#JustWrite

Apakah terlalu berencana malah mendatangkan bencana?

Juli 13, 2020

Oke, beberapa hari yang lalu aku baca sebuah novel, Melankolia Ninna. Bercerita tentang sepasang suami istri yang sudah lima tahun menikah, tetapi tak kunjung mendapatkan anak dan tidak akan pernah mendapatkan anak karena di awal cerita, rahim sang istri diangkat. Lalu, ada sesuatu yang menarik yang membuatku jadi mengfungsikan otakku untuk bekerja dan bertanya. 
Apa overplanning (apa sih istilah untuk terlalu jauh berencana?) tidak selalu baik?
Apa Tuhan tidak ingin manusia berencana terlalu dalam? Ya, berencana bagus, tetapi yang berlebihan mungkin tidak baik.
Apa ketika kita mengejar sesuatu terlalu kencang, justru kita sedang berlari menjauhkan dari apa yang kita inginkan?
Apakah terlalu berencana malah mendatangkan bencana?

Aku berpikir demikian setelah menemukan kalau pasangan di novel tersebut, Ninna dan Gamal sudah merancang kamar bayi, membeli peralatan bayi, membuat boks bayi, bahkan ketika mereka belum memiliki tanda-tanda memiliki bayi. Hingga ketika mereka menemukan kenyataan bahwa tidak akan ada bayi dari rahim sang istri, patah itu semakin berkeping. Barang-barang perbayian itu terasa seperti pisau-pisau yang menghunjam-hunjam. Mungkin jadi terlihat seperti sepasang calon orangtua yang patah hati ketika bayinya meninggal padahal mereka sudah membeli perlengkapan bayi. Membayangkan bayi yang telah dikubur memakai jumpsuit, tidur di boks yang dibuat. Namun Gamal dan Ninna, tidak ada wujud nyata yang mereka bayangkan untuk tidur di boks atau memakai baju-baju itu. Apalagi, baju dan boks itu kemudian menjadi sumber pertengkaran mereka.

... aku jadi berpikir. Bahwa berencana secukupnya saja. Rencana yang berlebihan pun tidaklah baik, ketika harapan dan kenyataan tidak beriringan. Selama ini kusebenarnya pun tak punya banyak rencana dalam hidup karena planning kadang bikin pewning. Todolist harian saja tak semuanya tercontreng. Sudahlah racauan ini, racauan yang tidak kurencanakan di todolistku. Haha

justwrite

Dear Tuhan

Desember 03, 2019

Dear Tuhan,

Aku belajar, Tuhan itu baik. Meski kadang aku kesal karena tak mendapatkan yang kuinginkan, diberi yang tak kuharap, aku masih merasa kalau Kau baik. Tuhan terlalu baik untuk disalahkan atas segala kelakuanku. Kadang aku berharap tak pernah ada, Tuhan. Tapi, tombol undo soal hidup itu dimana, ya? Maaf aku mengada-ada, meskipun Tuhan bisa melakukan segalanya.

Begini Tuhan, aku belajar, Tuhan selalu punya alasan.
Selalu ada alasan dibalik pahala, juga dibalik dosa. Kalau aku membantu temanku meraut pensilnya, aku akan mendapatkan pahala. Aku tahu itu, karena temanku merasakan manfaatnya. Sayangnya Tuhan, di masa aku hidup, aku tidak tahu mengapa banyak manusia yang terlalu mencampuri pahala dan dosa lainnya. Maksudku, tiap dari kita sudah punya malaikat yang rajin mencatat, bukan? Lalu mengapa masih ada yang berteriak, "Hei! Kamu memosting fotomu. Itu dosa jariyah!"
Aku tidak belajar agama dengan dalam, mungkin karena itu aku tidak pernah mendengar dosa jariyah. Yang aku tahu, kalau aku mengamalkan ilmu dan berguna, bisa menjadi amal jariyah.  Sebentar, Tuhan, hambaMu yang bodoh ini sedang berpikir. Kenapa perempuan yang memosting fotonya jadi dosa jariyah, sih? Maksudku kenapa ya, mereka menyalahkan perempuan saja? Kenapa tidak menyalahkan mata yang melihat dan otak orang yang berpikiran macam-macam? Mereka ini yang waktu kecil dan jatuh, yang disalahin batunya kali, ya. Jadi kalau mereka merasa salah, mereka maunya salahin orang lain aja. Eh, maaf Tuhan, aku jadi judging.

Tuhan, ngomong-ngomong, kenapa sih banyak orang yang niat banget menyebarkan agama, tapi lupa dengan toleransi pada sesama? Waktu kukecil, guruku bilang, agamamu agamamu, agamaku agamaku. Itu sederhana kan untuk dipahami, ya? Kenapa susah sekali sih untuk menghormati kepercayaan orang lain. Kenapa banyak orang suka menyampuri ibadah orang lain, menghitung pahala orang lain, Tuhan tidak sedang kekurangan malaikat, kan?

Tuhan, aku belajar modifikasi perilaku. Lalu aku merasa kalau dosa dan pahala itu mirip token ekonomi dan response cost. Sayangnya, malaikatku ngga pernah menunjukkan berapa poin masing-masing. Jadi aku kan tidak tahu masuk mana, nantinya. Nah, aku bingung deh Tuhan. Kok bisa ya, ada manusia yang menunjuk-nunjuk seseorang itu pasti masuk neraka? Dia dapat bocoran dari mana sih, Tuhan?

Tuhan, aku lelah menulis. Mungkin aku akan menulis semacam ini kali lain. Aku tahu Tuhan mendengarku

Regards,

HambaMu yang overthinking selalu

#FotoBercerita

Apa yang terjadi selama 2017 ini? [Ocehan mengorek ingatan]

Desember 31, 2017

Apa yang terjadi setahun ke belakang?

Kalau ditanya apa yang terjadi di tahun 2017, gue merasa agak-agak lupa. Seperti tidak ada sesuatu yang 'nendang' banget. Entah gue yang lupa, merasa semua hal adalah biasa aja, atau kurang bersyukur. Yang jelas kumerasa bersyukur masih bertahan hidup di dunia dengan segala gilanya dunia dan kecemasan-yang-selalu-menyebalkan. Akhir 2016 lalu, kutak membuat resolusi. Gue tidak begitu suka daftar resolusi karena berharap membuatku tertekan lebih kuat (di mana tanpa resolusi saja kusudah merasa cemas dan tertekan).
Sambil menulis posting ini, kuberencana berkontemplasi dan mencoba mengingat apa yang terjadi satu tahun ke belakang. Tidak ada tujuan khusus, blog memang tempatku berbincang dengan diri sendiri, dan kalau-kalau setelah menulis ini kubisa lebih bersyukur. 
Januari
Pergantian tahun dari Desember 2016 ke Januari 2017 dibuka dengan mengerjakan tugas (entah tugas apa) lalu sejenak 'ngacir' bersama Ajeng ke Solo Car Free Night. Awal tahun baru, gue mengecat rambut gue jadi hijau aquamarine. Gue suka banget warnanya, hanya saja gue tak bisa posting foto rambut itu disini wkwk.
Januari adalah pertama kalinya gue presentasi seminar internasional (prosiding) di Malang bersama Ajeng, Mbak Ulfa, dan Mbak Esty.
Dua hari setelah prosiding, tanggal 23 Januari pula gue pulang ke rumah meski nggak lama. Karena ada prosiding itulah gue menunda kepulangan, dari pada bolak-balik dan menghabiskan uang transport. 
Februari
Tidak ada yang menarik di Februari. Pertengahan Februari kukembali ke Solo. Ah, gue lupa. Di Februari, gue dan Pinyot iseng ikut lomba infografis learning disabilities dari UPH. Gue nyari konten dan buat infografiknya, Pinyot yang gambar. Alhamdulilah dapat juara pertama 😄 dan uang jajan.


Maret
Maret berjalan seperti biasa. Kuliah, pulang, baca novel, mengerjakan tugas, dan semacam itu. Akan tetapi, pertengahan Maret, kumengunjungi Museum Sangiran bersama Nau. 

