orang-orang tidak berharap tinggi hanya karena kau pernah juara olimpiade fisika. Lalu, ketika harapan mereka kupatahkan, mereka kecewa dan marah. 
Bahkan sebelum aku marah dengan diri sendiri, aku sudah dimarahi," lanjutnya. Lalu kulihat ada air yang menetes dari pelupuk mata Mikola. Jangan! Aku tidak mau Mikola menangis. Aku tidak mau Mikola sedih! Dia sudah menyelamatkanku, dia manusia baik. Jangan! Mikola tidak boleh menangis. Aku hanya bisa mengeong dengan keras. Tanpa kutahu apakah Mikola tahu artinya adalah,"Jangan menangis, aku sayang padamu."

Mikola terlihat membuka sebuah botol, dan mengeluarkan banyak sekali pil. Mirip pil yang ia beri tiap aku flu. Tapi, aku hanya minum satu. Mengapa Mikola minum banyak sekali? Apa karena ia manusia?

"Terima kasih sudah membuatku lebih lama bertahan, Nikola Tesla-ku." Mikola meraihku, dan memelukku dengan erat. Ia berjalan ke tempat tidur, dan merebahkan dirinya di sana. Lalu meletakkannku di sampingnya. Mikola mungkin lelah. Aku akan menemaninya dan tidak akan mengganggu.

***

Mikola jahat. Mikola jahaaaat!
Mikola tidak tidur, Mikola tidur selamanya. Matahari sudah hilang ketika aku terbangun dan menemukan mulut Mikola penuh buih. Aku keluar lewat jendela dan memanggil tetangga Mikola, pria kamar sebelah pemilik persia cantik itu. Aku terus mengeong dan meminta Pria Kamar Sebelah melihatnya. Lalu, Pria Kamar Sebelah berteriak,"MIKO, KENAPA LU HARUS NYERAH? KENAPA HARUS MATI SEKARANG?"

Aku mengingat bagaimana benda di dadaku bertalu kuat begitu mendengar kata mati. MIKO TIDAK MATI. MIKO TIDAK BOLEH MENINGGALKANKU. AKU DENGAN SIAPA?

Lalu kamar kost Miko mendadak ramai. Raungan mobil putih berbunyi berhenti di depan rumah kost, mengeluarkan manusia yang kemudian membawa Miko entah ke mana. Itulah kali terakhir aku melihat Miko. Pria Kamar Sebelah sempat menenangkanku yang terus menerus mengeong. Ia pun membolehkanku tinggal di kamarnya bersama Si Persia Cantik. Sekalipun Si Cantik Dugong menggoda, aku tak niat bercinta karena begitu berduka.

Semua terasa menyedihkan. Aku seperti dihempaskan setelah hidup dengan damai. Kemarin, keluarga Mikola datang mengemasi semua barang lelaki itu. Mereka berniat membawaku, tetapi Pria Kamar Sebelah berkata bahwa surat yang ditulis Mikola berkata aku harus tinggal di rumah perempuan bernama Jane--- perempuan yang paling dekat dengan Mikola, begitu Pria Kamar Sebelah berkata. Hari ini Jane akan menjemputku, dan aku tak tahu bagaimana rupa wanita itu.

***

Seharusnya aku bahagia. Seharusnya, aku bahagia bertemu saudaraku yang ternyata tinggal bersama Jane. Aku terkejut ketika melihat perempuan itu berdiri di pintu, perempuan yang kulihat meraih saudaraku dan membawanya pulang. Seharusnya aku bermain bola benang dengan Alexander Volta---nama saudaraku yang juga fisikawan--- dan bukan merenung di balik jendela.

Mengapa Mikola meninggalkanku, padahal ia menyayangiku?

Mengapa Mikola meninggalkanku tanpa memberiku penjelasan apakah fisikawan itu sebenarnya?

Jika aku mati, apakah aku akan bertemu Mikola nantinya? Karena aku tidak bisa menjanjikan hidup dengan senang setelah ditinggalkan.

====END===

Lampung, 15 Januari 2021


#JustWrite

Tameo, aku menangis malam ini.

Agustus 08, 2020

Kadang-kadang aku sedih tanpa alasan. Kadang-kadang, aku bertanya-tanya mengapa aku sedih ketika tidak ada hal yang menjadi pemicunya. Sampai pada suatu hari, entah itu di IG live seorang psikolog atau webinar, si psikolog berkata,"Kadang, emosi yang kita rasakan hari ini itu delay. Sebenarnya, hal yang membuat sedihnya kemarin, kemarin lusa, tapi kita baru sadar hari ini."
Lalu aku berpikir, mungkin saja itu yang terjadi padaku. Ketika sebuah kabar duka datang, kadang aku hanya diam dan tidak merasakan apa-apa. Ketika nenekku meninggal, aku baru menangis sebulan kemudian karena aku baru teringat dan menyadari hal itu. Dan karena terlalu lama, kadang tidak semua sedih hari ini diketahui mengapa. Selain, aku memang menyadari bahwa aku tidak cukup bisa peka dan berempati dengan manusia ketimbang dengan hewan. :(
Aku menulis malam ini dengan perasaan sedih yang kusadari sebagai kesedihan karena Tameo meninggal 3 hari lalu, setelah sehari sebelumnya anaknya berpulang. Tameo yang beberapa hari demam tinggi sampai tidak bisa menyusui anak, napsu makan menurun, sampai ia kemudian susah makan. Aku ingat ketika aku memberikannya potongan daging mentah dan ia melahap mantap (karena di akhir-akhir hidupnya ia hanya mau daging beku, ikan setengah makan, ayam rebus) dan aku berkata,"Nggak apa-apa, Tameo harus makan enak. Tameo harus makan enak sebelum mati, nggak makan tempe-ikan aja. " 
Lalu adikku berkata,"Cici doain Tameo mati, bilang ini makanan terakhirnya?"
Aku menggeleng dan waktu itu berkata,"Nggaklah, maksudnya seumur hidup Tameo, dia juga makan daging." Lalu besoknya Tameo meninggal tiba-tiba, setelah malamnya makan dengan lahap, pup pada tempatnya, tetapi ia sudah terlihat lemah dan batuk-batuk.

