pada BST, yang lama tiba ketika ditunggu;
pada bus kampus "Bumblebee" ---yang sering bikin kesal tapi tak pernah kaubenci;
pada Luwes dan todobuy tiap bulan;
pada Lapak Buku Bekas Alun-alun Utara dan kegiatan tawar-menawar;
pada toko kain kiloan Klewer;
pada kain-kain lucu BTC---yang ingin semuanya kaubeli, tapi tak pernah terjadi;
pada jalan-jalan asing yang kaususuri sendiri---sebab sebagai pejalan kaki, begitulah caramu lari dan menikmati waktu sendiri;
pada jalanan kampus dan guguran angsananya;
pada penyet bandungan dan penyet bapak kostmu;
Pada perpustakaan, ruang-ruang kelas, bahkan lobi kampusmu---juga kenyataan bahwa beberapa tahun lalu kausering tidur di lobi kampusmu;
pada sekolah-sekolah tempatmu belajar dan meneliti, juga beragam anak-anak yang memanggilmu 'Mbak Guru' beberapa tahun lalu;
pada geprek-geprek dan bakso bakar;
pada soto Bu Meto;
pada gang kostmu;
pada fotokopi Damai;
pada toko-toko kecil di dekat kostmu;
pada dinding kost hitam yang menemanimu menulis sebagian yang pernah kautulis;
pada satu-dua teman dekatmu---karena kau memang tak punya lebih dari itu;
Juga pada lampion tiap imlek akan tiba;
pada teriknya yang kaubenci setengah mati;
dan pada apa-apa yang saat ini terlupa dan mungkin akan kauingat beberapa waktu lagi---ketika kau masih bernyawa tentu saja.
Sekarang, kaumungkin biasa saja. Sebab kutahu, kau begitu ingin pergi dan tak mau kembali lagi. Namun, tiada yang tahu.
Karena kuyakin, suatu waktu, kamu pasti rindu.
Hidup itu bangsat, sayang
Kau tak meminta, tapi seenaknya saja ada
Kau inginkan sesuatu tetapi yang didapat bukan itu
Kau tak pinta, begitu saja diberi bencana
hidup itu bangsat, sayang
kau berlari lalu orang lain yang dapat medali
kau berjuang, tetapi yang tiduran yang menang
kau diabaikan, hanya karena kau tak cantik lagi tampan
kau disingkirkan, hanya karena kau tak seukuran
hidup itu bangsat, sayang
kau tak boleh pergi sampai malaikat maut yang hampiri
kau tak boleh menyerah meski kau telah kehabisan gairah
kau tak boleh membangkang atau di hari akhirmu dipanggang
hidup itu bangsat, sayang
maka lihat aku sekarang
kokanglah pistolmu segera
lesatkan tepat di dada
salamkan pada semua dan katakan aku sudah bosan dengan dunia
karena, hidup itu bangsat, sayang
aku tertimpa gajah
yang lebih besar dari jerapah
juga lebih berat dari tong sampah
gajah berdiri aku berlari
dikejar aku jatuh
diinjak kembali aku mengaduh
kubangkit untuk jatuh
jatuh sebab rapuh
peluh sudah keruh
dan sakitku tak kunjung sembuh
4.5.18
Tuhan, saya menyerah
Bendera putih telah berkibar di atas tanah merah
dan sebilah pisau telah disiapkan untuk memancing darah
Bernapas di kota ini sudah tak lagi betah
Hidup sudah selayak sekotak sampah
Bikin bau bikin gerah
Tuhan saya mengaku kalah
Engkau yang MahaAgung dan saya tak ada sebiji zarah
Pada hidup kini sudah terserah
Sudahlah Tuhan, Sudah
Sudahilah saya yang hidup pun ogah
Kota Busuk, 2.5.17
aku akan pergi saat sepi
dan terkubur dalam sunyi
meninggalkan berlembar puisi
yang tak seekor pun kecoa peduli
juga tak seekor tikus pun mengerti
aku akan pergi ketika orang sibuk memulai hari
dan tak seekor ayam pun menyadari
jikalau aku lenyap tanpa pamit dan permisi
Selamat hari puisi nasional!