Sebenarnya, ada hal cukup penting di bulan ini. Gue menerbitkan buku pertama bersama teman dekat. Sayangnya, gue tidak terlalu merasa senang ketika buku itu terbit. Ada perasaan 'ini bukan gue' yang membuat tidak nyaman dan merasa bersalah yang terus mengganggu ketika menulis dan saat buku itu selesai. Sehingga gue memutuskan menggunakan nama pena di buku itu. Menerbitkan buku adalah satu-satunya hal yang gue inginkan sebelum mati (setidaknya begitu pikiran naif gue waktu SMA). Akan tetapi, ketika buku itu terbit, gue merasa kosong. Seperti perasaan ketika lu mengingikan sesuatu, lu mendapatkan tetapi bukan itu yang lu harapkan. Kayak lu pengin banget sepatu A, lu beli online, sampai rumah sepatunya agak beda warnanya.
Tapi gue nggak menyesal. At least, gue dapat pelajaran untuk nggak impulsif menerima tawaran. Setidaknya gue dan teman gue pernah menulis dan menerbitkan buku bersama.

April
Next, April. April dikisruhi dengan tugas dan tugas. Gue memutuskan untuk melanjutkan nulis 45 Months, yang idenya lahir di Desember 2016 tapi baru gue tulis April.
Cover awal 45 months waktu gue publish di Wattpad dan Storial


Mei
Sama, Mei masih direcoki oleh tugas kuliah dan pengumuman dosen pembimbing tesis yang membuat gue jadi jumpalitan karena nama yang gue masukkan gaada yang keluar dan yang muncul di luar dugaan. Mei juga dimulai dengan puasa. Kalau puasa sebelumnya gue total di rumah, atau gue pernah puasa di kost sebentar lalu di tempat KKN, sekarang hampir 80% puasa gue di rumah. Menu sahur gue, nggak jauh dari oat, kentang rebus, kentang goreng, roti tawar dan telur.
salah satu foto menu sahur gue


Juni
Gue betul-betul puasa di kost sampai ditanyain Pak Kost kapan pulang karena ada dosen yang undar-undur jadwal. Gue bolak-balik tuker tanggal tiket kereta dan itu bikin gue agak puyeng. Tapi akhirnya gue pulang naik kereta H-3 lebaran. Untungnya karena naik kereta, gue kagak kena macet. Dan mungkin ini naik kereta Krakatau terakhir gue karena sekarang dihapus.
kapal yang ramai akibat mudik lebaran


Juli
Di kompleks candi Muaro Jambi.
Belasan Juli gue ke Palembang dan Jambi sama keluarga. Adek gue, Obith, kebetulan diterima di Unsri dan harus ngurus segala keribetan sebagai mahasiswa baru. Karenanya, Pap memutuskan untuk cuti dan kita pergi ke Palembang belasan Juli. Dari Palembang ke Jambi, nengok Kakek gue yang sakit, jalan-jalan cuma sehari dan balik lagi ke Palembang. Yang gue inget adalah gue dicakar kucing di sebuah SPBU waktu mau kasih kucing makanan. Waktu gue nyuci darah, dan dipencet-pencet Mam, gue mual dan ngerasa nyeri. Lalu terjadilah black-out pertama gue (dan semoga terakhir).

Agustus
Agustus adalah bulan kehilangan. Tiga ekor kucing jantan gue meninggal. Gue pernah nulis itu di sini . Gue sedih, mereka kesayangan gue.

Awal Agustus juga gue balik ke Solo. Agustus adalah waktu pertama gue mengajukan judul tesis ke dosen yang untungnya diterima.Selanjutnya diisi dengan kegiatan ngerjain Bab 1 tesis, konsul, dan revisian. Dan akhir Agustus pula gue pulang ke rumah untuk lebaran Idul Adha. Agustus memang meletus.



September

 Awal September adalah Idul Adha dan gue senang karena ini Idul Adha bareng keluarga setelah sejak 2012 gue selalu Idul Adha di Solo, sendiri.September diisi dengan melanjutkan ngerjain Bab II  dan menyelesaikan draft 45 months. Berdasarkan catatan, gue menamatkan 45 Months di 9 September. Selanjutnya, hidup gue kembali diisi dengan urusan kuliah.

Oktober
Yang gue ingat dari Oktober adalah, gue seminar proposal tesis di 12 Oktober. 

November
November adalah bulan hectic. Dimulai dari nguras surat izin penelitian yang agak drama (surat di TU hilang padahal sudah ditunggu seminggu jadi buat lagi, bolak-balik ke kantor pemerintahan untuk urus izin dan ngabisin saldo Go-Jek). Lanjut uji coba instrumen di sekolah, ngebut untuk ikut prosiding tanggal 25 November (karena sebelumnya belum niat ikut tapi di h-7 pengumpulan abstraks berniat ikut) , dan penelitian awal di 3 sekolah selama 3 hari dengan terengah-engah karena minggu besoknya anak SD udah ujian. Gue juga mulai mengedit naskah 45 Months.

Akhir November gue memutuskan pulang. Tetapi perjalanan pulang gue gak mulus kayak biasanya. Gue batal pulang hari Senin karena hujan mengguyur Solo tanpa henti 24 jam. Juga keribetan menitipkan kucing gue. Gue akhirnya pulang Rabu sore dengan bus. Di mana malamnya, bus gue yang sedang berhenti di tol, ditabrak truk yang supirnya ngantuk dari belakang. Tetapi nggak apa-apa. Gue naik ke bus lain yang jalan di belakang bus gue (masih satu perusahaan). 
Kapal yang gue naiki
Sayangnya, gue pulang (29-30/11) ketika siklon Dahlia datang. Perjalanan Merak-Bakauheni yang cuma 2 jam, mendadak jadi 5 jam. Siklon Dahlia bikin kapal laut terombang-ambing, miring-miring kayak di film Titanic, gue udah ngeliatin pelampung aja takut ada apa-apa. Kapal yang segitu besar dan miring-miring bikin gue mual dan muntah, gitu juga teman sebus gue yang bolak-balik toilet untuk melakukan hal sama.
November emang roller coaster.


Desember

Desember gue di rumah. Gue mengolah data awal penelitian. Gue membaca novel. Gue nulis artikel jurnal (dan ditolak). Gue main dengan kucing, dan gue merasa kurang produktif.  Mungkin karena Desember keluarga gue juga pada libur, dan gue kurang suka ngerjain ketika rumah ramai atau adik gue mondar-mandir. Rasanya beda banget dengan produktivitas gue waktu pulang pas Idul Adha dan ngerjain Bab II bareng nulis 45. Mungkin karena tulisan fiksi yang gue  tulis pun berjalan kayak siput dan busuk.
Tapi ada hal menyenangkan di Desember, tanggal 21 Desember lalu, sebuah pesan di email masuk dari seorang editor. Naskah 24 yang gue kirimkan diterima untuk diterbitkan.  Naskah 24 pernah gue kirimkan ke sebuah penerbit awal tahun 2017, tetapi tidak ada kabar hingga gue kirimkan ke penerbit lain di Juni 2017.
Membuat gue senang, cemas, dan deg-degan.


Ternyata, banyak hal yang terjadi. Hanya 2017 mungkin saja adalah tahun proses. Tahun memulai ngerjain tesis, tahun menulis naskah 45 Months dan mengeditnya, dan mendapat kabar naskah 24 (yang sebenarnya selesai di November 2016) diterima. Gue perlu bersyukur karena gue sudah menjalani. Entah berapa persen dalam satu tahun gue merasa cemas, takut, selalu ingin segera 'pergi' dan kabur. Perasaan yang masih sering hinggap tanpa diundang.

Gue juga senang karena tahun ini gue bisa baca agak banyak buku. Gue cuma menargetkan 30 buku  di Goodreads tetapi ternyata bisa baca 132 buku. Satu-satunya target gue tahun 2017 (kalau bisa dibilang resolusi/target) hanyalah mengisi goals. Tentu saja ini berkat Scoop Premium (baik gratisan atau patungan), iJak, iPusnas, dan secondhand books.


Gue tidak membuat wishlist khusus untuk 2018. Gue hanya berharap bisa hidup dengan tenang dan minim cemas, lebih produktif, lebih banyak membaca, menulis, dan menonton film. Juga, apa yang gue tulis, baik akademik maupun novel fiksi, bisa terbit dengan lancar. Gue ingin segera lulus biar meminimalkan pengeluaran keluarga gue. Itu saja.

