#JustWrite

Ketika nama yang keluar di luar dugaan ...

Mei 22, 2017

Kalau ngomongin keberuntungan, gue merasa bahwa gue cenderung beruntung untuk hal-hal selain akademik, misalnya, waktu SMP tabungan tak seberapa gue mendapatkan hadiah televisi, gue suka iseng ikut giveaway buku dan mungkin sekitar tujuh atau lebih gue memenangkannya. Ah, ya, gue juga pernah dapat giveaway baju. Semuanya didapatkan dengan model iseng, menjawab iseng, dan tanpa ekspektasi. 

But... rasanya gue nggak pernah beruntung dalam hal memilih sesuatu saat kuliah. Mungkin bukan kata beruntung yang tepat, tapi, gue selalu mendapatkan apa yang tidak gue ajukan. Ketika gue mengajukan untuk PPL di SLB E, yang keluar di SLB Negeri. Ketika gue mengajukan dosen X dan Y, hanya satu nama yang benar-benar dari pilihan gue. Berdasarkan pengalaman itu, gue ga berekspektasi tinggi untuk dosen pembimbing tesis. Kasarannya, kalau perlu, gue kosongin sekalian itu nama dosen pembimbing gue, tapi tetap gue isi juga, dengan nama-nama yang gue inginkan tetapi, tidak menaruh harapan. Menaruh harapan hanya akan menyakitkan ketika yang terjadi tak seperti yang kita inginkan.

Tadi pagi pengumuman dosen pembimbing. Sebelum berangkat, gue udah bilang sama diri gue: Ci, siapa pun nama yang keluar nanti, lu terima ya. 
And you know what? Nggak ada satu pun nama yang gue tulis yang keluar. But i'm not sad. Tubuh gue mulai memberikan reaksi yang aneh, gue ketawa dan gemas sendiri. Gue kaget kenapa bisa jauh banget tetapi... gue menerimanya. Karena, mau sekuat apa pun, denial gue, nama dosbing tak akan berubah. Selama di kampus gue malah senyam-senyum dan terlihat bahagia, padahal gue sedang berusaha mendeskripsikan perasaan gue, sebenarnya otak dan hati gue tuh merasakan apa, dan sampai sekarang gue gak tahu. Tapi gue bersyukur gue gak dapat info ini pas gue lagi di zona nggak baik-baik saja, mungkin reaksi tubuh dan pikiran gue bisa berbeda. 

 Yang gue pikirkan sekarang, gue harus memulai dari mana.
Dari mana gue memulai tesis gue. Oke, gue punya judul, gue punya konsep, but... gue belum tahu gue harus mulai dari mana. Tetapi satu hal, gue akan memulai secepatnya. Gue akan berpikir keras untuk memodifikasi diri gue agar terbiasa mengerjakan sesuatu tanpa procrastination. Semoga gue bisa memulai dengan baik, bekerja dengan efektif dan efisien, juga... lulus awal tahun depan.

#AnakKost

4 Juni 2016, Wisuda a.k.a Wis... udah

Juni 16, 2016



Berkemungkinan banyak foto sedikit tulisan, sebab bingung bagaimana menuliskannya ^^

Setelah 12 April lalu dimejahijaukan, 19 April dinyatakan lulus, akhirnya 4 Juni lalu saya diwisuda.

wi:su:da n peresmian atau pelantikan yg dilakukan dng upacara khidmat

Ya, itu arti wisuda yang saya kutip dari Kamus Besar Bahasa Indonesia atau yang biasa kita sebut dengan KBBI. Tapi beberapa orang memplesetkan wisuda menjadi uwis udah. Mungkin artinya pendidikan di suatu jenjang sudah selesai. Meski saya selalu berpikir bahwa kita tidak akan pernah berhenti belajar sampai meninggal.

Bagaimana rasanya wisuda?

Rasanya... cukup menyenangkan. Mengingat sebelumnya saya hanya berpikir semacam, oh wisuda, oke.  Tetapi kemudian setelah duduk dari menerima ijazah saya tiba-tiba berpikir untuk wisuda lagi (?)

Di kampus saya, wisuda dibagi menjadi dua kelompok. Pagi dan siang hari. Sayangnya, saya mendapatkan wisuda pagi hari. Wisuda di pagi hari berarti saya harus sudah ada di tempat paling tidak 06:30 – karena 07:00 harus berbaris di gedung rektorat – dan acara dimulai pukul 07:30 sampai 10:00. Saya bangun saat azan subuh dan mandi sesuka hati. Memakai baju dan dibedakin mama saya. Cukup diberi bedak dan sedikit lipstik saja. Rasanya aneh kalau wajah saya ini dicoret-coret, gerah. Maka salutlah saya untuk mereka yang dandan cantik-cantik waktu wisuda. Entah jam berapa mereka bangun untuk didandani seperti itu. 
Undangan orangtua/wali wisuda, cuma boleh satu T.T


Sebelum masuk ke kampus, sejenak berhenti untuk berfoto di sini. Rasanya ingin tertawa, mengingat saya dan Pinyot sering tertawa kalau melihat Maru (Mahasiswa baru) yang berfoto-foto di sini ketika pendaftaran ulang tiba.  

Bersama Mama, Papa, Obith dan Ovi




Dan berkumpulah kami di dalam rektorat. Berbaris rapi dan bersiap menuju auditorium.
Bersama Elok saat berbaris di rektorat ^^



Saya duduk di T4-20 di mana sebelah kanan saya, adalah Vivin. Entah di mana Vivin hingga prosesi berjalan dari dalam rektorat ke auditorium dia belum juga muncul. Untungnya, beberapa menit sebelum pintu ditutup dia datang. Wisuda berjalan dengan lancar. 

