Setelah 12 April lalu dimejahijaukan, 19 April dinyatakan lulus, akhirnya 4 Juni lalu saya diwisuda.
| Bersama Mama, Papa, Obith dan Ovi |
![]() |
| Bersama Elok saat berbaris di rektorat ^^ |
| Makasih Pak |
![]() |
| dari kiri Six, saya, Vivin, Abe, dan Tyar |
![]() |
| With Pinyot dan doodle ketjenya (mau order buka ig opiedesu |
![]() |
| Troketon's Team |
Saya sangat mengapresiasi kalian ^^. Semoga wisuda kalian nanti saya bisa datang ya!
| Terima kasih Pinyot untuk doodle-nya! |
| Terima kasih Ken untuk gambarnya. Saya anggap lukisan ini berarti ,bahwa setelah wisuda kita masih punya mimpi yang dikejar tinggi-tinggi. |
| Terima kasih untuk bunga-bunganya, beberapa sudah rontok dan layu T.T |
| Mengingatkan akan bingkisan sidang ke Six. Terima kasih Woro, mungkin bisa melonjakkan berat badan dan turun drastis saat puasa ini. |
| With Sixma |
![]() |
| Jump! |
Ada beberapa motto yang ingin saya tulis di halaman motto skripsi. Namun, beberapa kalimat mungkin akan dicoret dosen, dan beberapa saya coret dulu karena sudah yakin akan dicoret.
1. Procaffeinating, so first, coffee
Karena... ketika saya belum ngopi kadang saya cuma bengong, ngantuk, meracau nggak jelas, atau mainan. Jadi kopi berperan penting dalam segala aspek kehidupan saya, tentunya
2. Pantang pulang sebelum sidang
Ya, walau kenyataannya setelah sidang saya mengurusi birokrasi dahulu demi bisa wisuda, tapi reinforcement berupa tiket pulang-yang sebenernya, ya... saya bisa pulang kalau saya mau- efektif mendorong diri saya untuk begadang, mengerjakan skripsi, dan berguling-guling dengan revisi.
3. Berhasil tidak untuk dipuji, gagal tidak untuk dicaci maki, sebab yang penting adalah berarti.
Dibalik kalimat tersebut, intinya, yang penting skripsinya jadi. Dan saya ga terlalu suka dipuji, tapi nggak suka juga dicaci. Dan niat awal itu jadi berarti, setidaknya buat diri sendiri.
4. Semua yang hidup pasti mati, maka semua yang dimulai pasti diakhiri.
Intinya sih saya cuma mau bilang, skripsi yang dimulai, kalau ada usaha, doa, dan usia pasti selesai juga.
5. Kemenangan adalah mengalahkan dia yang ada tiap engkau berkaca.
Ehem. Jadi... saya berpikir bahwa cepat atau lambatnya kita bergantung diri kita. Ada pengaruh dosbing dsb, tapi semuanya tetap balik lagi ke diri sendiri.
Itu dulu deh, kalo inget saya tambah hawhawhaw
Agen Luar Biasa, Selamat Hari Disabilitas Internasional, dan racauan malam.
Desember 03, 2015Kepada Skripsi
Hai, mata kuliah berbobot besar yang dengan penuh keyakinan kumasukkan ke KRS semester ini! Apa kabar? Perlahan namun pasti kamu mulai mendekati. Dimulai dengan pengumuman dosen pembimbing, seperti bel yang berdering kamu mulai berteriak nyaring.
Aku tahu, suatu hari kamu pasti akan selesai. Maka mungkin dari sekarang mari kita mulai berteman, bantu aku menjadi lebih sensitif dan peka terhadap masalah. Lebih jeli mencari celah dan jawaban dari segala masalah. Buat aku sabar menghadapi semua yang datang. Lancarkan jalanku menghadapi dosen pembimbing. Permudahkan jalanku menuju kelulusan.
Kepada skripsi, mungkin akan kubuat reward untuk diriku jika tahapan-tahapannya berhasil kulalui. Agar malasku berkurang, sebab aku tak ingin berlama-lama bergumul denganmu. Aku ingin lulus sebelum ulangtahunku. Kepada skripsi, mari bersahabat dan selesaikan masalah ini. Mari ciptakan hasil memuaskan di akhir nanti.
salam sayang.
mahasiswi yang membalas sapamu kemarin itu.
