#FotoBercerita

Racauan Nikola tentang Mikola

Januari 15, 2021

 Sepertinya, sebelum kembali menulis  novel bernapas panjang, aku butuh pemanasan dengan rutin menulis Gambar Bercerita. Gambar Bercerita adalah kumilih gambar secara random, lalu kumenulis apa yang ada di kepalaku.

Selamat membaca ^^


sumber gambar


Nikola Tesla. Begitu lelaki kurus berambut berantakan itu memberiku nama. Berjuta kali ia menceritakan bahwa nama itu adalah nama fisikawan favoritnya. Tentu saja aku tidak tahu dengan jelas apa itu fisikawan. Setiap aku memandang lurus ke matanya untuk meminta penjelasan apa itu fisikawan, Miko --- nama lelaki itu--- malah beranjak ke rak kayu dan mengeluarkan bungkus snack kesukaanku. Aku tidak mengerti, apakah Miko sebenarnya tidak mengerti pertanyaanku. Atau... fisikawan sebenarnya berarti pemangsa kucing, dan ia menyembunyikan fakta itu dengan menutup mulutku dengan makanan. Aku harus mengakui bahwa makanan adalah penutup mulut paling ampuh, setidaknya bagiku.

Aku merasa nama ini terlalu panjang dan terdengar keren untuk seekor kucing domestik. Pasalnya, tetangga kamar kost Miko yang berambut seperti sarang burung, memelihara seekor kucing persia yang aduhai bulunya. Matanya pun bulat besar dengan hidup pesek sempurna. Si Persia ini dipanggil Dugong oleh pemiliknya. Jika saja kau tidak melihat betapa seksi liukan buntutnya, kau mungkin akan berpikir Dugong adalah kucing gempal yang bulat sempurna dan siap dijadikan bola. Dugong diadopsi beberapa minggu setelah aku tinggal di kamar kost Mikola yang begitu rapi. Mikola tidak pernah membiarkan spreinya berantakan, dan ia akan menumpuk buku berdasarkan warna. 

Omong-omong, izinkan aku bercerita bagaimana Mikola mengadopsiku. Ini bukan cerita yang tragis kalau-kalau tanganmu siap mengambil tisu. Aku adalah kucing tanpa nama yang lahir dari seekor betina di gedung tempat Miko berkuliah. Ibuku adalah kucing betina yang haus belaian dan begitu menggandrungi kucing garong berbulu kelabu yang tidak begitu tampan---konon ia ayahku juga. Jadi, begitu aku dan seekor saudaraku terlihat bisa tegak berjalan, ibuku meninggalkanku dengan pesan,"Hidup ini kejam, kamu bisa mati jika tak bisa bertahan." Kalau saat itu aku sudah sebesar saat ini---aku sudah melewati 7 purnama--- aku mungkin akan berkata,"Jika hidup ini kejam, dan Ibu tak bisa membuatku bertahan, untuk apa dan siapa aku dilahirkan?" 

Aku hampir mati kedinginan ketika Mikola menemukanku kehujanan di teras gedung kampusnya. Kembaranku sudah diambil seorang mahasiswi. Aku sebenarnya berlari mengejar kembaranku, tetapi manusia itu tidak menyadari. Tentu akan lebih baik kalau ia mengadopsi kami berdua. Oh, betapa malangnya aku. Ibuku yang bucin meninggalkanku, dan kembaranku diadopsi lebih dulu. Namun, Mikola datang seperti malaikat. Tangannya yang besar meraih badanku yang kurus kerempeng dan membungkusku dengan jaket hitamnya yang wangi.

"Ini obat cacing, dan kau harus meminumnya," begitu kata Mikola ketika sebuah jarum suntik tanpa jarum---sebagai kucing aku tidak tahu kata yang pas--- tepat di depan bibirku. Aku hanya menurut ketika cairan berwarna oranye kental dengan rasa asam itu masuk ke mulutku. Lalu Mikola berseru tatkala ada binatang menggeliat di bak pasir. 
"Cacingnya keluar! Cacingnya keluar! Hebat!" seru Mikola.
Cacing. Aku baru tahu kalau  bahwa seekor kucing bisa memelihara hewan di perutnya. Bukankah itu hebat, kawan? Lantas mengapa harus kukeluarkan?

Hari-hariku bersama Mikola sangat menyenangkan. Tubuhku mulai berisi, buluku mulai berkilau, dan Miko selalu mengajakku bermain. Sampai ... sampai Miko membawa bungkusan kabel-kabel. Sampai ia tidak pernah mengalihkan matanya dari benda kotak berlayar yang jika kau pencet-pencet, muncul sesuatu di layarnya. Kadang-kadang Miko berubah menjadi Miko yang tak pernah mandi karena menghabiskan waktu dari matahari terbit hingga kembali ke peraduan dengan kabel ini. Miko mulai mengabaikanku, ia pun kadang lupa membersihkan bak pasirku. 

Pagi tadi, Miko membawa bungkusan plastik makananku. "Kau boleh makan sepuasnya. Ada atau tiada aku, kau harus tetap hidup. Hiduplah dengan hati senang, Nikola Tesla," tiba-tiba Miko berkata demikian. Aku kembali memandanginya. Lalu seperti kesalahpahaman yang tak kunjung berakhir, Miko malah mengambil mangkuk makananku dan menuangnya ke mangkuk. Miko membiarkanku makan dengan lahap. Lalu ia mandi dan duduk di meja belajarnya.
"Kadang, kadang aku mau menyerah, Nikola Tesla. Kadang aku ingin mengakhiri apa yang tidak pernah kumulai. Kadang, kita tidak meminta dilahirkan tetapi diberi setumpuk beban," Miko menatapku. Aku sependapat, aku tidak pernah minta dilahirkan dari ibu yang hanya menginginkan bercinta dengan garong tidak tampan.