Mungkin harus ada suatu kejadian agar saya mengingat prosesi ini. Setelah nama saya dipanggil ke depan, dan menerima ijazah, Pak Ravik berkata,"Ossy, selamat ya. Sukses. Agak maju sedikit." Ternyata, beliau mencoba meraih kucir saya dan tidak sampai. Padahal sudah saya injak titik putih seperti yang dikatakan instruktur. Maka segeralah saya bergerak maju, beliau memindahkan kucir, dan bersalaman. 
Makasih Pak
Setelah prosesi, sambil menunggu teman-teman lain maju, saya dan Vivin, beberapa kali berfoto. Kami tahu bahwa sebenarnya tidak diperkenankan untuk berfoto tapi... yasudahlah.





Setelah prosesi wisuda kami keluar dan berhamburan di sekitar rektorat. Saya menyayangkan PLB 2012 yang diwisuda hari itu yaitu, Six, saya, Latifa, Tyar, Whanik, Vivin, Endo, Zuhri, dan Elok tidak berfoto bersama. Bahkan saya tidak sempat berfoto dengan Ipeh- panggilan nista Latifa- yang teman mengurus sidang, sidang bersama, revisi bersama, jilid bersama, mengurus wisuda bersama L Saya ingin mengucapkan terima kasih untuk semua teman-teman yang datang. Wisuda ini menjadi menyenangkan karena adanya kalian haghaghag. Dan campuran antara bingung mau menulis apa, maka di bawah ini saya masukkan foto-foto yang di dapat dari berbagai sumber. ^^





dari kiri Six, saya, Vivin, Abe, dan Tyar






With Pinyot dan doodle ketjenya (mau order buka ig opiedesu
Dan terima kasih untuk teman-teman KKN Troketon's Team yang mau datang, sempat cari-carian. Maafkan baterai smartphone saya yang mulai lemah. Terima kasih sudah mencari saya di tumpukan manusia. Terima kasih sudah datang Eka, Dina, Rimdut, Gita, Yuni, Anggi, dan Ayu bottom two. Terima kasih untuk papan tulis dan bantal lehernya ^^. Bisa dipakai mudik.

Troketon's Team

Dan terima kasih untuk bingkisan, bunga-bunga (yang kini telah layu, pastinya) yang diberikan.
Saya sangat mengapresiasi kalian ^^. Semoga wisuda kalian nanti saya bisa datang ya!


Terima kasih Pinyot untuk doodle-nya!

Terima kasih Ken untuk gambarnya. Saya anggap lukisan ini berarti ,bahwa setelah wisuda
kita masih punya mimpi yang dikejar tinggi-tinggi.
Terima kasih untuk bunga-bunganya, beberapa sudah rontok dan layu T.T
Mengingatkan akan bingkisan sidang ke Six. Terima kasih Woro,
mungkin bisa melonjakkan berat badan dan turun drastis saat puasa ini.
.
Dan setelah itu, saya dan Six pergi ke studio foto. Tadinya, kami yang wisuda Juni akan foto bersama ditraktir Six. Sayangnya, tidak jadi karena beberapa sudah pulang atau berkumpul bersama keluarga. Terima kasih Eky dan Six untuk foto-foto ketjenya.
With Sixma
Jump!


Baiklah, hari ini sudah 16 Juni, sudah 12 hari pasca saya wisuda. Tulisan ini dibuat sebagai bentuk penutup euforia. Sebab wisuda bukan akhir, wisuda adalah awal dari kehidupan yang kadang terdengar dan selintas menyeramkan. Saya tidak tahu apakah keputusan-keputusan yang akan saya ambil setelah lulus ini yang terbaik, tapi saya percaya, jika Tuhan meng-acc, maka itu yang terbaik untuk kita.


Terima kasih teman-teman. Sukses untuk kita semua, semoga September PLB 2012 ramai diwisuda.

#JustWrite

Motto-motto yang sebenarnya pengin ditulis di skripsi tapi...

April 27, 2016

Ada beberapa motto yang ingin saya tulis di halaman motto skripsi. Namun, beberapa kalimat mungkin akan dicoret dosen, dan beberapa saya coret dulu karena sudah yakin akan dicoret.

1. Procaffeinating, so first, coffee
Karena... ketika saya belum ngopi kadang saya cuma bengong, ngantuk, meracau nggak jelas, atau mainan. Jadi kopi berperan penting dalam segala aspek kehidupan saya, tentunya

2. Pantang pulang sebelum sidang
Ya, walau kenyataannya setelah sidang saya mengurusi birokrasi dahulu demi bisa wisuda, tapi reinforcement berupa tiket pulang-yang sebenernya, ya... saya bisa pulang kalau saya mau- efektif mendorong diri saya untuk begadang, mengerjakan skripsi, dan berguling-guling dengan revisi.

3. Berhasil tidak untuk dipuji, gagal tidak untuk dicaci maki, sebab yang penting adalah berarti.
Dibalik kalimat tersebut, intinya, yang penting skripsinya jadi. Dan saya ga terlalu suka dipuji, tapi nggak suka juga dicaci. Dan niat awal itu  jadi berarti, setidaknya buat diri sendiri.

4. Semua yang hidup pasti mati, maka semua yang dimulai pasti diakhiri.
Intinya sih saya cuma mau bilang, skripsi yang dimulai, kalau ada usaha, doa, dan usia pasti selesai juga.

5. Kemenangan adalah mengalahkan dia yang ada tiap engkau berkaca.
Ehem. Jadi... saya berpikir bahwa cepat atau lambatnya kita bergantung diri kita. Ada pengaruh dosbing dsb, tapi semuanya tetap balik lagi ke diri sendiri.