Tameo adalah kucing yang pernah kumarahi karena ketika di kost, ketika semua anak kucing bisa toiletting dengan benar, Tameo selalu pipis di kasur, dan butuh diajari lebih keras.
Tameo adalah kucing yang sayang anaknya begitu rupa, sampai-sampai mencuri anak ayam tetangga dan membawakannya untuk bayi-bayi yang tak mengerti---dan anak bayi itu mati. Entah mengapa ia memang senang berburu. Lalu Tameo dikandangkan sebulan agar tak lagi mencuri anak ayam, dan untungnya berhasil.
Tameo sudah pergi, meski masih banyak kucing, tetapi tidak ada lagi yang masuk ke kamar untuk membangunkan terlalu pagi sambil mengabarkan bahwa ini waktunya sarapan, loh.

Dear Tameo, berbulan-bulan aku ingin menangis dan tidak kunjung bisa. Malam ini aku bisa menangis karenamu. Tentu saja lega bisa menangis, tetapi aku lebih memilih jika dirimu masih ada. Tapi aku ikhlas, kok. I'll try my best for you. I hugs you couple time and said,"Cici sayang Tameo."  So, i really love you cause i'm deeply loosing you, now.
Terima kasih sudah menemani saya menulis tesis, menulis Ikan Kecil, dan menemani saya sampai sekarang. I'm happy for feeding you everyday. I'm sorry for everything, Tameo. Kadang-kadang aku galak jika kamu mulai berulah. Aku akan menghabiskan tangisanku malam ini, dan akan mengikhlaskanmu.
Selamat jalan, Tameo. Selamat jalan...

#JustWrite

Bantu Kodok Itu Keluar dari Sarang Ayam!

Juli 17, 2020

Kadang, yang ingin saya lakukan hanyalah keluar dari tempat yang sejak awal tidak pernah saya inginkan tetapi dengan bodohnya saya datangi.

Kadang, yang ingin saya lakukan hanyalah mencari kedamaian, yang tentu tidak saya temukan di tempat yang sekarang.
Kadang, saya ingin dikelilingi orang bijak nan cerdas yang secara sadar dan tidak mendorong saya untuk menjadi demikian. 
Saya seperti katak diantara ayam-ayam, yang menunggu sekumpulan ayam itu menginjak hingga saya tiada. Saya butuh rumah baru, di mana saya tidak perlu cemas tiap harus berdekatan dengan ayam-ayam yang siap memangsa kodok kelabu kapan saja.

#JustWrite

Apakah terlalu berencana malah mendatangkan bencana?

Juli 13, 2020

Oke, beberapa hari yang lalu aku baca sebuah novel, Melankolia Ninna. Bercerita tentang sepasang suami istri yang sudah lima tahun menikah, tetapi tak kunjung mendapatkan anak dan tidak akan pernah mendapatkan anak karena di awal cerita, rahim sang istri diangkat. Lalu, ada sesuatu yang menarik yang membuatku jadi mengfungsikan otakku untuk bekerja dan bertanya. 
Apa overplanning (apa sih istilah untuk terlalu jauh berencana?) tidak selalu baik?
Apa Tuhan tidak ingin manusia berencana terlalu dalam? Ya, berencana bagus, tetapi yang berlebihan mungkin tidak baik.
Apa ketika kita mengejar sesuatu terlalu kencang, justru kita sedang berlari menjauhkan dari apa yang kita inginkan?
Apakah terlalu berencana malah mendatangkan bencana?

Aku berpikir demikian setelah menemukan kalau pasangan di novel tersebut, Ninna dan Gamal sudah merancang kamar bayi, membeli peralatan bayi, membuat boks bayi, bahkan ketika mereka belum memiliki tanda-tanda memiliki bayi. Hingga ketika mereka menemukan kenyataan bahwa tidak akan ada bayi dari rahim sang istri, patah itu semakin berkeping. Barang-barang perbayian itu terasa seperti pisau-pisau yang menghunjam-hunjam. Mungkin jadi terlihat seperti sepasang calon orangtua yang patah hati ketika bayinya meninggal padahal mereka sudah membeli perlengkapan bayi. Membayangkan bayi yang telah dikubur memakai jumpsuit, tidur di boks yang dibuat. Namun Gamal dan Ninna, tidak ada wujud nyata yang mereka bayangkan untuk tidur di boks atau memakai baju-baju itu. Apalagi, baju dan boks itu kemudian menjadi sumber pertengkaran mereka.

... aku jadi berpikir. Bahwa berencana secukupnya saja. Rencana yang berlebihan pun tidaklah baik, ketika harapan dan kenyataan tidak beriringan. Selama ini kusebenarnya pun tak punya banyak rencana dalam hidup karena planning kadang bikin pewning. Todolist harian saja tak semuanya tercontreng. Sudahlah racauan ini, racauan yang tidak kurencanakan di todolistku. Haha

#JustWrite

Noia, ini tentang datang, pergi, hilang, berganti.