"Kadang aku ingin membelit leherku dengan kabel-kabel itu. Tentu enak, ya menjadi kucing. Orang-orang tidak berharap tinggi hanya karena kau pernah juara olimpiade fisika. Lalu, ketika harapan mereka kupatahkan, mereka kecewa dan marah. 
Bahkan sebelum aku marah dengan diri sendiri, aku sudah dimarahi," lanjutnya. Lalu kulihat ada air yang menetes dari pelupuk mata Mikola. Jangan! Aku tidak mau Mikola menangis. Aku tidak mau Mikola sedih! Dia sudah menyelamatkanku, dia manusia baik. Jangan! Mikola tidak boleh menangis. Aku hanya bisa mengeong dengan keras. Tanpa kutahu apakah Mikola tahu artinya adalah,"Jangan menangis, aku sayang padamu."

Mikola terlihat membuka sebuah botol, dan mengeluarkan banyak sekali pil. Mirip pil yang ia beri tiap aku flu. Tapi, aku hanya minum satu. Mengapa Mikola minum banyak sekali? Apa karena ia manusia?

"Terima kasih sudah membuatku lebih lama bertahan, Nikola Tesla-ku." Mikola meraihku, dan memelukku dengan erat. Ia berjalan ke tempat tidur, dan merebahkan dirinya di sana. Lalu meletakkannku di sampingnya. Mikola mungkin lelah. Aku akan menemaninya dan tidak akan mengganggu.

***

Mikola jahat. Mikola jahaaaat!
Mikola tidak tidur, Mikola tidur selamanya. Matahari sudah hilang ketika aku terbangun dan menemukan mulut Mikola penuh buih. Aku keluar lewat jendela dan memanggil tetangga Mikola, pria kamar sebelah pemilik persia cantik itu. Aku terus mengeong dan meminta Pria Kamar Sebelah melihatnya. Lalu, Pria Kamar Sebelah berteriak,"MIKO, KENAPA LU HARUS NYERAH? KENAPA HARUS MATI SEKARANG?"

Aku mengingat bagaimana benda di dadaku bertalu kuat begitu mendengar kata mati. MIKO TIDAK MATI. MIKO TIDAK BOLEH MENINGGALKANKU. AKU DENGAN SIAPA?

Lalu kamar kost Miko mendadak ramai. Raungan mobil putih berbunyi berhenti di depan rumah kost, mengeluarkan manusia yang kemudian membawa Miko entah ke mana. Itulah kali terakhir aku melihat Miko. Pria Kamar Sebelah sempat menenangkanku yang terus menerus mengeong. Ia pun membolehkanku tinggal di kamarnya bersama Si Persia Cantik. Sekalipun Si Cantik Dugong menggoda, aku tak niat bercinta karena begitu berduka.

Semua terasa menyedihkan. Aku seperti dihempaskan setelah hidup dengan damai. Kemarin, keluarga Mikola datang mengemasi semua barang lelaki itu. Mereka berniat membawaku, tetapi Pria Kamar Sebelah berkata bahwa surat yang ditulis Mikola berkata aku harus tinggal di rumah perempuan bernama Jane--- perempuan yang paling dekat dengan Mikola, begitu Pria Kamar Sebelah berkata. Hari ini Jane akan menjemputku, dan aku tak tahu bagaimana rupa wanita itu.

***

Seharusnya aku bahagia. Seharusnya, aku bahagia bertemu saudaraku yang ternyata tinggal bersama Jane. Aku terkejut ketika melihat perempuan itu berdiri di pintu, perempuan yang kulihat meraih saudaraku dan membawanya pulang. Seharusnya aku bermain bola benang dengan Alexander Volta---nama saudaraku yang juga fisikawan--- dan bukan merenung di balik jendela.

Mengapa Mikola meninggalkanku, padahal ia menyayangiku?

Mengapa Mikola meninggalkanku tanpa memberiku penjelasan apakah fisikawan itu sebenarnya?

Jika aku mati, apakah aku akan bertemu Mikola nantinya? Karena aku tidak bisa menjanjikan hidup dengan senang setelah ditinggalkan.

====END===

Lampung, 15 Januari 2021


#FotoBercerita

Goodbye Gin-Gi, Goodbye my Gingerboy

Agustus 06, 2018


Namanya Gin-Gi, lahir 23 Maret 2018 di kostku. Gin-gi adalah anak Olin (persia bulu pendek) bersama kucing jantan domestik di rumah Pinyot. Waktu ia lahir dan berwarna oranye, kuingin memberinya nama yang ada ginger-gingernya. Maka kuberilah ia nama Gin-gi (dibaca: Jinji) tapi mamaku mengira Gin-Gi dibaca Gigin atau gingi. 



Sejak lahir, Gin-gi selalu mencuri perhatian. Ia aktif, minum susu paling kuat, cengeng, dan yang paling terakhir memulai makan ketika saudara yang lain sudah memulai memakan makanan pertama mereka.
Gin-Gi and Kimon
Gin-gi yang lucu, Gin-Gi yang selalu cengeng dan mudah nangis. Gin-Gi yang pernah membuatku tidak tidur karena jam 12 malam ia mengeong keras dan melotot padahal tidak ada apa-apa. Malam itu Gin-gi seperti kesurupan dan tidak ada teman yang mau mendekat. Esoknya pun ia berubah menjadi penyendiri, masuk ke dalam kandang padahal biasanya paling benci. Namun, esok harinya lagi, ia sudah kembali menjadi Gin-Gi yang ceria.
Bankimon and Gin-Gi
Gin-Gi yang cengeng, yang menangis saat perjalanan pulang dari Solo ke Lampung. Yang jadi adik kesayangan Oi. Yang takut dengan Ibuk Kucing karena pernah ditampol. Gin-Gi yang kubayangkan akan jadi kucing gendut nan lucu ketika besar. Gin-Gi yang giginya belum tumbuh sempurna. Gin-Gi.