Itu dulu deh, kalo inget saya tambah hawhawhaw

#JustClick

12 April, ‘Meja Hijau’, dan Analogi Bingkisan Teman

April 15, 2016


Setelah  melalui pergulatan yang penuh jumpalitan lalu dihempas jumpalitan lagi dihempas lagi akhirnya 12 April kemarin saya dimejahijaukan—sebuah istilah yang saja tujukan untuk sidang skripsi. Saya disidang bersama Latifakami membuat surat penelitian nyaris bersamaan, penelitian bersama, dan sidang bersama dan Abwa. Saya tidak ingin menceritakan detail prosesi sidang, yang jelas cukup menyenangkan. Saya memertanyakan perasaan saya yang begitu datar. Datar sekali bahkan ujian PPL lebih mendebarkan. Jadi... dagdigdug dengan dada yang berdebar dan kecemasan saya itu muncul di hari Sabtu. Kemudian, mendadak saya tenang dan stabil sampai hari Selasa. Ipeh panggilan nista dari Latifah juga merasakan hal yang sama.  Entahlah, tapi datar itu patut disyukuri sehingga saat presentasi dan menjawab pertanyaan dosen dapat berpikir jernih dan tidak terganggu debaran.
Dengan tulisan ini saya bermaksud mengucapkan terima kasih kepada dosen yang bersedia membimbing saya dan menguji saya tentunya. Jika tidak ada pembimbing tentu tidak ada yang meng-acc judul, mencoret-coret skripsi saya, mendorong saya untuk segera selesai, sedikit hempasan lalu jumpalitan, mendengarkan saya presentasi dan bertanya macam-macam saat sidang, bahwa tanpa dosen ya skripsi saya tidak ada.
Teman-teman yang ketika saya membuka pintu ruang sidang mereka ada menunggu kami bertiga sidang. Sedangkan saya punya pikiran apakah tidak membosankan menunggu teman sidang? Tapi saya mengapresiasi kalian, semoga kalian segera ‘dimejahijaukan’. 

Baiklah. Saya hendak berbicara hal lain sebenarnya. Beberapa teman dekat memberikan saya bingkisan. Terima kasih untuk Naila, Eka Chan, dan Fathin untuk logistik—mie, susu, snack, permen, dkk—  yang telah diberikan. Terima kasih juga untuk 132 keping Goodtime Double Choc Chocochips Cookies Opie a.k.a Pinyot yang tertulis disponsori salah satu swalayan padahal ya... tidak dibeli di sana—katanya sebuah satire atau sarkasme sebagai pencitraan. Dan Six untuk sebuket bunga yang untungnya bukan kembang setaman.
Sampai di kost dengan membawa naskah-naskah skripsi saya yang dikembalikan dosen, saya duduk di kasur dan berpikir. Membaca ulang kata-katanya dan otak saya—yang suka berpikir ke mana-mana— menganalogikan bingkisan mereka.

#JustWrite

Agen Luar Biasa, Selamat Hari Disabilitas Internasional, dan racauan malam.

Desember 03, 2015

Agen Luar Biasa. 
Sudah pernah dengar? Mungkin tidak. Itu hanyalah sebutan asal yang tercetus beberapa tahun silam. Saat saya dan teman-teman baru menginjak semester awal di PLB. Waktu saya suka banget buku Perahu Kertas-nya Dee dan buku itu dijadikan film meski saya lebih suka bukunya. Ingat ada 'Agen Neptunus'?
And then... saya memutuskan untuk menyebut teman-teman di twitter @UsNeed12 dengan itu. Nggak selalu sih, tapi sering. Saya hanya berpikir bahwa kita ada di jurusan Pendidikan Luar Biasa (honestly..saya lebih suka pendidikan khusus. SUMPAH!) jadi kita disiapkan untuk menjadi agen-agen yang mengemban misi untuk Pendidikan Luar Biasa. Terdengar lebay... Selain itu saya pengin banget jadi agen FBI atau BIN.

Dan ketika saya mengetik ini di blog, jam menunjukkan pukul nol-nol sekian. 3 Desember 2015.
Ini HIPENCA/HDI/DifDay... and i don't care with the title. Tapi hari ini hari disabilitas internasional. Bagi saya sebuah perayaan hanyalah seremonial semata. Euforia, dan persetan dengan istilahnya. Jika dan hanya jika kita peduli di hari itu saja. Kita cuma nge-tweet and selesai. Kita masih duduk manis padahal ada bapak-bapak dengan kruk. Kita masih ngejekin orang yang lagi serius dengan autis. Kita masih ngatain orang yang nggak bisa baca itu bodoh, atau anak tunagrahita = anak gila. Well, saya menulis berdasarkan fakta dan cerita teman. Saya nggak mau nasihatin aneh-aneh, atau mendadak jadi sok bijak. Saya cuma mau ingetin diri saya, bahwa sebagai bagian dari 'Agen Luar Biasa' yang kata teman saya 'Luar Biasa, Biasa Di Luar' untuk lebih peka terhadap mereka. Ya, seperti itu. Malam.


#JustWrite

Kepada Skripsi, ('dia' yang perlahan mulai mendekati )

September 26, 2015

Kepada Skripsi


Hai, mata kuliah berbobot besar yang dengan penuh keyakinan kumasukkan ke KRS semester ini! Apa kabar? Perlahan namun pasti kamu mulai mendekati. Dimulai dengan pengumuman dosen pembimbing, seperti bel yang berdering kamu mulai berteriak nyaring.
Aku tahu, suatu hari kamu pasti akan selesai. Maka mungkin dari sekarang mari kita mulai berteman, bantu aku menjadi lebih sensitif dan peka terhadap masalah. Lebih jeli mencari celah dan jawaban dari segala masalah. Buat aku sabar menghadapi semua yang datang. Lancarkan jalanku menghadapi dosen pembimbing. Permudahkan jalanku menuju kelulusan.
Kepada skripsi, mungkin akan kubuat reward untuk diriku jika tahapan-tahapannya berhasil kulalui. Agar malasku berkurang, sebab aku tak ingin berlama-lama bergumul denganmu. Aku ingin lulus sebelum ulangtahunku. Kepada skripsi, mari bersahabat dan selesaikan masalah ini. Mari ciptakan hasil memuaskan di akhir nanti.

salam sayang.


mahasiswi yang membalas sapamu kemarin itu.

