#JustWrite

Kelinci di Lubang Sampah

Februari 02, 2021

Jikalau dongeng selalu dimulai dengan kata-kata seperti 'pada suatu hari' maka anggap saja tiga kata itulah yang memulai cerita ini. Pada suatu hari seekor kelinci kecil berbulu kelabu melompat-lompat di sebuah taman. Matanya menjelajah rerumputan, melihat bunga warna-warni yang basah oleh tetesan embun.  Musim panas telah tiba, ia bermain di taman dengan riang gembira.

Semuanya terasa menyenangkan, sampai ia melihat lubang berdiameter sekitar 37 cm di pinggir taman, di bawah pohon mangga yang sedang berbunga. Separuh bagian lubang itu tertutup oleh besi tua berbentuk lingkaran yang penuh karat. Besi itu seharusnya menutup lubang rapat-rapat. Namun, siapa yang tahu kalau ada tangan usil yang menggeser besi karat itu untuk membuang "sesuatu". Kotak sampah mungkin terlalu jauh hingga lubang pun menjadi solusi. Manusia menciptakan kotak sampah, tetapi mereka pula yang malas menggunakannya. Ya, begitulah manusia, makhluk paling merasa benar sedunia.

sumber gambar

Kembali lagi soal kelinci itu, ia adalah seekor kelinci yang iseng. Kadang-kadang ia tidak berpikir panjang, mungkin karena telinganya tidak begitu panjang. Kadang-kadang ia memanjat pohon lalu menangis hingga pemadam kebakaran datang menolongnya. Aku basah kuyup karena melompat-lompat di bawah air mancur yang berada di tengah taman. Hari itu ia pun tidak menggunakan gumpalan jeli di kepalanya untuk berpikir. Sepertinya, setan impulsif sedang bersamanya tatkala ia masuk ke lubang itu. Lubang yang dalam dan gelap. Lubang yang menjadi penyesalan terbesar dalam sejarah 24 bulan hidupnya di dunia.

Lubang itu gelap, becek, sempit, dan seperti tak berujung. Kelinci itu tidak berani melompat setinggi biasanya. Ia mendadak menjadi siput, berjalan pelan, mengendap, dan memastikan tak ada apa pun yang melukai dirinya.

 Sampah memenuhi kanan dan kiri jalanan di dasar lubang. Bungkusan-bungkusan bergambar kacang, tumpukan baju, hingga tak lagi bergambar terlihat bergerak ke kiri dan kanan di dasar lubang. 

Mereka tampak hidup! 

Sayangnya, setiap badan kelinci itu terkena bungkusan yang melambai-lambai tertiup entah angin dari mana, badannya tergores. Kadang hanya goresan tidak berarti, tetapi sesekali darah mengalir dari tubuh si kelinci. Bulu kelabunya sudah tak lagi mengembang, perlahan ia menjadi kelinci menyedihkan.

Lubang itu tidak menyediakan makanan yang layak tentu saja. Apa yang bisa kau harapkan dari lubang sampah? Kelinci pun kadang menyesali, mengapa sudah tahu lubang sampah masih ia masuki? Mengapa ia terlalu iseng kala itu? Juga kenyataan bahwa mengapa yang ditanyakan tak akan mengubah kenyataan. Jikalau penasaran apa yang dimakan Si Kelinci, kadang-kadang ia menemukan apel nyaris busuk, sepotong wortel, atau sayuran layu. Mungkin, dari pembuangan sampah atau... entahlah. Kelinci tidak dapat berpikir apa-apa selain bagaimana cara keluar dari lubang keparat itu. Sekeras apa pun ia berteriak, pertolongan tak kunjung datang. Sekuat apapun ia mengeluh, se

Kian hari lubang itu semakin gelap. Semakin kelinci itu bergerak maju, semakin banyak keanehan menyengsarakan yang ia temui. Ada raja semut yang menggigit apa pun hingga tubuhnya tambun. Ada ratu semut yang mungkin saja terus berceloteh sambil mengeluarkan api yang membakar apa saja. Termasuk mengenai bulu kelinci itu. Kadangkala ada katak bertanduk hingga kecoa-kecoa yang tak pernah berhenti mempertontonkan aksi terbang berbagai gaya

Kelinci itu terus berjalan dan tidak kunjung menemukan pintu keluar. Badannya sudah kian kurus sebab tak terurus, bulunya rontok, matanya sendu, telinganya tak lagi tegak. Jauh di dalam hati Si Kelinci, sekalipun ia tak ingin berumur panjang, ia tak mau mati di dalam lubang keparat nan mengerikan. 

Hari ini Si Kelinci Abu tidak lagi berjalan. Ia  meringkuk di dekat tumpukan kulit pisang. Ia tak tahu apakah binatang juga boleh bertuhan. Atau Tuhan sudah tak anggap ia binatang, tetapi bagian dari sampah yang hidup di lubang pembuangan. Tanpa tahu apa salahnya, mungkin Tuhan sedang menghukumnya. Jika Tuhan suka menguji manusia dengan kesenangan dan kesedihan, Si Kelinci tidak mengerti mengapa ia tak pernah merasakan apa itu kesenangan sejak masuk ke dalam lubang. Mungkin Tuhan tidak ada bagi kelinci, hingga lupa memberikan kesenangan meski berada di kegelapan. Mungkin Tuhan juga lupa ada kelinci, sebab sampah-sampah ini menutupi. Namun, Si Kelinci masih yakin Tuhan baik hati termasuk pada kelinci. 

Kelinci itu terus berdoa, jika usaha tidak lagi bekerja, mungkin satu-satunya yang ia masih bisa lakukan hanyalah berdoa.

"Kalau aku tidak bisa keluar dari lubang ini segera, biarlah aku mati muda. Lubang ini begitu menyiksa. Bukankah Tuhan Yang Mulia tidak akan pernah kejam pada hamba-Nya?"


2.2.2021

#JustWrite

Icus Si Kaktus

Juli 16, 2019


Hasil gambar untuk red cactus illustration

Icus adalah sebatang kaktus merah. Badannya bulat seperti bola. Seluruh tubuhnya dipenuhi duri-duri yang tajam.
Icus tinggal di taman kota. Tetangganya adalah pohon Tabebuya, bunga mawar, rerumputan, serta tanaman-tanaman lainnya.
Icus senang dengan matahari, dan ia benci hujan. Icus tidak membutuhkan air yang banyak. Jika terlalu sering tersiram air, Icus bisa kedinginan. Tubuhnya pun jadi lembek. Kalau sudah begini, ia bisa mati. Untungnya, Pak Boni, tukang kebun menyiram Icus 2 minggu sekali.
Sebenarnya, ia adalah kaktus merah yang cantik. Sayangnya, tidak ada sebatang tanaman pun yang mau berteman dengannya.
“Aku tidak mau dekat-dekat denganmu. Tubuhmu penuh duri. Daunku robek jika dekat denganmu,” kata Lilir, si bunga anyelir.
“Kenapa begitu? Rosea pun berduri sepertiku,” jawab Icus.
“Duri Rosea tak sebanyak kau, Icus. Ia pun cantik dan wangi,” jawab Lilir.
Icus tertunduk lesu. Ia benci duri-duri di tubuhnya. Duri-duri itu membuatnya tak punya teman. Tak ada seekor serangga pun yang datang dan hinggap di tubuhnya.
“Kau merugikan, Icus. Lihat, kupu-kupu itu! Mereka bergerombol menghisap madu milik Zinnia,” kata Lilir suatu hari. “Meski usianya pendek, Zinnia memberi lebah makan,” tambah Lilir. Mendengar itu, Icus semakin sedih.
Hari demi hari berlalu. Icus yang malang selalu sendirian. Tidak ada yang memerhatikannya selain Pak Boni. Hujan dan panas silih berganti. Sampai pada suatu waktu, musim kemarau datang.
“Kalian mungkin akan jarang kusiram, wahai tanaman. Kota kita kekeringan. Air begitu sulit didapatkan,” kata Pak Boni suatu sore. Musim kemarau yang panjang membuat sumur-sumur kekeringan. Kota menjadi panas dan gersang. Beberapa tumbuhan kering dan layu. Namun, tidak dengan Icus. Ia tetap sehat. Tubuhnya yang menyimpan air dan daunnya yang berupa duri membuatnya tetap segar di musim kemarau.
 Icus senang ia masih sehat, tetapi ia melihat teman-temannya menangis tersedu.
“Umurku mungkin tidak lama lagi. Daunku telah kering semua,” kata Rosea.
“Aku pun sudah lemas,” sahut Lilir.
“Kau beruntung, Cus. Duri-durimu ternyata membantumu bertahan hidup,” ujar Rosea lagi.
Icus terdiam, memandangi duri-duri di tubuhnya.
Hari berlalu, sudah berpuluh hari hujan tak turun. Pak Boni pun tak kunjung datang untuk menyiram taman. Satu per satu tanaman mati, menyisakan Icus dan Kakek Tabe, Si pohon tabebuya.
“Mereka semua mati,” kata Icus.
“Kau merasa sedih? Bukankah mereka pernah mengejekmu dulu?” tanya Kakek Tabe.
“Ya, tapi sudah kumaafkan. Aku tidak ingin sendirian,” kata Icus. Kakek Tabe mengangguk-angguk.
Suatu hari, seorang manusia berjalan-jalan di taman. Ia tampak sedih melihat semua tanaman mati. Namun, matanya berbinar ketika melihat Icus.
“Wah, kaktus ini masih hidup. Ia agak kurus. Mungkin aku bawa pulang saja daripada tidak terurus,” kata manusia itu.
Icus tidak bisa meronta ketika ia dimasukkan ke dalam tas si manusia. Ia melambai-lambaikan tangan pada Kakek Tabe.
Kini, di sinilah Icus tinggal. Di sebuah rak besi bercat putih di dalam sebuah pot kecil warna-warni. Si manusia menanamnya di pot dan ia letakkan bersama kaktus lain miliknya.
“Hai, aku Icus! Aku kaktus juga,” sapa Icus pada kaktus-kaktus lain. Semua kaktus merasa senang dengan kehadiran Icus. Ia pun merasa senang tinggal di sana. Meskipun, ia tetap merindukan Rosea, Lilir, dan Kakek Tabe.
***

