Dear Tuhan,
Aku belajar, Tuhan itu baik. Meski kadang aku kesal karena tak mendapatkan yang kuinginkan, diberi yang tak kuharap, aku masih merasa kalau Kau baik. Tuhan terlalu baik untuk disalahkan atas segala kelakuanku. Kadang aku berharap tak pernah ada, Tuhan. Tapi, tombol undo soal hidup itu dimana, ya? Maaf aku mengada-ada, meskipun Tuhan bisa melakukan segalanya.
Begini Tuhan, aku belajar, Tuhan selalu punya alasan.
Selalu ada alasan dibalik pahala, juga dibalik dosa. Kalau aku membantu temanku meraut pensilnya, aku akan mendapatkan pahala. Aku tahu itu, karena temanku merasakan manfaatnya. Sayangnya Tuhan, di masa aku hidup, aku tidak tahu mengapa banyak manusia yang terlalu mencampuri pahala dan dosa lainnya. Maksudku, tiap dari kita sudah punya malaikat yang rajin mencatat, bukan? Lalu mengapa masih ada yang berteriak, "Hei! Kamu memosting fotomu. Itu dosa jariyah!"
Aku tidak belajar agama dengan dalam, mungkin karena itu aku tidak pernah mendengar dosa jariyah. Yang aku tahu, kalau aku mengamalkan ilmu dan berguna, bisa menjadi amal jariyah. Sebentar, Tuhan, hambaMu yang bodoh ini sedang berpikir. Kenapa perempuan yang memosting fotonya jadi dosa jariyah, sih? Maksudku kenapa ya, mereka menyalahkan perempuan saja? Kenapa tidak menyalahkan mata yang melihat dan otak orang yang berpikiran macam-macam? Mereka ini yang waktu kecil dan jatuh, yang disalahin batunya kali, ya. Jadi kalau mereka merasa salah, mereka maunya salahin orang lain aja. Eh, maaf Tuhan, aku jadi judging.
Tuhan, ngomong-ngomong, kenapa sih banyak orang yang niat banget menyebarkan agama, tapi lupa dengan toleransi pada sesama? Waktu kukecil, guruku bilang, agamamu agamamu, agamaku agamaku. Itu sederhana kan untuk dipahami, ya? Kenapa susah sekali sih untuk menghormati kepercayaan orang lain. Kenapa banyak orang suka menyampuri ibadah orang lain, menghitung pahala orang lain, Tuhan tidak sedang kekurangan malaikat, kan?
Tuhan, aku belajar modifikasi perilaku. Lalu aku merasa kalau dosa dan pahala itu mirip token ekonomi dan response cost. Sayangnya, malaikatku ngga pernah menunjukkan berapa poin masing-masing. Jadi aku kan tidak tahu masuk mana, nantinya. Nah, aku bingung deh Tuhan. Kok bisa ya, ada manusia yang menunjuk-nunjuk seseorang itu pasti masuk neraka? Dia dapat bocoran dari mana sih, Tuhan?
Tuhan, aku lelah menulis. Mungkin aku akan menulis semacam ini kali lain. Aku tahu Tuhan mendengarku
Regards,
HambaMu yang overthinking selalu
Januari
Februari
Maret
April
![]() |
| Cover awal 45 months waktu gue publish di Wattpad dan Storial |
Mei
| salah satu foto menu sahur gue |
Juni
| kapal yang ramai akibat mudik lebaran |
Juli
| Di kompleks candi Muaro Jambi. |
Agustus
September
Oktober
November
![]() |
| Kapal yang gue naiki |
Desember
| Berikut puisi gue (ini memang sangat abal dan jelek) |
| dan mari cermati apa yang dikomentari |
| picture by me |
Banyak rumah dengan pintu-pintu yang terbuka tetapi ada satu pintu lagi yang tertutup, kayak foto pertama. Dan biasalah, gue jadi berpikir tentang filosofi pintu terbuka tertutup.
Ada beberapa motto yang ingin saya tulis di halaman motto skripsi. Namun, beberapa kalimat mungkin akan dicoret dosen, dan beberapa saya coret dulu karena sudah yakin akan dicoret.
1. Procaffeinating, so first, coffee
Karena... ketika saya belum ngopi kadang saya cuma bengong, ngantuk, meracau nggak jelas, atau mainan. Jadi kopi berperan penting dalam segala aspek kehidupan saya, tentunya
2. Pantang pulang sebelum sidang
Ya, walau kenyataannya setelah sidang saya mengurusi birokrasi dahulu demi bisa wisuda, tapi reinforcement berupa tiket pulang-yang sebenernya, ya... saya bisa pulang kalau saya mau- efektif mendorong diri saya untuk begadang, mengerjakan skripsi, dan berguling-guling dengan revisi.