#JustWrite

Ini baru dimulai tapi percayalah ini akan berakhir

September 06, 2015


Saya menulis ini di sela-sela mencari gambar-gambar untuk media pembelajaran.PPL baru saja dimulai minggu lalu dan minggu depan latihan mengajar terbimbing dimulai.
Ini baru dimulai, Ci. Ketika KKN usai bukan berarti semuanya selesai. Sebab PPL pun saat itu melambai dan kini mewarnai hidupku sampai tiga bulan ke depan. Jadilah manusia yang kuat Ci! Sesaplah semua pengalaman yang akan kamu terima nanti. Keruk sebanyak-banyaknya ilmu. Berdoalah kamu segera menemukan judul dan masalah untuk bahan skripsi. Semoga pembimbingmu nanti baik hati, pembimbingmu yang menuntunmu untuk cepat, tepat dan semangat merampungkan tugas akhir.
PPL pada akhirnya akan berakhir Ci, seperti KKN yang kamu takuti dan tidak kamu sukai. Hanya ini mungkin lebih lama, lebih menguras otak, tenaga, biaya dan waktu tentu saja. Semoga kamu bisa membagi waktu dengan baik,Ci.

Ci, ini baru mula, semoga akhir kuliahmu bahagia. Pantang pulang sebelum pendadaran ya, Ci. Mau cepat pulang kan? Ingat Ci, perjuangan masih panjang kuatkan semuanya. Kamu bisa selama kamu masih ada.


Untukku yang baru memulai PPL dan disapa tugas akhir.

#DidYouKnow

ADHD #infografik

April 18, 2015




Tidak tahu, aku pusing dengan pendaftaran kkn sebab modemku busuk, tapi Allah baik akhirnya aku bisa daftar juga. Dan aku bingung, akhirnya buat infografik ini. Gambarnya mungkin akan terlihat pecah Infografik pertama (berharap nanti buat lagi), memerima kritik dan sarannya.

#JustWrite

Micro Teaching A, begini...

April 11, 2015

Kelompok E dengan Pak Maryadi

Saya memang berencana menulis tentang bagaimana dan apa yang terjadi pada micro teaching tiap kelas. Meski sekarang saya agak bingung apa yang harus diceritakan di micro teaching A. Micro teaching A ini, simulasi pengajaran untuk anak tunanetra. Micro teaching untuk A dilakukan di ruang sidang, sebenarnya saya lebih suka ruang micro sebab ada lampunya dan terlihat seperti kelas beneran. Tapi itu bukan masalah besar.
Saya dapat beberapa masukan setelah maju dari teman-teman, salah satunya suara saya yang kurang keras dan terlalu cepat dalam bicara. Saya mengakui itu, saya tahu kalau suara saya tidak terlalu keras meski tidak terlalu pelan dan kalau mau keras saya takutnya nanti berteriak. Dan mungkin bicara saya terlalu cepat.
Saya hanya jadi siswa 5x disini dan itu berbeda sekali. Berbeda dari sebelumnya, kemarin menjadi anak nakal dan sekarang menjadi totally blind atau low vision (karena pakai kacamata saya kira saya sudah masuk low vision). Ketika menjadi totally blind dan terpaksa memakai blind fold, saya merasa gerak saya benar-benar terbatas dan membuat saya kebingungan selama jadi siswa. Jadi siswa tunanetra, saya berempati dengan kalian dan saya harus bersyukur masih bisa melihat meski pakai kacamata.
Saya rasa, kami masih perlu belajar banyak. Dan micro teaching A sudah selesai, minggu depan bertemu micro teaching B dan belajar menjadi guru maupun anak tunarungu. Semoga kami selalu lebih baik.

#JustWrite

Sudah Tepatkah ?

Maret 19, 2015

Selama ini saya sering bertanya pada saya sendiri. Bukan, saya tidak gila sampai bertanya ke diri sendiri. Tapi saya memang lebih sering bertanya dan menganalisa tentang semua hal yang saya alami. Sampai saya sering tidak dapat tidur sebab otak saya terus berpikir berbagai macam.

Saya sering bertanya, "Sudah tepatkah pilihan saya saat ini?". Saya batasi lagi menjadi, "Sudah tepatkah pilihan jurusan kuliah saya saat ini?". 
Saya bertanya begitu sebab kadang saya ingin mencoba kuliah di jurusan lain. Mama, maafkan saya. Ini hanya sebatas keinginan semata, saya janji tidak akan mengecewakan kalian. Saya berpikir begitu sebab kadang saya sering membayangkan 'bagaimana jika'. Bagaimana jika saya kuliah di universitas X, bagaimana jika dulu saya berani mengambil jurusan K, bagaimana rasanya kuliah di jurusan P, apakah kuliah di jurusan S akan semenyenangkan yang saya pikirkan?  dan bagaimana-bagaimana lain yang membuat saya berpikir bahwa sebaiknya saya berhenti memikirkan itu. Waktu tak dapat diputar bukan ? Dan mungkin Tuhan memang ingin saya di situasi ini. Lagipula ini keinginan saya dahulu, meski kadang saya menyesal keinginan itu didasarkan hanya karena ingin dan penasaran.