Gin-Gi and Kimon again
Gin-Gi cuma tidak mau makan Minggu pagi lalu, itu yang Mam katakan. Ia sudah diberi vitamin dan gel minyak ikan. Lalu ia tiduran saja, sampai malamnya, ternyata ia sudah tidur untuk selamanya. Pergi begitu saja padahal aku akan segera pulang. Ini lebih menyedihkan daripada tidak kedapatan kloter wisuda bulan ini karena SKL tak kunjung jadi dan harus menunggu Oktober. T.T


Mam tidak tahu mengapa, ia tidak muntah, tidak diare, tidak merengek, dan begitu saja pergi. Bangkai tikus memang ditemukan di kandang mereka, tidak tahu apakah itu penyebab Gin-gi pergi (memakan tikus yang masuk ke kandang lalu keracunan). Anak itu masih kecil dan senang coba-coba. Tidak tahu juga bagaimana seekor tikus masuk ke kamar kucing, menyerahkan diri untuk dihajar kucing lalu termakan Gin-gi. Entahlah, mungkin waktu Gin-Gi hanya 4 bulan di dunia ini.

Gin-gi, i still can't believe that you've gone when you're just 4 months. Every time i see my room now, i remember everything about you. I remember when you cry, sleep near me or when you play around my room. I'm really sad, but this is life. Thanks for being a cute, honest, kind and cheerful cat. 
Tidurlah yang tenang di surga-Nya Gin-Gi. Kuharap kita bisa bertemu di masa yang akan datang.  Selamat jalan Gin-Gi, selamat tidur untuk selamanya. Tidurlah yang tenang, sayang.

Surakarta, 6.8.18
Ditulis sambil mendengar Bila-nya Ardhito. 

#FotoBercerita

Apa yang terjadi selama 2017 ini? [Ocehan mengorek ingatan]

Desember 31, 2017

Apa yang terjadi setahun ke belakang?

Kalau ditanya apa yang terjadi di tahun 2017, gue merasa agak-agak lupa. Seperti tidak ada sesuatu yang 'nendang' banget. Entah gue yang lupa, merasa semua hal adalah biasa aja, atau kurang bersyukur. Yang jelas kumerasa bersyukur masih bertahan hidup di dunia dengan segala gilanya dunia dan kecemasan-yang-selalu-menyebalkan. Akhir 2016 lalu, kutak membuat resolusi. Gue tidak begitu suka daftar resolusi karena berharap membuatku tertekan lebih kuat (di mana tanpa resolusi saja kusudah merasa cemas dan tertekan).
Sambil menulis posting ini, kuberencana berkontemplasi dan mencoba mengingat apa yang terjadi satu tahun ke belakang. Tidak ada tujuan khusus, blog memang tempatku berbincang dengan diri sendiri, dan kalau-kalau setelah menulis ini kubisa lebih bersyukur. 
Januari
Pergantian tahun dari Desember 2016 ke Januari 2017 dibuka dengan mengerjakan tugas (entah tugas apa) lalu sejenak 'ngacir' bersama Ajeng ke Solo Car Free Night. Awal tahun baru, gue mengecat rambut gue jadi hijau aquamarine. Gue suka banget warnanya, hanya saja gue tak bisa posting foto rambut itu disini wkwk.
Januari adalah pertama kalinya gue presentasi seminar internasional (prosiding) di Malang bersama Ajeng, Mbak Ulfa, dan Mbak Esty.
Dua hari setelah prosiding, tanggal 23 Januari pula gue pulang ke rumah meski nggak lama. Karena ada prosiding itulah gue menunda kepulangan, dari pada bolak-balik dan menghabiskan uang transport. 
Februari
Tidak ada yang menarik di Februari. Pertengahan Februari kukembali ke Solo. Ah, gue lupa. Di Februari, gue dan Pinyot iseng ikut lomba infografis learning disabilities dari UPH. Gue nyari konten dan buat infografiknya, Pinyot yang gambar. Alhamdulilah dapat juara pertama 😄 dan uang jajan.


Maret
Maret berjalan seperti biasa. Kuliah, pulang, baca novel, mengerjakan tugas, dan semacam itu. Akan tetapi, pertengahan Maret, kumengunjungi Museum Sangiran bersama Nau. 

Sebenarnya, ada hal cukup penting di bulan ini. Gue menerbitkan buku pertama bersama teman dekat. Sayangnya, gue tidak terlalu merasa senang ketika buku itu terbit. Ada perasaan 'ini bukan gue' yang membuat tidak nyaman dan merasa bersalah yang terus mengganggu ketika menulis dan saat buku itu selesai. Sehingga gue memutuskan menggunakan nama pena di buku itu. Menerbitkan buku adalah satu-satunya hal yang gue inginkan sebelum mati (setidaknya begitu pikiran naif gue waktu SMA). Akan tetapi, ketika buku itu terbit, gue merasa kosong. Seperti perasaan ketika lu mengingikan sesuatu, lu mendapatkan tetapi bukan itu yang lu harapkan. Kayak lu pengin banget sepatu A, lu beli online, sampai rumah sepatunya agak beda warnanya.
Tapi gue nggak menyesal. At least, gue dapat pelajaran untuk nggak impulsif menerima tawaran. Setidaknya gue dan teman gue pernah menulis dan menerbitkan buku bersama.

April
Next, April. April dikisruhi dengan tugas dan tugas. Gue memutuskan untuk melanjutkan nulis 45 Months, yang idenya lahir di Desember 2016 tapi baru gue tulis April.
Cover awal 45 months waktu gue publish di Wattpad dan Storial


Mei
Sama, Mei masih direcoki oleh tugas kuliah dan pengumuman dosen pembimbing tesis yang membuat gue jadi jumpalitan karena nama yang gue masukkan gaada yang keluar dan yang muncul di luar dugaan. Mei juga dimulai dengan puasa. Kalau puasa sebelumnya gue total di rumah, atau gue pernah puasa di kost sebentar lalu di tempat KKN, sekarang hampir 80% puasa gue di rumah. Menu sahur gue, nggak jauh dari oat, kentang rebus, kentang goreng, roti tawar dan telur.
salah satu foto menu sahur gue