#JustWrite

Memanusiakan manusia? (Racauan Malam)

Desember 06, 2017

Memanusiakan manusia.

Lupa, kapan pertama mendengar kata-kata itu. Mungkin saat sekolah dahulu, atau ketika membaca buku-buku kuliah menyoal pendidikan atau konsep humanistik.Kala itu, gue hanya berpikiran dalam konteks pendidikan saja, bahwa pendidikan 'memanusiakan manusia' adalah pendidikan yang sesuai dengan kemampuan seorang manusia, memberikan layanan pendidikan agar manusia bisa jadi lebih baik dan mandiri. Sederhananya bergitu.
Namun, beberapa hari ini, memanusiakan manusia seakan mulai menggelayuti ruang pikiran. Sebabnyalah gue mengoceh di sini malam-malam, berniat mengeluarkan pemikiran-pemikiran yang mungkin pada akhirnya kacau dan tidak sistematis.
Gue sering mengamati sosial media. Lalu kesal sendiri, sok-sok menganalisa, bertanya-tanya sendiri, dan pusing-pusing sendiri. Tetapi dari situ gue dapat gambaran arti memanusiakan manusia, setidaknya versi sudut pandang gue sekarang.
Gue cukup aktif di sosial media, tetapi hanya sebatas ngoceh sendiri di twitter, sesekali membuka Facebook hanya untuk ngepoin grup adopsi kucing, dan unggah foto di instagram sesekali. Selain itu, gue pasif. Gue hanya berkomentar di akun teman, itu pun jarang sekali. Ada banyak hal yang gue amati, hal-hal yang terjadi di dunia maya, dan mengapa sebuah kata memanusiakan manusia muncul. 
Karena banyak manusia yang mendadak menjadi Tuhan di sosial media dan seenak hati menghakimi orang dan merasa dirinya terbenar dan teralim, karena banyak pula yang  sejahat dementor, atau lupa kalau sebenarnya ia manusia  tapi ngikutin tingkah bukan manusia. Gue tidak mau menyalahkan siapapun, karena mungkin gue juga pernah nggak sadar seperti itu. Misal, gue mungkin pernah bergumam dan berbicara soal moral atau agama di kepala ketika melihat suatu postingan meskipun gue tidak pernah berkomentar langsung.

Gue jadi berpikir, bahwa benar, pendidikan adalah alat untuk memanusiakan manusia. Pendidikan di sini nggak harus kita belajar di sekolah, bisa dari baca, lingkungan, tontonan, ceramah, materi seminar dsb. Pendidikan berguna buat memberi landasan ke seorang manusia, kalau ia adalah manusia, dan bagaimana manusia seharusnya bersikap dan berperilaku. Gue jadi mikir, manusia memang butuh bekal ‘how to’ bermasyarakat di dunia maya dengan baik.
Gue berusaha untuk menanamkan di kepala bahwa manusia bukan Tuhan, jadi kita nggak pantas mengkafir-kafirkan orang. Kita nggak pantes mendiskriminasi orang, nge-bully orang atau berkata kasar ke orang yang mungkin lagi salah. Kita juga bukan polisi moral yang bisa menilang orang karena udah ada malaikat yang mencatat pelanggaran-pelanggaran berkehidupan. Orang bisa aja berlaku melanggar norma, tetapi gue tidak punya hak untuk berkata-kata kasar, keji, sadis nan bengis padanya. Jujur, gue suka sedih lihat ada suatu kejadian, di mana seseorang melakukan kesalahan tetapi dikomentarin penuh makian. Gue pun mungkin pernah keceplosan mengomentari di dalam kepala. Gue mikir, kalau orang salah, terus tambah dipojokkan, gue rasa, keinginan untuk menjadi baik itu malah berkurang.
Jadi ngelantur.
Memanusiakan manusia juga berarti menganggap manusia sebagai individu, makhluk hidup, dan seorang manusia (?).
Balik lagi, kita enggak baik mendewakan manusia. Kita enggak baik menganggap manusia begitu buruknya seperti setan. Gue suka lihat, kelompok atau orang yang terobsesi dengan manusia dan mendewakan mereka.

 Gue selalu berpikir bahwa perilaku baru dibentuk pertama kali dengan menanamkan kesadaran. Kesadaran bisa bertambah dengan adanya pengetahuan dan pengalaman. Kesadaran untuk bisa sopan dan berperilaku baik di sosial media (karena gue habis mengamati sosmed) bisa tumbuh kalau kita tahu, kenapa harus sopan, gimana caranya sopan di sosmed, dan punya gambaran apa dampak negatif kalau kita berperilaku seenaknya dan keluar dari jalur 'manusia'.
Gue menyadari kalau kita terlahir sebagai manusia, tetapi hal yang penting adalah apakah kita sudah menghargai diri kita dengan berperilaku selayaknya manusia yang sopan dan menghargai manusia lain atau tidak. Itu catatan buat gue sekarang.

Setelah selesai, tidak tahu apa yang kuracaukan >.<

#JustWrite

Membaca dengan cermat, yuk!

Oktober 20, 2017

Beberapa hari yang lalu, ada sebuah kejadian kecil yang membuat gue mikir ke mana-mana. Soal sosial media, tentang manusia, tentang berpendapat, dan betapa pentingnya membaca dengan cermat. Soal membaca dengan cermat, beberapa waktu lalu gue pernah mengirim pesan ke teman gue yang berbunyi : aku tunggu di depan ATM kampus.  Tetapi, hal lucu yang terjadi adalah, temanku itu pergi ke ATM yang terletak di depan kampus, bukan ke ATM kampus. 
Hal itu kemudian terjadi lalu beberapa hari lalu. Seseorang yang membaca puisi gue tiba-tiba berkomentar yang bawa-bawa ketuhanan, yang secara nggak langsung menasehati gue dan bikin gue mengerutkan dahi di suatu pagi yang dingin.
Berikut puisi gue (ini memang sangat abal dan jelek)
dan mari cermati apa yang dikomentari
 Sebenarnya, gue orang yang bodo amat dengan apa yang mau diomongin orang. Pun bagi gue, bertuhan adalah masalah pribadi gue, hubungan antara gue dengan Tuhan gue. Ada orang-orang yang memilih tak bertuhan, menurut agama gue mungkin salah, tapi kita juga gak boleh memaksa orang untuk beragama kan? Tapi bukan itu yang jadi masalah, anggap saja si komentator sedang berbaik hati berlelah-lelah komentar dengan tujuan mulia. Yang menjadi masalah dan kemudian menjadi hal yang gue tertawakan bersama teman gue adalah kenyataan bahwa si-komentator ini salah baca. Mungkin dia membaca sekilas, sehingga setannya Tuhan terbaca Tuhannya setan. Dari situ gue mendapat bahwa PENTING BANGET MEMBACA DENGAN CERMAT DAN MENULIS DENGAN TEPAT. Pelajaran buat gue juga, biar semakin teliti kalau menulis dan lebih cermat ketika membaca.
Membaca dengan cermat, gue rasa itu yang masih belum begitu membudaya di sekitar kita. Gue sering melihat kasus-kasus di mana orang hanya baca judul dan langsung berkomentar judging dan menghakimi. Padahal, sekarang banyak artikel yang judulnya dibuat mengundang, pas dibaca, nggak ada hubungannya antara judul dan isinya. Artikel-artikel yang kata seseorang mending nggak usah dibuka karena isinya pasti racun.
Selain membaca dengan cermat, hal yang penting menurut gue adalah berpikir sebelum komentar. Seringkali gue ingin berkomentar tapi urung gue lakukan. Biasanya, gue akan berpikir, penting nggak sih komentar gue, ada sesuatu yang baik nggak sih di sana, nyakitin orang nggak sih, dan sebagainya. Yang akhirnya, gue mungkin jadi jarang sekali berkomentar. Mungkin karena gue juga mikir, yaudahlah ya, gue cerna atau diskusikan di real life sama temen gue aja. Mengingat, gue sering banget liat orang berkomentar di sosmed seringkali berujung pertengkaran. Kenal juga kagak.  Gue juga masih belajar untuk nggak jadi manusia bersumbu pendek. Belajar untuk nggak memaksakan orang berpandangan hidup sama kayak gue, dan mungkin ada untungnya jadi orang yang agak cuek dengan manusia di luar sana.
Sekian. Semoga kita bisa semakin cermat dan bijak ketika baca dan berkomentar



#JustWrite

Pintu terbuka tapi tertutup

September 23, 2017

picture by me
Minggu lalu gue ke festival payung bersama seorang teman, Mbak Ulfa namanya. Pulang dari festival payung, kita memilih berjalan ke gang-gang di kampung batik Kauman sebelum akhirnya ke halte BST terdekat. Gue senang melihat-lihat pintu di sini. Melihat jendela-jendelanya, dan warna rumahnya yang pastel-pastel gemay.