#JustWrite

In Memoriam Cio Chihiro

April 02, 2019

Bahwa kepergian tanpa pertanda selalu melipatkan duka.
Foto terakhir Co
Saya tidak tahu mengapa saya kerap menulis di blog ini jika kucing saya tiada. Kadang saya pikir, dengan menuliskan salam perpisahan, saya akan mengikhlaskan. Maka hari ini,  selepas Cio pergi, saya membuka blog yang sudah jarang saya kunjungi untuk menulis segala hal yang mungkin bisa memudahkan saya mengikhlaskannya.
bayi Cio


bayi Cio
Namanya Chihiro, seperti nama anak di Spirited Away. Hanya saja Chihiro jantan. Karena nama itu begitu panjang, ia  dipanggil Cio. Cio lahir 12 September 2018 bersama Lulu, Popo, dan Poki. Poki sendiri terkena virus waktu masih 50-an hari dan meninggal. Sejak kecil, Cio tumbuh jadi kucing yang lucu dan menggemaskan. Manis, pintar dan manja. Namun, ia terserang jamur saat usia 2-3 bulan. Jamur yang bandel karena sudah hampir sembuh, tiba-tiba kembali. Jamur yang bikin buntut cio gundul dan beberapa bagian tubuhnya botok. Jamur yang bikin Cio nggak kelihatan lucu secara fisik. 
Dari belakang Popo, Lulu, dan Cio
Nggak hanya jamur, Cio juga kena semacam stroke setelah Poki meninggal. Dia jadi murung dan sedih terus. Susah makan, dan mukanya nggak happy lagi. Cio stres sampai kepalanya tengkleng, semacam miring ke kiri. Hal yang bikin dia nggak bisa nengok dan berputar-putar. Tapi sebulan belakangan, miring di kepalanya sudah nggak begitu. 
Cio sudah sembuh dari jamur sebulan ke belakang. Dia sudah suntik jamur di puskeswan dua kali, diberi salep, dan akhirnya sembuh karena dimandikan dengan bubuk belerang. Cio udah sehat, udah makan lahap, udah kembali happy.
Cio adalah jenis kucing yang penyayang. Dia sayang semua kucing, bahkan adik-adik bayinya pun di asuh. Pun, dia manja dengan kucing domestik yang seolah-olah jadi pengasuhnya dari kecil. Cio seperti anak kecil lucu yang selalu baik hati yang nggak ada dia, kerasa sekali.

Cio dan endorsement.
Biasanya, dia bakal duduk di bawah meja laptop dan duduk di keyboard kalau mulai cari perhatian. Biasanya, dia ngikutin ke kulkas untuk minta makanan apa yang bisa dia makan. 
Biasanya, dia minta buah-buahan yang saya makan karena dia suka. Cio suka durian, alpukat, sampai duku.
Biasanya, dia tidur sama saya. Menjilati kepala saya dan mengusap-usap kepalanya di kepala saya seolah saya kucing. Kalau sedang jahil, dia akan menggigiti hidung dan membuat kesal. Namun, beberapa minggu terakhir, Cio sudah bisa mengurangi kenakalan-kenakalan itu. Dia bisa tidur di samping saya dengan rapi. Masuk ke dalam selimut kalau dingin, dan membangunkan kalau pagi.
hari-hari ketika Cio mulai depresi.
Cio ngajarin saya banyak hal. Termasuk menerima tanpa syarat. Kalau menyayangi kucing nggak hanya ketika lucu, tapi juga mau urusin waktu keadaan kayak Cio yang mungkin kelihatan nggak menarik. Cio ngajarin untuk baik dan ramah. Dia selalu berlari ke pintu kalau ada siapapun yang datang dan berusaha dekat. Cio menemani saya di hari-hari saya merasa begitu kelam sejak akhir tahun dimulai. Di hari-hari saya gagal, depresi, dan merasa dunia gelap sekali. Ada banyak kucing di rumah, tetapi bisa jadi Cio yang paling dekat.


Pagi itu, 30 Maret, saya menanam bunga di belakang. Biasanya, Cio akan menemani saya. Duduk di sebelah dan mengganggu. Namun, pagi itu tidak. Cio tidak ada dan saya mengira ia bermain di kebun dengan Popo dan Lulu. Ternyata tidak, Cio tidak ada. Saya mengelilingi rumah berkali-kali. Mengguncang-guncang toples makan sambil memanggil namanya, tapi Cio tidak datang. Padahal, dia adalah yang tercepat datang jika dipanggil. Ibu saya mencari di Puskesmas, tidak ada. Saya semakin khawatir kalau-kalau ia masuk sumur puskesmas yang terbuka ---dan pada akhirnya saya tutup kemarin.
Saya ingat, saya bilang ke mama saya, saya yakin kalau Cio akan pulang.
Cio dan kambing-kambing 

Cio memang pulang, tapi berpulang pada Tuhan. Sorenya, Pap mencari lagi di puskesmas, dan di dalam kolam ikan puskesmas, di balik eceng gondok, ada Cio. Ada Cio yang tercebur dan sudah tiada. Ada Cio yang mungkin terjatuh dari pagar beling Puskesmas dan masuk ke kolam. Ia jarang keluar lewat pagar itu, tetapi mungkin ia naik ke sana dan ketika turun malah nyemplung. Keseimbangan Cio tidak begitu bagus karena kepalanya yang miring.
Sore itu Cio dikuburkan tetapi saya tidak ingin melihatnya. Saya nggak bisa bayangin gimana Cio kedinginan di sana, gimana dia meminta pertolongan tapi nggak ada yang menolong. Jika saja bukan Sabtu, pastilah petugas puskesmas yang biasa duduk di pinggir kolam mendapatinya. Sayang, Cio nggak tertolong.

Satu hal yang membuat saya sedih adalah, Cio sudah sembuh dan kembali bahagia, harus meninggal dengan cara yang menyakitkan. Cio sudah berjuang untuk kembali berbulu normal, dan ketika itu terjadi, ia malah dipanggil Tuhan.
Bulu Co mulai tumbuh.
Saya ingin berandai jika saja saya mengajak Cio menanam bunga dan tidak membiarkan ia mengganggu Mbah saya masak sampai akhirnya memutuskan pergi main lewat naik genting, mungkin Cio masih ada. Tapi seandainya itu jahat. Cio nggak akan kembali. Cio sudah pergi terkubur dan mungkin bertemu kembarannya, Poki. Cio sudah senang di sana.

Terima kasih untuk semuanya, Co. Maafkan kalau Cici sering galak kalau Co nakal, gigitin dan cakar kaki Cici. Cici sayang Co selalu. Semoga kita bertemu di kehidupan baru nanti. Semoga Cici bisa kuat kayak Co.
Sleep tight, Co.


Goodbye Chihiro. Tidur yang tenang, Co.

#JustWrite

Hari Di mana Saya Bunuh Diri [Cerpen]