Saya menulis ini di sela-sela mencari gambar-gambar untuk media pembelajaran.PPL baru saja dimulai minggu lalu dan minggu depan latihan mengajar terbimbing dimulai.
Ini baru dimulai, Ci. Ketika KKN usai bukan berarti semuanya selesai. Sebab PPL pun saat itu melambai dan kini mewarnai hidupku sampai tiga bulan ke depan. Jadilah manusia yang kuat Ci! Sesaplah semua pengalaman yang akan kamu terima nanti. Keruk sebanyak-banyaknya ilmu. Berdoalah kamu segera menemukan judul dan masalah untuk bahan skripsi. Semoga pembimbingmu nanti baik hati, pembimbingmu yang menuntunmu untuk cepat, tepat dan semangat merampungkan tugas akhir.
PPL pada akhirnya akan berakhir Ci, seperti KKN yang kamu takuti dan tidak kamu sukai. Hanya ini mungkin lebih lama, lebih menguras otak, tenaga, biaya dan waktu tentu saja. Semoga kamu bisa membagi waktu dengan baik,Ci.
Ci, ini baru mula, semoga akhir kuliahmu bahagia. Pantang pulang sebelum pendadaran ya, Ci. Mau cepat pulang kan? Ingat Ci, perjuangan masih panjang kuatkan semuanya. Kamu bisa selama kamu masih ada.
Untukku yang baru memulai PPL dan disapa tugas akhir.
Tidak tahu, aku pusing dengan pendaftaran kkn sebab modemku busuk, tapi Allah baik akhirnya aku bisa daftar juga. Dan aku bingung, akhirnya buat infografik ini. Gambarnya mungkin akan terlihat pecah Infografik pertama (berharap nanti buat lagi), memerima kritik dan sarannya.
![]() |
| Kelompok E dengan Pak Maryadi |
Saya memang berencana menulis tentang bagaimana dan apa yang terjadi pada micro teaching tiap kelas. Meski sekarang saya agak bingung apa yang harus diceritakan di micro teaching A. Micro teaching A ini, simulasi pengajaran untuk anak tunanetra. Micro teaching untuk A dilakukan di ruang sidang, sebenarnya saya lebih suka ruang micro sebab ada lampunya dan terlihat seperti kelas beneran. Tapi itu bukan masalah besar.
Saya dapat beberapa masukan setelah maju dari teman-teman, salah satunya suara saya yang kurang keras dan terlalu cepat dalam bicara. Saya mengakui itu, saya tahu kalau suara saya tidak terlalu keras meski tidak terlalu pelan dan kalau mau keras saya takutnya nanti berteriak. Dan mungkin bicara saya terlalu cepat.
Saya hanya jadi siswa 5x disini dan itu berbeda sekali. Berbeda dari sebelumnya, kemarin menjadi anak nakal dan sekarang menjadi totally blind atau low vision (karena pakai kacamata saya kira saya sudah masuk low vision). Ketika menjadi totally blind dan terpaksa memakai blind fold, saya merasa gerak saya benar-benar terbatas dan membuat saya kebingungan selama jadi siswa. Jadi siswa tunanetra, saya berempati dengan kalian dan saya harus bersyukur masih bisa melihat meski pakai kacamata.
Saya rasa, kami masih perlu belajar banyak. Dan micro teaching A sudah selesai, minggu depan bertemu micro teaching B dan belajar menjadi guru maupun anak tunarungu. Semoga kami selalu lebih baik.
Apa yang paling disukai perantau selain pulang ke kampung halaman?
Sebab kata kembali selalu menyenangkan untuk di dengar, pun dilakukan. Lihat saja, tiket-tiket kereta telah ludes di penghujung tahun. Dimana liburan akan terjadi, para perantau bergegas kembali ke rumah mereka. Harap-harap cemas aku berdoa agar bisa kebagian. Pernah kutulis di blog ini beberapa waktu lalu, tentang anak rantau dan kata pulang.