Juli 13, 2020

Begini, Noia, akan selalu ada yang datang dalam hidup, meski mereka hanya orang-orang yang tak sengaja berpapasan di jalan, petugas swalayan di tempat yang mungkin tak akan kau kunjungi tiap hari, atau seseorang yang kemudian menjadikanmu teman, sahabat, kekasih, kerabat, atau musuh. Bumi berputar, manusia terus bergerak, tidak ada dari kita yang benar-benar diam. Sekali pun kau terbujur kaku di sebuah dipan pada bangsal rumah sakit, cepat lambat ada yang bergerak mendekatimu, perawat, dokter, petugas kebersihan, keluargamu.

Lalu Noia, seperti stasiun, di mana ada kereta yang berangkat dan tiba, ada yang datang dan pergi, begitu pula orang-orang di hidupmu. Entah kita yang meninggalkan, atau kita yang ditinggalkan. Entah dengan cara yang menyenangkan, atau menyakitkan. Entah untuk kembali, atau tiada temu lagi. Itu wajar, Noia. Saat pindah sekolah, kita meninggalkan teman-teman lama kita, dan berjumpa dengan yang baru. Sekali pun tak pernah ada niat melupakan teman-teman, terkadang kepergian yang merentang jarak pun memutus satu persatu jalinan. Menghilang.

Kadang, penjual jamu yang kita beli menghilang dari pandangan di tikungan. Kadang, kita lah yang menghilang dari hidup orang-orang dengan atau tanpa sadar. Kehilangan kadang menyakitkan ketika kita merasa memiliki atau itu adalah seseorang atau sesuatu yang berarti. Namun, kadang-kadang kehilangan bukan siapa-siapa tidak akan meninggalkan duka. Kau hanya sekali membeli tahu pada seorang bapak-bapak, lalu setelah itu ia tak pernah lagi menyinggahi rumahmu. Apa kau kehilangan? Mungkin tidak, bahkan mungkin tidak ingat. Sebab ada ibu bersepeda yang juga menjual tahu. Yang hilang kadang berganti, meski yang hilang kadang tak terganti.
Begitulah Noia, lepaskan orang-orang yang memang hanya ingin singgah. Tidak semua hubungan harus dipertahankan jika sudah tidak dapat diperbaiki, jika kau sudah tidak nyaman. Terkadang membuat renggang dan membuat jarak tidak mengapa. Justru kamu punya waktu untuk memikirkan arti mereka. Kadang, kita merasa orang-orang berarti bagi kita, tetapi bagi mereka, kita bukanlah siapa-siapa. Maka sabar, Noia. Mari kita lihat apa yang terjadi, bagaimana waktu akan menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Sebab hidup memang tentang datang, pergi, hilang, berganti.

#JustWrite

Maafkan Aku, ya

Juni 23, 2020

Hari ini aku banyak mendengar lagu-lagu yang kuputar dulu. Lagu yang kuputar SMA, kuliah, skripsi, tesis, sampai akhir-akhir ini. Satu hal yang aku tidak suka dari mendengar lagu adalah, setiap nada dan liriknya melemparkanku ke masa lalu. Meski lirik itu tidak berkaitan dengan yang terjadi. Sebagaimana Love of My Life-nya Queen membuatku teringat tumpukan jurnal dan tugas-tugas Pak Munawir. Atau Sepasang Kekasih Yang Pertama Bercinta Di Luar Angkasa yang membuatku teringat skripsiku.


Belakangan di daerahku hujan, deras. Pagi ke pagi hujan tanpa henti. Aku bukan tidak suka hujan, tapi hujan kerap membuatku bumbalipop. Hujan kerap membuatku kelabu. Sesuatu yang terjadi kini. Aku tahu aku menunjukkan sedikit gejala burn-out dan zoom fatigue, maka hari ini yang kulakukan adalah "bersenang-senang". Sayangnya, makin malam aku makin muram. Termasuk melihat sebuah buku yang kutulis tahun 2016 dan terbit di tahun 2017 (aku tidak menggunakan namaku sebagai penulisnya :)). Aku tidak jadi mengerjakan tugasku malam ini, yang terjadi adalah dadaku menyesak sampai aku berhenti pada satu pertanyaan, apa aku terlalu jahat pada diriku? Apa aku terlalu menekannya begitu rupa? Apa aku terlalu ingin menggapai yang tinggi hingga tiap aku jatuh saat melompat, aku patah berkeping-keping?  Apa aku memang harus selalu mendapatkan yang kumau tapi bukan yang kuinginkan? Apa aku... terlalu batu sampai tak ada lagi yang bisa kulunakkan? Apa aku terlalu batu sampai sejak berbulan lalu tak bisa meledakkan tangis dan menyimpan sesak tanpa sebab?

Diriku, maafkan aku. Aku tidak pernah membuatmu merasa baik-baik saja. Aku tidak pernah merasa cukup baik untuk apa pun. Aku terus mematahkan harapan yang pernah dibuat. Aku selalu merasa busuk tanpa menyadari bahwa kadang kau tidak sebusuk itu. Aku berkata bahwa aku menyayangimu padahal tanpa sadar terus menyakitimu. Ini tidak mudah, tetapi maafkan aku. Mari kita berdamai, sebab tiada tahu usia. Kita harus pergi dengan tenang, bukan?