Sudah tepat atau belum saya masih belum bisa menjawab. Tapi mungkin saja, mungkin tepat. Sebab saya percaya pada Tuhan dan takdirnya. Dan bersyukur itu perlu. Saya tahu, seperti halnya ketika saya menginginkan jurusan lain, ada orang lain yang ingin berada di jurusan saya sekarang.
Semoga Tuhan makin memperjelas kemana saya harus melangkah setelah lulus. Seperti apakah keinginan untuk mendamparkan diri setahun di daerah terpencil sudah tepat, apakah saya bisa menjadi guru yang menyenangkan, atau ada pekerjaan lain yang berhubungan dengan hal yang sukai tapi masih berhubungan dengan jurusan saat ini.

Selamat malam. Terima kasih.

#JustWrite

Micro teaching kelas E, bahwa menjadi murid nakal itu menyenangkan

Maret 18, 2015

bahwa menjadi anak nakal itu menyenangkan

Saya bukan penulis judul yang baik. Saya terbiasa menulis baru memberikan judul. Namun hari ini saya menulis judul dulu baru menuliskan isinya. Mungkin sembari berlatih menulis judul untuk skripsi. Baiklah, tanpa banyak berbicara tidak jelas, saya akan sedikit bercerita tentang Micro teaching kelompok saya.

Micro teaching kelompok E dimulai dari micro teaching untuk anak tunalaras. FYI, anak tunalaras adalah mereka yang memiliki gangguan perilaku dan emosi. Kadang orang melabelinya dengan sebutan anak nakal. Dalam micro teaching, ada yang berperan jadi guru, siswa dan pengamat. Dari 15 mahasiswa termasuk saya, 7 diantaranya saya berperan jadi murid. Mengapa ? Sebab saya suka. Menjadi murid tunalaras berarti saya harus berperan jadi anak yang disebut nakal itu. Anak yang mainan saat guru menerangkan, main kelereng, duduk di lantai, pukul-pukulan dengan teman, sampai melempari guru. Dan sudah nakal begitu dosennya bilang kami kurang nakal. Hingga semakin ke belakang, tingkat kenakalan 'siswa' semakin tinggi.

Banyak teman yang mengatakan saya cocok berperan jadi anak nakal di situ. Saya suka, sebab saya punya alasan yang akan saya sampaikan di tulisan ini. Sebab saat SD saya bukan tipe anak nakal. Oh, saya adalah anak baik-baik dan penurut dahulu. Di luar kejadian luar biasa (anggap ini DBD) saat kelas 1 SD. Oke, saya pernah loncat dari jendela setinggi 1,5 meter. Tapi ada alasan mengapa saya melakukannya. Saat itu, beberapa guru yang saya lupa entah siapa membicarakan kaki saya saat senam. Dan itu menyakitkan. Saya tidak pernah mengatakan pada orangtua saya mengapa saya melakukan loncat dari jendela dan pulang ke rumah. Baiklah, hentikan mengingat masa lalu itu.

Saya suka berperan jadi anak nakal sebab itu mengasyikan. Ketika dosen saya yang sebenarnya tidak memarahi saya menghentak-hentakkan kaki, ketika saya dibebaskan melempari teman, ketika saya boleh berkicau semau saya. Ketika hal-hal yang nakal itu malah dianjurkan. Saya senang melanggar peraturan di kelas yang dulu ketika kecil tidak saya lakukan. Maka saya bukan sedang menyusahkan teman yang jadi guru, saya hanya membantu kalian dengan menjadi murid nakal. Walau saya rasa nakal saya belum maksimal. Sebab mungkin saja, kalian akan menemukan yang lebih parah dari kami yang jadi siswa tadi.
 Terima kasih untuk hari ini, semoga hasil praktek kita tadi memuaskan. 






#JustWrite

Semester ini itu...

Desember 10, 2014

Semester ini terasa lambat. Semester ini cukup padat diawal, namun ditengah terlalu santai. Menyenangkan memang. Menyebabkan naskah yang saya coba tulis bisa selesai akhir September, lalu Oktober saya bisa membuat posting di blog UNS tiap hari dan menghasilkan reward blog terbaik kedua untuk cabang akademik. Namun, awal Desember berubah. Para dosen memberi tugas, UK-UK datang, baik take home dan on the spot (?). Praktek ini itu juga muncul. Dan parahnya hampir semua kelompok presentasi saya kelompok terakhir, untungnya tugas-tugas presentasi sudah dikerjakan tinggal menunggu presentasi.

Saya bukan orang yang terlalu suka bekerja kelompok. Saya suka. Tapi semester ini, terlalu banyak tugas kelompok, terlalu banyak kelompok, dan sedikit tugas individu. Semua yang keterlaluan tidak pernah benar-benar baik. Sepertinya, hanya di ujung-ujung inilah tugas individu berdatangan yang parahnya beramai-ramai.
Saya tidak ingin mengeluh, hanya bercerita saja. Mengeluh tugas banyak nggak akan membuat tugas saya selesai begitu saja.

Karena lambat, di tengah penuh kesantaian, saya jadi bingung dengan tanggal pulang. Tidak seperti biasanya yang bisa pesan 2-1 bulan sebelum. Saya baru pesan tadi untuk kepulangan tanggal 30. Ya, berdasarkan kalender kuliah selesai pada tanggal itu.

Saya harap saya bisa mengerjakan tiap tugas dengan baik dan semaksimal mungkin. Saya tidak ingin mengecewakan orangtua dan saya tentunya. Dan saya harap, kuliah selesai sebelum tanggal 30.

Sudah malam.