3. Berhasil tidak untuk dipuji, gagal tidak untuk dicaci maki, sebab yang penting adalah berarti.
Dibalik kalimat tersebut, intinya, yang penting skripsinya jadi. Dan saya ga terlalu suka dipuji, tapi nggak suka juga dicaci. Dan niat awal itu jadi berarti, setidaknya buat diri sendiri.
4. Semua yang hidup pasti mati, maka semua yang dimulai pasti diakhiri.
Intinya sih saya cuma mau bilang, skripsi yang dimulai, kalau ada usaha, doa, dan usia pasti selesai juga.
5. Kemenangan adalah mengalahkan dia yang ada tiap engkau berkaca.
Ehem. Jadi... saya berpikir bahwa cepat atau lambatnya kita bergantung diri kita. Ada pengaruh dosbing dsb, tapi semuanya tetap balik lagi ke diri sendiri.
Itu dulu deh, kalo inget saya tambah hawhawhaw
Membandingkan diri memang tidak baik. Tapi dalam hal mengkomparasi tentu haruslah mengingat yang kita bandingkan setara atau nyaris setara atau tidak. Keadilan memang milik Tuhan, kita cuma bisa berusaha. Tapi apakah bijak membandingkan berat badanmu di usia 20 tahun dengan berat badan adikmu yang bayi? Apakah bijak udang dan timun dibandingkan? Satu hewan satu sayur. Pikir lagi.
![]() |
| gambar ditemukan di Pinterest |
Setelah kemarin saya menulis tentang memakan coklat pahit di dekat orang kelaparan dan orang makan udang enyak, sekarang pemikiran itu berkembang. Maaf kalo analogi saya berkisar tentang makanan. Padahal sebenernya ya, saya enggak terlalu suka makan. Lebih suka minum. Tapi enggak apa. dalam kasus ini, saya membicarakan skripsi. Tapi analogi ini saya pikir bisa diterapkan di kasus lain.
Yap, itu yang saya rasakan. Enggak usah dijelasin karena nanti saya bisa-bisa balik ke tahap denial.
Sampai akhirnya...
Sampai akhirnya lu nengok ke belakang. Melihat jejeran orang yang berbaris di belakang lu. Beberapa dari mereka mau makan soto juga. Sebagian lagi masih bingung mau makan soto apa nasi pecel. Sebagian lagi ngitung duit karena belum dikirim Papinya. Lu terdiam. Bahwa lu punya uang, lu udah di barisan deket etalasenya Bu Meto, dan Bu Meto udah bilang “Kosek to...” yang artinya bahwa lu disuruh sabar nunggu.Lu udah tahu lu mau makan soto. Dan pasti lu bakal dapat soto karena lu lihat bahan-bahannya masih banyak.
Tulisan ini entah di post kapan,entah hari ini juga atau pada suatu hari. Saya masih duduk di gerbong 8 saat mengetikkan posting ini. Bersama hati,jiwa dan pikiran yang carut-marut belum tertata.
Pulang kali ini saya lebih ikhlas. Tetap malas packing (selain cuma packing 1 ransel) namun tidak semenyesakkan biasanya. Mungkin karena bisa pulang saja saya sudah bersyukur mengingat rencana awal saya tidak pulang.
Hati saya masih menolak banyak hal. Tapi saya tahu, sekuat saya menolak semakin sakit yang didapat. Mungkin saya bisa kabur dari semuanya tapi tentu bukan jawaban atas masalah. Tapi membuat masalah baru.
Papa saya mengingatkan saya untuk semangat, sesuatu yang saya pikir sudah hilang. Tapi saya ingat, seperti yang saya ungkapkan dulu di posting entah kapan tentang anak pertama. Saya punya tanggung jawab lebih. Dan saya harus lulus cepat dan mendapat pekerjaan yang menyenangkan di segala lini.
Saya tidak boleh menyerah, saya terlanjur ada dan tak mau mati sia-sia.
Seandainya memang kata yang kejam, ya kejam jika dipakai untuk mengobrak-abrik dan memikirkan masa lalu. Tapi seandainya bisa jadi kata yang baik hati, setiap penemuan yang ada di dunia ini berkemungkinan dimulai dari seandainya.
Malam ini saya di kereta, tanpa memikirkan seandainya saya bisa pulang kemarin, Tuhan sudah memberi jalan agar saya bisa kembali. Tapi bukan itu yang akan saya ungkapkan disini.
Suatu alat yang saya inginkan sejak dulu adalah brain notes. Saya membayangkan bahwa brain notes adalah alat yang mencatat apa yang saya pikirkan dan imajinasikan ke dalam bentuk tulisan. Sebab kecepatan berpikir,kecepatan ide bergerak dan meledak jarang sejalan dengan kecepatan tangan menuliskannya. Kadang saya sering kesal sendiri, ketika ide itu bergerak cepat namun ketika akan ditulis saya lupa ingatan.
Dan menuliskannya ketika sedang terjadi ledakan ide justru malah memadamkannya.
Maka seandainya brain notes itu ada,saya akan menabung untuk membelinya
Malam.
