#JustWrite

Kelinci di Lubang Sampah

Februari 02, 2021

Jikalau dongeng selalu dimulai dengan kata-kata seperti 'pada suatu hari' maka anggap saja tiga kata itulah yang memulai cerita ini. Pada suatu hari seekor kelinci kecil berbulu kelabu melompat-lompat di sebuah taman. Matanya menjelajah rerumputan, melihat bunga warna-warni yang basah oleh tetesan embun.  Musim panas telah tiba, ia bermain di taman dengan riang gembira.

Semuanya terasa menyenangkan, sampai ia melihat lubang berdiameter sekitar 37 cm di pinggir taman, di bawah pohon mangga yang sedang berbunga. Separuh bagian lubang itu tertutup oleh besi tua berbentuk lingkaran yang penuh karat. Besi itu seharusnya menutup lubang rapat-rapat. Namun, siapa yang tahu kalau ada tangan usil yang menggeser besi karat itu untuk membuang "sesuatu". Kotak sampah mungkin terlalu jauh hingga lubang pun menjadi solusi. Manusia menciptakan kotak sampah, tetapi mereka pula yang malas menggunakannya. Ya, begitulah manusia, makhluk paling merasa benar sedunia.

sumber gambar

Kembali lagi soal kelinci itu, ia adalah seekor kelinci yang iseng. Kadang-kadang ia tidak berpikir panjang, mungkin karena telinganya tidak begitu panjang. Kadang-kadang ia memanjat pohon lalu menangis hingga pemadam kebakaran datang menolongnya. Aku basah kuyup karena melompat-lompat di bawah air mancur yang berada di tengah taman. Hari itu ia pun tidak menggunakan gumpalan jeli di kepalanya untuk berpikir. Sepertinya, setan impulsif sedang bersamanya tatkala ia masuk ke lubang itu. Lubang yang dalam dan gelap. Lubang yang menjadi penyesalan terbesar dalam sejarah 24 bulan hidupnya di dunia.

Lubang itu gelap, becek, sempit, dan seperti tak berujung. Kelinci itu tidak berani melompat setinggi biasanya. Ia mendadak menjadi siput, berjalan pelan, mengendap, dan memastikan tak ada apa pun yang melukai dirinya.

 Sampah memenuhi kanan dan kiri jalanan di dasar lubang. Bungkusan-bungkusan bergambar kacang, tumpukan baju, hingga tak lagi bergambar terlihat bergerak ke kiri dan kanan di dasar lubang. 

Mereka tampak hidup! 

Sayangnya, setiap badan kelinci itu terkena bungkusan yang melambai-lambai tertiup entah angin dari mana, badannya tergores. Kadang hanya goresan tidak berarti, tetapi sesekali darah mengalir dari tubuh si kelinci. Bulu kelabunya sudah tak lagi mengembang, perlahan ia menjadi kelinci menyedihkan.

Lubang itu tidak menyediakan makanan yang layak tentu saja. Apa yang bisa kau harapkan dari lubang sampah? Kelinci pun kadang menyesali, mengapa sudah tahu lubang sampah masih ia masuki? Mengapa ia terlalu iseng kala itu? Juga kenyataan bahwa mengapa yang ditanyakan tak akan mengubah kenyataan. Jikalau penasaran apa yang dimakan Si Kelinci, kadang-kadang ia menemukan apel nyaris busuk, sepotong wortel, atau sayuran layu. Mungkin, dari pembuangan sampah atau... entahlah. Kelinci tidak dapat berpikir apa-apa selain bagaimana cara keluar dari lubang keparat itu. Sekeras apa pun ia berteriak, pertolongan tak kunjung datang. Sekuat apapun ia mengeluh, se

Kian hari lubang itu semakin gelap. Semakin kelinci itu bergerak maju, semakin banyak keanehan menyengsarakan yang ia temui. Ada raja semut yang menggigit apa pun hingga tubuhnya tambun. Ada ratu semut yang mungkin saja terus berceloteh sambil mengeluarkan api yang membakar apa saja. Termasuk mengenai bulu kelinci itu. Kadangkala ada katak bertanduk hingga kecoa-kecoa yang tak pernah berhenti mempertontonkan aksi terbang berbagai gaya

Kelinci itu terus berjalan dan tidak kunjung menemukan pintu keluar. Badannya sudah kian kurus sebab tak terurus, bulunya rontok, matanya sendu, telinganya tak lagi tegak. Jauh di dalam hati Si Kelinci, sekalipun ia tak ingin berumur panjang, ia tak mau mati di dalam lubang keparat nan mengerikan. 

Hari ini Si Kelinci Abu tidak lagi berjalan. Ia  meringkuk di dekat tumpukan kulit pisang. Ia tak tahu apakah binatang juga boleh bertuhan. Atau Tuhan sudah tak anggap ia binatang, tetapi bagian dari sampah yang hidup di lubang pembuangan. Tanpa tahu apa salahnya, mungkin Tuhan sedang menghukumnya. Jika Tuhan suka menguji manusia dengan kesenangan dan kesedihan, Si Kelinci tidak mengerti mengapa ia tak pernah merasakan apa itu kesenangan sejak masuk ke dalam lubang. Mungkin Tuhan tidak ada bagi kelinci, hingga lupa memberikan kesenangan meski berada di kegelapan. Mungkin Tuhan juga lupa ada kelinci, sebab sampah-sampah ini menutupi. Namun, Si Kelinci masih yakin Tuhan baik hati termasuk pada kelinci. 

Kelinci itu terus berdoa, jika usaha tidak lagi bekerja, mungkin satu-satunya yang ia masih bisa lakukan hanyalah berdoa.

"Kalau aku tidak bisa keluar dari lubang ini segera, biarlah aku mati muda. Lubang ini begitu menyiksa. Bukankah Tuhan Yang Mulia tidak akan pernah kejam pada hamba-Nya?"