#AnakKost

Pulang

Desember 04, 2014

Apa yang paling disukai perantau selain pulang ke kampung halaman?
Sebab kata kembali selalu menyenangkan untuk di dengar, pun dilakukan. Lihat saja, tiket-tiket kereta telah ludes di penghujung tahun. Dimana liburan akan terjadi, para perantau bergegas kembali ke rumah mereka. Harap-harap cemas aku berdoa agar bisa kebagian. Pernah kutulis di blog ini beberapa waktu lalu, tentang anak rantau dan kata pulang.
Bagiku, pulang selalu menjadi hal yang di nanti, seperti rindu yang selalu jadi candu.

Aku suka pergi. Sesuka itu aku pada kata kembali.
Aku ingin mengembara. Pernah terpikir aku ingin kerja yang pindah-pindah keliling nusantara. Lalu aku bertanya, lantas dimana rumahku kalau begitu? Pada dasarnya rumah bukan hanya bangunan. Rumah bagiku adalah keluarga. Rumah adalah dimana kita merasa sangat-sangat nyaman dan seakan tak perlu apa-apa lagi selain mereka. Jadi mau keluargaku pindah ke Papua, Antartika, di situ mereka, di situ rumah bagiku.

Semakin random.

#JustWrite

3 tahap itu seperti makalah

November 25, 2014

Tadi dosen bimbingan klinis berkata, bahwa dalam konseling ada 3 tahap. Pembukaan, isi dan penutup. Pidato pun begitu. Makalah, begitu. Dan dalam diam hati saya berkata, hidup juga begitu.

Saya anggap pembukaan adalah kelahiran.
Saya anggap isi adalah kita menjalani kehidupan.
Saya anggap penutup adalah kematian.

Masalah setelah mati ada masa-masa lain, dalam kasus ini saya abaikan.

Maka Ibu telah menuliskan pembukaan dengan melahirkan kita kedunia. Saat ini kita masih menjalani hidup, menulis isi kehidupan kita tanpa tahu kapan malaikat datang menuliskan penutupan.

Semoga penutup di akhir makalah hidup kita adalah sesuatu yang baik.

#JustWrite

Selamat Hari Guru

November 25, 2014

Sebenarnya ingin saya buat judulnya Selamat Hari Guru, dan Saya Sedang Memantapkan Hati menjadi Guru. Tapi kok ya judul itu panjang sekali.

Seharusnya saya melanjutkan belajar pengembangan kreativitas, tapi saya malas. Saya ingin mengeluarkan yang ada di pikiran saya disini. Agar saya lega, lalu teori 4 P itu mudah saya cerna.

Selamat hari guru untuk Mama.
Selamat hari guru untuk semua guru saya dari TK sampai dosen saya sekarang.
Selamat hari guru untuk manusia, tumbuhan, binatang, segala alam semesta yang pernah memberikan saya pelajaran hidup.
Semuanya, saya ucapkan terimakasih.

Selamat hari guru. Dan saya masih terus berusaha meyakinkan diri bahwa saya akan jadi guru. Dan opsi lain adalah menjadi seseorang yang bekerja di dunai ABK. Dan menulis sehancur apapun, itu tetap bagian dari hidup saya.

Saya tahu, memilih PLB adalah bagian dari keisengan dengan penuh keyakinan di masa SMA yang penuh kelabilan. Tapi itu pilihan saya, dan Tuhan menyetujuinya, artinya, saya ditakdirkan melewati tahapan menjadi guru dengan sekolah guru.

Selamat Hari Guru, jika memang guru takdir saya, saya akan berupaya ikhlas menjalaninya.


#AnakKost

Saya sedang *ocehan sore-sore*

September 06, 2014

Saya sedang memantapkan hati sekarang. Kaki saya sudah tenggelam disini,dan menceburkan diri mungkin yang terbaik.
Saya sedang memantapkan hati bahwa saya akan menjadi guru selepas lulus nanti. Mungkin dulu saya memilih jurusan ini karena penasaran ditambah sedikit iseng ala saya. Tapi ketika Tuhan meng-acc saya masuk jurusan ini , mungkin itu 'kode' Tuhan bahwa saya sebaiknya menjadi guru atau berkecimpung di dunia pendidikan khusus.

Saya sedang mengikhlaskan diri. Ikhlas dari segala bisik-bisik di kepala saya. Ikhlas dari penyesalan dan kata seandainya yang pernah merangsek di otak saya. Saya berusaha mengikhlaskan apa yang pergi dari hidup saya dan apa yang Tuhan berikan pada saya.

Saya sedang berusaha menemukan diri saya. Menemukan jati diri saya sesungguhnya. Mencari siapa saya, apa mau saya, dan kenapa saya harus bertahan hidup.

Saya sedang dan selalu ingin melakukan hal yang saya suka. Saya menulis,karena saya senang. Dan belajar menjadi manusia konsisten dengan menyelesaikan apa yang saya mulai. Saya terus membaca banyak hal karena saya suka. Saya memotret apapun yang saya suka.

Saya sedang berusaha menjadi anak yang berbakti, dan akan selalu berusaha. Semoga saya tidak pernah mengecewakan mereka,semoga saya bukan anak yang memberatkan mereka, apalagi membuat mereka menangis dan mengelus dada.

Saya sedang berusaha menjadi kakak yang baik. Lupakan bermimpi memiliki seorang mbak/mas yang pernah saya inginkan. Karena saya sedang berusaha menjadi kakak yang membuat adik saya bangga. Karena saya ingin menjadi contoh yang baik, kakak yang menyenangkan bukan menyeramkan

Saya sedang berusaha menjadi teman yang baik. Saya percaya, saya tidak bisa menyenangkan hati semua orang. Saya percaya,bukan manusia jika tidak ada yang tidak suka padanya. Tapi saya berusaha menjadi teman yang baik dan jujur untuk mereka.