Banyak rumah dengan pintu-pintu yang terbuka tetapi ada satu pintu lagi yang tertutup, kayak foto pertama.  Dan biasalah, gue jadi berpikir tentang filosofi pintu terbuka tertutup.
Filosofi dari pintu terbuka tapi tertutup menurut gue adalah ketika lu bisa tetap terbuka dengan orang, tapi lu tetap punya privasi sendiri.

Menurut gue, menjadi terbuka itu sulit. Mungkin gue hanya akan terbuka dengan cara gak langsung kayak menulis blog atau hanya dengan orang-orang terdekat aja. Gue suka merasa kayak semua hal itu privasi tetapi di sisi lain gue merasa perlu bercerita tidak ke manusia sekadar untuk meminimalisir stres gue. 
Menjadi tetap terbuka di sini juga berarti jadi orang yang bisa dibilang ramah dengan orang lain. terutama orang baru Dan hal itu masih susah buat gue. Gue masih sering gak nyaman ketemu orang baru, gue masih susah untuk berbasa basi. 
Tetapi di zaman sekarang, zaman di mana semua hal yang terjadi di diri lu bisa lu ceritakan, lu videokan, sehingga gue merasa banyak orang begitu mudah terbuka akan kehidupannya dengan orang lain. Beberapa hal yang dibagikan memang kadang bermanfaat, tetapi banyak juga yang nggak. Atau... malah terbukanya kebablasan, yaitu saat dia membuka dan memperlihatkan semua yang terjadi pada dirinya kepada khalayak ramai terlalu jauh dan terlalu dalam sampai  mungkin nggak punya privasi lagi. 
Banyak hal yang sebenarnya ingin gue katakan, tetapi, menjadi rumah dengan pintu berlapis seperti ini, rasanya boleh juga. 

#AnakKost

Masih mau ngancem orangtua?

Mei 30, 2017

Akhir-akhir ini, gue sering lihat berita yang mungkin kebetulan sejenis. Like, gue baca berita ada bapak-bapak yang beli HP dengan pecahan uang dua ribuan, karena anaknya nggak mau sekolah kalau nggak dibeliin android. Atau gue nonton 86 yang anak SD kelas 6, udah pacaran, main sampai tengah malam, dan kalau nggak dibolehin main, mengancam yang aneh-aneh. Berita-berita macam itu sebenarnya mungkin sering gue dengar dari dulu. Berita-berita semacamnya yang intinya banyak anak-anak yang meminta sesuatu ke orang tua tanpa sadar kemampuan orangtua mereka, banyak yang mengancam orangtua demi melakukan sesuatu yang salah. Hal-hal yang kadang bikin gue sedih dengarnya. Iya, nggak tahu kenapa, akhir-akhir ini gue mendadak jadi sensi dengan lingkungan sampai gue menutup twitter dan facebook demi kesehatan gue.

Gue bukan anak paling baik sedunia, gue juga masih kuliah dan masih diberi uang bulanan tiap akhir bulan. Gue masih menyusahkan orangtua gue dari segi finansial, menang lomba atau fee proyek nulis pun nggak seberapa. Mungkin gue nggak pantas mengkritisi mereka, dan belum tentu gue lebih baik dari mereka. Gue mungkin perlu bersyukur karena gue tidak pernah meminta, orangtua gue yang ngasih duluan, kalau mereka nggak kirim-kirim gue uang bulanan, mungkin memang sedang tidak ada dan itulah pentingnya gue untuk menabung. Tapi, dari kecil, gue selalu diajarkan, kalau gue mau sesuatu, gue harus usaha, kalau kurang, baru mereka bantuin. HP pertama gue, waktu SMP, adalah hasil tabungan lebaran, menang lomba waktu SD, dan gue jualan stiker yang kemudian ditambahin bapak gue. Kamera gue yang sekarang, setengahnya adalah hasil jualan buku bekas hampir setahun dan setengahnya lagi dari ibu gue. Mungkin dia kasian karena gue kehilangan kamera gue dari SMA. Gitu juga dengan HP yang sekarang gue pakai, HP gue rusak, ibu gue memberi sejumlah uang yang kalau gue mau lebih dari itu, pakai uang sendiri. Tetapi, gue merasa, gue nggak begitu butuh hp yang cetar, hp gue cuma J1 mini. HP apalah itu kalau dibandingin temen-temen gue. Gue sadar, gue bukan orang kaya, dan gue merasa jahat kalau gue meminta sesuatu yang mahal.

Dear, gue bukan mau menasehati atau apa, siapalah gue ini. Gue hanya ingin berkata bahwa sadar, lu itu siapa, dan siapa orangtua lu. Sadar, sebatas mana kemampuan orangtua baru lu minta. Orangtua mana yang nggak mau anaknya senang, orangtua mana yang nggak mau memberikan apa yang diinginkan anaknya, tapi sadar, kemampuan orangtua lu itu semana. Jangan meminta apa yang mereka nggak mampu, lu tahu, orangtua lu akan sedih ketika dia nggak bisa ngasih apa yang lu inginkan bahkan tanpa lu marah-marah. Tanpa lu sadar, lu-lu pada yang minta motor atau mobil di usia muda dan ngancem aneh-aneh padahal orangtua lu nggak mampu, lu udah memberatkan pikiran mereka. Bahkan, gue pernah dengar, ada bapak yang kena serangan jantung dan meninggal karena anaknya minta motor mahal dan ngancem yang aneh-aneh. Lu mau orangtua lu meninggal hanya karena itu? Lu yang ngancem-ngancem, emang lu udah ngasih apa ke orangtua lu? Apa sekolah lu bagus? Apa lu membanggakan mereka? Apa lu bantuin mereka di rumah? Lu sadar itu? Lu sama aja kayak demo-demo di depan istana negara, minta macem-macem, padahal bayar pajak aja kagak.

Orang-orang pada akhirnya nggak melihat lu dari kendaraan apa yang lu pakai, Hp apa yang lu pakai, baju apa yang lu pakai. Kalau lu memang mampunya 20, jangan maksa 30. Kalau teman-teman lu memaksa lu untuk seperti mereka, pikirkan lagi pertemanan kalian. Pertemanan nggak sepicik itu. 

Sudahlah, selamat puasa. 
Maaf kalau gue ber-lu-lu. Gue nggak bermaksud menuduh orang, nuduh lu, dan gue memang sering ber-lu-gue dengan diri sendiri. Dan, gue merasa lebih lepas kalau gue ber-lu-lu.