2.2.2021

#JustWrite

Pamit (Flashfiction)

September 29, 2017

Pagi itu kamu datang. Matahari belum tinggi ketika kamu mengetuk pintu. Mengganggu saja.
Pagi itu kamu datang dengan rapi, terlalu rapi untuk sebuah kedatangan di pagi yang terlalu dini. Kemeja flanel biru tua yang dimasukkan ke jeans biru belel. Sepatu yang tertali rapi. Bahkan tercium wangi sampo dari rambutmu yang mungkin baru kering.
Aku menguap, menatapmu dengan malas. Kugaruk-garuk rambutku sambil memandang sebal ke arahmu.
"Saya belum masak dan ini masih subuh. Ngapain pagi-pagi ke sini?"
Kamu cuma tersenyum. Matamu sejenak beralih ke kaktus-kaktus kecil yang tersusun rapi di depan kamar kost. Sudah jelas, kaktus memang lebih menarik dariku. Seonggok manusia tidak terlalu berguna dan mungkin baiknya dicabut nyawanya waktu masih muda.
"Saya nggak akan minta masakan kamu lagi, kok. Saya juga nggak akan ganggu kamu pagi-pagi. Saya juga nggak akan minta tethering dari kamu lagi. Nggak, saya nggak akan."
Aku mengerutkan dahiku, sekerut-kerutnya. "Oh, sudah lulus rupanya?" tanyaku. Bukankah dia pernah bilang teman kuliahnya ada yang sudah beranak pinak dan (mungkin) berbahagia? 
"Nggak. Saya mau pergi aja. Hidup itu pilihan, kan?  Daripada memandang tugas akhir yang tak kunjung selesai, saya mungkin lebih baik pergi."
"Kamu mau pamit?" tanya saya. Ada nada-nada tidak terkontrol waktu aku mengatakan itu. Seperti suara bergetar yang lahir dari keengganan ditinggalkan.
Kamu mengangguk. "Terima kasih. Selamat tinggal," sahutmu. Mengulurkan jemarimu yang panjang-panjang itu. 
"Sampai jumpa," jawabku. 
Kamu mengangguk dan tersenyum sebelum berbalik dan menyisakan mataku yang terus memandang punggungmu sampai kamu tak terlihat lagi dan aku berbalik menuju kamar.
***
  "Saya nggak akan minta masakan kamu lagi, kok. Saya juga nggak akan ganggu kamu pagi-pagi. Saya juga nggak akan minta tethering dari kamu lagi. Nggak, saya nggak akan."  
Aku seharusnya senang kan dengan kata-kata itu? Nyatanya tidak. Aku merasa sedikit menjadi manusia yang berguna ketika bisa memberimu sedikit makananku, membantumu, berbagi kuotaku. Lalu, ketika kamu pergi, aku kembali merasa tidak berguna lagi. Seharusnya, kukatakan selamat tinggal juga sebagai jawaban atas ucapan pamitmu. Karena kamu nyatanya benar-benar meninggalkanku. Sejak pagi di mana motormu menerobos palang kereta dan tergilas bersamanya. 
Satu pertanyaanku, "Apa kamu menyengaja? Pamit pagi-pagi untuk pergi tak kembali? Lalu kamu rencanakan ini sedemikian rupa? Sebab ratusan kali aku mendengar kamu berkata, 'Kalau aku mati muda' atau 'Aku ingin menghilang saja'. Sampai jumpa, sampai jumpa di kehidupan selanjutnya!"

Surakarta, 29.9.2017

#JustWrite

Keluarga yang Terlempar ke Luar Angkasa (Cerpen)

Mei 25, 2017

Kegaduhan pagi ini dimulai dari teriakan Mbah Sastro, lelaki berusia tujuh puluhan, mantan dosen seni rupa yang memelihara selusin burung di halaman rumahnya. Lelaki bersarung kotak-kotak dengan kaus putih itu berteriak,”Mereka terbang! Hei, mereka terbang!”
Awalnya, tidak ada yang memperhatikan teriakan Mbah Sastro, pagi masih begitu sepi, sampai tukang kebun mereka, Kerik, turut melihat ke angkasa dan terpana. Kerik semula mengira Mbah Sastro menunjuk kawanan burung seharga jutaannya lepas dari sangkar, tetapi yang kemudian dilihatnya adalah tiga orang manusia bergandengan melayang-layang dan terpental-pental di langit. Tubuh mereka sesekali terlihat seperti melompat-lompat, sesekali terombang-ambing,mendadak berputar-putar seperti komedi putar, lalu secepat kilat tertarik ke atas hingga tak lagi terlihat.
Semuanya peristiwa tadi terekam dalam kamera ponsel pintar Kerik. Tangan kapalannya tergerak untuk mendokumentasikan kejadian itu karena berpikir video amatirnya bisa menjadi bukti sejarah seperti rekaman video-video amatir saat tsunami Aceh. Bagi Kerik, ia tidak mungkin memanjat tiang listrik dan meloncat dengan sprei yang diikat di pundak seperti Superman untuk menolong keluarga itu. Pun, istrinya, berkata bahwa ia membutuhkan Kerik yang apa adanya, maka ia tidak perlu menjadi Superhero, misalnya. Kerik memilih mendokumentasikan daripada sok jagoan.
“Apa yang baru saja terjadi?” tanya Mbah Sastro, lebih seperti berbicara sendiri ketimbang berbincang dengan Kerik.
“Mereka terbang. Bu Ninik, Pak Akmal, dan anaknya Imora terbang,” jawab Kerik. Lalu menunjukkan video rekamannya. Video yang baru saja ia sebarkan di grup whatsapp ‘Perumahan Srikandi’. Video yang memancing setiap orang di perumahan keluar dari rumah mereka dengan keadaan apa adanya sambil memandang langit dengan sejuta tanya. Sebagian masih menggunakan daster, beberapa memilih berpiyama, dan sekumpulan bapak-bapak yang mengenakan kaus dalam putih dengan celana pendek atau sarung. Semuanya memegang ponsel, dan bisik-bisik mulai terdengar. Segerombol anak kecil tertawa berlarian tanpa peduli bahwa salah satu teman main mereka yang cengeng, Imora, baru saja terlempar dari bumi, mungkin ke luar angkasa. Hari itu, Minggu 30 April, televisi-televisi, juga portal berita online heboh dengan sebuah berita berjudul ,”Keluarga yang Terlempar Ke Luar Angkasa”