#JustWrite

Ketika saya terus menanam, dan menulis terlupakan

Januari 20, 2020

Saya merasa begitu jatuh di akhir tahun 2018, dan terpuruk, dan patah. Hari-hari kembali suram dan kelabu. Sampai saya berpikiran bahwa saya perlu sesuatu untuk dijadikan pelampiasan. Menulis sudah tidak lagi menjadi pelarian karen terkadang menulis terlalu frontal di blog agak menyeramkan. Pun, ketika itu menulis fiksi tidak menjadi jawaban karena semua ide yang ada terlalu suram.
Dulu sekali, tiap saya merasa Bumbalipop, semua akan lepas kalau saya menulis bebas, meracau, membuat puisi mainan. Lalu, kalau sudah pada puncaknya, saya akan memotret malam-malam, atau memotret ke kebun sendirian. Sayangnya, ketika saya terhempas itu, menulis dan memotret tidak lagi bisa. Sampai saya tiba-tiba dibawakan beberapa batang stek krokot oleh mama dan biji zinnia. Berawal dari iseng, saya mulai menanam. Mossrose/krokot adalah tanaman yang mudah sekali bertumbuh dan membanyak hingga saya merasa bahagia bisa membuat tanaman tumbuh dan berbunga berkat tangan saya. Mereka mekar, mereka membanyak. Saya mulai membeli bibit warna lain, benih vinca, dan sebagainya. Menanam menjadi pelarian. Membawa cangkul mini dan ember untuk mencari tanah terasa seperti me time. Gunting adalah teman saya dan pot serta polibag punya bagian atas setiap  gaji yang saya terima.
Kalau tidak bekerja, saya akan bercocok tanam. Kalau libur, saya akan mencari tanah dan mereplant, menabur benih. Semua yang membuat saya lupa untuk menulis.

Sekarang, tepat setahun mungkin saya bercocok tanam. Kadang, saya rindu untuk menulis, tetapi saya pun tidak lagi tahu apakah saya masih bisa menulis fiksi atau tidak. Jari saya telanjur lebih suka bertemu tanah ketimbang laptop atau pulpen. Tulisan tangan saya menuju kehancuran 
Saya mungkin akan menulis lagi, tapi saya tidak tahu, bagaimana melemaskan jari yang telanjur mati di hadapan lembaran fiksi.

#JustWrite

Icus Si Kaktus

Juli 16, 2019


Hasil gambar untuk red cactus illustration

Icus adalah sebatang kaktus merah. Badannya bulat seperti bola. Seluruh tubuhnya dipenuhi duri-duri yang tajam.
Icus tinggal di taman kota. Tetangganya adalah pohon Tabebuya, bunga mawar, rerumputan, serta tanaman-tanaman lainnya.
Icus senang dengan matahari, dan ia benci hujan. Icus tidak membutuhkan air yang banyak. Jika terlalu sering tersiram air, Icus bisa kedinginan. Tubuhnya pun jadi lembek. Kalau sudah begini, ia bisa mati. Untungnya, Pak Boni, tukang kebun menyiram Icus 2 minggu sekali.
Sebenarnya, ia adalah kaktus merah yang cantik. Sayangnya, tidak ada sebatang tanaman pun yang mau berteman dengannya.
“Aku tidak mau dekat-dekat denganmu. Tubuhmu penuh duri. Daunku robek jika dekat denganmu,” kata Lilir, si bunga anyelir.
“Kenapa begitu? Rosea pun berduri sepertiku,” jawab Icus.
“Duri Rosea tak sebanyak kau, Icus. Ia pun cantik dan wangi,” jawab Lilir.
Icus tertunduk lesu. Ia benci duri-duri di tubuhnya. Duri-duri itu membuatnya tak punya teman. Tak ada seekor serangga pun yang datang dan hinggap di tubuhnya.
“Kau merugikan, Icus. Lihat, kupu-kupu itu! Mereka bergerombol menghisap madu milik Zinnia,” kata Lilir suatu hari. “Meski usianya pendek, Zinnia memberi lebah makan,” tambah Lilir. Mendengar itu, Icus semakin sedih.
Hari demi hari berlalu. Icus yang malang selalu sendirian. Tidak ada yang memerhatikannya selain Pak Boni. Hujan dan panas silih berganti. Sampai pada suatu waktu, musim kemarau datang.
“Kalian mungkin akan jarang kusiram, wahai tanaman. Kota kita kekeringan. Air begitu sulit didapatkan,” kata Pak Boni suatu sore. Musim kemarau yang panjang membuat sumur-sumur kekeringan. Kota menjadi panas dan gersang. Beberapa tumbuhan kering dan layu. Namun, tidak dengan Icus. Ia tetap sehat. Tubuhnya yang menyimpan air dan daunnya yang berupa duri membuatnya tetap segar di musim kemarau.
 Icus senang ia masih sehat, tetapi ia melihat teman-temannya menangis tersedu.
“Umurku mungkin tidak lama lagi. Daunku telah kering semua,” kata Rosea.
“Aku pun sudah lemas,” sahut Lilir.
“Kau beruntung, Cus. Duri-durimu ternyata membantumu bertahan hidup,” ujar Rosea lagi.
Icus terdiam, memandangi duri-duri di tubuhnya.
Hari berlalu, sudah berpuluh hari hujan tak turun. Pak Boni pun tak kunjung datang untuk menyiram taman. Satu per satu tanaman mati, menyisakan Icus dan Kakek Tabe, Si pohon tabebuya.
“Mereka semua mati,” kata Icus.
“Kau merasa sedih? Bukankah mereka pernah mengejekmu dulu?” tanya Kakek Tabe.
“Ya, tapi sudah kumaafkan. Aku tidak ingin sendirian,” kata Icus. Kakek Tabe mengangguk-angguk.
Suatu hari, seorang manusia berjalan-jalan di taman. Ia tampak sedih melihat semua tanaman mati. Namun, matanya berbinar ketika melihat Icus.
“Wah, kaktus ini masih hidup. Ia agak kurus. Mungkin aku bawa pulang saja daripada tidak terurus,” kata manusia itu.
Icus tidak bisa meronta ketika ia dimasukkan ke dalam tas si manusia. Ia melambai-lambaikan tangan pada Kakek Tabe.
Kini, di sinilah Icus tinggal. Di sebuah rak besi bercat putih di dalam sebuah pot kecil warna-warni. Si manusia menanamnya di pot dan ia letakkan bersama kaktus lain miliknya.
“Hai, aku Icus! Aku kaktus juga,” sapa Icus pada kaktus-kaktus lain. Semua kaktus merasa senang dengan kehadiran Icus. Ia pun merasa senang tinggal di sana. Meskipun, ia tetap merindukan Rosea, Lilir, dan Kakek Tabe.
***