November 19, 2018


Inilah hari itu. Hari yang saya nantikan sejak semua yang saya lihat hanyalah samar dan buram. Hari di mana saya akan pergi dan tidak akan pernah kembali. Hari di mana saya akan ditemukan seseorang, diumumkan lewat pengeras suara masjid, dan gerombolan orang berbondong-bondong memasuki rumah saya. Mungkin, mereka akan berkata,’Sabar, ya!’ kepada kakak sayasatu-satunya manusia yang memiliki hubungan pertalian darah dengan saya. Tuhan sudah mengambil Ibu saya ketika saya dilahirkan. Adanya saya, ternyata petaka bagi Ibu saya, seakan pertanda kalau kehadiran saya memang bertujuan merusak segalanya.
Bapak saya pun tak lebih dari seorang tukang becak yang saya anggap sudah mati. Ia dihukum puluhan tahun penjara untuk hal yang saya tidak benar-benar mengerti. Mungkin becaknya membawa sekilo ganja. Bisa jadi ia membawa penumpang seorang ibu dan bayi hasil curian. Bisa juga, ia bertengkar dengan sesama tukang becak dan salah satunya meninggal di tangan Bapak. Saya tidak tahu mana yang benar, mungkin saja ada sebab-sebab lain. Yang mana semua itu tidak lagi menjadi penting ketika saya di sini bermaksud membicarakan tentang hari ini.
Mengenai hidup, saya selalu bingung sendiri. Saya nggak pernah meminta Tuhan untuk menghidupkan saya. Kepada Tuhan, mohon koreksi kalau-kalau ternyata pada zaman dahulu kala, saya adalah seekor sperma yang menjerit-jerit minta bertemu sel telur. Tapi benar, seingat saya, saya nggak pernah kok bilang, Tuhan, saya mau hidup dong. Kalau tahu adanya saya membuat Ibu saya tiada, mungkin Ibu saya akan menyuruh sel telurnya luruh sebelum waktunya. Atau, Ibu saya jangan-jangan sedang bersuka cita saat malaikat maut menjemputnya? Punya anak yang bentuknya tidak menarik macam saya mungkin akan membuatnya sengsara. Tapi, soal hidup, saya memang tidak mengerti.
Saya tidak mengerti mengapa saya ada. Tidak mengerti mengapa saya harus ada, juga tidak mengerti saya ada untuk apa. Bisa jadi saya diciptakan agar orang-orang kaya raya, mapan, pintar, cantik, molek, dan hidup nyaman jadi sedikit bersyukur. Orang-orang berwajah rupawan akan berkaca di ponselnya begitu melihat saya, lalu dalam hati mereka berkata, “Oh, gue lebih baik dari dia.”. Orang-orang kaya raya pun akan mensyukuri jejeran mobil yang ia miliki begitu mendapati saya yang hanyalah pejalan kaki. Juga mereka yang berotak cerdas, yang semula ingin menangis karena ulangan matematikanya mendapat delapan, akan tersenyum begitu melihat angka tiga di kertas saya.
Jika tujuan itu memang ada, mungkin saya diciptakan untuk membuat orang bersyukur dan sedikit takabur.
Seperti yang sudah saya katakan, bahwa ini hari yang saya nantikan, maka saya mandi dengan bersih. Saya habiskan seperlima sabun dari botolnya. Saya cuci rambut saya dengan dua sanchet sampo yang katanya wanginya tidak akan hilang sampai tujuh hari. Dengan artian, saat sudah dikuburkan selama tujuh hari, rambut saya tetap wangi. Saya juga sudah mengenakan baju terbaik saya, kemeja putih dengan gambar pohon kelapa. Juga saya kenakan celana pendek selutut warna hitam. Satu-satunya celana yang belum pernah dijahit ulang karena robek. Saya akan segera pergi, ke tempat di mana saya bisa mendapatkan segala kebutuhan yang bisa digunakan untuk mengakhiri apa yang tidak pernah saya minta untuk dimulai.
***
Tempat yang saya kunjungi adalah sebuah swalayan. Jaraknya entah berapa kilometer dari kontrakan saya. Untuk sampai ke sana, saya harus merogoh kocek empat ribu rupiah dengan angkutan kota warna kuning.  Kemudian, saya berjalan beberapa puluh langkah sebelum menitipkan ransel hitam yang sedikit sobek di ujungnya. Ransel itu kosong, tetapi akan saya isi begitu saya selesai membeli beberapa barang.
Pertama, saya menuju lemari minuman dingin. Saya mengambil sebotol yogurt yang hanya bisa saya minum sebulan sekali.  Sobat miskin seperti seperti saya manalah mampu meminum dua botol yogurt tiap hari. Sebulan sekali saja sudah suatu keberkahan. Pun, kakak saya sering menertawakan tiap saya meminum susu fermentasi itu lamat-lamat. Katanya, saya tidak pantas meminum minuman semacam itu. Namun, saya ingin minuman inilah yang ada di lambung saya sebelum saya tiada.
Lalu, saya berjalan ke rak berisi aneka obat-obatan pengusir serangga. Ada obat nyamuk cair, kamper, lotion anti nyamuk, kapur pengusir serangga, dan entah apa lagi. Manusia sering merasa terganggu dengan kehadiran serangga yang sebenarnya tak punya niat untuk mengganggu mereka. Saya kira, kecoa tidak pernah berniat mencuri gorengan manusia, ia hanya belum mengerti soal sistem kepemilikan. Sama halnya dengan nyamuk, manalah tahu ia kalau suara dengingannya bikin emosi. Nyamuk dititahkan Tuhan untuk menyedot darah manusia, lalu manusia marah jika mereka digigit nyamuk. Mengapa manusia tidak menyalahkan Tuhan saja? Oh, tentu saja karena pencipta surga dan neraka adalah Tuhan dan bukan nyamuk.
Untuk mengakhiri nyawa kali initerdengar seperti koki yang berkata ‘untuk masakan hari ini’, tidak?saya akan menggunakan obat nyamuk kertas. Obat nyamuk itu seharga seribu enam ratus rupiah per sachet. Di dalam satu sachet itu, ada sepuluh lembar kertas yang bisa dibakar dan mengeluarkan asap pengusir nyamuk.  Dengan inilah napas saya akan menyesak dan malaikat memanggil saya untuk menghadap Tuhan. Itu pun kalau Tuhan masih sudi bertemu dengan saya.
Ngomong-ngomong, alasan saya untuk mengakhiri hidup ini adalah karena saya sudah tidak punya alasan untuk melanjutkan hidup. Maksudnya, tidak ada satu hal pun yang tampak menarik untuk menjadi alasan bertahan. Masa depan sudah jelas begitu suram, keluarga tak ada, merah muda dan cinta adalah bedebah, dan bosan. Oh, capek. Menjalani hal yang tidak kamu inginkan begitu melelahkan. Jadi bisa dibilang, saya bosan dan capek untuk hidup.
Baik, soal asap obat yang dapat membunuh itu, sebenarnya saya dapatkan dari koran. Setelah menimbang-nimbang dengan cara apakah saya akan meninggalkan dunia ini, saya pun memilih obat nyamuk. Menggantung diri saya dengan tali tambang terdengar begitu mainstream. Seorang Pemuda Tewas Gantung Diri di Tiang Jemuran, judul macam ini sudah terlalu sering. Meminum cairan obat nyamuk? Saya kira itu agak menyakitkan karena matinya agak lama, belum lagi kalau ketahuan. Maaf, mengapa saya malah membahas cara-cara bunuh diri. Saya kan tidak mau mengajak-ajak orang untuk bunuh diri.
Koran yang saya baca sebulan lalu berjudul Satu Keluarga Tewas Akibat Obat Nyamuk. Ceritanya begini, mereka adalah satu keluarga yang sedang berjalan-jalan. Kemudian, mereka berhenti di halaman masjid untuk istirahat. Sebab banyak nyamuk, sang ibu membakar satu sachet obat nyamuk kertas. Bodohnya, sang ayah menutup rapat pintu dan jendela. Mereka pun tertidur hingga tidak sadar tertidur untuk selamanya. Sebenarnya, saya tidak tahu juga sih, apakah mereka ini berniat bunuh diri atau tidak. Orangtua sekarang kan banyak yang tidak waras. Misal, anak diajak melempar bom dengan iming-iming surga.  Saya rasa, apa yang saya ucapkan barusan tidak begitu penting.
Jadi, saya memiliki uang 60.000 rupiah. 5000 rupiah akan saya gunakan untuk membayar angkot, 9000 untuk membayar yogurt. Dengan demikian, 60.000 dikurang 5.000 dan dikurang lagi 9.000 sama dengan .... Baiknya saya tambahkan dulu lima dan sembilan, lalu saya buang nol-nol itu agar mudah dihitung. 5+9 =14. Jadi 60.000 dikurang 14.000 sama dengan 49.000.
Dengan uang 49.000, berapa sachet obat nyamuk yanseharga g bisa saya beli jika satu sachet 1.600? Ah, ya saya tidak perlu membeli korek api karena saya sudah punya dua kotak di tas dan beberapa lagi di kamar kontrakan. Empat sembilan dibagi enam belas terdengar rumit.  Mungkin saya tidak perlu menghabiskan uang saya. Sisanya bisa menjadi warisan saya untuk kakak saya. Jadi saya putuskan membeli 22 bungkus sebagaimana umur saya hari ini. Hari ini saya berulang tahun yang ke-22. Saya ingin orang yang menuliskan nisan saya nantinya sedikit terkejut karena tanggal lahir dan mati saya sama, hanya berbeda tahun saja.
Jadilah, saya berjalan ke kasir dengan 22 sachet obat nyamuk dan sebotol yogurt.
“Dua puluh dua, ya,” sahut kasir. Saya mengangguk, ia kemudian memencet angka dua sebanyak dua kali. Lalu muncullah angka 35.200 di layar
“Empat puluh empat ribu dua ratus rupiah,” sahut si kasir. Padahal, saya baru akan menghitung sendiri. Saya merogoh kantong, memberikan dua lembar uang dua puluh ribuan dan selembar uang sepuluh ribuan.
Lalu saya mengambil ransel hitam saya, memasukkan belanjaan ke sana. Saya teguk seperempat bagian yogort dingin itu. Segar. Langkah saya terasa begitu ringan, saya sudah tidak sabar bertemu Tuhan. Kaki saya terus melangkah, tinggal sedikit lagi saya menyeberang dan saya bisa menanti angkot menuju kontakan.
Saya membayangkan Ibu saya memanggil saya, memeluk dengan erat, dan ....
***

Dan rupanya Tuhan lebih tidak sabar untuk menjemput saya. Sebuah mobil sedan menabrak tubuh saya. Saya sedang membayangkan bertemu Ibu ketika tiba-tiba sesuatu yang teramat sakit saya rasakan. Lalu berganti rasa sakit lain yang membuat saya melihat orang-orang mengerubungi saya. Motor-motor seketika berhenti, dan si pengemudi sedan terlihat menarik-narik rambutnya frustrasi.
Ransel saya terlempar jauh, saya gagal membuat judul ‘Seorang Tewas Bunuh Diri dengan Obat Nyamuk’ di koran esok hari. Saya belum sempat menulis surat perpisahan untuk kakak saya yang sekarang menjadi benar-benar sendirian. Jikalau seseorang berbaik hati mengembalikan ransel yang terlempar itu kepadanya, tentu ia bingung mengapa ada 22 sachet obat nyamuk di sana.
Rupa-rupanya, saya memang hanya bisa berencana.