#JustWrite

Think before you click

Mei 15, 2017




Gue pernah berdiskusi dengan teman gue, mengenai, apakah masyarakat Indonesia ini kaget sama adanya sosial media. Gue lupa apa kesimpulan kami karena perbincangan perempuan biasanya mengular ke mana-mana, tapi kami sama-sama menyesalkan, kenapa orang dengan mudahnya berkata jahat di sosial media kepada orang yang kadang tidak begitu dikenalnya. Sering banget gue lihat di facebook, orang membagikan foto atau apa dan di bawahnya bertebaran komen-komen sok suci,komen menyumpahi, atau komen mengejek. Atau kalau kita lihat di IG, ada aja komen-komen jahat, terutama kalau dia adalah orang terkenal, misalnya kasus Ayu Tingting dan ratusan ribu hatersnya bersama akun-akun penjual pembesar, sayangnya enggak ada yang jual pembesar otak, peluas pola pikir, atau pembesar toleransi. Gitu juga di youtube, kayak ada anak kecil yang buat vlog dan dikomen dengan kata-kata yang enggak pantas. Sedih enggak sih ngelihatnya?
Gue tahu, misal fotonya memang jelek, tapi apa bagus kalau kita dengan mudahnya bilang: Dih, lu jelek banget sih, tikus guling!
Bisa bayangkan perasaan orang yang punya akun waktu baca komentar itu?  Apa kita ini makhluk tersuci, terkece, terbaik di dunia sampai boleh dengan mudanya ngomongin orang yang bahkan kadang enggak kita kenal? Enggak kan. Memang sih, enggak semua orang butuh dipuji, dan enggak baik bohong bilang bagus padahal itu jelek, tapi, kita bisa memilih untuk diam, kan? Diam memang enggak selamanya baik, tapi daripada komentar-komentar buruk kita memberikan efek buruk untuk orang lain, diam lebih baik. Oke, dia mungkin memang jelek, tapi sudah sampai situ saja. Enggak perlu bilang dan koar-koar kalau dia jelek, misalnya. Kita enggak pernah tahu ketahanan seseorang terhadap kritik dan ejekan, bisa aja dia sangat sensitif. Dan  bully, apa pun bentuknya, selalu memberikan dampak kepada korban. Bisa saja yang kita ejek gendut itu mati bunuh diri, bisa aja yang kita ejek tolol itu jadi depresi, bisa aja yang kita ejek tiang listrik itu jadi dendam sama kita dan bunuh kita, huft, kita enggak tahu.
Berada di dunia maya, kita memang bisa dengan mudahnya memakai akun yang bukan lu, akun bernama entah siapa, berfoto entah apa, tetapi bukan berarti kita ngomong sesukanya, terutama kalau omongan itu omongan-omongan yang enggak baik. Berada di dunia maya, kita mungkin bisa bertanya sesukanya, tetapi sadarilah siapa lu ketika lu bertanya. Gue pernah membaca tweet entah siapa yang kesal gara-gara ada yang nanya soal gajinya berapa di ask fm. Atau, kenal juga enggak, nanya-nanya kapan lulus
Gue tahu, siapalah gue dan siapalah yang membaca blog ini. Tetapi, gue ikut merasa sedih dengan adanya kasus cyberbullying yang merebak di sosial media. Gue tahu semua dimulai dari kita, kita enggak bisa memaksa orang untuk tidak melakukan cyberbullying, tapi kita bisa belajar menahan diri untuk tidak menyakiti orang-orang dengan kata-kata kita di sosial media.
So, seperti yang sering diomongin di iklan layanan masyarakat, Think before you click, stop cyberbullying.


Racauan ini begitu tidak tertata.

#JustWrite

Racau tentang Inklusi dan negeri ini

Mei 12, 2017

Dulu, kalau berbicara tentang inklusi, yang saya pikirkan adalah penempatan anak berkebutuhan khusus dan anak reguler di kelas yang sama. Pemikiran itu berkembang ketika dosen saya berkata bahwa kelas yang terdiri dari berbagai jenis kelamin, bisa dikatakan inklusi, begitu pula dengan ras kulit hitam dan kulit putih. Seiring berjalannya waktu, ketika inklusi terus-menerus diperbincangkan saat kuliah, saya mendapat definisi yang lebih luas tentang inklusi. Inklusi adalah ketika semua anak menerima dan mendapatkan akses pendidikan yang sama serta sesuai kebutuhan mereka tanpa memandang kebutuhan khususnya, latar belakang agama, gender, budaya, status sosial, bahasa, dan kemampuannya. 

Mungkin, kita sering mendengar "Indonesia Menuju Inklusif" atau "Kota X Kota Inklusif" dan beragam slogan tentang inklusi. Slogan yang baik sebenarnya, lebih lagi  diharapkan dengan adanya pendidikan inklusif kesadaran terhadap anak berkebutuhan khusus meningkat, hak-hak mereka terpenuhi, dan mereka bisa mendapat pendidikan yang layak. Tetapi, ada hal yang mengganggu pikiran saya setahun belakangan ini. Hal-hal yang membuat saya agak muak dan mengait-ngaitkan dengan inklusi, dengan negara yang inklusif.

Setahun belakang, saya memutuskan untuk meminimalisir membuka sosial media semacam facebook, tidak membuka twitter di saat situasi politik memanas, dan berusaha tidak membaca komentar-komentar orang karena tidak tahan melihat betapa banyaknya ucapan-ucapan dan tindakan yang membawa-bawa isu SARA. Posting-posting yang menyebutkan etnis mereka paling hebat, agama mereka paling benar, agama x sampahlah, komentar-komentar yang terdengar jahat pada sebuah posting yang saya curiga cuma dibaca judulnya dan lainnya. Seperti ada yang salah. Ya, memang salah. 

Rasa-rasanya toleransi akan agama, suku, atau ras tertentu mengalami kemerosotan (atau hanya perasaan saya karena sekarang semua orang bisa dengan mudahnya bicara?). Saya sempat sebal dengan muncul kembali istilah pribumi-nonpribumi (yang mungkin dulu diciptakan untuk mengkocar-kacirkan Indonesiaistilah yang sebenarnya sudah dihapus di zaman Gusdur). Seperti lupa, kalau bangsa ini merdeka ketika pemudanya bersatu dan mengenyahkan suku-agama mereka. Seperti lupa kalau menteri-menteri pertama kita dari berbagai etnis dan agama. Seperti lupa pelajaran SD tentang Bhinneka Tunggal Ika dan sapu lidi sebagai contohnya. Indonesia nggak perlu penjajah lagi, terus-terusan intoleran dan sensitif dengan orang yang tidak sama dengan kamu, perlahan-lahan dia akan hancur dengan sendirinya.
Saya merasa sedih, seperti ada yang aneh. Ketika anak-anak di sekolah diajarkan untuk menerima perbedaan teman mereka yang berkebutuhan khusus dan berasal dari berbagai latar belakang, justru banyak orang dewasa yang mempermasalahkan perbedaan agama, suku, ras, gender, dsb. Saya pernah jadi anak-anak, saya pernah jadi murid, dan saya berada di kelas yang tidak dilabeli inklusi tetapi begitu inklusi. Ada 5 agama di kelas itu, ada berbagai suku di sana, dan saya merasakan bagaimana menyenangkannya berada di tengah keragaman. Bagaimana menyenangkannya dihargai dan menghargai. Hal-hal yang kemudian saya rindukan setiap saya melihat berita dan sosial media. 

Dear, saya tidak tahu sebenarnya saya ini sedang meracau apa. Saya hanya tidak ingin negara ini hancur karena warga negaranya sendiri tidak menghargai sesama. Saya hanya tidak mau, sebagian orang memperjuangkan inklusi untuk kaum difabel, tetapi sebagian lagi merusak inklusi dengan membawa-bawa perbedaan latar belakang keberagaman. Saya nggak mau, inklusi cuma jadi slogan untuk mereka yang difabel aja, tapi juga untuk semua. Karena bagi saya, inklusi berarti kita semua menerima keragaman yang ada, karena setiap manusia itu berbeda dan nggak ada yang sama. Negara yang inklusif adalah negara yang masyarakatnya bertoleransi tinggi, dan semoga Indonesia yang inklusif bukan cuma mimpi.

12/5/17

#JustWrite

Apa saya harus marah? (Opini tentang Lelaki Kerdus dan anak-anak)

Juli 01, 2016

Apa saya harus marah?
Jadi semua ini berawal dari saya yang membuka youtube baru saja. Tidak bertujuan, mata saya tertuju pada deretan apa yang sedang hangat disaksikan manusia-manusia Indonesia. Mata saya terhenti pada gambar anak perempuan yang masih kecil dengan tulisan Lelaki Kerdus. Dahi saya sudah berkerut duluan melihatnya. Anak kecil... nyanyi bawa-bawa cowok? Itu yang ada dipikiran saya sebelum pada akhirnya mengklik dan suara musik dangdut terdengar. Suara khas anak kecil mengalun di telinga, sayangnya liriknya menaikkan hal-hal yang bisa mengurangi pahala puasa. Saya geram. Tapi saya lanjutkan memutarnya sampai bagian tengah anak-anak bernyanyi lelaki bangsat, lelaki bangkrut, lelaki blablabla yang mengusik saya. Stop... cukup sampai di situ saya mendengar lagu berisi curahan hati anak yang bapaknya kawin lagi.