Banyak spekulasi yang muncul mengapa mereka terbang di angkasa dan hilang begitu saja.  Bu Laksmi agak gendeng, percaya bahwa mereka dipilih Tuhan untuk mendapatkan hidayah baru atas agama baru. Cucu Mbah Sastro, Bima dan Yudhistira, percaya bahwa Bu Nini dan Pak Akmal berencana bercinta di luar angkasa agar bisa kembali ke dunia dan menyenandungkan lagu Sepasang Kekasih yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa. Tante Gita, guru fisika di sebuah SMA percaya bahwa ada gaya gravitasi yang sangat kuat yang menarik mereka. Masih banyak lagi pendapat lain, mulai dari yang dapat diterima akal pikiran hingga terlalu imajinatif.
Semua pendapat itu seketika terbantahkan ketika polisi yang menggeledah rumah keluarga kecil itu menemukan secarik kertas berwarna merah muda dengan tulisan biru bertuliskan : Suara kalian begitu memuakkan, bernyanyilah, teriaklah, menarilah, enyahlah kalian ke luar angkasa! Bumsakdarkesembrotosengkasurutusingrotogozokosooo platu-platu.
Berhari-hari polisi melakukan penyelidikan, tetapi tidak juga menemukan jawaban. Rumah keluarga kecil itu kemudian ditempati saudara mereka. Tidak ada yang membicarakan terlemparnya keluarga itu sekarang.  Tetapi Kerik, patut berbangga. Ia menjadi komedian di layar kaca. Tingkahnya yang lucu saat diundang sebagai saksi mata di berbagai televisi mengundang gelak tawa dan ia pun pensiun dari tukang kebun. Sekarang, tiap malam, ia muncul di televisi bersama Sule. Memang tidak ada lagi yang membicarakannya, tetapi semua warga ingat. Termasuk Karla.
pinterest
Karla mengira itu hanyalah buku catatan biasa milik tetangganya, Naya. Maka, ia dengan santainya membaca buku catatan itu sambil mengunyah keripik singkong dan menonton Kerik di televisi. Naya sedang mandi dan mata Karla terus menelusuri kata demi kata di buku itu.
Saya benci tetangga saya.
Tidak ada alasan yang pasti mengapa saya membencinya selain sulutan emosi tiap kali mendengar suara-suara mereka yang masuk lewat lubang angin. Suara-suara sumbang dan cempreng yang menyulut emosi saya. Suara-suara yang tak pernah saya izinkan memasuki gendang telinga saya tetapi dengan mudahnya menggetarkan koklea dan otak menangkapnya dengan mudah, semudah ketidaksukaan saya.
Seperti cinta yang kadang tanpa alasan, seperti itulah ketidaksukaan saya pada suara-suara dari rumah sebelah. Tanpa alasan. Kekesalan yang tak diketahui mengapa saya begitu tidak suka dengan suara-suara yang mereka ucapkan. Seperti ketidaksukaan saya pada suara keran bocor yang meneteskan air perlahan-lahan, layaknya ketidaksukaan saya pada tempe busuk dan terong rebus.
Saya tinggal di perumahan yang padat penduduknya. Selain manusia, perumahan ini juga dihuni sapi-sapi, kambing-kambing, beberapa burung  dan ayam petelur. Tetapi, ini bukan peternakan. Ini hanya kompleks perumahan padat kelas menengah ke bawah di mana untuk menghemat, si juru gambar membuat tiap rumah berdampingan. Ini adalah hal yang paling saya sesalkan. Mengapa ayah saya membelikan rumah ini sebagai tanda kebebasan saya karena diterima kerja sebagai ... sebaiknya saya tidak terlalu mengumbar tentang pribadi saya.
Saya tidak pernah membenci tetangga tanpa sebab sebelumnya. Saat masih kecil, saya pernah tidak suka dengan ibu teman saya yang tiap saya bermain dengan anaknya, ia sibuk membicarakan ibu teman saya yang lain yang bersama pembantunya. Mereka duduk di meja makan, mengudap pisang sambil menceritakan hal yang sebaiknya tidak dibicarakan. Saya juga pernah membenci tetangga saya yang membuang sampah di halaman belakang rumah saya. Saya menyadari bahwa halaman kami memang luas, bahkan teramat luas sampai ayah dan kakak saya sering bermain bola di sana. Tetapi, bukan berarti sebuah tanah lapang bisa dengan seenaknya digunakan sebagai tempat membuang sampah. Saya kesal dan geram, belum lagi mereka tidak mengaku. Maka saya juga tidak mengaku saat menaburkan satu ember daun mangga yang banyak semutnya di depan rumah mereka. Masih ada cerita lainnya.
Ini adalah kasus baru, membenci tanpa tahu mengapa. Tidak suka hanya karena suara. Dan lebih anehnya, saya tidak pernah bertatap muka dengan mereka yang tinggal di belakang rumah saya. Ya, belakang dan bukan di kanan atau kiri. Kalau pernah bertemu juga, saya tidak tahu mereka yang mana.
Rumah yang ditempati tetangga yang saya benci adalah rumah seorang nenek renta pada awalnya. saya sering mendengar suaranya terbatuk-batuk atau memanggil pembantunya, entah mengeluh tehnya tidak panas atau sekadar merasa pegal-pegal. Suara nenek itu tidak pernah menganggu telinga saya, saya merasa baik-baik saja sampai nenek itu suaranya tidak lagi terdengar. Ia belum meninggal, hanya saja anaknya yang tertua membawa nenek itu untuk tinggal di rumah mereka sebagai baktinya. Saya tahu itu dari obrolan dua pembantu saat membeli sayur, kebetulan salah satunya adalah pembantu si nenek yang sekarang pun ikut pindah. Si nenek sangat menyayangi pembantunya.
Andai si nenek tidak pindah, mungkin cerita saya tidak akan menceritakan ini. Suatu hari, setelah berminggu-minggu rumah si nenek kosong dan saya hanya mendengar tokek tiap malam, terjadi kegaduhan di rumah itu. Suara-suara cempreng yang menyakitkan telinga saya dimulai. Tidak begitu ingat, tetapi suara yang pertama kali mengusik emosi saya adalah soal sikat gigi.
“Pokoknya, kirimkan sikat gigi Imora ke rumah baruku. Imora hanya mau sikat gigi itu, lagipula susah mencari sikat gigi seperti itu di sini. “
Yang saya lakukan pertama ketika mendengar suara wanita dengan aksen suatu-daerah-yang-tidak-ingin-saya-sebut adalah membuat kernyitan di dahi. Sebegitu pentingkah sebuah sikat gigi? Lebih lagi ucapan menyoal Imora-hanya-mau-sikat-gigi-itu membuat saya bergidik, membayangkan usia Imora yang sepertinya masih balita, sikat gigi seperti apa yang begitu hebatnya sampai harus dikirimkan dari rumah lama yang saya tahu ribuan kilometer dari kompleks ini, dan ... sudah berapa lama sikat gigi itu dipakai? Bukankah sikat gigi paling tidak diganti 2-3 bulan sekali? Membayangkannya saja sudah jijik.
 Seperti ungkapan sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit, kebencian saya terhadap mereka membukit. Tentu saja karena anaknya yang mungkin tidak pernah berganti sikat gigi itu terus-terusan menjerit, ibunya balas memekik, dan bapaknya tertawa sumbang. Juga ungkapan cinta sang ibu terhadap anaknya yang berlebihan seperti: Oh, Cintaku, mau makan dengan tempe goreng hari ini? Astaga, kamu begitu cantik seperti Annabelle.
Sebentar, bukankah Annabelle menyeramkan?
Kebencian akan suara mereka membuat jantung saya berdetak tak karuan. Seperti semua emosi negatif berkumpul menjadi satu. Layaknya bom atom yang siap untuk diledakkan kapan saja tiap tersulut kebencian akan teriakan memanggil sang ibu dengan isakan dan kata marahnya. Saya tidak suka mendengar anak yang memarahi ibunya dan ibu yang merasa bersalah dimarahi anaknya bukan atas kesalahannya.
Pagi itu, bom atom itu meledak. Saya kirimkan selembar kertas beserta mantra yang bisa mendepak mereka dari bumi ini. Selembar kertas yang dibaca sang ibu dengan suara cemprengnya, yang mengantarkan mereka ke langit dan  mungkin tinggal di luar angkasa. Saya merasa...