Bagiku, pulang selalu menjadi hal yang di nanti, seperti rindu yang selalu jadi candu.
Aku suka pergi. Sesuka itu aku pada kata kembali.
Aku ingin mengembara. Pernah terpikir aku ingin kerja yang pindah-pindah keliling nusantara. Lalu aku bertanya, lantas dimana rumahku kalau begitu? Pada dasarnya rumah bukan hanya bangunan. Rumah bagiku adalah keluarga. Rumah adalah dimana kita merasa sangat-sangat nyaman dan seakan tak perlu apa-apa lagi selain mereka. Jadi mau keluargaku pindah ke Papua, Antartika, di situ mereka, di situ rumah bagiku.
Semakin random.
Tadi dosen bimbingan klinis berkata, bahwa dalam konseling ada 3 tahap. Pembukaan, isi dan penutup. Pidato pun begitu. Makalah, begitu. Dan dalam diam hati saya berkata, hidup juga begitu.
Saya anggap pembukaan adalah kelahiran.
Saya anggap isi adalah kita menjalani kehidupan.
Saya anggap penutup adalah kematian.
Masalah setelah mati ada masa-masa lain, dalam kasus ini saya abaikan.
Maka Ibu telah menuliskan pembukaan dengan melahirkan kita kedunia. Saat ini kita masih menjalani hidup, menulis isi kehidupan kita tanpa tahu kapan malaikat datang menuliskan penutupan.
Semoga penutup di akhir makalah hidup kita adalah sesuatu yang baik.
Sebenarnya ingin saya buat judulnya Selamat Hari Guru, dan Saya Sedang Memantapkan Hati menjadi Guru. Tapi kok ya judul itu panjang sekali.
Seharusnya saya melanjutkan belajar pengembangan kreativitas, tapi saya malas. Saya ingin mengeluarkan yang ada di pikiran saya disini. Agar saya lega, lalu teori 4 P itu mudah saya cerna.
Selamat hari guru untuk Mama.
Selamat hari guru untuk semua guru saya dari TK sampai dosen saya sekarang.
Selamat hari guru untuk manusia, tumbuhan, binatang, segala alam semesta yang pernah memberikan saya pelajaran hidup.
Semuanya, saya ucapkan terimakasih.
Selamat hari guru. Dan saya masih terus berusaha meyakinkan diri bahwa saya akan jadi guru. Dan opsi lain adalah menjadi seseorang yang bekerja di dunai ABK. Dan menulis sehancur apapun, itu tetap bagian dari hidup saya.
Saya tahu, memilih PLB adalah bagian dari keisengan dengan penuh keyakinan di masa SMA yang penuh kelabilan. Tapi itu pilihan saya, dan Tuhan menyetujuinya, artinya, saya ditakdirkan melewati tahapan menjadi guru dengan sekolah guru.
Selamat Hari Guru, jika memang guru takdir saya, saya akan berupaya ikhlas menjalaninya.
Saya sedang memantapkan hati sekarang. Kaki saya sudah tenggelam disini,dan menceburkan diri mungkin yang terbaik.
Saya sedang memantapkan hati bahwa saya akan menjadi guru selepas lulus nanti. Mungkin dulu saya memilih jurusan ini karena penasaran ditambah sedikit iseng ala saya. Tapi ketika Tuhan meng-acc saya masuk jurusan ini , mungkin itu 'kode' Tuhan bahwa saya sebaiknya menjadi guru atau berkecimpung di dunia pendidikan khusus.
Saya sedang mengikhlaskan diri. Ikhlas dari segala bisik-bisik di kepala saya. Ikhlas dari penyesalan dan kata seandainya yang pernah merangsek di otak saya. Saya berusaha mengikhlaskan apa yang pergi dari hidup saya dan apa yang Tuhan berikan pada saya.
Saya sedang berusaha menemukan diri saya. Menemukan jati diri saya sesungguhnya. Mencari siapa saya, apa mau saya, dan kenapa saya harus bertahan hidup.