Saya tahu bahwa setiap manusia memiliki kebebasan berkarya. Saya paham bahwa seni adalah untuk meluapkan emosi, perasaan, imajinasi, mengungkap apa yang terjadi di masyarakat, atau mungkin ingin menyentil orang. Tetapi... kita tetap punya tanggung jawab moral untuk karya kita. Sekarang... apa pantas anak kecil bernyanyi seperti itu? Membicarakan cinta-cinta yang saya pun nggak yakin dia sudah paham. Apa pantas anak-anak kecil itu berkata bangs*t dan umpatan lain? Apa pantas seperti itu? Bagaimana kalau lagu itu viral dan anak-anak lain menyanyinya? Apa Ibuya, bapaknya, atau kakaknya nggak malu akan itu?

Apa ini semacam sarkas atau satire ya? Jadi... dibuatlah lagu dengan lirik  seorang anak yang kecewa dengan ayahnya yang selingkuh, ibunya minta cerai, dan konon suka menggebuki ibunya -dan mungkin sambil berkata kasar- sebagai cerminan bahwa produk dari ayah yang berselingkuh, kasar, dan ibu yang lemah dan tak berdaya itu yang seperti itu. Kurang sopan. Ah, manis sekali. Maniiiiis sekali.

Saya tidak tahu apakah saya harus mengelus dada atau bagaimana. Yang jelas ini sama sekali tidak lucu.  Otak saya yang suka kemana-mana ini bahkan sudah membayangkan acara dangdut di kampung, anggap saja pernikahan, lalu seorang anak kecil  naik dan menyanyi lagu itu. Ya Tuhan... saya tidak tahu apakah orangtuanya akan malu atau justru tertawa-tawa saja?

Seorang anak adalah cerminan orangtua, begitu katanya. Saya percaya bahwa pendidikan pertama adalah dari keluarga. Pendidikan karakter, activity daily living, dan pengetahuan tentunya. Apa yang diberikan orangtua pada anaknya akan berpengaruh sepanjang hidupnya. Ambil contoh saja, seorang Ayah memutar lagu yang kita bahas ini, dan anaknya mendengar, sayangnya yang tercetak jelas di otaknya adalah kata bangsat. Sejak kecil ia sudah pandai memakai kata bangsat. Orangtua, Anda mau anak Anda ke warung dan bilang,"Heh bangsat, beli garam sama mie instan dua." Oke itu ilustrasi terlalu aneh, tetapi... ah. Jujur saya terlalu bingung mengungkap bagaimana kegeraman saya.

Jadi... apa saya harus marah? Saya pun tidak tahu apakah marah saya itu berguna.
Saya menulis ini tidak bermaksud menyerang anak yang menyanyi -bisa jadi dia pun sebenarnya tidak mengerti lagunya-, tidak juga untuk menyerang pencipta -bisa jadi dia khilaf-. Saya hanya ingin menyampaikan bahwa berpikir ulanglah untuk menciptakan lagu untuk anak-anak. Filter mereka dalam menyaring mana yang baik dan mana yang salah itu masih renggang. Pun menggunakan anak-anak untuk menyanyikan lagu mengenai persoalan orang dewasa dengan bahasa yang kurang sopan pun tidaklah pantas. Saya harap para manusia-manusia yang cerdas bermusik itu lebih memaksimalkan otak mereka untuk berkarya yang baik-baik. Saya yakin mereka bisa. 
Mungkin ini sentilan agar industri musik anak-anak dengan lagu khas anak-anak kembali berjaya seperti saya kecil dulu. Selamat berpuasa... hati-hati untuk yang mudik.



#JustWrite

Motto-motto yang sebenarnya pengin ditulis di skripsi tapi...

April 27, 2016

Ada beberapa motto yang ingin saya tulis di halaman motto skripsi. Namun, beberapa kalimat mungkin akan dicoret dosen, dan beberapa saya coret dulu karena sudah yakin akan dicoret.

1. Procaffeinating, so first, coffee
Karena... ketika saya belum ngopi kadang saya cuma bengong, ngantuk, meracau nggak jelas, atau mainan. Jadi kopi berperan penting dalam segala aspek kehidupan saya, tentunya

2. Pantang pulang sebelum sidang
Ya, walau kenyataannya setelah sidang saya mengurusi birokrasi dahulu demi bisa wisuda, tapi reinforcement berupa tiket pulang-yang sebenernya, ya... saya bisa pulang kalau saya mau- efektif mendorong diri saya untuk begadang, mengerjakan skripsi, dan berguling-guling dengan revisi.

3. Berhasil tidak untuk dipuji, gagal tidak untuk dicaci maki, sebab yang penting adalah berarti.
Dibalik kalimat tersebut, intinya, yang penting skripsinya jadi. Dan saya ga terlalu suka dipuji, tapi nggak suka juga dicaci. Dan niat awal itu  jadi berarti, setidaknya buat diri sendiri.

4. Semua yang hidup pasti mati, maka semua yang dimulai pasti diakhiri.
Intinya sih saya cuma mau bilang, skripsi yang dimulai, kalau ada usaha, doa, dan usia pasti selesai juga.

5. Kemenangan adalah mengalahkan dia yang ada tiap engkau berkaca.
Ehem. Jadi... saya berpikir bahwa cepat atau lambatnya kita bergantung diri kita. Ada pengaruh dosbing dsb, tapi semuanya tetap balik lagi ke diri sendiri.


Itu dulu deh, kalo inget saya tambah hawhawhaw

#JustWrite

Komparasilah Pakai Udang dengan Udang!

April 17, 2016

[Untuk kita yang kadang seenaknya mengkomparasi seakan udang dengan timun sama]

Salah satu jenis perdebatan atau perbincangan yang membuat saya jengah dan gerah, jika saya sedang berada di suatu tempat adalah ketika seseorang membandingkan sesuatu yang tidak setara. Sesuatu yang saya anggap tidak dapat dikomparasi secara objektif karena dari awal suda beda. Orang menyebutkan nggak 'apple to apple' kita artikan dengan udang dengan udang (?). Terserah, saya lebih suka udang daripada apel. 
Contoh, saya pernah terjebak di situasi dengan obrolan yang kurang lebih Daun sudah Acc proposal, Akar sudah penelitian, dan Batang masih berkutat di proposal. Obrolan yang saya dengar adalah manusia-manusia itu membandingkan Akar, Daun, dan Batang. Hingga seringnya obrolan sejenis terdengar, saya kesal dan pernah berceletuk, " Kalau kamu mau membandingkan, bandingin setidaknya mereka yang Dosbing 1 dan Dosbing 2 sama."
Ya, bagaimana bisa kamu membandingkan kamu dengan temanmu yang punya dosbing berbeda. Mending kalau cuma satu, semuanya beda denganmu. Dosen punya karakteristik yang beragam yang tentu saja berdampak sedikit banyak pada skripsimu. Meski saya percaya dalam segala hal selain Tuhan, semua bermula dari diri kita. Jangankan yang dosennya beda semua, yang dosennya beda satu saja bisa jauh berbeda. Maka sebaiknya tidak perlu mengkomparasi hal semacam itu.
Hal tersebut berlaku dengan tebalnya skripsimu. Jujur, saya tidak suka skripsi yang  katanya tebal dibandingkan. Tidak juga, hanya 109 halaman sampai kesimpulan, ditambah 7 halaman dapus, dan 80 lampiran. Ya, lampiran itu memang banyak (rekap wawancara, rekap observasi, foto, rpp, analisis dkk) dan Bab IV memang cukup banyak mengingat  adanya deskriptif hasil penelitian. Teman saya yang mengambil penelitian single subject research juga halamannya sekitar itu. Lalu pada suatu hari seseorang berkata yang intinya skripsi dia tidak tebal, dia mencemaskan ketipisannya, dia bertanya-tanya dan saya merasa tidak mengerti mengapa dia membandingkan tebal skripsinya dengan tebal milik. Baik, dia menggunakan SSR tapi yang lain? Apakah dia modifikasi perilaku? Apa dia mengambil variabel bebas yang sama? Apa variabel terikatnya sama? Apa subjeknya jumlahnya sama? Apa sesi yang diberikan sama? Apa dosbingnya sama? Apa kajian teorinya memuat hal yang sama? Apa daftar lampiran saya dan dia sama? Saya kira jawabannya tidak. Dan apa perlu dia membanding-bandingkan skripsi saya, skripsi teman-teman yang memakai SSR lain yang juga tebal dengan dia? Saya kira tidak.
Tidak usah mengkomparasi diri.