“Tidak sopan! Membaca tulisan orang sembarangan!” teriak Naya, ia berlari dari toilet dan langsung melompati sofa. Mengambil buku hariannya dan melemparkan tatapan penuh hunusan pedang ke arah Karla.
“Kamu jahat, Naya. Suara keluarga itu memang memekakkan, dan tingkah mereka berlebihan, tetapi mereka tetangga kita.”
“Terserah, itu sudah lama terjadi. Aku harap kamu diam,” sahut Naya pelan tetapi sedikit penuh penekanan.
Karla tidak menjawab. Ia memutuskan keluar dari rumah Naya tanpa sepatah kata. Di depan rumah Naya, Karla mengirimkan pesan ke grup whatsapp kompleks perumahan mereka.
Naya yang menerbangkan keluarga Akmal.

Notifikasi ponsel Naya berbunyi detik itu juga. Sebaris pesan Karla di grup langsung terbaca. Matanya terhunus ke punggung Karla yang berjalan menjauhi rumahnya. Tangan Naya seketika menari di atas ponselnya.
Sesaat kemudian, langkah Karla terhenti. Ponselnya bergetar dan sebuah  pesan dari Naya ia terima. Perlahan ia membacanya. Bumsakdarkesembrotosengkasurutusingrotogozokosoooplatu platusutukumbro

Seketika tubuh Karla tertarik ke atas, kakinya terayun-ayun, tangannya melambai-lambai, dan teriakannya tersapu angin. Hari itu Karla terlempar ke ruang angkasa, tanpa seorang pun merekam peristiwa itu.


Surakarta, 1 Mei 2017

#FotoBercerita

Tjurhat si Boy

Februari 09, 2017






Nama saya Boy dan saya kucing. Perut saya buncit dan karena itu beberapa kucing lain seenaknya memanggil saya Si Gendut. Saya tentu enggak suka dengan panggilan itu. Biar Ibu memberikan nama kuno seperti Paimin atau Samijan pun, saya tetap lebih menyukai dipanggil begitu daripada Si Gendut. Saya memang sedikit buncit, tetapi kucing lain tidak sepantasnya memanggil saya seperti itu.
Kucing-kucing sering memanggil kucing lain dengan sebutan yang tidak hewani. Kucing yang tidak pintar sering di panggil Si Bebal, Si Bodoh, atau Si Tolol. Padahal, tidak ada kucing yang benar-benar menerima dipanggil Si Tolol sekalipun ia mengerti bahwa dirinya bodoh dan teramat tolol.

Sudahlah, terlalu banyak mengeluh tidak akan membuat saya menjadi kurus. Saya hanya perlu lebih banyak bergerak agar saya menjadi kucing yang lincah. Apa yang dilihat mata itulah yang terekam pertama, kucing-kucing melihat saya sebagai kucing yang gendut, dan saya hanya perlu tidak memperdulikannya. 
**



Merasa sudah lama tidak bermain-main di blog dan terlalu sering meracau tidak jelas di tempat lain. Dan kurasa kuharus kembali ke dunia jingga yang lain yaitu blog. Mungkin dimulai dari gambar bercerita dan meracau sesuka hati.


#Imajinasi

Lempar #flashfiction

Februari 03, 2016

Saya merasa terengah-engah. Kopi yang ketiga sudah tinggal ampasnya. Tentu ini kopi asli, bukan kopi mainan yang terlalu banyak aksesorisnya. Ini kopi asli yang bijinya saya giling sendiri. Dan saya bubuhkan 123 butir gula. Kira-kira sebanyak itu. Ah, mengapa malah membicarakan kopi. Mari pindahkan sorot kamera ke sebelah kiri. Ya, itu, dia. Ya, dia yang berdiri di depan pintu sambil membawa nampan kopi. Sejak tadi dia hanya terpaku. Tidak, dia menjerit tiap kali saya melemparkan kursi, sendok, pensil, piring, gelas, baju kotor, dan segala hal yang saya rasa enak untuk dilempar. Dia asisten rumah tangga. Lebih tepatnya pembantu di apartemen saya yang tidak terlalu besar ini. Bukan saya yang mau ada pembantu, ini ulah paduka ratu yang melahirkan saya delapan belas tahun lalu.
Dia bertanya mengapa saya melakukan itu. Dan saya jawab dengan tatapan tajam, menghunjam, yang kalau dia pintar dia akan mengartikannya sebagai perintah diam. Sayangnya dia tidak sepintar yang saya kira. Dia malah ikut-ikut menjatuhkan nampannya. Dia dengan mudahnya menghancurkan mug kesayangan saya. Benda yang saya yakini tidak akan saya lempar dalam situasi seperti saat ini. Saya menjerit. Dia berteriak. Saya memekik. Dia tertawa. Loh, kok jadi begini? Seharusnya dia tidak tertawa. Tapi kemudian dia berbalik. Masuk ke ruangan kecil dengan kasur lipat dan lemari kecil, tempat dimana ia biasa tidur.
Saya terduduk di sofa yang sudah tertumpah kopi, penuh baju kotor, dan pecahan piring. Lalu otak saya mengelana. Mengapa bisa seberantakan ini sedang saya punya asisten rumah tangga. Maka saya berjalan ke ruangan kecil itu. Mengetukkan pintu sambil berseru memanggil namanya yang saya rahasiakan. Pintu tidak kunjung di buka. Terkunci lagi. Dengan kuda-kuda, saya tendang terjang pintu itu. Berkali-kali. Hingga saya lelah sendiri.
Saya berjalan ke lemari es dan meminum yogurt. Hanya ada itu. Mungkin saya perlu ke swalayan nanti. Memenuhi kulkas dengan berbagai panganan yang mau membahagiakan saya. Setelah merasa segar, saya dobrak pintu itu. Dan berhasil. Saya menari-nari merayakan kehebatan saya mendobrak pintu.
Kini saya menatap sesosok perempuan yang terduduk di kasurnya. Tubuhnya berserah pada tembok. Matanya tertutup rapat. Dan spreinya yang putih berganti motif menjadi polkadot dengan cipratan-cipratan darah segar. Di tangannya ada sebilah pisau dan garpu. Ya Tuhan. Ada apa ini? Dia bunuh diri? Mati? Kenapa lucu sekali.