Saya sedang tidak peduli dengan omongan orang tentang saya yang sendiri. Saya berpikir saya masih muda, banyak hal yang ingin saya lakukan dengan kebebasan tanpa ikatan bernama pacaran. Saya tidak ingin menganggu hidup orang lain disaat saya masih mencari siapa saya ini. Saya rasa, akan ada waktunya dimana saya bosan untuk sendiri,dimana saya bertemu seseorang yang membuat saya yakin. Ada ada masa dimana Tuhan membuat saya percaya bahwa manusia diciptakan berpasangan.

Pada akhirnya, saya sedang berkaca dan menelusup ke dalam diri. Bertanya bagaimana agar hidup saya tidak sia-sia. Dan percaya, tentu ada alasan dan peran meskipun kecil kenapa Tuhan membiarkan saya hidup di dunia.


#JustWrite

Untuk menjadi guru semakin sulit nampaknya

Juni 08, 2014


Barusan baca, Akta 4 udah nggak dikasih lagi kepada wisudawan lulusan FKIP mulai Juni ini. Jujur gue nggak seberapa ngerti arti Akta 4,yang gue tahu itu adalah akta mengajar,mungkin sejenis pengakuan untuk menjadi guru. Lalu konon kabarnya untuk menjadi guru harus ikut PPG, jadi belajar 1 tahun lagi untuk dapat sertifikat profesi guru. 
Lantas apa maksudnya program profesi guru?
 Jadi,lulusan FKIP itu belum pantas jadi guru? 
Memang selama 4 tahun mereka belajar apa kalau nggak belajar jadi guru? . 
Apa 1 tahun tambahan bisa membuat seseorang lebih profesional dibanding 4 tahun kuliah?
Konon,siapa saja selain sarjana pendidikan boleh ikut program ini. Kenapa?
Sebab desas-desus menyebutkan bahwa siapa saja, yang bukan lulusan FKIP boleh ikut PPG. Nah loo.. Dan untuk kalian yang pengen jadi PNS, syarat daftar katanya sih harus lulus PPG. Buat yang pengen dapat uang tambahan (sertifikasi), PPG juga wajib. Tapi untuk kalian yang menjadi guru tanpa tanda jasa, PPG dan semacamnya tak penting kan? Tapi realistis saja, jarang orang yang mau begitu.

Lalu gue berpikiran, semua orang masuk FKIP tentu disiapkan untuk jadi guru, entah pada akhirnya takdir berkata apa. Dan ketika lulus hanya memegang Sarjana Pendidikan saja, tidak dengan secarik kertas yang istilahnya memberi pengakuan kalau ia bisa menjadi guru, dan bisa menjadikannya guru tetap yang menaikkan kesejahteraan mereka, rasa-rasanya kok gimana gitu. Mungkin tidak masalah kalau namanya hanya Fakultas Pendidikan, masalahnya ada Keguruannya. Ganti aja sekalian namanya jadi Fakultas Ilmu Pendidikan . Atau fakultasnya dihapus aja gimana? Sekalian, biar semua orang jadi guru kan niatnya.
Kalau pendidikan profesi dokter ,sudah jelas anak kedokteran yang ikut. Begitu pula dengan akuntansi,notaris. Tapi kalau menjadi guru, gue denger semua boleh. Maaf ya anak fakultas lain, gue bukan apa-apa. Gue pikir anak FKIP itu banyak banget, sudah bersaing untuk dapat ikut PPG dengan sesama FKIP dari berbagai kampus, harus bersaing lagi dengan anak fakultas lain yang mungkin pengen jadi guru. Aroma pengangguran semakin merajalela kalau begini.



Gue yakin,kalau ada capres yang ngasih tahu bahwa PPG akan dihapuskan pasti itu mahasiswa FKIP kebanyakan akan milih dia.
 

Gue tahu, makin lama minat  menjadi guru gue sendiri memudar. Entah kenapa. Adanya program PPG makin membuat malas. Udah kuliah 4 tahun (Amin) ditambah lagi 1 tahun. Itupun kabarnya untuk bisa ikut PPG ada seleksi lagi, bersaing lagi. Mending S2 sekalian kan? Tapi gue masih mikir sih,kalo S2 kira-kira gue akan kerja apa.
Minat menjadi guru  gue emang memudar, tapi entah kenapa gue pengen ikut SM3T lulus nanti,mengajar entah di pulau apa. Aneh ya.. Entahlah, gue pikir  dengan mengikuti itu akan mendapatkan pelajaran tentang hidup. Biar gue lebih bersyukur kali yaa... Biar gue bisa menumbuhkan keinginan menjadi guru.. Gue udah kecebur di FKIP,atas keinginan iseng zaman dulu, maka sekalian basah dan tenggelam adalah yang terbaik gue rasa. Tapi kalaupun  guru bukan profesi gue pada akhirnya, gue harap Tuhan kasih profesi yang terbaik dan yang gue sukai. Gue bukan penakut,karena ada PPG terus jadi males jadi guru. Gue cuma belum yakin banget,tapi gue selalu berusaha  untuk yakin.

Tapii, gue akan tetap terus belajar menulis, salah satu cita-cita gue menjadi penulis yang tentu punya karya yang ada di toko buku biar gue punya artefak peninggalan. Gue akan terus berpikir kemana setelah lulus nanti, mungkin pulang gue akan minta pendapat Mam dan Pap, mumpung gue baru semester 4.