#JustWrite

In Memoriam Cio Chihiro

April 02, 2019

Bahwa kepergian tanpa pertanda selalu melipatkan duka.
Foto terakhir Co
Saya tidak tahu mengapa saya kerap menulis di blog ini jika kucing saya tiada. Kadang saya pikir, dengan menuliskan salam perpisahan, saya akan mengikhlaskan. Maka hari ini,  selepas Cio pergi, saya membuka blog yang sudah jarang saya kunjungi untuk menulis segala hal yang mungkin bisa memudahkan saya mengikhlaskannya.
bayi Cio


bayi Cio
Namanya Chihiro, seperti nama anak di Spirited Away. Hanya saja Chihiro jantan. Karena nama itu begitu panjang, ia  dipanggil Cio. Cio lahir 12 September 2018 bersama Lulu, Popo, dan Poki. Poki sendiri terkena virus waktu masih 50-an hari dan meninggal. Sejak kecil, Cio tumbuh jadi kucing yang lucu dan menggemaskan. Manis, pintar dan manja. Namun, ia terserang jamur saat usia 2-3 bulan. Jamur yang bandel karena sudah hampir sembuh, tiba-tiba kembali. Jamur yang bikin buntut cio gundul dan beberapa bagian tubuhnya botok. Jamur yang bikin Cio nggak kelihatan lucu secara fisik. 
Dari belakang Popo, Lulu, dan Cio
Nggak hanya jamur, Cio juga kena semacam stroke setelah Poki meninggal. Dia jadi murung dan sedih terus. Susah makan, dan mukanya nggak happy lagi. Cio stres sampai kepalanya tengkleng, semacam miring ke kiri. Hal yang bikin dia nggak bisa nengok dan berputar-putar. Tapi sebulan belakangan, miring di kepalanya sudah nggak begitu. 
Cio sudah sembuh dari jamur sebulan ke belakang. Dia sudah suntik jamur di puskeswan dua kali, diberi salep, dan akhirnya sembuh karena dimandikan dengan bubuk belerang. Cio udah sehat, udah makan lahap, udah kembali happy.
Cio adalah jenis kucing yang penyayang. Dia sayang semua kucing, bahkan adik-adik bayinya pun di asuh. Pun, dia manja dengan kucing domestik yang seolah-olah jadi pengasuhnya dari kecil. Cio seperti anak kecil lucu yang selalu baik hati yang nggak ada dia, kerasa sekali.

Cio dan endorsement.
Biasanya, dia bakal duduk di bawah meja laptop dan duduk di keyboard kalau mulai cari perhatian. Biasanya, dia ngikutin ke kulkas untuk minta makanan apa yang bisa dia makan. 
Biasanya, dia minta buah-buahan yang saya makan karena dia suka. Cio suka durian, alpukat, sampai duku.
Biasanya, dia tidur sama saya. Menjilati kepala saya dan mengusap-usap kepalanya di kepala saya seolah saya kucing. Kalau sedang jahil, dia akan menggigiti hidung dan membuat kesal. Namun, beberapa minggu terakhir, Cio sudah bisa mengurangi kenakalan-kenakalan itu. Dia bisa tidur di samping saya dengan rapi. Masuk ke dalam selimut kalau dingin, dan membangunkan kalau pagi.
hari-hari ketika Cio mulai depresi.
Cio ngajarin saya banyak hal. Termasuk menerima tanpa syarat. Kalau menyayangi kucing nggak hanya ketika lucu, tapi juga mau urusin waktu keadaan kayak Cio yang mungkin kelihatan nggak menarik. Cio ngajarin untuk baik dan ramah. Dia selalu berlari ke pintu kalau ada siapapun yang datang dan berusaha dekat. Cio menemani saya di hari-hari saya merasa begitu kelam sejak akhir tahun dimulai. Di hari-hari saya gagal, depresi, dan merasa dunia gelap sekali. Ada banyak kucing di rumah, tetapi bisa jadi Cio yang paling dekat.


Pagi itu, 30 Maret, saya menanam bunga di belakang. Biasanya, Cio akan menemani saya. Duduk di sebelah dan mengganggu. Namun, pagi itu tidak. Cio tidak ada dan saya mengira ia bermain di kebun dengan Popo dan Lulu. Ternyata tidak, Cio tidak ada. Saya mengelilingi rumah berkali-kali. Mengguncang-guncang toples makan sambil memanggil namanya, tapi Cio tidak datang. Padahal, dia adalah yang tercepat datang jika dipanggil. Ibu saya mencari di Puskesmas, tidak ada. Saya semakin khawatir kalau-kalau ia masuk sumur puskesmas yang terbuka ---dan pada akhirnya saya tutup kemarin.
Saya ingat, saya bilang ke mama saya, saya yakin kalau Cio akan pulang.
Cio dan kambing-kambing 

Cio memang pulang, tapi berpulang pada Tuhan. Sorenya, Pap mencari lagi di puskesmas, dan di dalam kolam ikan puskesmas, di balik eceng gondok, ada Cio. Ada Cio yang tercebur dan sudah tiada. Ada Cio yang mungkin terjatuh dari pagar beling Puskesmas dan masuk ke kolam. Ia jarang keluar lewat pagar itu, tetapi mungkin ia naik ke sana dan ketika turun malah nyemplung. Keseimbangan Cio tidak begitu bagus karena kepalanya yang miring.
Sore itu Cio dikuburkan tetapi saya tidak ingin melihatnya. Saya nggak bisa bayangin gimana Cio kedinginan di sana, gimana dia meminta pertolongan tapi nggak ada yang menolong. Jika saja bukan Sabtu, pastilah petugas puskesmas yang biasa duduk di pinggir kolam mendapatinya. Sayang, Cio nggak tertolong.