Ya ampun ini apa yaaa. Gak tau ah ini nulis apaan >.<

#JustWrite

Konspirasi Menjatuhkan Kopi (Opini bergandeng dengan fiksi)

Januari 27, 2016

Ini hanyalah tulisan yang memandang suatu kejadian dari sudut pandang kopi. Terinspirasi kejadian nyata namun sudah jadi fiksi. Hanya canda, bukan sesuatu yang serius sesungguhnya.


Perhatikan. 

 Beberapa waktu yang lalu, sebuah mobil mewah menyeruduk warung kopi.
Disusul sebuah pembunuhan berencana dimana racun mematikan tercampur dalam segelas kopi.
Dan... sebuah bom di  kedai kopi papan atas.

Ketiganya memuat hal yang sama, kopi.
Warung kopi kecil ditabrak. Minum kopi, mati. Mau kongkow di kedai kopi terkenal, di bom. Semua merujuk ke arah yang sama. Bahwa kopi ada di setiap kejadian itu. Ada apa dengan kopi?
Tidak ada yang membahas bahwa mungkin saja pamor kopi sedang dijatuhkan. Kopi sedang di atas awan. Para pecinta kopi dan pengaku pecinta kopi menjamur. Sudah tidak tahu lagi, mana yang pecinta mana yang hanya ingin memenuhi instagram atau social media lain dengan foto segelas kopi. Bisnis kedai kopi sedang menjanjikan. Dari warung bambu sampai kedai di lantai entah berapa. Tak terkecuali kopi hitam bagi pecandu. Dan kopi mainan yang menjamur dengan bungkus warna-warni. Sudah tidak tahu lagi, sebenarnya berapa persen kopi di bungkus kopi mainan itu. Tapi, itu tetap kopi. Kedai kopi menjanjikan. Barista dilirik jadi pekerjaan. Dan menu-menu terkait kopi mulai beragam. Dengan nama-nama yang kadang sudah tidak ada lagi kata kopinya.
Kopi memang disukai. Candunya bikin nggak bisa berhenti. Aromanya selalu memanggil. Dan pekatnya, pahitnya, dan filosofinya tidak bisa terbantahkan.

Ini bukan benci. Biasa saja. Tapi kopi saat ini sedang melirik jengah ke arah teh. Teh adalah saingan kopi. Kopi bisa berdansa dengan gula. Bisa berpeluk mesra dengan coklat. Bisa menari dengan susu. Tapi kopi enggan dengan teh. Dan teh, bisa jadi benci kopi.
Adalah teh yang berusaha menjatuhkan kopi. Sebab teh iri. Jumlah kedai kopi berpuluh kali lipat daripada kedai teh. Sebab Tea Time malah digunakan untuk coffee time. Sebab teh kemasan hanya itu-itu saja. Tidak bungkus warna-warni. Mungkin ada, tapi sedikit. Sedikit sekali. Teh iri. Maka teh bersekongkol dengan mobil mewah itu. Namun, pencinta kopi masih menyeruput kopi tiap pagi.
Teh tertawa saat sianida itu ada di segelas kopi. Menjadikan seseorang berpulang ke Tuhan. Menggemparkan halaman depan koran. Nama kopi disebut. Spekulasi keracunan kopi membumbung.  Keburukan kopi diangkat. Teh terbahak.
Namun, pecinta kopi tetap ngopi. Teh bergabung dengan teroris. Yang ledakkan bom di kedai kopi papan atas. Setelah gagal menyasar pecinta kopi kelas menengah ke bawah. Sayangnya, penjual sate lebih pamor. Outfit Polisi lebih kondang. Dan tentara jajan lebih terkenal. Kopi tidak disinggung sama sekali.

Teh sedang bergelung dalam duka akan kegagalan menjatuhkan kopi. Ia menangis. Teh melupakan satu hal, bahwa mau bagaimanapun pecinta kopi adalah orang-orang yang setia. Setia pada tiap teguk kopi di setiap harinya.