19 Nov. 2018

#JustWrite

Keluarga yang Terlempar ke Luar Angkasa (Cerpen)

Mei 25, 2017

Kegaduhan pagi ini dimulai dari teriakan Mbah Sastro, lelaki berusia tujuh puluhan, mantan dosen seni rupa yang memelihara selusin burung di halaman rumahnya. Lelaki bersarung kotak-kotak dengan kaus putih itu berteriak,”Mereka terbang! Hei, mereka terbang!”
Awalnya, tidak ada yang memperhatikan teriakan Mbah Sastro, pagi masih begitu sepi, sampai tukang kebun mereka, Kerik, turut melihat ke angkasa dan terpana. Kerik semula mengira Mbah Sastro menunjuk kawanan burung seharga jutaannya lepas dari sangkar, tetapi yang kemudian dilihatnya adalah tiga orang manusia bergandengan melayang-layang dan terpental-pental di langit. Tubuh mereka sesekali terlihat seperti melompat-lompat, sesekali terombang-ambing,mendadak berputar-putar seperti komedi putar, lalu secepat kilat tertarik ke atas hingga tak lagi terlihat.
Semuanya peristiwa tadi terekam dalam kamera ponsel pintar Kerik. Tangan kapalannya tergerak untuk mendokumentasikan kejadian itu karena berpikir video amatirnya bisa menjadi bukti sejarah seperti rekaman video-video amatir saat tsunami Aceh. Bagi Kerik, ia tidak mungkin memanjat tiang listrik dan meloncat dengan sprei yang diikat di pundak seperti Superman untuk menolong keluarga itu. Pun, istrinya, berkata bahwa ia membutuhkan Kerik yang apa adanya, maka ia tidak perlu menjadi Superhero, misalnya. Kerik memilih mendokumentasikan daripada sok jagoan.
“Apa yang baru saja terjadi?” tanya Mbah Sastro, lebih seperti berbicara sendiri ketimbang berbincang dengan Kerik.
“Mereka terbang. Bu Ninik, Pak Akmal, dan anaknya Imora terbang,” jawab Kerik. Lalu menunjukkan video rekamannya. Video yang baru saja ia sebarkan di grup whatsapp ‘Perumahan Srikandi’. Video yang memancing setiap orang di perumahan keluar dari rumah mereka dengan keadaan apa adanya sambil memandang langit dengan sejuta tanya. Sebagian masih menggunakan daster, beberapa memilih berpiyama, dan sekumpulan bapak-bapak yang mengenakan kaus dalam putih dengan celana pendek atau sarung. Semuanya memegang ponsel, dan bisik-bisik mulai terdengar. Segerombol anak kecil tertawa berlarian tanpa peduli bahwa salah satu teman main mereka yang cengeng, Imora, baru saja terlempar dari bumi, mungkin ke luar angkasa. Hari itu, Minggu 30 April, televisi-televisi, juga portal berita online heboh dengan sebuah berita berjudul ,”Keluarga yang Terlempar Ke Luar Angkasa”

Banyak spekulasi yang muncul mengapa mereka terbang di angkasa dan hilang begitu saja.  Bu Laksmi agak gendeng, percaya bahwa mereka dipilih Tuhan untuk mendapatkan hidayah baru atas agama baru. Cucu Mbah Sastro, Bima dan Yudhistira, percaya bahwa Bu Nini dan Pak Akmal berencana bercinta di luar angkasa agar bisa kembali ke dunia dan menyenandungkan lagu Sepasang Kekasih yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa. Tante Gita, guru fisika di sebuah SMA percaya bahwa ada gaya gravitasi yang sangat kuat yang menarik mereka. Masih banyak lagi pendapat lain, mulai dari yang dapat diterima akal pikiran hingga terlalu imajinatif.
Semua pendapat itu seketika terbantahkan ketika polisi yang menggeledah rumah keluarga kecil itu menemukan secarik kertas berwarna merah muda dengan tulisan biru bertuliskan : Suara kalian begitu memuakkan, bernyanyilah, teriaklah, menarilah, enyahlah kalian ke luar angkasa! Bumsakdarkesembrotosengkasurutusingrotogozokosooo platu-platu.
Berhari-hari polisi melakukan penyelidikan, tetapi tidak juga menemukan jawaban. Rumah keluarga kecil itu kemudian ditempati saudara mereka. Tidak ada yang membicarakan terlemparnya keluarga itu sekarang.  Tetapi Kerik, patut berbangga. Ia menjadi komedian di layar kaca. Tingkahnya yang lucu saat diundang sebagai saksi mata di berbagai televisi mengundang gelak tawa dan ia pun pensiun dari tukang kebun. Sekarang, tiap malam, ia muncul di televisi bersama Sule. Memang tidak ada lagi yang membicarakannya, tetapi semua warga ingat. Termasuk Karla.
pinterest
Karla mengira itu hanyalah buku catatan biasa milik tetangganya, Naya. Maka, ia dengan santainya membaca buku catatan itu sambil mengunyah keripik singkong dan menonton Kerik di televisi. Naya sedang mandi dan mata Karla terus menelusuri kata demi kata di buku itu.
Saya benci tetangga saya.
Tidak ada alasan yang pasti mengapa saya membencinya selain sulutan emosi tiap kali mendengar suara-suara mereka yang masuk lewat lubang angin. Suara-suara sumbang dan cempreng yang menyulut emosi saya. Suara-suara yang tak pernah saya izinkan memasuki gendang telinga saya tetapi dengan mudahnya menggetarkan koklea dan otak menangkapnya dengan mudah, semudah ketidaksukaan saya.
Seperti cinta yang kadang tanpa alasan, seperti itulah ketidaksukaan saya pada suara-suara dari rumah sebelah. Tanpa alasan. Kekesalan yang tak diketahui mengapa saya begitu tidak suka dengan suara-suara yang mereka ucapkan. Seperti ketidaksukaan saya pada suara keran bocor yang meneteskan air perlahan-lahan, layaknya ketidaksukaan saya pada tempe busuk dan terong rebus.
Saya tinggal di perumahan yang padat penduduknya. Selain manusia, perumahan ini juga dihuni sapi-sapi, kambing-kambing, beberapa burung  dan ayam petelur. Tetapi, ini bukan peternakan. Ini hanya kompleks perumahan padat kelas menengah ke bawah di mana untuk menghemat, si juru gambar membuat tiap rumah berdampingan. Ini adalah hal yang paling saya sesalkan. Mengapa ayah saya membelikan rumah ini sebagai tanda kebebasan saya karena diterima kerja sebagai ... sebaiknya saya tidak terlalu mengumbar tentang pribadi saya.
Saya tidak pernah membenci tetangga tanpa sebab sebelumnya. Saat masih kecil, saya pernah tidak suka dengan ibu teman saya yang tiap saya bermain dengan anaknya, ia sibuk membicarakan ibu teman saya yang lain yang bersama pembantunya. Mereka duduk di meja makan, mengudap pisang sambil menceritakan hal yang sebaiknya tidak dibicarakan. Saya juga pernah membenci tetangga saya yang membuang sampah di halaman belakang rumah saya. Saya menyadari bahwa halaman kami memang luas, bahkan teramat luas sampai ayah dan kakak saya sering bermain bola di sana. Tetapi, bukan berarti sebuah tanah lapang bisa dengan seenaknya digunakan sebagai tempat membuang sampah. Saya kesal dan geram, belum lagi mereka tidak mengaku. Maka saya juga tidak mengaku saat menaburkan satu ember daun mangga yang banyak semutnya di depan rumah mereka. Masih ada cerita lainnya.
Ini adalah kasus baru, membenci tanpa tahu mengapa. Tidak suka hanya karena suara. Dan lebih anehnya, saya tidak pernah bertatap muka dengan mereka yang tinggal di belakang rumah saya. Ya, belakang dan bukan di kanan atau kiri. Kalau pernah bertemu juga, saya tidak tahu mereka yang mana.
Rumah yang ditempati tetangga yang saya benci adalah rumah seorang nenek renta pada awalnya. saya sering mendengar suaranya terbatuk-batuk atau memanggil pembantunya, entah mengeluh tehnya tidak panas atau sekadar merasa pegal-pegal. Suara nenek itu tidak pernah menganggu telinga saya, saya merasa baik-baik saja sampai nenek itu suaranya tidak lagi terdengar. Ia belum meninggal, hanya saja anaknya yang tertua membawa nenek itu untuk tinggal di rumah mereka sebagai baktinya. Saya tahu itu dari obrolan dua pembantu saat membeli sayur, kebetulan salah satunya adalah pembantu si nenek yang sekarang pun ikut pindah. Si nenek sangat menyayangi pembantunya.
Andai si nenek tidak pindah, mungkin cerita saya tidak akan menceritakan ini. Suatu hari, setelah berminggu-minggu rumah si nenek kosong dan saya hanya mendengar tokek tiap malam, terjadi kegaduhan di rumah itu. Suara-suara cempreng yang menyakitkan telinga saya dimulai. Tidak begitu ingat, tetapi suara yang pertama kali mengusik emosi saya adalah soal sikat gigi.
“Pokoknya, kirimkan sikat gigi Imora ke rumah baruku. Imora hanya mau sikat gigi itu, lagipula susah mencari sikat gigi seperti itu di sini. “
Yang saya lakukan pertama ketika mendengar suara wanita dengan aksen suatu-daerah-yang-tidak-ingin-saya-sebut adalah membuat kernyitan di dahi. Sebegitu pentingkah sebuah sikat gigi? Lebih lagi ucapan menyoal Imora-hanya-mau-sikat-gigi-itu membuat saya bergidik, membayangkan usia Imora yang sepertinya masih balita, sikat gigi seperti apa yang begitu hebatnya sampai harus dikirimkan dari rumah lama yang saya tahu ribuan kilometer dari kompleks ini, dan ... sudah berapa lama sikat gigi itu dipakai? Bukankah sikat gigi paling tidak diganti 2-3 bulan sekali? Membayangkannya saja sudah jijik.
 Seperti ungkapan sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit, kebencian saya terhadap mereka membukit. Tentu saja karena anaknya yang mungkin tidak pernah berganti sikat gigi itu terus-terusan menjerit, ibunya balas memekik, dan bapaknya tertawa sumbang. Juga ungkapan cinta sang ibu terhadap anaknya yang berlebihan seperti: Oh, Cintaku, mau makan dengan tempe goreng hari ini? Astaga, kamu begitu cantik seperti Annabelle.
Sebentar, bukankah Annabelle menyeramkan?
Kebencian akan suara mereka membuat jantung saya berdetak tak karuan. Seperti semua emosi negatif berkumpul menjadi satu. Layaknya bom atom yang siap untuk diledakkan kapan saja tiap tersulut kebencian akan teriakan memanggil sang ibu dengan isakan dan kata marahnya. Saya tidak suka mendengar anak yang memarahi ibunya dan ibu yang merasa bersalah dimarahi anaknya bukan atas kesalahannya.
Pagi itu, bom atom itu meledak. Saya kirimkan selembar kertas beserta mantra yang bisa mendepak mereka dari bumi ini. Selembar kertas yang dibaca sang ibu dengan suara cemprengnya, yang mengantarkan mereka ke langit dan  mungkin tinggal di luar angkasa. Saya merasa...