Kembali soal komparasi udang dengan udang. Saya sering mengamati atau mungkin pernah melakukan barangkali, sering orang membanding-bandingkan hal yang tidak setara. Misal dalam kasus Susi Sang Menteri dengan Atut Sang Mantan. Apa mereka setara untuk dibanding-bandingkan? Atau membandingkan hasil gambar anak tunagrahita ringan dengan anak CIBI. Membandingkan Jokowi Sang Presiden dengan Udin si Tukang Sapu. Membandingkan Soto Bu Meto yang harganya 5000 dengan Somay 6000. Membandingkan dirimu dg Taylor Swift yang jelas mungkin kamu akan insecure. Membandingkan tulisanmu dengan tulisan sekelas JK Rowling. Andrea Hirata, Budi Darma, ya jelas jomplang.  Membandingkan anak IPS dengan anak IPA, kurang kerjaan!
Membandingkan diri memang tidak baik. Tapi dalam hal mengkomparasi tentu haruslah mengingat yang kita bandingkan setara atau nyaris setara atau tidak. Keadilan memang milik Tuhan, kita cuma bisa berusaha. Tapi apakah bijak membandingkan berat badanmu di usia 20 tahun dengan berat badan adikmu yang bayi? Apakah bijak udang dan timun dibandingkan? Satu hewan satu sayur. Pikir lagi.



17/4/2016

Untuk diri sendiri dan pembaca agar lebih berhati-hati dan bijak mengkomparasi

#JustWrite

Kini dan Pencitraan

April 06, 2016


 Saya sulit memfokuskan diri saat menulis ini. Mungkin ini akan melebar ke sana dan ke mari nggak jelas juntrungannya.

gambar ditemukan di Pinterest

Saya membaca sebuah buku, selayaknya buku yang diterbitkan tentulah memiliki judul. Buku ini saya pinjam di iJakarta. Tentu sebab saya tidak memiliki cukup uang untuk membelinya di toko buku dan sejenak memfoto buku tersebut dan mengunggahnya di sosial media saya.
Buku itu berjudul Soe Hok-Gie ... Sekali Lagi. Ditulis ramai-ramai. Saya tidak bermaksud mengulas buku itu sebab belum selesai. Saya membaca sebaris kalimat yang ditulis Gie di catatan hariannya. Omong-omong saya belum membaca CSD. Gie bilang di Indonesia ini hanya ada dua pilihan, menjadi apatis atau idealis. Saya setuju, kemudian saya ingin menambahkan pencitraan di sana. Ya, semoga saja Gie tidak murka.
Ini memang tidak ada kaitannya dengan Gie, ini hanyalah opini yang tercetus begitu saja yang sayangnya mungkin tidak terlalu memiliki benang merah dengan pendapat Gie.
Kini. Sekarang. Saat ini. Adalah sebuah masa di mana citra dibentuk dan dibuat dengan sesuatu yang kemudian sering disebut dengan sosial media.  Tidak hanya sosial media sesungguhnya. Namun, agar saya yang gemar meracau ke mana-mana ini dapat fokus maka yang saya akan soroti adalah sosial media.
Jika Sukab berkata pada Alina dunia sudah kebanyakan kata-kata, saya mungkin akan berkata pada Sukab bahwa kini dunia sudah terlalu banyak pencitraan. Entah citra itu murni atau dusta. Entah dibuat sedemikian rupa atau penuh ketidaksengajaan sedang melakukan sehingga dianggap pencitraan. Entah dipandang sebagai sesuatu yang normal-normal saja, atau dipandang sinis. Saya berusaha menempatkan diri senetral mungkin di sini. Sebab kemungkinan besar saya pun mungkin pernah atau akan melakukan pencitraan itu.
Sebab ini pencitraan di sosial media, dan sosial media itu banyak, saya sebaiknya perlu mempersempit menjadi facebook, twitter, instagram, Path, BBM, Line, Goodreads ? Ya, cukup itu saja.  Sebab yang saya sering jumpai di sana.
Zaman sosial media adalah zaman di kala setiap dari kita gemar membagi apa yang sedang terjadi, pernah terjadi, atau diimpikan terjadi. Zaman di mana gemar membagi apa yang dirasakan, pernah dirasakan dan penuh kebebasan beropini. Mungkin ini bagus. Di mana, sebuah peristiwa seperti bom dapat cepat diketahui melalui sebuah tweet. Sebuah informasi kemacetan diketahui setelah foto pohon tumbang di jalanan diunggah dan menjadi profil picture BBM.  Sebuah restoran diketahui khalayak akibat seorang seleb instagram memotretnya dan mendewakan makanan itu—kemudian bisa jadi pengunjung kecewa sebab seleb itu dibayar untuk makan lima kali di sana demi sebuah foto dan dusta enak—ini tentu hanya sebuah ilustrasi yang bisa saja terjadi. Atau... kita jadi tahu akan buku bagus akibat seseorang memotret buku yang baru saja dibelinya lalu memuji setengah jiwa —meski maksud si tukang upload adalah dengan mention penulis ia akan disapa balik.
Yang saya beberkan barusan hanya sekelumit jika dipandang positif dan memang perilakunya mengarah pada hal positif meski dari sudut pandang sinisme hal tersebut bisa saja dianggap negatif. Dari pengamatan saya sebagai manusia yang hidup di zaman berlabel kekinian,

#JustWrite

Analogi Ngantri Soto Bu Meto

Januari 12, 2016

KBBI berkata bahwa analogi merupakan persamaan atau persesuaian antara dua benda atau hal yg berlainan. Apa yang saya lakukan sejak kemarin adalah berpikir. Bukan biasanya saya enggak mikir, tapi mungkin lebih ke mengevaluasi diri. Menghibur diri, menyangkal segala denial. Yes, i know denial means ‘menyangkal’. Jadi saya menyangkal segala sangkalan-sangkalan. Enggak usah dipikir kalo enggak mau bingung.
Setelah kemarin saya menulis tentang memakan coklat pahit di dekat orang kelaparan dan orang makan udang enyak, sekarang pemikiran itu berkembang. Maaf kalo analogi saya berkisar tentang makanan. Padahal sebenernya ya, saya enggak terlalu suka makan. Lebih suka minum. Tapi enggak apa. dalam kasus ini, saya membicarakan skripsi. Tapi analogi ini saya pikir bisa diterapkan di kasus lain.
Lu laper. Lu lagi ngantri soto di kantin Bu Meto. Lu kesel si Ibu lama banget padahal lu udah laper banget. Lu makin kesel liat orang membawa mangkuk soto di depan lu. Lu nengok dan menemukan orang lagi mengunyah soto yang lu pengin. Lu merasa enggak sabar dan pengin nendang Bu Meto.
Cut. Kita potong sampai situ dulu.
Yap, itu yang saya rasakan. Enggak usah dijelasin karena nanti saya bisa-bisa balik ke tahap denial.
Sampai akhirnya...
Lu sadar kalo lu itu yang membutuhkan Bu Meto. Lu yang laper. Lu yang butuh makan. Bu Meto juga butuh uang, tapi kerjaan dia enggak cuma melayani lu doang. Lu sadar akan itu. Lu berusaha antri dan mencoba enggak mikirin orang yang cekikikan dengan soto mereka.
Sampai akhirnya lu nengok ke belakang. Melihat jejeran orang yang berbaris di belakang lu. Beberapa dari mereka mau makan soto juga. Sebagian lagi masih bingung mau makan soto apa nasi pecel. Sebagian lagi ngitung duit karena belum dikirim Papinya. Lu terdiam. Bahwa lu punya uang, lu udah di barisan deket etalasenya Bu Meto, dan Bu Meto udah bilang “Kosek to...” yang artinya bahwa lu disuruh sabar nunggu.Lu udah tahu lu mau makan soto. Dan pasti lu bakal dapat soto karena lu lihat bahan-bahannya masih banyak.
What’s the point?
Ada banyak poin yang saya dapet dari analogi kacangan saya. Seperti jangan terus-terusan lihat orang yang udah makan soto, tapi lihat juga yang enggak punya uang, yang ngantri di belakang, atau yang bingung mau makan apa. Semua lapar, semua butuh Bu Meto, tapi dia sibuk dan sebagai orang yang membutuhkannya, kita harus sabar menunggu sambil berdoa. Kita sudah berusaha dengan memesan makanan, dan dengan doa, kemungkinan besar pesanan kita cepat diantar. Dan bersyukur.