*

Well, ini adalah pikiran yang sebenarnya sudah lama saya pikirkan. Hanya mainan. Tidak bermaksud menjatuhkan teh. Saya juga suka kok teh, kadang. Seharusnya menyiapkan intervensi besok. Tapi tidak tahan menulisnya. >.<

#Imajinasi

Surat Chero #1

Desember 19, 2015


 Surat Chero #1

Kepada Kaisha Btari Zechmeister
Jadi kurasa sekarang sudah waktunya kita hentikan semua perdebatan tempo dulu. Kalau saja masih ada ingatan itu di otakmu. Sebab aku tidak yakin, gebrakan dan siraman kopimu ke kemejaku masih tercetak di memorimu.
Begini. Aku tahu, bahwa hujan, senja, dan pelangi-mu itu adalah hal yang bisa didramatisasi seenakmu, sesukamu, sekacanganmu, atau seintelektual yang kamu bisa. Aku tahu bahwa hujan bagimu syahdu, meresonansi ingatan, dan entah apa sebab aku sudah lupa semua itu.
Kaisha, aku hanya ingin kamu menoleh sesekali. Kepada trotoar, semangka, tiang listrik, kapur tulis, bola, apapun itu terkecuali hujan-senja-pelangi. Bejibun Kaisha  kata yang ada di KBBI. Begitu banyak hal dan kata yang bisa diurai selain hujan-senja-pelangi milikmu itu! Sebab aku takut obsesimu itu suatu hari menimbulkan halusinasi, delusi, apalah itu. Aku hanya pernah membaca sekali di buku psikologi.
Kaisha. Menarilah bersama paku payung, wortel, air comberan, dan apapun selain air hujan. Bosan. Bosan aku mendengar ucapanmu. Kamu selalu berkata,”Aku menari. Menari aku. Hujan dan aku. Aku dan hujan menari,” bedebah Kaisha! Aku hapal di luar kepala!
Kaisha. Berhentilah berkata,”Jingga-jingga-jingga. Sewarna senja. Merona menghambur cahaya,” keparat Kaisha! Aku mematri nyanyianmu. Enyah! Enyah!
Dan Kaisha. Berhenti mengucap,”Pelangi tujuh warna. Hidupku ceria. Hujan deras  tiba tapi berujung warna-warni bahagia.” Duh Kaisha! Otakku dengan bodoh mengingatnya!
Maka Kaisha, sebelum otakku terus dijejali obsesimu pada hujan-senja-pelangi, berhentilah. Mari berhenti Kaisha, jika tidak kurangi. Sebab dunia masih ada matahari, kerikil, spidol, jepit jemuran, dan lainnya.
Bagaimana Kaisha? Kutunggu hari ini di lantai tiga seperti biasa. Tanpa hujan-senja-pelangi.

Salam sehangat kuah mi,
Chero Che Santrock

#JustWrite

Gadis Berpayung Hitam, Lelaki Berkaus Merah, dan Si Topi Biru

Desember 12, 2015

      Gadis itu menggenggam payung hitamnya kuat. Angin yang mengembus menusuk-nusuk pori-pori pipinya yang kemerahan. Rasanya dingin, ia menggigil. Lalu perlahan ia berjalan, menyusuri trotoar yang mulai ramai. Matanya menatap lampu-lampu jalanan, memburam, berpendar, sebab air mata menyesak ingin keluar. Bibirnya terkunci, rapat, seperti hatinya kini. Dua puluh langkah panjang-panjang sudah ia jalani, ingin rasanya menoleh ke belakang. Gadis itu ingin memastikan apakah lelaki itu mengejarnya, pergi, atau tetap di tempat. Gadis itu memutuskan menghentikan lajunya. Menimbang-nimbang apa yang harus dilakukannya. Otaknya beradu, lalu mengingat kejadian dua hari lalu.



Dua hari lalu di sebuah kedai teh, 300 meter dari rumah Si Gadis. Jam menunjukkan pukul tujuh malam, di meja delapan.

"Maaf," bisik si gadis lemah. Matanya hanya menekuri teh hijau tanpa gula yang pahit sepahit hatinya. Lelaki berkaus merah itu tidak menjawab, ia merapatkan giginya, meremas jarinya, dan menatap tiga potong muffin lezat yang tak tersentuh sejak empat puluh enam menit yang lalu. Sejak gadis itu mengaku suatu hal yang membuat lelaki berkaus merah membara.
"Maaf. Sungguh. Aku... aku.... Kamu tahu kan bagaimana kita waktu itu."
"Aku tidak tahu," potong Lelaki Berkaus Merah.
 "Kita sedang tidak baik-baik saja..." ujar Si Gadis, suaranya bergetar.
"Lantas kalau tidak baik-baik saja kamu bisa dengan mudahnya?"
" Kamu pikir siapa yang memulai lebih dulu hah?" sahut Si Gadis pelan, ia mulai naik pitam. Lalu si Lelaki Berkaus Merah menatap Si Gadis, menghunjam, tatapan penuh kebencian dalam.
Lelaki itu mengembuskan napas dengan berat. Hingga ia berkata,"Kita akhiri semua ini. Mungkin aku sudah tidak berarti."
Gadis itu masih diam. Tangannya meremas-remas kemeja flanelnya. "Jangan," ucapnya sambil menatap Lelaki Berkaus Merah penuh harap.
"Ini tidak bisa dipaksakan. Pergilah dengan lelaki barumu," ucap Lelaki Berkaus Merah sebelum beranjak dari kursi dan meninggalkan Si Gadis. 

Si gadis memutuskan berjalan, meski pelan dengan pandangan kosong. Percakapan tujuh menit yang singkat itu kembali berdendang. Percakapan di sebuah kedai roti bakar di pinggir jalan. Jauh, jauh dari halte bus terdekat.

"Jadi... kalian berakhir?" tanya Si Topi Biru . Si Gadis mengangguk. Ia menggigit sepotong roti bakar saus kacang perlahan. Dadanya berdegung kencang bersama dengan perut yang mulas dan mual. Selalu seperti ini tiap ia berada di dekat Si Topi Biru. Rasa yang sama dengan yang ia rasakan bersama Lelaki Berkaus Merah, tiga tahun lalu. 
"Bagaimana dengan kita?"
"Kita? Apanya?" Si Gadis mengerutkan dahinya. Ia terus menggigiti rotinya, menutupi kegugupannya.
"Hubungan kita? Kamu... Aku... Yah, itu."
"Aku tidak tahu. Maaf, aku tidak tahu."
"Aku tahu kamu x padaku," ujar Si Topi Biru. Si Gadis kembali mengerutkan dahi.
"X ?"
"Terlalu geli mengatakan empat huruf yang diawali 'l' dan 'e'," ucap Si Topi Biru sebelum terkekeh. Si Gadis diam, tetapi pikirannya ricuh. Ia 'x' pada Si Topi Biru, namun begitu banyak hal lain selain 'x' yang ia pikirkan. Banyak hal, sangat banyak. Tentang berbagai kemungkinan buruk yang ia takutkan. 
"Aku tidak tahu. Sungguh. Aku ingin pulang saja," suara si Gadis pun keluar setelah sekian lama hening menyelimuti mereka dan gerimis mulai turun. 
"Ayo, sebelum hujan datang. Kita bisa bicarakan itu lain kali. Kita sudah berjanji kita akan terus berteman bukan?"
Gadis itu menggeleng. "Aku pulang sendiri. Sebaiknya kita tidak usah bertemu lagi. Ya, begitu," ucap Si Gadis. Lalu ia berdiri dan mengambil payung hitam, berjalan keluar kedai dan mengembangkan payungnya. Gadis itu menipu dirinya. Oh tidak, ia hanya berusaha realistis dan menggunakan logikanya. 