Saya sedang dan selalu ingin melakukan hal yang saya suka. Saya menulis,karena saya senang. Dan belajar menjadi manusia konsisten dengan menyelesaikan apa yang saya mulai. Saya terus membaca banyak hal karena saya suka. Saya memotret apapun yang saya suka.
Saya sedang berusaha menjadi anak yang berbakti, dan akan selalu
berusaha. Semoga saya tidak pernah mengecewakan mereka,semoga saya bukan
anak yang memberatkan mereka, apalagi membuat mereka menangis dan
mengelus dada.
Saya sedang berusaha menjadi kakak yang baik. Lupakan bermimpi memiliki seorang mbak/mas yang pernah saya inginkan. Karena saya sedang berusaha menjadi kakak yang membuat adik saya bangga. Karena saya ingin menjadi contoh yang baik, kakak yang menyenangkan bukan menyeramkan
Saya sedang berusaha menjadi teman yang baik. Saya percaya, saya tidak bisa menyenangkan hati semua orang. Saya percaya,bukan manusia jika tidak ada yang tidak suka padanya. Tapi saya berusaha menjadi teman yang baik dan jujur untuk mereka.
Saya sedang tidak peduli dengan omongan orang tentang saya yang sendiri. Saya berpikir saya masih muda, banyak hal yang ingin saya lakukan dengan kebebasan tanpa ikatan bernama pacaran. Saya tidak ingin menganggu hidup orang lain disaat saya masih mencari siapa saya ini. Saya rasa, akan ada waktunya dimana saya bosan untuk sendiri,dimana saya bertemu seseorang yang membuat saya yakin. Ada ada masa dimana Tuhan membuat saya percaya bahwa manusia diciptakan berpasangan.
Pada akhirnya, saya sedang berkaca dan menelusup ke dalam diri. Bertanya bagaimana agar hidup saya tidak sia-sia. Dan percaya, tentu ada alasan dan peran meskipun kecil kenapa Tuhan membiarkan saya hidup di dunia.
Barusan baca, Akta 4 udah nggak dikasih lagi kepada wisudawan lulusan FKIP mulai Juni ini. Jujur gue nggak seberapa ngerti arti Akta 4,yang gue tahu itu adalah akta mengajar,mungkin sejenis pengakuan untuk menjadi guru. Lalu konon kabarnya untuk menjadi guru harus ikut PPG, jadi belajar 1 tahun lagi untuk dapat sertifikat profesi guru.
Lantas apa maksudnya program profesi guru?
Jadi,lulusan FKIP itu belum pantas jadi guru?
Memang selama 4 tahun mereka belajar apa kalau nggak belajar jadi guru? .
Apa 1 tahun tambahan bisa membuat seseorang lebih profesional dibanding 4 tahun kuliah?
Konon,siapa saja selain sarjana pendidikan boleh ikut program ini. Kenapa?
Sebab desas-desus menyebutkan bahwa siapa saja, yang bukan lulusan FKIP boleh ikut PPG. Nah loo.. Dan untuk kalian yang pengen jadi PNS, syarat daftar katanya sih harus lulus PPG. Buat yang pengen dapat uang tambahan (sertifikasi), PPG juga wajib. Tapi untuk kalian yang menjadi guru tanpa tanda jasa, PPG dan semacamnya tak penting kan? Tapi realistis saja, jarang orang yang mau begitu.
Lalu gue berpikiran, semua orang masuk FKIP tentu disiapkan untuk jadi guru, entah pada akhirnya takdir berkata apa. Dan ketika lulus hanya memegang Sarjana Pendidikan saja, tidak dengan secarik kertas yang istilahnya memberi pengakuan kalau ia bisa menjadi guru, dan bisa menjadikannya guru tetap yang menaikkan kesejahteraan mereka, rasa-rasanya kok gimana gitu. Mungkin tidak masalah kalau namanya hanya Fakultas Pendidikan, masalahnya ada Keguruannya. Ganti aja sekalian namanya jadi Fakultas Ilmu Pendidikan . Atau fakultasnya dihapus aja gimana? Sekalian, biar semua orang jadi guru kan niatnya.