“Tidak sopan! Membaca tulisan orang sembarangan!” teriak Naya, ia berlari dari toilet dan langsung melompati sofa. Mengambil buku hariannya dan melemparkan tatapan penuh hunusan pedang ke arah Karla.
“Kamu jahat, Naya. Suara keluarga itu memang memekakkan, dan tingkah mereka berlebihan, tetapi mereka tetangga kita.”
“Terserah, itu sudah lama terjadi. Aku harap kamu diam,” sahut Naya pelan tetapi sedikit penuh penekanan.
Karla tidak menjawab. Ia memutuskan keluar dari rumah Naya tanpa sepatah kata. Di depan rumah Naya, Karla mengirimkan pesan ke grup whatsapp kompleks perumahan mereka.
Naya yang menerbangkan keluarga Akmal.

Notifikasi ponsel Naya berbunyi detik itu juga. Sebaris pesan Karla di grup langsung terbaca. Matanya terhunus ke punggung Karla yang berjalan menjauhi rumahnya. Tangan Naya seketika menari di atas ponselnya.
Sesaat kemudian, langkah Karla terhenti. Ponselnya bergetar dan sebuah  pesan dari Naya ia terima. Perlahan ia membacanya. Bumsakdarkesembrotosengkasurutusingrotogozokosoooplatu platusutukumbro

Seketika tubuh Karla tertarik ke atas, kakinya terayun-ayun, tangannya melambai-lambai, dan teriakannya tersapu angin. Hari itu Karla terlempar ke ruang angkasa, tanpa seorang pun merekam peristiwa itu.


Surakarta, 1 Mei 2017

#FotoBercerita

Pecahkan Saja Gelasnya Biar Ramai #flashfiction

Juli 24, 2016

Facebook bertanya, "Apa yang kamu rasakan?" dan aku menjawab ,"Sepi." Meski aku tidak menuliskan di status dan menyebarkannya ke khalayak ramai tetapi aku harap Facebook mengerti, sebagaimana perempuan lainnya yang ingin dimengerti seperti yang tertuang dalam lagu yang kemudian menjadi iklan pembalut luka berdarah.
Twitter bertanya," Apa yang kamu pikirkan?" dan aku menjawab,"Aku." Oke, ini terkesan egois tetapi aku memang sedang memikirkan diriku. Ulangan matematikaku yang tertawa jumawa dan disandingkan dengan tangisan sejarah yang nilainya adalah dua pangkat dua dikurangi tiga dibagi dua. Biar aku tak mengirimkan tweet tapi kuharap Twitter tidak ikut-ikutan memikirkan nilaiku itu.
Sebuah pertanyaan masuk di Ask Fm : jika kamu terlahir kembali, kamu mau apa? Dan ini jawaban yang kuhapus karena terlalu jujur : aku mau terlahir, hidup sehari dan dimakamkan esoknya. Yang kutulis : Tidak mau ditanya seperti ini tentunya.
Aku mendesah. Tentu saja desah yang terdengar seperti mengeluh. Bukan desah manja seperti artis maju mundur cantik. Rumahku sepi, sepi sunyi aku sendiri. Menyepi menyendiri mau mati. Oh maaf. Mungkin aku perlu menyalakan televisi.
Rumahku cukup besar. Aku anak kelima dari lima bersaudara. Berdasarkan fakta tersebut maka jelas kakakku ada empat. Dua diantaranya perempuan maka dua lainnya sudah pasti laki-laki. Salah satu kakakku menjebloskan diri dalam lingkaran perkawinan bersama seorang laki-laki. Dan ia salah satu dari sekian perempuan yang bersedia menjadikan perutnya tempat manusia bersemayam sebelum dilahirkan. Konon ia sudah mengandung tujuh bulan. Sayangnya, fakta-fakta di atas yang menjelaskan bahwa dalam keluargaku cukup banyak manusia tidak sejalan dengan fakta yang kudapati kini. Pukul tiga sore, di depan televisi di kamar kakak lelaki pertamaku, sendiri sambil mengudap keripik singkong karena harga kentang sedang naik.
Sebenarnya, aku adalah pecinta keramaian. Suara kucing kawin, ketiga kakak lelakiku bertengkar berebut stick PS, mamiku membuntuti papi dan bertanya noda lipstik siapa di kemejanya padahal itu jelas-jelas kelakuan mami tadi pagi, atau pertengkaran Mbok Ijah dan Mang Karsono yang sebenarnya saling suka namun biar seru dibumbui benci. aku suka semua hal yang telah kupaparkan barusan. Sayang, siang ini benar-benar tak ada orang.
Aku butuh keramaian yang kucipta sendiri. Bukan berkaraoke yang membuat aku gila karena sadar diri suaraku amatlah sumbang, serak dan tak bervolume. Hingga baru saja kata-kata Cinta di film yang muncul saat aku belum lahir atau mungkin melungker di perut mami terdengar.
Pecahkan saja gelasnya biar ramai.
Dan seperti yang kalian duga, aku berlari ke dapur. Kupecahkan sebuah gelas. Prang... uwuwuw! Kupecahkan lagi. gelas kubanting. Kulempar piring ke arah kulkas. Kuarahkan mangkok ke wastafel dari jarak 40 cm. kumenari piring sebelum kulempar ke arah kompor. Aku suka suaranya. Ramai. Gaduh. Riuh. Berisik. Dan semua piring ludes kupecahkan. Biar apa? Ya, biar ramai.
Sekarang lantai-lantai telah penuh dengan pecahan beling. Oh ya , beberapa piring plastik pun turut serta dan menjadi saksi selamat. Kau tahu? Membuat keramaian itu melelahkan. Keringat mengucur deras dari dahi ke pipi. Aku duduk di meja makan bersama sekotak es krim rasa greentea entah milik siapa karena tinggal setengah. Dan tepat di suapan ke enam belas mami yang baru pulang entah dari mana membawa Mbok
Ijah –mungkin pasar, supermarket, pelelangan sayur- menjatuhkan barang belanjaannya. Tetooot, plastiknya gak bunyi nyaring.
"Apa yang terjadi Handaruuu?" pekik mami. Tangannya berada di dekat telinga, gerakan seperti habis menutup telinganya padahal kan sudah tidak ada piring yang akan dipecahkan yang berarti tidak akan ada suara nyaring yang bisa jadi membuat telinga sakit. Begitu.
"Rumah kita dirampok dan kamu melakukan perlawanan, sayang?"
Aku mengerinyitkan dahi. Sejenak terdiam. Sedikit memutar bola mata. Kusisipi dengan mendengus. Dan diakhiri dengan menggaruk leher yang memang gatal karena digigit semut semalam. Selama badanku melakukan gerak-gerik hiperbolis tersebut otakku berasumsi bahwa Mami lebih menyayangi rumah dan seisinya daripada aku. Dugaan lain bahwa mami menyangka aku anak hebat yang berhasil menyelamatkan diri dan seisi rumah dengan piring. Dan asumsi lain adalah mami akan marah kalau saja aku mengaku. Tetapi jujur adalah yang terbaik. Dan aku harus bertanggung jawab. Meski ini terdengar sok jujur atau sok baik tetapi dipotong uang jajan untuk membeli piring sungguh ah. Jika uang jajan sebulanku yang tidak seberapa itu dipakai untuk mengganti seluruh piring yang pecah maka aku harus setidaknya tidak memiliki uang jajan selama 4 bulan. Sehingga salam perpisahan kepada ibu kantin, mamang-mamang somay, es jeruk, dawet, mie ayam dan segala panganan serta segala benda lucu yang ingin dibeli. Termasuk HP yang mungkin akan tewas karena aku tidak memiliki uang untuk membeli pulsa. Aku memang memiliki tabungan, tetapi tabungan itu tentu tidak untuk piring.
"Apa yang terjadi?"
Aku diam.
Tolong bantu aku untuk mengatakan pada mami bahwa aku yang melakukan ini.
"Handaru... ceritakan apa yang terjadi?"
Aku masih diam. Tetapi otakku kisruh. Bagian kanan otakku memberi usul untuk mengatakan bahwa baru saja ada alien yang mampir ke bumi, turun di halaman belakang dan menuduhku menyembunyikan pampers mereka. Kemudian yang mereka lakukan adalah memecahkan piring karena mengira piring adalah tempat membuang urin. Tetapi otak kiriku membantah sebab belum ditemukan apa keterkaitan antara pampers dan pipis dan piring sehingga yang dipecahkan adalah piring bukan minta dibelikan pampers baru.
Bagian kanan otakku masih saja mengeluarkan ide. Ada hantu bawah tanah yang masuk ke tubuh seorang Handaru dan memecahkan piring, gelas dan mangkok. Sayang ini membuatku ngeri sendiri.
"Apa yang terjadi tadi?"
Aku memutar bola mata karena sejak tadi pertanyaan mami kurang kreatif. 1. Apa yang terjadi; 2. Ceritakan apa yang terjadi; 3. Apa yang terjadi tadi.
Baik. Aku menghela napas dan berkata dengan cepat sebab dengan begitu aku berani dan aku sudah jujur.
"Aku memecahkan semua gelas agar rumah ini ramai karena aku kesepian."
1...2...3! Mata mami membola dan aku menunduk seketika.
Jadi... apa aku salah? Oke aku salah membanting segala pecah belah itu. Jadi... apa aku salah jika merasa kesepian karena semua manusia di rumah ini tidak peduli padaku atas nama sibuk? Semuanya pulang paling cepat pukul lima sore, berangkat pukul enam pagi, dan begitu sampai rumah mereka masuk kamar masing-masing. Dan... ini masih salahku?