Juni
Gue betul-betul puasa di kost sampai ditanyain Pak Kost kapan pulang karena ada dosen yang undar-undur jadwal. Gue bolak-balik tuker tanggal tiket kereta dan itu bikin gue agak puyeng. Tapi akhirnya gue pulang naik kereta H-3 lebaran. Untungnya karena naik kereta, gue kagak kena macet. Dan mungkin ini naik kereta Krakatau terakhir gue karena sekarang dihapus.
kapal yang ramai akibat mudik lebaran


Juli
Di kompleks candi Muaro Jambi.
Belasan Juli gue ke Palembang dan Jambi sama keluarga. Adek gue, Obith, kebetulan diterima di Unsri dan harus ngurus segala keribetan sebagai mahasiswa baru. Karenanya, Pap memutuskan untuk cuti dan kita pergi ke Palembang belasan Juli. Dari Palembang ke Jambi, nengok Kakek gue yang sakit, jalan-jalan cuma sehari dan balik lagi ke Palembang. Yang gue inget adalah gue dicakar kucing di sebuah SPBU waktu mau kasih kucing makanan. Waktu gue nyuci darah, dan dipencet-pencet Mam, gue mual dan ngerasa nyeri. Lalu terjadilah black-out pertama gue (dan semoga terakhir).

Agustus
Agustus adalah bulan kehilangan. Tiga ekor kucing jantan gue meninggal. Gue pernah nulis itu di sini . Gue sedih, mereka kesayangan gue.

Awal Agustus juga gue balik ke Solo. Agustus adalah waktu pertama gue mengajukan judul tesis ke dosen yang untungnya diterima.Selanjutnya diisi dengan kegiatan ngerjain Bab 1 tesis, konsul, dan revisian. Dan akhir Agustus pula gue pulang ke rumah untuk lebaran Idul Adha. Agustus memang meletus.



September

 Awal September adalah Idul Adha dan gue senang karena ini Idul Adha bareng keluarga setelah sejak 2012 gue selalu Idul Adha di Solo, sendiri.September diisi dengan melanjutkan ngerjain Bab II  dan menyelesaikan draft 45 months. Berdasarkan catatan, gue menamatkan 45 Months di 9 September. Selanjutnya, hidup gue kembali diisi dengan urusan kuliah.

Oktober
Yang gue ingat dari Oktober adalah, gue seminar proposal tesis di 12 Oktober. 

November
November adalah bulan hectic. Dimulai dari nguras surat izin penelitian yang agak drama (surat di TU hilang padahal sudah ditunggu seminggu jadi buat lagi, bolak-balik ke kantor pemerintahan untuk urus izin dan ngabisin saldo Go-Jek). Lanjut uji coba instrumen di sekolah, ngebut untuk ikut prosiding tanggal 25 November (karena sebelumnya belum niat ikut tapi di h-7 pengumpulan abstraks berniat ikut) , dan penelitian awal di 3 sekolah selama 3 hari dengan terengah-engah karena minggu besoknya anak SD udah ujian. Gue juga mulai mengedit naskah 45 Months.

Akhir November gue memutuskan pulang. Tetapi perjalanan pulang gue gak mulus kayak biasanya. Gue batal pulang hari Senin karena hujan mengguyur Solo tanpa henti 24 jam. Juga keribetan menitipkan kucing gue. Gue akhirnya pulang Rabu sore dengan bus. Di mana malamnya, bus gue yang sedang berhenti di tol, ditabrak truk yang supirnya ngantuk dari belakang. Tetapi nggak apa-apa. Gue naik ke bus lain yang jalan di belakang bus gue (masih satu perusahaan). 
Kapal yang gue naiki
Sayangnya, gue pulang (29-30/11) ketika siklon Dahlia datang. Perjalanan Merak-Bakauheni yang cuma 2 jam, mendadak jadi 5 jam. Siklon Dahlia bikin kapal laut terombang-ambing, miring-miring kayak di film Titanic, gue udah ngeliatin pelampung aja takut ada apa-apa. Kapal yang segitu besar dan miring-miring bikin gue mual dan muntah, gitu juga teman sebus gue yang bolak-balik toilet untuk melakukan hal sama.
November emang roller coaster.


Desember

Desember gue di rumah. Gue mengolah data awal penelitian. Gue membaca novel. Gue nulis artikel jurnal (dan ditolak). Gue main dengan kucing, dan gue merasa kurang produktif.  Mungkin karena Desember keluarga gue juga pada libur, dan gue kurang suka ngerjain ketika rumah ramai atau adik gue mondar-mandir. Rasanya beda banget dengan produktivitas gue waktu pulang pas Idul Adha dan ngerjain Bab II bareng nulis 45. Mungkin karena tulisan fiksi yang gue  tulis pun berjalan kayak siput dan busuk.
Tapi ada hal menyenangkan di Desember, tanggal 21 Desember lalu, sebuah pesan di email masuk dari seorang editor. Naskah 24 yang gue kirimkan diterima untuk diterbitkan.  Naskah 24 pernah gue kirimkan ke sebuah penerbit awal tahun 2017, tetapi tidak ada kabar hingga gue kirimkan ke penerbit lain di Juni 2017.
Membuat gue senang, cemas, dan deg-degan.


Ternyata, banyak hal yang terjadi. Hanya 2017 mungkin saja adalah tahun proses. Tahun memulai ngerjain tesis, tahun menulis naskah 45 Months dan mengeditnya, dan mendapat kabar naskah 24 (yang sebenarnya selesai di November 2016) diterima. Gue perlu bersyukur karena gue sudah menjalani. Entah berapa persen dalam satu tahun gue merasa cemas, takut, selalu ingin segera 'pergi' dan kabur. Perasaan yang masih sering hinggap tanpa diundang.

Gue juga senang karena tahun ini gue bisa baca agak banyak buku. Gue cuma menargetkan 30 buku  di Goodreads tetapi ternyata bisa baca 132 buku. Satu-satunya target gue tahun 2017 (kalau bisa dibilang resolusi/target) hanyalah mengisi goals. Tentu saja ini berkat Scoop Premium (baik gratisan atau patungan), iJak, iPusnas, dan secondhand books.