Kalau pendidikan profesi dokter ,sudah jelas anak kedokteran yang ikut. Begitu pula dengan akuntansi,notaris. Tapi kalau menjadi guru, gue denger semua boleh. Maaf ya anak fakultas lain, gue bukan apa-apa. Gue pikir anak FKIP itu banyak banget, sudah bersaing untuk dapat ikut PPG dengan sesama FKIP dari berbagai kampus, harus bersaing lagi dengan anak fakultas lain yang mungkin pengen jadi guru. Aroma pengangguran semakin merajalela kalau begini.
Gue yakin,kalau ada capres yang ngasih tahu bahwa PPG akan dihapuskan pasti itu mahasiswa FKIP kebanyakan akan milih dia.
Gue tahu, makin lama minat menjadi guru gue sendiri memudar. Entah kenapa. Adanya program PPG makin membuat malas. Udah kuliah 4 tahun (Amin) ditambah lagi 1 tahun. Itupun kabarnya untuk bisa ikut PPG ada seleksi lagi, bersaing lagi. Mending S2 sekalian kan? Tapi gue masih mikir sih,kalo S2 kira-kira gue akan kerja apa.
Minat menjadi guru gue emang memudar, tapi entah kenapa gue pengen ikut SM3T lulus nanti,mengajar entah di pulau apa. Aneh ya.. Entahlah, gue pikir dengan mengikuti itu akan mendapatkan pelajaran tentang hidup. Biar gue lebih bersyukur kali yaa... Biar gue bisa menumbuhkan keinginan menjadi guru.. Gue udah kecebur di FKIP,atas keinginan iseng zaman dulu, maka sekalian basah dan tenggelam adalah yang terbaik gue rasa. Tapi kalaupun guru bukan profesi gue pada akhirnya, gue harap Tuhan kasih profesi yang terbaik dan yang gue sukai. Gue bukan penakut,karena ada PPG terus jadi males jadi guru. Gue cuma belum yakin banget,tapi gue selalu berusaha untuk yakin.
Tapii, gue akan tetap terus belajar menulis, salah satu cita-cita gue menjadi penulis yang tentu punya karya yang ada di toko buku biar gue punya artefak peninggalan. Gue akan terus berpikir kemana setelah lulus nanti, mungkin pulang gue akan minta pendapat Mam dan Pap, mumpung gue baru semester 4.
Seorang mahasiswi semester 4, yang tidak bisa membayangkan sepatu kets kesayangannya akan berganti sepatu flat atau pantofel dengan hak entah berapa cm.
Seorang mahasiswi semester 4, yang tidak tahu bagaimana ia dengan rok setiap hari, dan mengikhlaskan celananya duduk manis di lemari
Seorang mahasiswi semester 4, yang percaya bahwa ransel tetap akan menjadi teman terbaiknya
Seorang mahasiswi semester 4 itu,ingin ketika suatu hari menjadi guru, ia bisa bebas memakai celana dan sepatu bertali. Menyandang ransel kesana kemari
Tidak teliti seperti menjadi belakang saya. Mama saya selalu mengatakan saya suka nggak teliti sejak saya masih SD. Guru SD saya bilang saya kurang teliti, guru SMP saya juga dan SMA, entahlah.
Saya tidak bangga ketika menyebutkan tidak teliti adalah nama belakang saya. Saya justru sedih,benci kesal dan apalah itu.
Di matematika, saya seringkali tahu rumus,bisa mengerjakan, namun kurang teliti itu menghancurkan. Hari ini misalnya, saya ulangan statistik. Saya bisa mengerjakannya, meski nomor dua saya bingung. Saya mengumpulkan dengan tenang,tapi...
"rata-ratanya berapa?" tanya saya
"4 sama 6"
4? kok saya 5 dan 6. saya mencoba mengingat-ingat. Dan.. Damn! orang bodoh dan tidak teliti macam apa saya yang menghitung 100 dibagi 25 adalah 5. Habislah saya. Salahlah jawaban-jawaban itu. angka 4 dan 6 menjadi kunci dan hitung-hitungan lagi.