#JustWrite

Balasan Kaisha kepada Chero #1

Maret 24, 2016


Balasan Kaisha kepada Chero #1
Dear Chero Gahara Santrock

Pada mula surat ini kutulis tentu sewajarnya terima kasih kusuguhkan pada dirimu, Chero. Ini... seperti bukan Chero, seperti bukan lelaki yang kusiram kopi dua bulan tiga belas hari yang lalu. Terima kasih telah mengirimkan surat di zaman ini. Zaman penuh teknologi yang bahkan suara saja bisa kaukirim secepat cahaya. Aku begitu tak menyangka, seorang Chero yang ... sama sekali jauh dari melankolis itu menulis surat. Yah, meski kertas yang kamu pakai sangat tidak layak. Enggak modal, pakai kertas bekas undangan rapat RT, sudah begitu pakai amplop tagihan parkir apartement. Pelit sekali! Tetapi, sudahlah.  Toh ini bukan surat cinta. Jadi tidak perlu pakai kertas berbunga-bunga segala. Sebab kita sudah tidak lagi bermerah jambu, ‘kan? Atau kamu masih bermerah jambu padaku? Huh?
Uhm. Maaf sekali kutidak bisa turun ke lantai tiga dari lantai dua puluh satu kemarin. Sebab suratmu baru kubaca pagi ini. Salah sendiri pakai amplop tagihan!  Pandir! Lagi pula kusibuk sekali kemarin. Bos baruku menyuruhku membaca draft seorang penulis terkenal. Tentu saja kulebih memilih membaca draft itu daripada membaca surat yang kukira tagihan salah alamat. Apalagi rekan kerja baruku—yang wajahnya seperti Hugh Dancy muda—  mengajak berdiskusi selama tiga jam tentang tulisan itu. Jadi... maaf sekali.
Chero, kalau boleh jujur... kutak menyangka Chero. Sungguh. Kuterpukau membaca surat darimu itu. Hahaha... ya ampun Chero, di surat itu kamu... Chero, memaki-maki hujan-senja-pelangi. Nyatanya kamu hapal racauanku Chero. KAMU HAPAL! Kalau hapal begitu kamu bukan benci namanya. ITU CINTA. CINTA Chero. Mengaku saja. Jadi... kamu mencintaiku dan kamu terlarut dengan hujan-senja-pelangi. Dan... setelah kita tak bermerah jambu kamu mungkin melupakanku tapi tidak dengan hujan-senja-pelangi. Hayoloh Chero. Sistem limbikmu sudah terserang. Hahaha.

Omong-omong Chero, kita sudah sepakat untuk tidak bermerah jambu. Mengapa kamu masih peduli pada kesehatan jiwaku?

#Imajinasi

Lempar #flashfiction

Februari 03, 2016

Saya merasa terengah-engah. Kopi yang ketiga sudah tinggal ampasnya. Tentu ini kopi asli, bukan kopi mainan yang terlalu banyak aksesorisnya. Ini kopi asli yang bijinya saya giling sendiri. Dan saya bubuhkan 123 butir gula. Kira-kira sebanyak itu. Ah, mengapa malah membicarakan kopi. Mari pindahkan sorot kamera ke sebelah kiri. Ya, itu, dia. Ya, dia yang berdiri di depan pintu sambil membawa nampan kopi. Sejak tadi dia hanya terpaku. Tidak, dia menjerit tiap kali saya melemparkan kursi, sendok, pensil, piring, gelas, baju kotor, dan segala hal yang saya rasa enak untuk dilempar. Dia asisten rumah tangga. Lebih tepatnya pembantu di apartemen saya yang tidak terlalu besar ini. Bukan saya yang mau ada pembantu, ini ulah paduka ratu yang melahirkan saya delapan belas tahun lalu.
Dia bertanya mengapa saya melakukan itu. Dan saya jawab dengan tatapan tajam, menghunjam, yang kalau dia pintar dia akan mengartikannya sebagai perintah diam. Sayangnya dia tidak sepintar yang saya kira. Dia malah ikut-ikut menjatuhkan nampannya. Dia dengan mudahnya menghancurkan mug kesayangan saya. Benda yang saya yakini tidak akan saya lempar dalam situasi seperti saat ini. Saya menjerit. Dia berteriak. Saya memekik. Dia tertawa. Loh, kok jadi begini? Seharusnya dia tidak tertawa. Tapi kemudian dia berbalik. Masuk ke ruangan kecil dengan kasur lipat dan lemari kecil, tempat dimana ia biasa tidur.
Saya terduduk di sofa yang sudah tertumpah kopi, penuh baju kotor, dan pecahan piring. Lalu otak saya mengelana. Mengapa bisa seberantakan ini sedang saya punya asisten rumah tangga. Maka saya berjalan ke ruangan kecil itu. Mengetukkan pintu sambil berseru memanggil namanya yang saya rahasiakan. Pintu tidak kunjung di buka. Terkunci lagi. Dengan kuda-kuda, saya tendang terjang pintu itu. Berkali-kali. Hingga saya lelah sendiri.
Saya berjalan ke lemari es dan meminum yogurt. Hanya ada itu. Mungkin saya perlu ke swalayan nanti. Memenuhi kulkas dengan berbagai panganan yang mau membahagiakan saya. Setelah merasa segar, saya dobrak pintu itu. Dan berhasil. Saya menari-nari merayakan kehebatan saya mendobrak pintu.
Kini saya menatap sesosok perempuan yang terduduk di kasurnya. Tubuhnya berserah pada tembok. Matanya tertutup rapat. Dan spreinya yang putih berganti motif menjadi polkadot dengan cipratan-cipratan darah segar. Di tangannya ada sebilah pisau dan garpu. Ya Tuhan. Ada apa ini? Dia bunuh diri? Mati? Kenapa lucu sekali.


Ya ampun ini apa yaaa. Gak tau ah ini nulis apaan >.<

#JustWrite

Konspirasi Menjatuhkan Kopi (Opini bergandeng dengan fiksi)

Januari 27, 2016

Ini hanyalah tulisan yang memandang suatu kejadian dari sudut pandang kopi. Terinspirasi kejadian nyata namun sudah jadi fiksi. Hanya canda, bukan sesuatu yang serius sesungguhnya.


Perhatikan. 

 Beberapa waktu yang lalu, sebuah mobil mewah menyeruduk warung kopi.
Disusul sebuah pembunuhan berencana dimana racun mematikan tercampur dalam segelas kopi.
Dan... sebuah bom di  kedai kopi papan atas.

Ketiganya memuat hal yang sama, kopi.
Warung kopi kecil ditabrak. Minum kopi, mati. Mau kongkow di kedai kopi terkenal, di bom. Semua merujuk ke arah yang sama. Bahwa kopi ada di setiap kejadian itu. Ada apa dengan kopi?
Tidak ada yang membahas bahwa mungkin saja pamor kopi sedang dijatuhkan. Kopi sedang di atas awan. Para pecinta kopi dan pengaku pecinta kopi menjamur. Sudah tidak tahu lagi, mana yang pecinta mana yang hanya ingin memenuhi instagram atau social media lain dengan foto segelas kopi. Bisnis kedai kopi sedang menjanjikan. Dari warung bambu sampai kedai di lantai entah berapa. Tak terkecuali kopi hitam bagi pecandu. Dan kopi mainan yang menjamur dengan bungkus warna-warni. Sudah tidak tahu lagi, sebenarnya berapa persen kopi di bungkus kopi mainan itu. Tapi, itu tetap kopi. Kedai kopi menjanjikan. Barista dilirik jadi pekerjaan. Dan menu-menu terkait kopi mulai beragam. Dengan nama-nama yang kadang sudah tidak ada lagi kata kopinya.
Kopi memang disukai. Candunya bikin nggak bisa berhenti. Aromanya selalu memanggil. Dan pekatnya, pahitnya, dan filosofinya tidak bisa terbantahkan.

Ini bukan benci. Biasa saja. Tapi kopi saat ini sedang melirik jengah ke arah teh. Teh adalah saingan kopi. Kopi bisa berdansa dengan gula. Bisa berpeluk mesra dengan coklat. Bisa menari dengan susu. Tapi kopi enggan dengan teh. Dan teh, bisa jadi benci kopi.
Adalah teh yang berusaha menjatuhkan kopi. Sebab teh iri. Jumlah kedai kopi berpuluh kali lipat daripada kedai teh. Sebab Tea Time malah digunakan untuk coffee time. Sebab teh kemasan hanya itu-itu saja. Tidak bungkus warna-warni. Mungkin ada, tapi sedikit. Sedikit sekali. Teh iri. Maka teh bersekongkol dengan mobil mewah itu. Namun, pencinta kopi masih menyeruput kopi tiap pagi.
Teh tertawa saat sianida itu ada di segelas kopi. Menjadikan seseorang berpulang ke Tuhan. Menggemparkan halaman depan koran. Nama kopi disebut. Spekulasi keracunan kopi membumbung.  Keburukan kopi diangkat. Teh terbahak.
Namun, pecinta kopi tetap ngopi. Teh bergabung dengan teroris. Yang ledakkan bom di kedai kopi papan atas. Setelah gagal menyasar pecinta kopi kelas menengah ke bawah. Sayangnya, penjual sate lebih pamor. Outfit Polisi lebih kondang. Dan tentara jajan lebih terkenal. Kopi tidak disinggung sama sekali.

Teh sedang bergelung dalam duka akan kegagalan menjatuhkan kopi. Ia menangis. Teh melupakan satu hal, bahwa mau bagaimanapun pecinta kopi adalah orang-orang yang setia. Setia pada tiap teguk kopi di setiap harinya.


*

Well, ini adalah pikiran yang sebenarnya sudah lama saya pikirkan. Hanya mainan. Tidak bermaksud menjatuhkan teh. Saya juga suka kok teh, kadang. Seharusnya menyiapkan intervensi besok. Tapi tidak tahan menulisnya. >.<

#JustWrite

Gadis Berpayung Hitam, Lelaki Berkaus Merah, dan Si Topi Biru

Desember 12, 2015

      Gadis itu menggenggam payung hitamnya kuat. Angin yang mengembus menusuk-nusuk pori-pori pipinya yang kemerahan. Rasanya dingin, ia menggigil. Lalu perlahan ia berjalan, menyusuri trotoar yang mulai ramai. Matanya menatap lampu-lampu jalanan, memburam, berpendar, sebab air mata menyesak ingin keluar. Bibirnya terkunci, rapat, seperti hatinya kini. Dua puluh langkah panjang-panjang sudah ia jalani, ingin rasanya menoleh ke belakang. Gadis itu ingin memastikan apakah lelaki itu mengejarnya, pergi, atau tetap di tempat. Gadis itu memutuskan menghentikan lajunya. Menimbang-nimbang apa yang harus dilakukannya. Otaknya beradu, lalu mengingat kejadian dua hari lalu.