Gue tidak membuat wishlist khusus untuk 2018. Gue hanya berharap bisa hidup dengan tenang dan minim cemas, lebih produktif, lebih banyak membaca, menulis, dan menonton film. Juga, apa yang gue tulis, baik akademik maupun novel fiksi, bisa terbit dengan lancar. Gue ingin segera lulus biar meminimalkan pengeluaran keluarga gue. Itu saja.

#FotoBercerita

Yuk ke Lapak Buku Bekas Gladag Solo !

Maret 19, 2017

Gue udah lama sebenarnya mau buat ini, tapi selalu  mikir, ntar-ntar aja. Dan... akhirnya gue menulisnya sekarang. Judulnya adalah tempat-tempat yang akan gue rindukan kalau gue udah enggak di Solo lagi. Di mana setelah lulus gue enggak tahu gue akan ke mana dan bukan itu yang akan diperbincangkan kali ini.

Dan tempat yang paling gue sukai di Solo adalah ... Taman Buku Bekas Gladag. Ada yang menyebutnya Lapak Bekas Gladag, Lapak Bekas Alun-Alun Utara, Lapak Bekas Klewer, tapi kalau di plangnya sih, tertulis Taman Buku dan Majalah Alun-alun Kraton Surakarta.


Gue tahu tempat ini dari Pinyot dan pertama kali ke tempat ini adalah semester satu, menuju akhir tahun 2012-an. Dan semenjak itu, gue hampir tidak pernah membeli buku baru di Gramedia, kecuali Gramedia diskon 5000-an/10000-an, atau waktu-waktu tertentu ketika gue benar-benar ingin buku itu.

Lapak buku bekas gladag ini ada di gladag atau alun-alun utara. Lapaknya menghadap ke lapangan alun-alun yang sekarang jadi tempat klewer sementara. Tempat ini mudah kok untuk disambangi. Kalau gue biasa dari kampus UNS, biasanya naik BST koridor satu dan turun di halte Bank Danamon. Kalau dari arah Jl. Slamet Riyadi, misal dari St.Purwosari, bisa turun di halte depan gereja dekat patung Slamet Riyadi. Untuk ke alun-alun utara, tinggal jalan ke jalan yang menuju arah Keraton/Klewer. Jalan yang pas di sebelah PGS. Nah, dari situ belok ke kanan. Ke tempat yang banyak jual kacamata-kacamatanya. Terus... keliatan deh plangnya. Jujur, gue baru tahu kalau ada plang itu. Padahal, hampir tiap semester gue ke sana tapi gue baru tahu plang itu di tahun 2017 padahal dibuat sama anak FISIP UNS, tahun 2012.

Kalau enggak salah hitung, di sana ada sekitar sepuluhan lapak buku bekas. Enggak banyak memang, tapi lumayanlah. 
Sayangnya, waktu gue ke sana hari Minggu dan tumben banget banyak toko yang tutup. Padahal biasanya tuh semua buka. 
tokonya beberapa tutup :(
Gue dan Pinyot paling sering ke toko yang paling depan dan sebelah kiri. Yang jaga namanya Om Bambang tapi sekarang udah bukan dia lagi, tapi saudaranya yang gue belum tanya lagi namanya siapa.
toko langganan gue dan pinyot
Kalau enggak salah, bapak ini juga yang punya toko di belakang yang di cat merah muda rak-raknya, begitu menggemaskan.
Lapak bekas Gladak ini mungkin enggak seterkenal lapak buku bekas di belakang stadion Sriwedari. Tapi, buat gue dan Pinyot, kita lebih suka di sini. Mungkin karena di sini tuh, lebih banyak buku fiksi yang dijual dan juga majalah-majalah. Gue kan biasanya beli novel atau buku anak-anak. Ada sih beberapa buku non fiksi, tetapi kebanyakan mereka memang jual novel, komik, dan majalah. Ada juga yang jual kaset jadul kayak di tokonya Om Bambang. 
siap diacak-acak

kata bapaknya itu kertas cerutu 
Bahkan kemarin, ada bapak-bapak yang nunjukin gambaran mainan anak SD zaman dulu dan kertas cerutu. Mungkin kalau dijual lumayan mahal. Selain itu, di sini gue merasa lebih bebas untuk ‘ngacak-ngacak’ waktu nyari buku daripada di belakang sriwedari, mungkin karena tempatnya memang membuka akses seluasnya untuk masuk. Atau mungkin juga karena gue jarang ke belakang Sriwedari, jadi ngerasa canggung dan di situ juga lebih banyak buku sekolah dan pelajaran. Jadi, kalau lu mau nyari fiksi, mending ke gladag tapi kalau mau nonfiksi silakan ke lapak belakang sriwedari.

Nah, soal harga, menurut gue sih, ya... lumayan untuk kantong mahasiswa yang pengin punya buku asli dengan harga murah. Ada beberapa pedagang yang menjual buku bajakan meski cuma satu-dua tumpuk. Biasanya yang dibajak adalah buku-buku best seller. Ciri buku bajakan adalah biasanya dia berplastik, terus dalamnya kertas buram gitu dan mereka menjual dengan harga murah. Tapi enggak disarankan ya, udah gitu gue pernah nyoba beli sekali dan sekali baca, bukunya rusak karena lepas semua gitu. Jadi mending beli yang asli-asli aja.
ini sih buku asli