Bagi saya, ketika saya benar-benar tidak bisa saya ikhlas mendapat hasil buruk. Tapi kalau begini, saya kesal sendiri. Ulangan statistik sebelumnya, kesalahan fatal saya adalah membuat frekeunsi hitungnya 3,padahal 4. Alhasil jawaban akhir saya salah semua.
Saya tidak tahu bagaimana membuang tidak teliti itu. Kadang waktu yang diberikan tidak cukup untuk memeriksa, seperti hari ini misalnya. Saya bukan mengharap nilai yang fantastis,sebenarnya bisa mengerjakan saja saya sudah bahagia. Tapi....
Sudahlah...
Sudah dan cukup
Akhir-akhir ini otak saya -yang sempat linglung dan bingung itu- mendadak memikirkan tentang tujuan sekolah,tujuan belajar dan sesuatu bernama nilai.
Selama ini saya sadar, kadang saya mungkin kamu juga ,belajar untuk mendapatkan sebuah nilai. Kadangpula, masuk kuliah hanya untuk memenuhi tandatangan KRS atau absen lalu asyik sendiri ketika dosen/guru yang hobi ceramah membosankan dan itu-itu saja sedang bicara. Saya kadang lupa, bahwa tujuan kuliah adalah belajar,mendengarkan dosen bicara adalah salah satu proses yang harus saya lalui termasuk dosen yang ngalor-ngidul sekalipun.
Tujuan dari sekolah adalah untuk belajar, tujuan dari belajar adalah mendapatkan ilmu,pengalaman,pengetahuan dan nilai sebenarnya hanyalah sebuah angka atau sebuah huruf yang membicarakan hasil evaluasi belajar kita.
Tentang nilai. Kadang, kita mengerjakan tugas hingga selesai untuk mendapatkan nilai. Bukan untuk melatih diri kita. Akui sajalah, sudah bebal telinga ini mendengar teman-teman mengeluh tentang tugas atau saya sendiri yang suka mengomel dengan tugas kalau tugasnya saya nggak suka.
Atau ketika kita bertanya teman saat ulangan. Semua dari kita ingin nilai bagus,dan sebagian dari kita lupa bahwa ulangan adalah suatu bentuk evaluasi,bentuk mengetahui seberapa jauh pemahaman kita tentang suatu materi.
Nilai menurut saya yang sebenarnya adalah rewards and punishment. Nilai baik adalah rewards untuk mereka yang sudah paham,mengerjakan dengan baik, dan nilai buruk adalah punishment jika kita mungkin kurang belajar.
Tapi beginilah pendidikan kita. Saya merasa, tanpa sadar kita ditempa untuk mendapatkan nilai yang baik bukan paham dengan baik. Meski sebenarnya tujuan dari mendapat nilai baik adalah kita paham dengan baik. Masih ingatkah ketika ada guru yang belajarnya ngebut untuk mengejar materi satu semester yang begitu banyak? Kejar-kejaran itu tidak benar-benar efektif,kita tidak benar-benar paham,tapi kita dituntut mendapat nilai baik.
Benar,kita dituntut untuk mendapat nilai yang baik. Berapa coba standar IPK lowongan-lowongan pekerjaan sekarang? Semua diatas 3,atau paling rendah biasanya 2,75 kadang ada sih yang 2,5. suatu hal yang memaksa mahasiswa secara tidak langsung mengejar nilai untuk mendapat pekerjaan nantinya.
Saya kadang berpikir, nilai,belajar dan sekolah seperti halnya kehidupan. Nilai seperti sebuah surga dan neraka, belajar adalah beribadah dan sekolah adalah sistem kehidupan.
Ketika kita beribadah dengan taat, Tuhan menjanjikan surga dan sebalikanya. Sama seperti ketika kita belajar sungguh-sungguh ada nilai baik menunggu kita.
Jadi sekarang, belajarlah baik-baik dan percaya nilai baik akan mengikuti
Baiklah,saya kira cukup. Semoga kita semua belajar bukan mengharapkan nilai, tapi ilmu,pengetahuan,keterampilan,dan pemahaman.