Satu hal yang membuat saya sedih adalah, Cio sudah sembuh dan kembali bahagia, harus meninggal dengan cara yang menyakitkan. Cio sudah berjuang untuk kembali berbulu normal, dan ketika itu terjadi, ia malah dipanggil Tuhan.
Bulu Co mulai tumbuh.
Saya ingin berandai jika saja saya mengajak Cio menanam bunga dan tidak membiarkan ia mengganggu Mbah saya masak sampai akhirnya memutuskan pergi main lewat naik genting, mungkin Cio masih ada. Tapi seandainya itu jahat. Cio nggak akan kembali. Cio sudah pergi terkubur dan mungkin bertemu kembarannya, Poki. Cio sudah senang di sana.

Terima kasih untuk semuanya, Co. Maafkan kalau Cici sering galak kalau Co nakal, gigitin dan cakar kaki Cici. Cici sayang Co selalu. Semoga kita bertemu di kehidupan baru nanti. Semoga Cici bisa kuat kayak Co.
Sleep tight, Co.


Goodbye Chihiro. Tidur yang tenang, Co.

#JustWrite

Kembali Menulis

Januari 31, 2019

Saya selalu merasa sedih kalau nggak bisa produktif menulis. Tahun 2018 lalu, saya benar-benar tidak produktif menulis. Tidak ada satu tulisan pun yang berhasil selesai, saya hanya membuat outline, lalu tidak mengerti mengapa kata-kata sulit sekali keluar. Awal hingga pertengahan tahun, saya memang sengaja tidak menulis karena disibukkan dengan tesis. Namun setelah wisuda, saya pun tidak menemukan lagi ritme dan kelancaran menulis. Saya berpikir, mungkin ini sebab saya yang sedang bermasalah dengan diri saya. Saya selalu merasakan itu.
Seringkali saya merasa pesimis, insecure, terlalu overthinking, dan terus menerus perfeksionis.  Saya selalu merasa bahwa saya tidak pernah cukup baik untuk apapun. Untuk tulisan saya, untuk sekolah saya, dan semua yang bisa saya raih terasa dimentahkan begitu saja. Saya nggak bisa benar-benar mengapresiasi diri saya sendiri. Ketika saya seharusnya bisa sedikit berbangga dengan apa yang saya dapat, saya justru merasa insecure. Saya merasa bodoh, saya merasa nggak pantas mendapatkannya, saya merasa busuk, dan semua yang membawa saya pada jurang menuju kehancuran. Saya tahu, jika saya terus begini, saya akan hancur perlahan-lahan. Tapi saya tahu, memusnahkan semua itu tidak mudah. Empat hal yang saya sebutkan di awal paragraf ini begitu berhubungan, dan saya selalu merasa kesulitan mengenyahkan mereka.
Ada waktu-waktu di mana saya memutuskan untuk bersantai dan benar-benar tidak mengerjakan apa-apa. Saya melakukan apa yang saya sukai, dengan dalih, saya ingin membahagiakan diri saya. Saya membaca banyak buku karena itu cara saya lari dari dunia ini. Saya menanam bunga, saya mengurus kucing saya,tidur berjam-jam dan apa pun saya lakukan di waktu luang dengan dalih membuat-bahagia yang akhirnya pun menurunkan produktivitas saya. Saya akhirnya sadar, menggantungkan mood, memercayakan bahwa saya bisa menulis kalau sedang bahagia---kendati yang saya tulis tidaklah berbahagia--- adalah salah.
Kadang, saya ingin menulis tanpa mengkritik diri sendiri terus-menerus. Saya ingin menulis sampai selesai dan setelahnya barulah ada pembantaian. Saya tahu sebagian diri saya perfeksionis, tetapi sebagian lagi seringkali pesimis, dan ketika keduanya bertemu, saya tidaklah bergerak maju, tetapi mundur dan menuju kehancuran. Saya kesal dengan kebiasaan menulis sampai pertengahan, dan mengulang menulis lagi dari awal karena merasa busuk. 24 dan 45 Months, keduanya telah sampai pertengahan ketika berakhir saya tulis ulang dan sempat tak ingin dilanjutkan.
Kadang, saya merindukan waktu di mana saya bisa meracau dengan lancar. Sekarang, meracau puisi saja sulit. Mungkin sebab saya tak ingin menebarkan yang kelam-kelam. Saya menahan diri saya untuk terus meracau yang tidak-tidak, sebab lain saya nggak lagi rajin dan meracau di sini. Padahal, kalau dipikir, racauan itu membuat saya ringan dan memudahkan saya menjalani hidup.
Sebenarnya, tak begitu jelas apa yang ingin saya katakan di sini. Tapi, bukankah blog ini memang berisi perihal yang tidak pernah jelas? Saya hanya ingin kembali menulis dengan lancar, dengan bahagia, tanpa beban, dan yang sampah biarlah menjadi sampah.