Komik-komik biasanya dijual 2500-5000, tergantung tebal. Iya, di sini tuh mereka lebih sering melihat tebal buku daripada judul buku. Untuk novel, yang tipis ada yang 5000 sih, tapi kebanyakan 10.000-15.000, tetapi kalau dia udah tebal gitu, bisa di atasnya. Misalnya nih, dulu gue membeli novel-novel metropop dan Gagasmedia, dengan kondisi licin-licin, kalau enggak salah 100 ribu, gue dapat 8 atau 9 gitu. Waktu itu kayaknya gue beli Marriageable, Antalogi Rasa dsb. Kalau buku anak-anak, mulai dari 3000an sampai 20-an. Ah, ya, gue pernah beli Psikologi Abnormalnya Nevid, cuma 15k. Jadi, buat gue sih, tempat ini surga deh.
entah berapa usianya buku ini
Tadi gue enggak beli banyak buku karena masih ada beberapa hasil berburu cuci gudang gramed di Jogja yang belum dibaca.  Udah gitu, sekarang ada iJak, jadi cukuplah membantu gue dalam membaca murah tapi enggak baca bajakan. Gue cuma beli dua buku titipan teman gue dan dua buku yang gue beli random. Teman gue nitip Harry Potter ke-7, ada empat sih, gue pengin juga biarpun udah baca, tapi mungkin lain kali. HP7-nya masih sangat mulus meski sudah menguning dan itu hard-cover, dihargai 50k. Terus bukunya Stephen King, yang Lisey’s Story, 25k, masih mulus juga. Terus gue iseng beli bukunya Karla M. Nashar dan Tia Widiana yang Mahogany Hill, katanya sih bagus, dua buku itu masing-masing 15k. Kalau beli banyak, boleh kok nawar. Di sini ada juga buku-buku tua dengan bahasa yang enggak gue ngerti atau bahasa belanda/jerman, misalnya. Tapi, gue lupa untuk memotretnya.
yang gue beli kemarin
Di depan lapak bekas ini juga ada tempat benerin sepatu dan jual sepatu bekas. 



Oiya, lapak ini buka dari pagi. Jadi kalau kalian datang jam 9, kebanyakan udah mulai buka. Terus untuk tutup biasanya sih sorean gitu.
Sekian, semoga ocehan gue kali ini ada manfaatnya.


See you!

#FotoBercerita

Tjurhat si Boy

Februari 09, 2017






Nama saya Boy dan saya kucing. Perut saya buncit dan karena itu beberapa kucing lain seenaknya memanggil saya Si Gendut. Saya tentu enggak suka dengan panggilan itu. Biar Ibu memberikan nama kuno seperti Paimin atau Samijan pun, saya tetap lebih menyukai dipanggil begitu daripada Si Gendut. Saya memang sedikit buncit, tetapi kucing lain tidak sepantasnya memanggil saya seperti itu.
Kucing-kucing sering memanggil kucing lain dengan sebutan yang tidak hewani. Kucing yang tidak pintar sering di panggil Si Bebal, Si Bodoh, atau Si Tolol. Padahal, tidak ada kucing yang benar-benar menerima dipanggil Si Tolol sekalipun ia mengerti bahwa dirinya bodoh dan teramat tolol.

Sudahlah, terlalu banyak mengeluh tidak akan membuat saya menjadi kurus. Saya hanya perlu lebih banyak bergerak agar saya menjadi kucing yang lincah. Apa yang dilihat mata itulah yang terekam pertama, kucing-kucing melihat saya sebagai kucing yang gendut, dan saya hanya perlu tidak memperdulikannya. 
**



Merasa sudah lama tidak bermain-main di blog dan terlalu sering meracau tidak jelas di tempat lain. Dan kurasa kuharus kembali ke dunia jingga yang lain yaitu blog. Mungkin dimulai dari gambar bercerita dan meracau sesuka hati.