Dua hari lalu di sebuah kedai teh, 300 meter dari rumah Si Gadis. Jam menunjukkan pukul tujuh malam, di meja delapan.

"Maaf," bisik si gadis lemah. Matanya hanya menekuri teh hijau tanpa gula yang pahit sepahit hatinya. Lelaki berkaus merah itu tidak menjawab, ia merapatkan giginya, meremas jarinya, dan menatap tiga potong muffin lezat yang tak tersentuh sejak empat puluh enam menit yang lalu. Sejak gadis itu mengaku suatu hal yang membuat lelaki berkaus merah membara.
"Maaf. Sungguh. Aku... aku.... Kamu tahu kan bagaimana kita waktu itu."
"Aku tidak tahu," potong Lelaki Berkaus Merah.
 "Kita sedang tidak baik-baik saja..." ujar Si Gadis, suaranya bergetar.
"Lantas kalau tidak baik-baik saja kamu bisa dengan mudahnya?"
" Kamu pikir siapa yang memulai lebih dulu hah?" sahut Si Gadis pelan, ia mulai naik pitam. Lalu si Lelaki Berkaus Merah menatap Si Gadis, menghunjam, tatapan penuh kebencian dalam.
Lelaki itu mengembuskan napas dengan berat. Hingga ia berkata,"Kita akhiri semua ini. Mungkin aku sudah tidak berarti."
Gadis itu masih diam. Tangannya meremas-remas kemeja flanelnya. "Jangan," ucapnya sambil menatap Lelaki Berkaus Merah penuh harap.
"Ini tidak bisa dipaksakan. Pergilah dengan lelaki barumu," ucap Lelaki Berkaus Merah sebelum beranjak dari kursi dan meninggalkan Si Gadis. 

Si gadis memutuskan berjalan, meski pelan dengan pandangan kosong. Percakapan tujuh menit yang singkat itu kembali berdendang. Percakapan di sebuah kedai roti bakar di pinggir jalan. Jauh, jauh dari halte bus terdekat.

"Jadi... kalian berakhir?" tanya Si Topi Biru . Si Gadis mengangguk. Ia menggigit sepotong roti bakar saus kacang perlahan. Dadanya berdegung kencang bersama dengan perut yang mulas dan mual. Selalu seperti ini tiap ia berada di dekat Si Topi Biru. Rasa yang sama dengan yang ia rasakan bersama Lelaki Berkaus Merah, tiga tahun lalu. 
"Bagaimana dengan kita?"
"Kita? Apanya?" Si Gadis mengerutkan dahinya. Ia terus menggigiti rotinya, menutupi kegugupannya.
"Hubungan kita? Kamu... Aku... Yah, itu."
"Aku tidak tahu. Maaf, aku tidak tahu."
"Aku tahu kamu x padaku," ujar Si Topi Biru. Si Gadis kembali mengerutkan dahi.
"X ?"
"Terlalu geli mengatakan empat huruf yang diawali 'l' dan 'e'," ucap Si Topi Biru sebelum terkekeh. Si Gadis diam, tetapi pikirannya ricuh. Ia 'x' pada Si Topi Biru, namun begitu banyak hal lain selain 'x' yang ia pikirkan. Banyak hal, sangat banyak. Tentang berbagai kemungkinan buruk yang ia takutkan. 
"Aku tidak tahu. Sungguh. Aku ingin pulang saja," suara si Gadis pun keluar setelah sekian lama hening menyelimuti mereka dan gerimis mulai turun. 
"Ayo, sebelum hujan datang. Kita bisa bicarakan itu lain kali. Kita sudah berjanji kita akan terus berteman bukan?"
Gadis itu menggeleng. "Aku pulang sendiri. Sebaiknya kita tidak usah bertemu lagi. Ya, begitu," ucap Si Gadis. Lalu ia berdiri dan mengambil payung hitam, berjalan keluar kedai dan mengembangkan payungnya. Gadis itu menipu dirinya. Oh tidak, ia hanya berusaha realistis dan menggunakan logikanya. 

Pada akhirnya gadis itu berbalik, dan Si Topi Biru tidak menampakkan dirinya. Bersama dada yang bergemuruh gadis itu berjalan dengan cepat menuju halte. Menghiraukan keributan kecil di otaknya. Ia duduk di halte bersama segerombol remaja yang berisik mengusik telinganya.

Beberapa tahun kemudian....

Gadis itu tampak cerah, bersama pipinya yang putih kemerah-merahan. Ia berlari menghampiri sesosok lelaki berkemeja abu-abu. Gadis itu tertawa, lalu menggandeng lengan lelaki berkemeja abu-abu. Tidak ada yang tahu pasti siapa lelaki itu. Apakah ia Lelaki Berkaus Merah, Si Topi Biru, ataukah sosok baru yang datang mengisi hatinya. Gadis itu sudah menemukan rumahnya. Sekarang.

#FotoBercerita

Burung Hantu di Lengan kiri #FotoBercerita

Juni 18, 2015

Di temukan di Pinterest

Aku diam memandang secarik foto yang tak sengaja kutemukan di antara tumpukan foto-foto yang terselip di binderku saat kuliah dulu. Sebuah lengan dengan tato burung hantu yang kupuja setengah mati. Tato yang kubuat 27 Februari 5 tahun yang lalu, saat aku masi. Aku ingat, minggu-minggu awal setelah si burung hantu bertengger di lenganku, hariku kulalui dengan kemeja lengan panjang atau kaus sebatas siku. Tak seperti bangkai yang akhirnya tercium baunya, tato burung hantuku ini pun terlihat oleh Dad di suatu pagi.
"Apa yang ada di lenganmu itu?" tanyanya ketika aku berjalan menuju kulkas. Dad duduk manis di meja makan dengan secangkir kopi hitam yang nyaris tandas. Aku terdiam dan memandang pakaian yang kukenakan, hanya kaos dalam yang sudah pasti memerlihatkan goresan tangan Andrea ini.
"Ta..tato," jawabku terbata. Dadaku berdegug kencang menunggu makian.Kualihkan pandangan ke isi kulkas, mengambil sekotak susu cair stoberi.
"Bagus sekali,ya! Sudah dilarang menggambar malah menggambari lengan," sindir Dad dengan tatapan mata yang tertuju pada lengan kiriku. Aku menunduk dan berjalan menuju kamar.
"Odrei!" panggil Dad. Oh, tidak memanggil, ia berteriak. Aku menoleh dan kembali berjalan.
"Mau jadi apa kamu hah? Tatoan begitu? Kamu tahu tidak kalau tato itu menyulitkanmu bekerja, belum lagi agama kita...," racauan dari mulut Dad terdengar. Tak kuhiraukan dan tetap berjalan menuju kamar. 
Dan setelah itu, pertengkaran membahas tato terus berlanjut. Hingga ia bosan, hingga Dad memilih memakiku untuk hal yang lain. Kami selalu berdebat, kami tak pernah sependapat. Hingga aku memutuskan pergi. Meninggalkan Dad, Mami, Nath, dan semua kehidupan tak menyenangkanku.
Dua tahun awal perginya diriku adalah tahun-tahun awal yang paling berkesan sepanjang 23 tahun usia hidupku. Aku bebas menggambar, melukis, mencipta kembali komik dari segala ide liar yang Dad bilang tak masuk akal. Aku menikmati kesendirian di tempat yang sepi. Atau menyendiri di keramaian manusia tak di kenal. Aku menyanjung hidup nomadenku. Sampai insiden keparat itu tiba. Merengut tangan yang selama ini kugunakan untuk menulis, menggambar, memegang kamera. Tangan kiriku sudah tidak ada. Aku hanya punya selembar foto hasil bidikan  Cika. 
"Simpan ini Odrei, kenang-kenangan bahwa lu punya tato kece di lengan," sahutnya dulu. Aku menyimpannya Cika, bahwa cuma ini yang membuktikan aku punya lengan memukau dengan tato menawan.



aaaaak. Main Pinterest dan melihat tato itu. Keren yak, sayang tato haram u.u. Dan ingat Ode. Ah tau ah.


#JustWrite

Deirde, ikan kembung yang malang

Mei 30, 2015

Aku adalah seekor Rastrelliger brachysoma, hidupku di lautan luas sekaligus ganas. Menjadi waspada dan selalu hati-hati adalah titah Ayah yang kuingat sampai kini. Ya, sampai aku terperangkap dalam jaring-jaring biru lelaki paruh baya. Aku pikir aku akan segera berakhir di penggorengan. Mati kehabisan udara, lalu dimutilasi sedemikian rupa, membuang insangku, membuang kotoranku dan mencuci bersih diriku. Lalu mereka melakukan apapun yang mereka inginkan. Dicelupkan ke penggorengan, dilumuri tepung dan di goreng, di goreng dan diberi sambal, di goreng lalu diulek bersama cabai dan bawang, di sayur, di bakar, atau diberikan ke kucing kesayangan.
Sayangnya tidak. Dan sesungguhnya jika aku memilih aku lebih sudi berakhir di penggorengan secepatnya daripada sekarang.
Anak lelaki si tua itu menangkapku, aku sudah memejamkan mata dan berdoa. Berdoa agar masuk surga dan bertemu Ayah dan Ibu. Bertemu Jane, Kate, Edward, Emily, Daniel, Adam, Frankie, Bonnie, Gerald, dan Heidi. Mereka semua saudara kandungku. Sayangnya anak lelaki itu memasukkanku ke sebuah kotak besar. Mungkin namanya akuarium. Ya, benar, Frankie pernah bercerita setelah ia membaca ensiklopedia -jangan tanya bagaimana dia bisa membacanya-.