#JustWrite

untukmu yang sedang berduka,

Desember 27, 2018

untukmu yang sedang berduka,
Awan selalu kelabu, seiring hatimu yang tak secerah dulu. Ombak yang menggulung, menghempas, merampas, dan melibas habis apa yang ada. Beberapa kembali pada-Nya, beberapa menginap di bangsal rumah sakit dan yang tersisa kehilangan sanak saudara. Apa-apa yang hancur dan tak bersisa seperti mengisyaratkan bahwa kita memanglah tak punya apa-apa. Kita terlalu miskin untuk sekadar jemawa.
Hari ini hujan, deras. Seperti air mata yang tak henti merebas. Sepanjang tahun kita berduka, bahkan ketika kalender anyar baru saja dibuka. Alam memang sudah renta, dan kita terlalu banyak meminta. Padahal kita tak banyak memberi apa-apa.
Kalau hujan nanti berhenti, jangan terlalu berharap ada pelangi. Hidup sudah terlalu pahit untuk terus berkhayal terlalu tinggi. Hitam kita mungkin tak hilang begitu saja, sebab luka selalu butuh waktu, dan yang instan tak selalu bermutu.
Kita berduka, kita kelabu, kita membiru, tapi kita masih punya waktu. Setidaknya untuk minum susu.

27.12.18
Untuk Kalianda, Indonesia, dan semua yang berduka.

#JustWrite

Menumpuk Kesedihan

Desember 12, 2018

Semua yang ditumpuk berkemungkinan untuk menjadi buruk. Seperti baju kotor, piring kotor, atau pun kesedihan dan kecemasan. 

#JustWrite

Ocehan Tentang Novel 24

Desember 11, 2018

Foto dari MillyKitty Petstore
19 November lalu, novel kedua yang selesai kutulis—tulisan pertamaku yang selesai berjudul Odrei dan kumemutuskan untuk menyimpannya sendiri—akhirnya diterbitkan. Judulnya '24'.  Hari ini, kumemutuskan untuk berbicara sendiri tentang novel itu. Sebab sepertinya, terasa tak lengkap jika aku tidak mengoceh sendiri tentang buku pertamaku yang akhirnya diterbitkan.

Kenapa berjudul 24?

Sampai sekarang, aku masih belum bisa membuat judul dengan baik. Awalnya, 24 berjudul Biru dan Surat-suratnya, tetapi kemudian kuberpikir itu macam Biru punya banyak surat cinta yang dia simpan untuk calon-calon gebetannya. Kusempat berpikir memberi judul Langit Tanpa Biru. Namun, entah mengapa berakhir memberinya judul '24'. 24 sendiri adalah jumlah surat-surat yang Bi tuliskan sebelum ia meninggal. 24 juga umur Biru saat ia pergi meninggalkan dunia ini. Jadi, begitulah. 

Tentang apa 24 ini?

Katanya, ditinggalkan tanpa pamit adalah kehilangan yang paling sakit. Karena itu Ngit, jika pergiku tiba-tiba, bisakah kamu mengirimkan surat-suratku pada mereka? Aku minta tolong padamu untuk memberikan surat-surat itu kalau aku benar-benar pergi lebih dulu. (Potongan surat Biru kepada Langit)
Semua yang yang datang tiba-tiba memang selalu membuat manusia terkesima, apalagi kabar duka. Sebuah telepon di 17 Maret 2015 sore begitu mengagetkan Langit. Hati lelaki itu terpukul mendengar kabar Biru—kembarannya—ditemukan tidak bernyawa di dalam mobil yang terparkir di pinggir jalan raya. Sebulan setelah peristiwa duka tersebut, Langit menemukan peti berwarna hijau mint di bawah tempat tidur Biru. Peti berisikan 24 amplop surat, termasuk untuk dirinya. Surat untuknya berisikan salam perpisahan dan permintaan Biru untuk mengirimkan 23 surat lainnya. Di dalam hati, lelaki itu bertekad menjalankan permintaan terakhir kembarannya, berharap menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan besar yang tercetak jelas di otaknya.Mengapa Biru menulis surat-surat ini? Kepada siapa saja surat-surat ini dikirimkan? Adakah hubungan antara surat-surat ini dengan penyebab kematian Biru?


 Begitu Blurb-nya. 24 berkisah tentang Biru yang meninggal tiba-tiba. Nah, sebulan kemudian, kembarannya menemukan sepeti surat yang Bi tuliskan. Padahal, Bi ini paling benci menulis. Ini tentu saja bikin Langit penasaran. Kenapa anak ini nulis surat, isinya apa, untuk siapa, kenapa nulis surat dan lain sebagainya. Tentu jawabannya akan ditemukan kalau kamu membacanya haghag.

 Dari mana idenya?

   Awalnya, aku ingin menulis cerita tentang anak dengan ADHD, idenya sendiri kudapatkan saat sedang di kelas mata kuliah ADHD. Lalu, waktu itu aku sedang menggandrungi baca-baca soal OCD. Akhirnya, kumemutuskan untuk membuat cerita dua anak kembar, laki-laki dan perempuan. Anak perempuan itu ADHD dan si laki-laki OCD. Kupun pernah membaca bahwa bagian yang 'berbeda' pada anak ADHD dan OCD berada di tempat yang sama—sepertinya di limbik dan aku lupa >.<
Dan ya, kumenulis kisah mereka kecil. Beberapa bagian, yang akhirnya pernah kuposkan di sini (cerita-cerita dengan judul Kelas 4 dan Kelas 3) dan di sini (berjudul 6 yang tak tahu kapan selesai). Seminggu setelah aku menulis dua bab sepanjang 10k itu, aku membuka Pinterest dan tiba-tiba mendapatkan ide tentang menulis surat sebelum mati. Waktu itu tengah malam,kusudah mematikan lampu kamar, dan takbisa tidur sampai cerita awal-akhir selesai di kepala. Kuberpikir, seseorang harus menemukan surat itu dan dengan ikhlas mengirimkannya. Lalu kuberpikir soal saudara kembar, dan entahlah bagaimana akhirnya kumemutuskan anak perempuan ADHD dan anak lelaki OCD ini jadi tokoh di cerita surat-surat ini.  
Ternyata... kumenemukan posting saat mereka baru-akan-ditulis. Bisa baca di sini