#FotoBercerita

Pecahkan Saja Gelasnya Biar Ramai #flashfiction

Juli 24, 2016

Facebook bertanya, "Apa yang kamu rasakan?" dan aku menjawab ,"Sepi." Meski aku tidak menuliskan di status dan menyebarkannya ke khalayak ramai tetapi aku harap Facebook mengerti, sebagaimana perempuan lainnya yang ingin dimengerti seperti yang tertuang dalam lagu yang kemudian menjadi iklan pembalut luka berdarah.
Twitter bertanya," Apa yang kamu pikirkan?" dan aku menjawab,"Aku." Oke, ini terkesan egois tetapi aku memang sedang memikirkan diriku. Ulangan matematikaku yang tertawa jumawa dan disandingkan dengan tangisan sejarah yang nilainya adalah dua pangkat dua dikurangi tiga dibagi dua. Biar aku tak mengirimkan tweet tapi kuharap Twitter tidak ikut-ikutan memikirkan nilaiku itu.
Sebuah pertanyaan masuk di Ask Fm : jika kamu terlahir kembali, kamu mau apa? Dan ini jawaban yang kuhapus karena terlalu jujur : aku mau terlahir, hidup sehari dan dimakamkan esoknya. Yang kutulis : Tidak mau ditanya seperti ini tentunya.
Aku mendesah. Tentu saja desah yang terdengar seperti mengeluh. Bukan desah manja seperti artis maju mundur cantik. Rumahku sepi, sepi sunyi aku sendiri. Menyepi menyendiri mau mati. Oh maaf. Mungkin aku perlu menyalakan televisi.
Rumahku cukup besar. Aku anak kelima dari lima bersaudara. Berdasarkan fakta tersebut maka jelas kakakku ada empat. Dua diantaranya perempuan maka dua lainnya sudah pasti laki-laki. Salah satu kakakku menjebloskan diri dalam lingkaran perkawinan bersama seorang laki-laki. Dan ia salah satu dari sekian perempuan yang bersedia menjadikan perutnya tempat manusia bersemayam sebelum dilahirkan. Konon ia sudah mengandung tujuh bulan. Sayangnya, fakta-fakta di atas yang menjelaskan bahwa dalam keluargaku cukup banyak manusia tidak sejalan dengan fakta yang kudapati kini. Pukul tiga sore, di depan televisi di kamar kakak lelaki pertamaku, sendiri sambil mengudap keripik singkong karena harga kentang sedang naik.
Sebenarnya, aku adalah pecinta keramaian. Suara kucing kawin, ketiga kakak lelakiku bertengkar berebut stick PS, mamiku membuntuti papi dan bertanya noda lipstik siapa di kemejanya padahal itu jelas-jelas kelakuan mami tadi pagi, atau pertengkaran Mbok Ijah dan Mang Karsono yang sebenarnya saling suka namun biar seru dibumbui benci. aku suka semua hal yang telah kupaparkan barusan. Sayang, siang ini benar-benar tak ada orang.
Aku butuh keramaian yang kucipta sendiri. Bukan berkaraoke yang membuat aku gila karena sadar diri suaraku amatlah sumbang, serak dan tak bervolume. Hingga baru saja kata-kata Cinta di film yang muncul saat aku belum lahir atau mungkin melungker di perut mami terdengar.
Pecahkan saja gelasnya biar ramai.
Dan seperti yang kalian duga, aku berlari ke dapur. Kupecahkan sebuah gelas. Prang... uwuwuw! Kupecahkan lagi. gelas kubanting. Kulempar piring ke arah kulkas. Kuarahkan mangkok ke wastafel dari jarak 40 cm. kumenari piring sebelum kulempar ke arah kompor. Aku suka suaranya. Ramai. Gaduh. Riuh. Berisik. Dan semua piring ludes kupecahkan. Biar apa? Ya, biar ramai.
Sekarang lantai-lantai telah penuh dengan pecahan beling. Oh ya , beberapa piring plastik pun turut serta dan menjadi saksi selamat. Kau tahu? Membuat keramaian itu melelahkan. Keringat mengucur deras dari dahi ke pipi. Aku duduk di meja makan bersama sekotak es krim rasa greentea entah milik siapa karena tinggal setengah. Dan tepat di suapan ke enam belas mami yang baru pulang entah dari mana membawa Mbok
Ijah –mungkin pasar, supermarket, pelelangan sayur- menjatuhkan barang belanjaannya. Tetooot, plastiknya gak bunyi nyaring.
"Apa yang terjadi Handaruuu?" pekik mami. Tangannya berada di dekat telinga, gerakan seperti habis menutup telinganya padahal kan sudah tidak ada piring yang akan dipecahkan yang berarti tidak akan ada suara nyaring yang bisa jadi membuat telinga sakit. Begitu.
"Rumah kita dirampok dan kamu melakukan perlawanan, sayang?"
Aku mengerinyitkan dahi. Sejenak terdiam. Sedikit memutar bola mata. Kusisipi dengan mendengus. Dan diakhiri dengan menggaruk leher yang memang gatal karena digigit semut semalam. Selama badanku melakukan gerak-gerik hiperbolis tersebut otakku berasumsi bahwa Mami lebih menyayangi rumah dan seisinya daripada aku. Dugaan lain bahwa mami menyangka aku anak hebat yang berhasil menyelamatkan diri dan seisi rumah dengan piring. Dan asumsi lain adalah mami akan marah kalau saja aku mengaku. Tetapi jujur adalah yang terbaik. Dan aku harus bertanggung jawab. Meski ini terdengar sok jujur atau sok baik tetapi dipotong uang jajan untuk membeli piring sungguh ah. Jika uang jajan sebulanku yang tidak seberapa itu dipakai untuk mengganti seluruh piring yang pecah maka aku harus setidaknya tidak memiliki uang jajan selama 4 bulan. Sehingga salam perpisahan kepada ibu kantin, mamang-mamang somay, es jeruk, dawet, mie ayam dan segala panganan serta segala benda lucu yang ingin dibeli. Termasuk HP yang mungkin akan tewas karena aku tidak memiliki uang untuk membeli pulsa. Aku memang memiliki tabungan, tetapi tabungan itu tentu tidak untuk piring.
"Apa yang terjadi?"
Aku diam.
Tolong bantu aku untuk mengatakan pada mami bahwa aku yang melakukan ini.
"Handaru... ceritakan apa yang terjadi?"
Aku masih diam. Tetapi otakku kisruh. Bagian kanan otakku memberi usul untuk mengatakan bahwa baru saja ada alien yang mampir ke bumi, turun di halaman belakang dan menuduhku menyembunyikan pampers mereka. Kemudian yang mereka lakukan adalah memecahkan piring karena mengira piring adalah tempat membuang urin. Tetapi otak kiriku membantah sebab belum ditemukan apa keterkaitan antara pampers dan pipis dan piring sehingga yang dipecahkan adalah piring bukan minta dibelikan pampers baru.
Bagian kanan otakku masih saja mengeluarkan ide. Ada hantu bawah tanah yang masuk ke tubuh seorang Handaru dan memecahkan piring, gelas dan mangkok. Sayang ini membuatku ngeri sendiri.
"Apa yang terjadi tadi?"
Aku memutar bola mata karena sejak tadi pertanyaan mami kurang kreatif. 1. Apa yang terjadi; 2. Ceritakan apa yang terjadi; 3. Apa yang terjadi tadi.
Baik. Aku menghela napas dan berkata dengan cepat sebab dengan begitu aku berani dan aku sudah jujur.
"Aku memecahkan semua gelas agar rumah ini ramai karena aku kesepian."
1...2...3! Mata mami membola dan aku menunduk seketika.
Jadi... apa aku salah? Oke aku salah membanting segala pecah belah itu. Jadi... apa aku salah jika merasa kesepian karena semua manusia di rumah ini tidak peduli padaku atas nama sibuk? Semuanya pulang paling cepat pukul lima sore, berangkat pukul enam pagi, dan begitu sampai rumah mereka masuk kamar masing-masing. Dan... ini masih salahku?

#AnakKost

4 Juni 2016, Wisuda a.k.a Wis... udah

Juni 16, 2016



Berkemungkinan banyak foto sedikit tulisan, sebab bingung bagaimana menuliskannya ^^

Setelah 12 April lalu dimejahijaukan, 19 April dinyatakan lulus, akhirnya 4 Juni lalu saya diwisuda.

wi:su:da n peresmian atau pelantikan yg dilakukan dng upacara khidmat

Ya, itu arti wisuda yang saya kutip dari Kamus Besar Bahasa Indonesia atau yang biasa kita sebut dengan KBBI. Tapi beberapa orang memplesetkan wisuda menjadi uwis udah. Mungkin artinya pendidikan di suatu jenjang sudah selesai. Meski saya selalu berpikir bahwa kita tidak akan pernah berhenti belajar sampai meninggal.