Pada akhirnya gadis itu berbalik, dan Si Topi Biru tidak menampakkan dirinya. Bersama dada yang bergemuruh gadis itu berjalan dengan cepat menuju halte. Menghiraukan keributan kecil di otaknya. Ia duduk di halte bersama segerombol remaja yang berisik mengusik telinganya.

Beberapa tahun kemudian....

Gadis itu tampak cerah, bersama pipinya yang putih kemerah-merahan. Ia berlari menghampiri sesosok lelaki berkemeja abu-abu. Gadis itu tertawa, lalu menggandeng lengan lelaki berkemeja abu-abu. Tidak ada yang tahu pasti siapa lelaki itu. Apakah ia Lelaki Berkaus Merah, Si Topi Biru, ataukah sosok baru yang datang mengisi hatinya. Gadis itu sudah menemukan rumahnya. Sekarang.

#JustWrite

Deirde, ikan kembung yang malang

Mei 30, 2015

Aku adalah seekor Rastrelliger brachysoma, hidupku di lautan luas sekaligus ganas. Menjadi waspada dan selalu hati-hati adalah titah Ayah yang kuingat sampai kini. Ya, sampai aku terperangkap dalam jaring-jaring biru lelaki paruh baya. Aku pikir aku akan segera berakhir di penggorengan. Mati kehabisan udara, lalu dimutilasi sedemikian rupa, membuang insangku, membuang kotoranku dan mencuci bersih diriku. Lalu mereka melakukan apapun yang mereka inginkan. Dicelupkan ke penggorengan, dilumuri tepung dan di goreng, di goreng dan diberi sambal, di goreng lalu diulek bersama cabai dan bawang, di sayur, di bakar, atau diberikan ke kucing kesayangan.
Sayangnya tidak. Dan sesungguhnya jika aku memilih aku lebih sudi berakhir di penggorengan secepatnya daripada sekarang.
Anak lelaki si tua itu menangkapku, aku sudah memejamkan mata dan berdoa. Berdoa agar masuk surga dan bertemu Ayah dan Ibu. Bertemu Jane, Kate, Edward, Emily, Daniel, Adam, Frankie, Bonnie, Gerald, dan Heidi. Mereka semua saudara kandungku. Sayangnya anak lelaki itu memasukkanku ke sebuah kotak besar. Mungkin namanya akuarium. Ya, benar, Frankie pernah bercerita setelah ia membaca ensiklopedia -jangan tanya bagaimana dia bisa membacanya-.

Aku berenang di akuarium yang bukan tempat hidupku. Aku hidup di air laut, hidup di air tawar seperti sekarang sama dengan membunuhku perlahan. Mungkin besok aku sudah tinggal nama. Tolong ingat namaku, namaku Deirde. Aku pun tidak tahan, ada lele yang memandangku tajam seperti hendak memakanku sekarang. Atau mujair yang berkumis, terlihat aneh. Belum lagi betok yang hitam dan nila yang meracau tak karuan. Mereka benar-benar menyiksaku, membunuh lewat air yang salah saja kupikir sudah salah apalagi dengan siksaan psikologi seperti ini. Aku tidak tahu apa yang dibicarakan ikan-ikan darat.

Mungkin sebaiknya mereka mengambilku sekarang. Aku ingin berakhir di penggorengan secepatnya, daripada tersesat diantara perbincangan tentang lumpur yang tak kupahami.

#Imajinasi

On his mind.#ff

Mei 12, 2015

Kemarin, pulang kuliah entah kenapa langsung ngambil buku and write this. Belum selesai atau mungkin hanya sampai sini, aku juga nggak tahu. Lelaki yang ada di cerita ini hanya minta diceritakan kisahnya meski belum berakhir. Enjoy it. Mau kritik saran juga boleh :)