Proses Penulisan

Kukadang merasa kalau kupenulis yang lamban, tapi kumenulis buku anak untuk tesisku selama sehari. Sebabnya, kumudah terdistraksi. FYI, sekarang kusedang menulis novel yang kumulai 1 Desember dan ingin kuakhiri sebelum Natal—keinginan yang seperti tidak tahu diri karena sudah tanggal 11 dan baru 4 bab. Namun, bukannya menulis, kumalah membuka blog dan mengoceh di sini. Padahal, kalau sedang fokus, kubisa menulis beberapa ribu kata sehari—yang sayangnya jarang sekali.
Baik, 24 kutulis pada Maret 2015. Baik cerita anak maupun memulai saat mereka dewasa. Namun, kuhentikan di bab 13 karena kuakan KKN. Selain itu, aku merasa lelah. Ya, wajar sih. Aku agak gila waktu itu. Berniat membuat 24 surat dengan 24 sudut pandang. Membuat 'suara' yang otentik untuk tiap orang itu sulit—dan kuberharap suatu hari bisa menulis dengan banyak sudut pandang cukup banyak.
Sejak kuhentikan karena mau KKN,  aku tidak menulisnya lagi, termasuk ketika kumencoba memposting bab-bab awal 24 di GWP—yang kemudian kuhapus —dan kupindahkan ke Wattpad dan Storial.
 Kumenemukan bahwa penulis pemula macamku tausah bunuh diri dengan menulis 24 pov dulu. Akhirnya, 24 kutulis ulang Juli/Juli 2016 dan kuakhiri 18 November 2016. Sempat kuperam dan tinggalkan sebelum kumengeditnya sendiri.
Juni/Juli 2017, kumengirimkan 24 ke Elex Media. Awalnya, aku sudah hopeless karena tidak kunjung mendapatkan jawaban. Tidak menyangka, 21 Desember 2017, Kak Afri mengirimkan email berisi 24 akan diterbitkan. Kudiminta self-edit sebelum akhirnya sekitar bulan Juli/Agustus, 24 mulai diedit dan akhirnya bisa terbit di bulan November.

kover 24

Harga: Rp58.800 Terbit: Senin, 19 November 2018 Halaman: 232

Doodle-doodle di kover 24 digambar oleh teman dekatku, sebut saja Pinyot a.k.a Opie Meilana (IG: opiedesu). Doodle itu ia gambar dalam waktu sehari. Ada peti, lembaran surat, alat tulis, kamera, hal-hal yang erat kaitannya dengan Biru. Warna mint green pun dipilih sebab itu sewarna dengan peti milik Biru. Kuharap kalian menyukai kover ini.

Apa yang mau disampaikan?

Ikhlas. Kadang, aku sulit untuk mengikhlaskan sesuatu. Menerima sesuatu yang kutaksuka, misalnya. Dan kupikir, itu salah satu hal yang ingin kusampaikan di sini. Yang lain-lain, mungkin bisa langsung dibaca saja---maafkan kemalasanku ini. Kuharap siapa pun yang membaca, bisa merasa ikhlas, terhibur, dan tidak merasa merugi sudah menghabiskan waktu untuk membacanya. >.<

Mengapa  kumemakai 'Ode' dan 'Ome' alih-alih mama papa, ibu ayah, dkk?

    Beberapa orang pernah bertanya demikian dan sebenarnya, iseng sadja. Kalau kumemakai ‘mama’ atau ‘papa’, ditakutkan aku jadi curhat atau malah memikirkan kedua orangtuaku yang bisa jadi cerita ini berubah entah menjadi apa. Ode dan Ome pun bukan bahasa manapun—sepengetahuanku sih. Jadi, Ode adalah ayah, di mana ‘d’ untuk daddy. Begitu pula Ome, di mana ‘m’ adalah Mommy. Aku tahu ini sedikit atau banyak memaksa.

 Omong-omong, 24 pernah masuk cerita pilihan mingguan di Storial.co pada Agustus 2016 dan masuk Daftar Cerita Istimewa di Wattpad. Mungkin kuharus sedikit senang dengan itu, meskipun sesungguhnya, kubukan penulis yang dikenal di platform mana pun haghag. 
Pada akhirnya, kuingin berterima kasih untuk semua. Untuk orangtuaku, keluargaku,  Kak Afri (editorku), teman-temanku yang kukenal di platform menulis itu, juga teman-temanku semasa sekolah dan kuliah. Tak lupa guru dan dosen selama kusekolah. Juga mereka yang pernah membaca 24 ketika kutaruh di platform menulis, juga para pembaca 24 dan para calon pembaca. Terima kasih banyak.
Jikalau ada pertanyaan, kritik, saran, kesan, dan semua yang berkaitan dengan novel ‘24’, jangan sungkan untuk menghubungiku di Twitter dan IG @ossyfirstan atau email ke halopluto@yahoo.com. Sekian, dan yuk #Jemput24 ^^


Popular Posts

My Instagram