#JustWrite

Seorang mahasiswi semester 4

Mei 30, 2014

Seorang mahasiswi semester 4, yang tidak bisa membayangkan sepatu kets kesayangannya akan berganti sepatu flat atau pantofel dengan hak entah berapa cm.
Seorang mahasiswi semester 4, yang tidak tahu bagaimana ia dengan rok setiap hari, dan mengikhlaskan celananya duduk manis di lemari
Seorang mahasiswi semester 4, yang percaya bahwa ransel tetap akan menjadi teman terbaiknya

Seorang mahasiswi semester 4 itu,ingin ketika suatu hari menjadi guru, ia bisa bebas memakai celana dan sepatu bertali. Menyandang ransel kesana kemari

#JustWrite

ketika 100 : 25 = 5

Mei 14, 2014

Tidak teliti seperti menjadi belakang saya. Mama saya selalu mengatakan saya suka nggak teliti sejak saya masih SD. Guru SD saya bilang saya kurang teliti, guru SMP saya juga dan SMA, entahlah.
Saya tidak bangga ketika menyebutkan tidak teliti adalah nama belakang saya. Saya justru sedih,benci kesal dan apalah itu.
Di matematika, saya seringkali tahu rumus,bisa mengerjakan, namun kurang teliti itu menghancurkan. Hari ini misalnya, saya ulangan statistik. Saya bisa mengerjakannya, meski nomor dua saya bingung. Saya mengumpulkan dengan tenang,tapi...
"rata-ratanya berapa?" tanya saya
"4 sama 6"
4? kok saya 5 dan 6. saya mencoba mengingat-ingat. Dan.. Damn! orang bodoh dan tidak teliti macam apa saya yang menghitung 100 dibagi 25 adalah 5. Habislah saya. Salahlah jawaban-jawaban itu. angka 4 dan 6 menjadi kunci dan hitung-hitungan lagi.

Bagi saya, ketika saya benar-benar tidak bisa saya ikhlas mendapat hasil buruk. Tapi kalau begini, saya kesal sendiri. Ulangan statistik sebelumnya, kesalahan fatal saya adalah membuat frekeunsi hitungnya 3,padahal 4. Alhasil jawaban akhir saya salah semua.

Saya tidak tahu bagaimana membuang tidak teliti itu. Kadang waktu yang diberikan tidak cukup untuk memeriksa, seperti hari ini misalnya. Saya bukan mengharap nilai yang fantastis,sebenarnya bisa mengerjakan saja saya sudah bahagia. Tapi....
Sudahlah...
Sudah dan cukup

#JustWrite

Ocehan tentang belajar dan nilai

Mei 13, 2014



Akhir-akhir ini otak saya -yang sempat linglung dan bingung itu- mendadak memikirkan tentang tujuan sekolah,tujuan belajar dan sesuatu bernama nilai.
Selama ini saya sadar, kadang saya mungkin kamu juga ,belajar untuk mendapatkan sebuah nilai. Kadangpula, masuk kuliah hanya untuk memenuhi tandatangan KRS atau absen lalu asyik sendiri ketika dosen/guru yang hobi ceramah membosankan dan itu-itu saja sedang bicara. Saya kadang lupa, bahwa tujuan kuliah adalah belajar,mendengarkan dosen bicara adalah salah satu proses yang harus saya lalui termasuk dosen yang ngalor-ngidul sekalipun.
Tujuan dari sekolah adalah untuk belajar, tujuan dari belajar adalah mendapatkan ilmu,pengalaman,pengetahuan dan nilai sebenarnya hanyalah sebuah angka atau sebuah huruf yang membicarakan hasil evaluasi belajar kita.

Tentang nilai. Kadang, kita mengerjakan tugas hingga selesai untuk mendapatkan nilai. Bukan untuk melatih diri kita. Akui sajalah, sudah bebal telinga ini mendengar teman-teman mengeluh tentang tugas atau saya sendiri yang suka mengomel dengan tugas kalau tugasnya saya nggak suka.
Atau ketika kita bertanya teman saat ulangan. Semua dari kita ingin nilai bagus,dan sebagian dari kita lupa bahwa ulangan adalah suatu bentuk evaluasi,bentuk mengetahui seberapa jauh pemahaman kita tentang suatu materi.

 Nilai menurut saya yang sebenarnya adalah rewards and punishment. Nilai baik adalah rewards untuk mereka yang sudah paham,mengerjakan dengan baik, dan nilai buruk adalah punishment jika kita mungkin kurang belajar.
Tapi beginilah pendidikan kita. Saya merasa, tanpa sadar kita ditempa untuk mendapatkan nilai yang baik bukan paham dengan baik. Meski sebenarnya tujuan dari mendapat nilai baik adalah kita paham dengan baik. Masih ingatkah ketika ada guru yang belajarnya ngebut untuk mengejar materi satu semester yang begitu banyak? Kejar-kejaran itu tidak benar-benar efektif,kita tidak benar-benar paham,tapi kita dituntut mendapat nilai baik.
 Benar,kita dituntut untuk mendapat nilai yang baik. Berapa coba standar IPK lowongan-lowongan pekerjaan sekarang? Semua diatas 3,atau paling rendah biasanya 2,75 kadang ada sih yang 2,5. suatu hal yang  memaksa mahasiswa secara tidak langsung mengejar nilai untuk mendapat pekerjaan nantinya.

Saya kadang berpikir, nilai,belajar dan sekolah seperti halnya kehidupan. Nilai seperti sebuah surga dan neraka, belajar adalah beribadah dan sekolah adalah sistem kehidupan.
Ketika kita beribadah dengan taat, Tuhan menjanjikan surga dan sebalikanya. Sama seperti ketika kita belajar sungguh-sungguh ada nilai baik menunggu kita.

Jadi sekarang, belajarlah baik-baik dan percaya nilai baik akan mengikuti

Baiklah,saya kira cukup. Semoga kita semua belajar bukan mengharapkan nilai, tapi ilmu,pengetahuan,keterampilan,dan pemahaman.





Popular Posts

My Instagram