Symphony No.40 in G Minor milik Mozart memenuhi ruang pendengaran saya. Pelantang dengar terpasang rapat di kanan dan kiri telinga. Saat ini saya merasa sedang berlari, berusaha pergi dari kenyataan kejam yang saya takuti. Saya tahu bahwa kenyataan bedebah dan menyakitkan itu tidak akan pergi sekuat apapun saya berteriak mengusirnya. Mungkin saya sedang menyangkal. Meski saya paham benar menyangkal adalah kesia-siaan.
You know, you must face the truth. Stop asking ‘why’ .
Bukan, itu bukan perkataan saya. Seorang lelaki tua berjambang putih dengan topi kuning yang mengatakannya pada saya beberapa hari lalu. Tidak, kami tidak mengobrol atau saling mencurahkan masalah. Saya sedang menunggu bus ungu nomor 37 yang saya yakini bisa mengantarkan saya ke surga barang sejenak. Lelaki itu datang dengan tas coklat yang ia rapatkan ke kemeja putihnya yang lusuh. Ia memandang saya dan berkata,”Dear, You know, you must face the truth. Stop asking ‘why’ . “ . Saya tidak menanggapinya, saya malas berbincang-bincang dengan siapapun sekarang. tidak ada orang di dunia ini yang bisa saya percaya. Tapi dengan bedebah, ucapan kakek tua itu terpatri di otak saya. Lihat, saya ingat setiap katanya sekarang, bukan?
Tak lama setelah mendengar ucapan kakek tua itu, bus nomor 37 datang dan saya meninggalkan si kakek. Bus itu berhenti di depan sebuah bar dan saya masuk ke sana. Memesan berseloki-seloki minuman setan. Apapun nama minuman beralkohol yang terdengar indah di telinga, saya pesan malam itu. Seperti, “Welcome to the jungle”, “Imagine Cow” sampai “Red or blue or black or yellow, bullshit !”. I know... saya tahu mabuk adalah hal buruk. Tapi saya sedang menyangkal apapun sekarang. Bersama cairan fermentasi laknat Tuhan saya melayang. Terbang ke langit lapis sekian dan tertawa sepuas setan. Bahwa saya hanya bisa tertawa dan menertawakan nasib saya bersama “Red or blue or black or yellow, bullshit!” dan dentam-dentum musik yang tak pernah menertawakan apa yang saya teriakkan. Malam dimana saya mabuk itu saya melihat cahaya berkilauan. Mungkin malaikat, tapi sudikah makhluk suci itu masuk ke bar?
Pelantang dengar masih berbunyi, memutar simfoni Mozart yang lain. saya menutup mata, menikmati hembusan angin yang menerpa pori-pori kulit saya. Cuaca cerah namun angin membuat saya tak gerah. Bisakah saya menjadi angin? Yang bisa berhembus sesukanya. Dari utara ke selatan, dari barat ke timur laut. Bisa dengan manja berayun di dahan pohon atau kesetanan dan menjadi angin ribut atau badai. Lalu malu-malu dan berhembus pelan tanpa terasa.
Serotonin, oksitosin, dopamin, dan endorfin. Apalagi? Apalagi hormon yang menyebabkan manusia jadi bahagia?
Ada sebuah teori busk yang sangat saya benci setengah mati. Teori itu berkata bahwa semua bermula dari otak, dari pikiran kita. Ya, semua yang kita rasakan dan pikirkan bermula dari benda menyerupai agar-agar yang terombang-ambing di kepala dan ditahan cairan yang tidak pedulilah saya akan namanya.
Jadi, ketika saya sedih sebab otak. Saya resah karena otak. Saya senang karena otak. Bodoh saya karena otak. Sebab otak pula saya pintar. semuanya sebab otak. Saya benci teori itu mungkin karena memang benar. Dan saya makin benci ketika saya merasa resah, saya hanya bisa menyalahkan otak. Bukan kaleng soda di depan mata saya, bukan gadis cantik yang mengerling manja di sudut bar, atau pengemis buruk rupa. Segala kesalahan, kesedihan, dan tawa saya berasal dari otak. Terpujilah engkau ketika saya bahagia dan terkutuklah engkau ketika saya sengsara, otak.
Musik yang katanya dapat mengubah perasaan menjadi lebih ceria tak menimbulkan apa-apa Saya sedih sekarang. dan makin sedih tidak ada yang bisa saya salahkan. Terlebih semuanya salah otak dan menyalahkan otak sama saja menyalahkan diri sendiri.
Serotonin, oksitosin,dopamin, dan endorfin. Mungkinkah saya sedang miskin mereka sekarang? Hingga saya tidak bahagia d merasa hancur lalu ingin kabur. Apakah jika hormon itu melonjak, saya bisa bahagia? Bisakah mereka menyelesaikan masalah pelik saya? Saya tidak percaya, tapi tidak ada yang salah untuk mencoba.
***
Lelaki kurus itu menghampiri saya ketika saya duduk di taman kemarin. Menawari pil-pil dengan harga selangit yang warna-warni dan menarik hati. pil itu tersenyum pada saya.
“Bisa menaikkan serotonin, dopamin, oksitosin, endorfin?” tanya saya.
“Ah, Anda bicara apa Tuan? Yang saya tahu bahwa Anda bisa bahagia jika Anda menelan pil ini. Anda akan merasa seperti di surga, melayang tanpa batas dan lupa semua masalah Anda. Lihat, saya terlihat bahagia bukan? Hahaha.”
Saya mengamati lelaki itu, dari rambutnya yang keriting, matanya yang cekung namun terlihat bergairah dan semangat, bibirnya menghitam dan terus menyungginggkan senyum sambil tertawa. Saya butuh bisa tersenyum dan tertawa seperti dia. Saya butuh senang, saya butuh, saya menginginkannya.
Maka saya menguras uang yang ada di bank, mengubah digit yang saya miliki demi pil warna-warni yang terus tersenyum pada saya.
Malamnya saya menelan sebutir pil tersenyum berwarna pink. Pil yang saya yakini mampu mendongkrak kadar serotonin, dopamin, Oksitosin, endorfin dan tentu pemicu bahagia dan segala tawa. Malam itu saya merasa manusia paling bahagia. Saya melihat semua orang tersenyum pada saya, mereka ada di langit-langit kamar. Bahkan adik saya yang sudah mati pun tertawa di langit-langit.
Ada rasa nyaman dan tenang. Senyum saya terus terkembang bersama tawa yang membahana. Saya telan lagi pil bahagia itu. mendadak semua orang yang ada di langit kamar menghilang. Saya kesal, namun dua ekor kelinci dengan jas datang. mereka lucu sekali. Kelinci dengan pita merah memegan mikrofon dan si pita hijau memegang tamborin. Belum menyanyi saja saya sudah tertawa, kelinci-kelinci itu lucu sekali dan mereka bergoyang-goyang. Si pita merah memulai nyanyiaannya. Tidak ada masalah sampai ia lupa lirik di bait kedua baris kedua,pula.

“When the blazing sun is gone. When nothing.... when nothing... when nothing... nothing....”
Kelinci berpita merah menunduk menyembunyikan pipinya yang gembil dan memerah karena malu. Meski begiyu ia tetap mengulang-ulang ‘when nothing’. Si pita hijau terlihat asyik sendiri memaikan tamborinnya, tidak peduli dengan si merah dan menari-nari sendiri.
“When nothing shines upon!” seru saya. Si pita merah merona bahagia, melanjutkan nyanyiannya. Tapi ia selalu lupa baris kedua.
Di bait ketiga ia lupa “thanks you for your tiny spark” dan terus menggulang-ulang “thanks you”
Di bait keempat ia terus berkata “And often through” dan lupa bahwa lanjutan tiga kata itu adalah “my curtains peep”.
Bait terakhir ia hanya meracau “the dark” ketika seharusnya “ lights the traveller in the dark”.
Saya bertepuk tangan sambil terengah-engah sebab lelah menertawakan si kelinci. Saya ingin lagi, lalu menelan pil kuning. Tak lama setelah pil itu saya telan, kelinci-kelinci itu undur diri. Saya diam sambil memandangi kaca di depan saya. Sampai seorang raksasa hitam dengan mata kuning tertawa dan mendekati saya. Saya bersembunyi di balik selimut dengan lutut bergetar dan dada bergemuruh kencang. Air mata saya jatuh dan mulut saya memanggil nama Tuhan. Tapi, apakah Tuhan dengar teriakan saya?
*


Popular Posts

My Instagram