Aku berenang di akuarium yang bukan tempat hidupku. Aku hidup di air laut, hidup di air tawar seperti sekarang sama dengan membunuhku perlahan. Mungkin besok aku sudah tinggal nama. Tolong ingat namaku, namaku Deirde. Aku pun tidak tahan, ada lele yang memandangku tajam seperti hendak memakanku sekarang. Atau mujair yang berkumis, terlihat aneh. Belum lagi betok yang hitam dan nila yang meracau tak karuan. Mereka benar-benar menyiksaku, membunuh lewat air yang salah saja kupikir sudah salah apalagi dengan siksaan psikologi seperti ini. Aku tidak tahu apa yang dibicarakan ikan-ikan darat.

Mungkin sebaiknya mereka mengambilku sekarang. Aku ingin berakhir di penggorengan secepatnya, daripada tersesat diantara perbincangan tentang lumpur yang tak kupahami.

#Imajinasi

On his mind.#ff

Mei 12, 2015

Kemarin, pulang kuliah entah kenapa langsung ngambil buku and write this. Belum selesai atau mungkin hanya sampai sini, aku juga nggak tahu. Lelaki yang ada di cerita ini hanya minta diceritakan kisahnya meski belum berakhir. Enjoy it. Mau kritik saran juga boleh :)


Symphony No.40 in G Minor milik Mozart memenuhi ruang pendengaran saya. Pelantang dengar terpasang rapat di kanan dan kiri telinga. Saat ini saya merasa sedang berlari, berusaha pergi dari kenyataan kejam yang saya takuti. Saya tahu bahwa kenyataan bedebah dan menyakitkan itu tidak akan pergi sekuat apapun saya berteriak mengusirnya. Mungkin saya sedang menyangkal. Meski saya paham benar menyangkal adalah kesia-siaan.
You know, you must face the truth. Stop asking ‘why’ .
Bukan, itu bukan perkataan saya. Seorang lelaki tua berjambang putih dengan topi kuning yang mengatakannya pada saya beberapa hari lalu. Tidak, kami tidak mengobrol atau saling mencurahkan masalah. Saya sedang menunggu bus ungu nomor 37 yang saya yakini bisa mengantarkan saya ke surga barang sejenak. Lelaki itu datang dengan tas coklat yang ia rapatkan ke kemeja putihnya yang lusuh. Ia memandang saya dan berkata,”Dear, You know, you must face the truth. Stop asking ‘why’ . “ . Saya tidak menanggapinya, saya malas berbincang-bincang dengan siapapun sekarang. tidak ada orang di dunia ini yang bisa saya percaya. Tapi dengan bedebah, ucapan kakek tua itu terpatri di otak saya. Lihat, saya ingat setiap katanya sekarang, bukan?
Tak lama setelah mendengar ucapan kakek tua itu, bus nomor 37 datang dan saya meninggalkan si kakek. Bus itu berhenti di depan sebuah bar dan saya masuk ke sana. Memesan berseloki-seloki minuman setan. Apapun nama minuman beralkohol yang terdengar indah di telinga, saya pesan malam itu. Seperti, “Welcome to the jungle”, “Imagine Cow” sampai “Red or blue or black or yellow, bullshit !”. I know... saya tahu mabuk adalah hal buruk. Tapi saya sedang menyangkal apapun sekarang. Bersama cairan fermentasi laknat Tuhan saya melayang. Terbang ke langit lapis sekian dan tertawa sepuas setan. Bahwa saya hanya bisa tertawa dan menertawakan nasib saya bersama “Red or blue or black or yellow, bullshit!” dan dentam-dentum musik yang tak pernah menertawakan apa yang saya teriakkan. Malam dimana saya mabuk itu saya melihat cahaya berkilauan. Mungkin malaikat, tapi sudikah makhluk suci itu masuk ke bar?
Pelantang dengar masih berbunyi, memutar simfoni Mozart yang lain. saya menutup mata, menikmati hembusan angin yang menerpa pori-pori kulit saya. Cuaca cerah namun angin membuat saya tak gerah. Bisakah saya menjadi angin? Yang bisa berhembus sesukanya. Dari utara ke selatan, dari barat ke timur laut. Bisa dengan manja berayun di dahan pohon atau kesetanan dan menjadi angin ribut atau badai. Lalu malu-malu dan berhembus pelan tanpa terasa.
Serotonin, oksitosin, dopamin, dan endorfin. Apalagi? Apalagi hormon yang menyebabkan manusia jadi bahagia?
Ada sebuah teori busk yang sangat saya benci setengah mati. Teori itu berkata bahwa semua bermula dari otak, dari pikiran kita. Ya, semua yang kita rasakan dan pikirkan bermula dari benda menyerupai agar-agar yang terombang-ambing di kepala dan ditahan cairan yang tidak pedulilah saya akan namanya.
Jadi, ketika saya sedih sebab otak. Saya resah karena otak. Saya senang karena otak. Bodoh saya karena otak. Sebab otak pula saya pintar. semuanya sebab otak. Saya benci teori itu mungkin karena memang benar. Dan saya makin benci ketika saya merasa resah, saya hanya bisa menyalahkan otak. Bukan kaleng soda di depan mata saya, bukan gadis cantik yang mengerling manja di sudut bar, atau pengemis buruk rupa. Segala kesalahan, kesedihan, dan tawa saya berasal dari otak. Terpujilah engkau ketika saya bahagia dan terkutuklah engkau ketika saya sengsara, otak.
Musik yang katanya dapat mengubah perasaan menjadi lebih ceria tak menimbulkan apa-apa Saya sedih sekarang. dan makin sedih tidak ada yang bisa saya salahkan. Terlebih semuanya salah otak dan menyalahkan otak sama saja menyalahkan diri sendiri.
Serotonin, oksitosin,dopamin, dan endorfin. Mungkinkah saya sedang miskin mereka sekarang? Hingga saya tidak bahagia d merasa hancur lalu ingin kabur. Apakah jika hormon itu melonjak, saya bisa bahagia? Bisakah mereka menyelesaikan masalah pelik saya? Saya tidak percaya, tapi tidak ada yang salah untuk mencoba.
***
Lelaki kurus itu menghampiri saya ketika saya duduk di taman kemarin. Menawari pil-pil dengan harga selangit yang warna-warni dan menarik hati. pil itu tersenyum pada saya.
“Bisa menaikkan serotonin, dopamin, oksitosin, endorfin?” tanya saya.
“Ah, Anda bicara apa Tuan? Yang saya tahu bahwa Anda bisa bahagia jika Anda menelan pil ini. Anda akan merasa seperti di surga, melayang tanpa batas dan lupa semua masalah Anda. Lihat, saya terlihat bahagia bukan? Hahaha.”
Saya mengamati lelaki itu, dari rambutnya yang keriting, matanya yang cekung namun terlihat bergairah dan semangat, bibirnya menghitam dan terus menyungginggkan senyum sambil tertawa. Saya butuh bisa tersenyum dan tertawa seperti dia. Saya butuh senang, saya butuh, saya menginginkannya.
Maka saya menguras uang yang ada di bank, mengubah digit yang saya miliki demi pil warna-warni yang terus tersenyum pada saya.
Malamnya saya menelan sebutir pil tersenyum berwarna pink. Pil yang saya yakini mampu mendongkrak kadar serotonin, dopamin, Oksitosin, endorfin dan tentu pemicu bahagia dan segala tawa. Malam itu saya merasa manusia paling bahagia. Saya melihat semua orang tersenyum pada saya, mereka ada di langit-langit kamar. Bahkan adik saya yang sudah mati pun tertawa di langit-langit.
Ada rasa nyaman dan tenang. Senyum saya terus terkembang bersama tawa yang membahana. Saya telan lagi pil bahagia itu. mendadak semua orang yang ada di langit kamar menghilang. Saya kesal, namun dua ekor kelinci dengan jas datang. mereka lucu sekali. Kelinci dengan pita merah memegan mikrofon dan si pita hijau memegang tamborin. Belum menyanyi saja saya sudah tertawa, kelinci-kelinci itu lucu sekali dan mereka bergoyang-goyang. Si pita merah memulai nyanyiaannya. Tidak ada masalah sampai ia lupa lirik di bait kedua baris kedua,pula.

“When the blazing sun is gone. When nothing.... when nothing... when nothing... nothing....”
Kelinci berpita merah menunduk menyembunyikan pipinya yang gembil dan memerah karena malu. Meski begiyu ia tetap mengulang-ulang ‘when nothing’. Si pita hijau terlihat asyik sendiri memaikan tamborinnya, tidak peduli dengan si merah dan menari-nari sendiri.
“When nothing shines upon!” seru saya. Si pita merah merona bahagia, melanjutkan nyanyiannya. Tapi ia selalu lupa baris kedua.
Di bait ketiga ia lupa “thanks you for your tiny spark” dan terus menggulang-ulang “thanks you”
Di bait keempat ia terus berkata “And often through” dan lupa bahwa lanjutan tiga kata itu adalah “my curtains peep”.
Bait terakhir ia hanya meracau “the dark” ketika seharusnya “ lights the traveller in the dark”.
Saya bertepuk tangan sambil terengah-engah sebab lelah menertawakan si kelinci. Saya ingin lagi, lalu menelan pil kuning. Tak lama setelah pil itu saya telan, kelinci-kelinci itu undur diri. Saya diam sambil memandangi kaca di depan saya. Sampai seorang raksasa hitam dengan mata kuning tertawa dan mendekati saya. Saya bersembunyi di balik selimut dengan lutut bergetar dan dada bergemuruh kencang. Air mata saya jatuh dan mulut saya memanggil nama Tuhan. Tapi, apakah Tuhan dengar teriakan saya?
*


Popular Posts

My Instagram