#AnakKost

ocehan sore di atas kereta

Juli 21, 2015

Tulisan ini entah di post kapan,entah hari ini juga atau pada suatu hari. Saya masih duduk di gerbong 8 saat mengetikkan posting ini. Bersama hati,jiwa dan pikiran yang carut-marut belum tertata.
Pulang kali ini saya lebih ikhlas. Tetap malas packing (selain cuma packing 1 ransel) namun tidak semenyesakkan biasanya. Mungkin karena bisa pulang saja saya sudah bersyukur mengingat rencana awal saya tidak pulang.

Hati saya masih menolak banyak hal. Tapi saya tahu, sekuat saya menolak semakin sakit yang didapat. Mungkin saya bisa kabur dari semuanya tapi tentu bukan jawaban atas masalah. Tapi membuat masalah baru.

Papa saya mengingatkan saya untuk semangat, sesuatu yang saya pikir sudah hilang. Tapi saya ingat, seperti yang saya ungkapkan dulu di posting entah kapan tentang anak pertama. Saya punya tanggung jawab lebih. Dan saya harus lulus cepat dan mendapat pekerjaan yang menyenangkan di segala lini.
Saya tidak boleh menyerah, saya terlanjur ada dan tak mau mati sia-sia.

#JustWrite

Brain notes

Juli 14, 2015

Seandainya memang kata yang kejam, ya kejam jika dipakai untuk mengobrak-abrik dan memikirkan masa lalu. Tapi seandainya bisa jadi kata yang baik hati, setiap penemuan yang ada di dunia ini berkemungkinan dimulai dari seandainya.

Malam ini saya di kereta, tanpa memikirkan seandainya saya bisa pulang kemarin, Tuhan sudah memberi jalan agar saya bisa kembali. Tapi bukan itu yang akan saya ungkapkan disini.
Suatu alat yang saya inginkan sejak dulu adalah brain notes. Saya membayangkan bahwa brain notes adalah alat yang mencatat apa yang saya pikirkan dan imajinasikan ke dalam bentuk tulisan. Sebab kecepatan berpikir,kecepatan ide bergerak dan meledak jarang sejalan dengan kecepatan tangan menuliskannya. Kadang saya sering kesal sendiri, ketika ide itu bergerak cepat namun ketika akan ditulis saya lupa ingatan.
Dan menuliskannya ketika sedang terjadi ledakan ide justru malah memadamkannya.
Maka seandainya brain notes itu ada,saya akan menabung untuk membelinya

Malam.

#JustWrite

Mulut manusia dan random lainnya

Juli 09, 2015

Manusia.
Manusia adalah makhluk yang patut,layak,dan menyenangkan untuk diperbincangkan. Menggosipkan manusia lebih menyenangkan (bagi mereka yg senang bergosip tentu saja) daripada menggosipkan siapa yang menghamili kucingmu, berapa telur ayam kita, atau mengapa mangga di depan rumah malas berbuah.

Bad news is a good news.

Kabar buruk sering diterima secara positif. Maksudnya, manusia lebih suka mendengar kabar jelek daripada kabar baik. Bahkan,ketika mendengar kabar baik saja,manusia suka menduga-duga dan mencipta kabar buruk dari sana.

Saya batu. Saya tahu. Saya kadang terlalu cuek dan tidak peka. Maka jika hari ini kekacauan menghunjam diri saya, ini keterlaluan. Tapi saya tahu, saya cukup mengabaikan. Inilah saatnya saya membatu lagi. Mengeraskan hati dan diri. Menutup telinga tanpa pelantang dengar. Inilah dunia yang harus saya tapaki,mungkin keluar dari zona aman itu seperti ini.

Omongan saya mulai meracau. Ada yang ingin saya tendang,tapi yang ada hanya udara.
Saya kira itu saja. Saya takut bicara saya makin menggila. Bahkan ketika saya sudah berhenti 'denial'.;

#AnakKost

Rumah, Pulang dan Perjalanan

Juli 07, 2015

Rumah, pulang dan sebuah perjalanan adalah 3 kata yang selalu menyenangkan untuk didengar. Terlebih jika sepaket.
pulang selalu menuju ke rumah.
Ada perjalanan untuk pulang dan sampai ke rumah.
Perjalanan selalu menyenangkan,selalu ada hal baru,orang baru, dan pemandangan yang memberi warna di perjalanan.Kadang menjadi oleh-oleh cerita di rumah
 Cerita perjalanan pulang.
Aku ingin pulang. Rindu rumah. Dan selalu menyukai perjalanan. Semoga perjalananku selalu menyenangkan

#JustWrite

Tentang Seandainya

Juni 19, 2015

Dalam barisan kata jahat, seandainya adalah salah satunya. Seandainya adalah setan berjubah pangeran yang tampan dan memukau. Seandainya selalu menyuguhkan segelas wine yang memabukkan. Seandainya memberimu gulali yang manis dan berakhir sakit tenggorokan. Seandainya kadang begitu baik hati, menawarkan imajinasi yang berbuah inspirasi. Sayangnya seandainya lebih sering diajak untuk berlari. Lari dari kenyataan meski akhirnya kembali, lari dari semua yang tak diinginkan, membangun mimpi, membuat terbuai dan berakhir kekecewaan.Seandainya dan seandainya. 

Selamat Berbuka. Seandainya...

#JustWrite

Sekolah untuk orangtua ? #RacauNgawur

Juni 14, 2015

Besok ulangan Pediatri. Awalnya saya membuka-buka materi. Dan bukan saya nampaknya kalau bisa fokus dengan belajar tanpa gangguan. Mulai terdistraksi dengan ngobrol bersama mama tentang vaksin. Hingga pikiran saya mulai mengembara tak karuan.  Saya berpikir bahwa kuliah terasa seperti sekolah orangtua. Maksudnya sekolah untuk menjadi orangtua nantinya. Maka saya berpikir mereka yang berniat menjadi orangtua sebenarnya sedang menyelam sambil minum air . Dan saya yang bahkan belum tertarik untuk menjadi orangtua, merasa tidak berminat menambah jumlah manusia di bumi ini pun merasa mungkin saya perlu mempelajarinya, untuk saudara saya, tetangga dan antisipasi jika pikiran saya berubah -semoga saja tidak-.
Kami belajar Psikologi perkembangan, hingga kami tahu tahapan dan tugas tumbuh kembang anak. Kami belajar stimulasi dini, hingga kami tahu apa yang harus dilakukan untuk menstimulasi dan mengintervensi tumbuh kembang. Kami belajar ortopedagogik, kami belajar penyebab, gejala dan pencegahan terhadap kasus ABK. Maka kami tahu bagaimana mencegah dan antisipasinya. Kami belajar modifikasi perilaku,dan saya pikir setiap anak perlu modifikasi perilaku untuk menjadikan mereka berperilaku baik. Kami belajar pediatri, dari jadwal menyusui sampai jadwal vaksinasi. Dan mata kuliah lain yang saya pikir berguna.Kami belajar identifikasi dan assesmen, bukankah penting bagi orangtua untuk mengidentifikasi anaknya, menemukan ada masalah atau tidak? Kami belajar bimbingan klinis, meski sedikit, kami tahu bagaimana pendekatan yang baik untuk menggali dan membantu masalah seorang anak.  Kami belajar tentang pendidikan dan dari jurusan ini kami belajar menerima setiap kelebihan dan kekurangan setiap anak. Dan masih banyak lagi. Semua memang teori, tapi saya pikir manusia perlu bekal teori sebelum terjun.

Sekolah untuk orangtua memang tak ada, kuliah saja jurusan Pendidikan Khusus untuk mendapatkannya. Makin ngawur, aku sebaiknya kabur.

Popular Posts

My Instagram