Manusia.
Manusia adalah makhluk yang patut,layak,dan menyenangkan untuk diperbincangkan. Menggosipkan manusia lebih menyenangkan (bagi mereka yg senang bergosip tentu saja) daripada menggosipkan siapa yang menghamili kucingmu, berapa telur ayam kita, atau mengapa mangga di depan rumah malas berbuah.
Bad news is a good news.
Kabar buruk sering diterima secara positif. Maksudnya, manusia lebih suka mendengar kabar jelek daripada kabar baik. Bahkan,ketika mendengar kabar baik saja,manusia suka menduga-duga dan mencipta kabar buruk dari sana.
Saya batu. Saya tahu. Saya kadang terlalu cuek dan tidak peka. Maka jika hari ini kekacauan menghunjam diri saya, ini keterlaluan. Tapi saya tahu, saya cukup mengabaikan. Inilah saatnya saya membatu lagi. Mengeraskan hati dan diri. Menutup telinga tanpa pelantang dengar. Inilah dunia yang harus saya tapaki,mungkin keluar dari zona aman itu seperti ini.
Omongan saya mulai meracau. Ada yang ingin saya tendang,tapi yang ada hanya udara.
Saya kira itu saja. Saya takut bicara saya makin menggila. Bahkan ketika saya sudah berhenti 'denial'.;
Rumah, pulang dan sebuah perjalanan adalah 3 kata yang selalu menyenangkan untuk didengar. Terlebih jika sepaket.
pulang selalu menuju ke rumah.
Ada perjalanan untuk pulang dan sampai ke rumah.
Perjalanan selalu menyenangkan,selalu ada hal baru,orang baru, dan pemandangan yang memberi warna di perjalanan.Kadang menjadi oleh-oleh cerita di rumah
Cerita perjalanan pulang.
Aku ingin pulang. Rindu rumah. Dan selalu menyukai perjalanan. Semoga perjalananku selalu menyenangkan
Dalam barisan kata jahat, seandainya adalah salah satunya. Seandainya adalah setan berjubah pangeran yang tampan dan memukau. Seandainya selalu menyuguhkan segelas wine yang memabukkan. Seandainya memberimu gulali yang manis dan berakhir sakit tenggorokan. Seandainya kadang begitu baik hati, menawarkan imajinasi yang berbuah inspirasi. Sayangnya seandainya lebih sering diajak untuk berlari. Lari dari kenyataan meski akhirnya kembali, lari dari semua yang tak diinginkan, membangun mimpi, membuat terbuai dan berakhir kekecewaan.Seandainya dan seandainya.
Besok ulangan Pediatri. Awalnya saya membuka-buka materi. Dan bukan saya nampaknya kalau bisa fokus dengan belajar tanpa gangguan. Mulai terdistraksi dengan ngobrol bersama mama tentang vaksin. Hingga pikiran saya mulai mengembara tak karuan. Saya berpikir bahwa kuliah terasa seperti sekolah orangtua. Maksudnya sekolah untuk menjadi orangtua nantinya. Maka saya berpikir mereka yang berniat menjadi orangtua sebenarnya sedang menyelam sambil minum air . Dan saya yang bahkan belum tertarik untuk menjadi orangtua, merasa tidak berminat menambah jumlah manusia di bumi ini pun merasa mungkin saya perlu mempelajarinya, untuk saudara saya, tetangga dan antisipasi jika pikiran saya berubah -semoga saja tidak-.Kami belajar Psikologi perkembangan, hingga kami tahu tahapan dan tugas tumbuh kembang anak. Kami belajar stimulasi dini, hingga kami tahu apa yang harus dilakukan untuk menstimulasi dan mengintervensi tumbuh kembang. Kami belajar ortopedagogik, kami belajar penyebab, gejala dan pencegahan terhadap kasus ABK. Maka kami tahu bagaimana mencegah dan antisipasinya. Kami belajar modifikasi perilaku,dan saya pikir setiap anak perlu modifikasi perilaku untuk menjadikan mereka berperilaku baik. Kami belajar pediatri, dari jadwal menyusui sampai jadwal vaksinasi. Dan mata kuliah lain yang saya pikir berguna.Kami belajar identifikasi dan assesmen, bukankah penting bagi orangtua untuk mengidentifikasi anaknya, menemukan ada masalah atau tidak? Kami belajar bimbingan klinis, meski sedikit, kami tahu bagaimana pendekatan yang baik untuk menggali dan membantu masalah seorang anak. Kami belajar tentang pendidikan dan dari jurusan ini kami belajar menerima setiap kelebihan dan kekurangan setiap anak. Dan masih banyak lagi. Semua memang teori, tapi saya pikir manusia perlu bekal teori sebelum terjun.
Sekolah untuk orangtua memang tak ada, kuliah saja jurusan Pendidikan Khusus untuk mendapatkannya. Makin ngawur, aku sebaiknya kabur.