Bagaimana rasanya wisuda?

Rasanya... cukup menyenangkan. Mengingat sebelumnya saya hanya berpikir semacam, oh wisuda, oke.  Tetapi kemudian setelah duduk dari menerima ijazah saya tiba-tiba berpikir untuk wisuda lagi (?)

Di kampus saya, wisuda dibagi menjadi dua kelompok. Pagi dan siang hari. Sayangnya, saya mendapatkan wisuda pagi hari. Wisuda di pagi hari berarti saya harus sudah ada di tempat paling tidak 06:30 – karena 07:00 harus berbaris di gedung rektorat – dan acara dimulai pukul 07:30 sampai 10:00. Saya bangun saat azan subuh dan mandi sesuka hati. Memakai baju dan dibedakin mama saya. Cukup diberi bedak dan sedikit lipstik saja. Rasanya aneh kalau wajah saya ini dicoret-coret, gerah. Maka salutlah saya untuk mereka yang dandan cantik-cantik waktu wisuda. Entah jam berapa mereka bangun untuk didandani seperti itu. 
Undangan orangtua/wali wisuda, cuma boleh satu T.T


Sebelum masuk ke kampus, sejenak berhenti untuk berfoto di sini. Rasanya ingin tertawa, mengingat saya dan Pinyot sering tertawa kalau melihat Maru (Mahasiswa baru) yang berfoto-foto di sini ketika pendaftaran ulang tiba.  

Bersama Mama, Papa, Obith dan Ovi




Dan berkumpulah kami di dalam rektorat. Berbaris rapi dan bersiap menuju auditorium.
Bersama Elok saat berbaris di rektorat ^^



Saya duduk di T4-20 di mana sebelah kanan saya, adalah Vivin. Entah di mana Vivin hingga prosesi berjalan dari dalam rektorat ke auditorium dia belum juga muncul. Untungnya, beberapa menit sebelum pintu ditutup dia datang. Wisuda berjalan dengan lancar. 

Mungkin harus ada suatu kejadian agar saya mengingat prosesi ini. Setelah nama saya dipanggil ke depan, dan menerima ijazah, Pak Ravik berkata,"Ossy, selamat ya. Sukses. Agak maju sedikit." Ternyata, beliau mencoba meraih kucir saya dan tidak sampai. Padahal sudah saya injak titik putih seperti yang dikatakan instruktur. Maka segeralah saya bergerak maju, beliau memindahkan kucir, dan bersalaman. 
Makasih Pak
Setelah prosesi, sambil menunggu teman-teman lain maju, saya dan Vivin, beberapa kali berfoto. Kami tahu bahwa sebenarnya tidak diperkenankan untuk berfoto tapi... yasudahlah.





Setelah prosesi wisuda kami keluar dan berhamburan di sekitar rektorat. Saya menyayangkan PLB 2012 yang diwisuda hari itu yaitu, Six, saya, Latifa, Tyar, Whanik, Vivin, Endo, Zuhri, dan Elok tidak berfoto bersama. Bahkan saya tidak sempat berfoto dengan Ipeh- panggilan nista Latifa- yang teman mengurus sidang, sidang bersama, revisi bersama, jilid bersama, mengurus wisuda bersama L Saya ingin mengucapkan terima kasih untuk semua teman-teman yang datang. Wisuda ini menjadi menyenangkan karena adanya kalian haghaghag. Dan campuran antara bingung mau menulis apa, maka di bawah ini saya masukkan foto-foto yang di dapat dari berbagai sumber. ^^





dari kiri Six, saya, Vivin, Abe, dan Tyar






With Pinyot dan doodle ketjenya (mau order buka ig opiedesu
Dan terima kasih untuk teman-teman KKN Troketon's Team yang mau datang, sempat cari-carian. Maafkan baterai smartphone saya yang mulai lemah. Terima kasih sudah mencari saya di tumpukan manusia. Terima kasih sudah datang Eka, Dina, Rimdut, Gita, Yuni, Anggi, dan Ayu bottom two. Terima kasih untuk papan tulis dan bantal lehernya ^^. Bisa dipakai mudik.

Troketon's Team

Dan terima kasih untuk bingkisan, bunga-bunga (yang kini telah layu, pastinya) yang diberikan.
Saya sangat mengapresiasi kalian ^^. Semoga wisuda kalian nanti saya bisa datang ya!


Terima kasih Pinyot untuk doodle-nya!

Terima kasih Ken untuk gambarnya. Saya anggap lukisan ini berarti ,bahwa setelah wisuda
kita masih punya mimpi yang dikejar tinggi-tinggi.
Terima kasih untuk bunga-bunganya, beberapa sudah rontok dan layu T.T
Mengingatkan akan bingkisan sidang ke Six. Terima kasih Woro,
mungkin bisa melonjakkan berat badan dan turun drastis saat puasa ini.
.
Dan setelah itu, saya dan Six pergi ke studio foto. Tadinya, kami yang wisuda Juni akan foto bersama ditraktir Six. Sayangnya, tidak jadi karena beberapa sudah pulang atau berkumpul bersama keluarga. Terima kasih Eky dan Six untuk foto-foto ketjenya.
With Sixma
Jump!


Baiklah, hari ini sudah 16 Juni, sudah 12 hari pasca saya wisuda. Tulisan ini dibuat sebagai bentuk penutup euforia. Sebab wisuda bukan akhir, wisuda adalah awal dari kehidupan yang kadang terdengar dan selintas menyeramkan. Saya tidak tahu apakah keputusan-keputusan yang akan saya ambil setelah lulus ini yang terbaik, tapi saya percaya, jika Tuhan meng-acc, maka itu yang terbaik untuk kita.


Terima kasih teman-teman. Sukses untuk kita semua, semoga September PLB 2012 ramai diwisuda.

Popular Posts

My Instagram