Seperti bola yang terus berputar, perlahan dan semakin lama semakin kencang menuju kehancuran
Semua hal sudah buyar, dipalu-palu godam, perlahan-perlahan sampai menjadi kepingan
Angin bertiup kencang, hempaskan segala yang terbang
Hujan deras, larutkan semua tanpa bekas
Aku membeku sebelum diam dipaku
Lindas saja terus, injak saja terus, hantam saja terus
Karena pada mulanya, hidupku hanya menunggu mampus
19.4.18
Kenapa harus menikmati hidup sedang hidup sendiri tidak nikmat?
Kenapa harus melanjutkan hidup sedang hidup sendiri tak ingin dilanjut?
Kenapa harus bahagia sedang definisinya saja fana?
Kenapa harus ada, ketika tidak pernah mau untuk ada?
Dan... kenapa harus dijawab dengan karena yang kadang terlalu mengada-ada
26.2.18
Pun selamanya gegap gempita di kehidupan yang kian kelabu
atau justru selalu muram di dunia yang kadang merah, biru, kuning, jingga, merah muda
kamu tidak akan selamanya menjadi yang terpuruk
tidak akan selamanya menjadi yang tertinggi
tidak akan selamanya menjadi tersayang
tidak akan selamanya menjadi yang terbuang
kamu tidak akan selamanya di tengah segala yang hanya sementara.
10.9.2017
Honestly, gue bukan tukang baca buku puisi atau sejenisnya. Kadang susah buat gue untuk paham maksud dari puisi meski gue kadang baca-baca aja tanpa peduli banyak untuk menelaah lebih jauh. Itu juga yang sering terjadi saat gue nulis racauan yang mungkin bisa dikatakan sebagai puisi, meski gue merasa itu terlalu memalukan disebut puisi. Tetapi... kata teman gue, gue harus menghargai karya gue. Sebenarnya, gue bisa aja menulis puisi di blog ini, cuma dulu, gue sedang senang meracau karena entah kenapa, enak aja nulis di aplikasi wattpad di HP. Sekarang sih, gue udah bosan dan udah lama banget nggak nulis puisi lagi. Gue nulis racauan kalau gue lagi merasa ga baik-baik saja, atau justru waktu baik-baik saja. Sayangnya, sampai sekarang susah buat gue untuk nulis sesuatu yang bahagia, biar gue lagi senang, kadang gue nulis yang menyedihkan. Oke, jadi di bawah ini ada beberapa kumpulan puisi abal gue.
Yang pertama, ada Abu-abu. Gue gabisa ngasih judul, dan abu-abu itu, puisi pertama dan posting pertama di akun gue. Akun gue namanya PlutoPamit. Dulu gue iseng, gue pengin kasih nama Pluto aja, tapi harus 6 karakter, jadilah gue kasih nama PlutoP, dan gue ubah jadi Plutopamit kemudian.
Setelah itu, gue nulis Juni untuk Juli, itu, proyek iseng gue nulis selama Juni-Juli.
Dan terakhir, ada The Escapist, ini masih on going sih, cuma karena gue memutuskan untuk puasa Wattpad, dan gue udah bosen publish di Wattpad, kayak lebih enak nulis di blog atau di word aja gitu, jadi dia terabaikan.
Yasuda, selamat puasa, semoga postingan ini bermanfaat.
pada merah yang membara dalam bertangkai-tangkai kelopakpada merah yang tersimpan candu-candu yang meliar dan menggebu-gebupada merah yang menyirat rindu-dendam yang tak berkesudahansudahkah bara memadam? dan duka berakhir tak terelakkan
Kau tidak perlu membunuh dirimu sendiri. Sia-sialah kau yang bunuh diri. Sebab kehidupan sesungguhnya tidak akan berhenti. Kita hanya akan pindah, dan terus begitu sampai entah.
Bertanya saja terus, memang siapa yang mau menjawab?
Menyangkal saja terus, memang siapa yang mau mengubah?
BASI!
Kau dan dunia sudah tidak lagi satu, hanya sama-sama saling tahu. Kau hanya meminta waktu sejenak, tidak lagi membentang jarak.Tidak ada lagi tua, sudah... sudah, sudah, semua hanya akan sia-sia.
Kau tidak akan bisa lari, kau tidak akan bisa hilang ditelan bumi, meski kau berlari sampai Pluto dan bersembunyi.
Semua akan dimulai semua akan diakhiri, tapi kau percaya sesungguhnya tidak ada kematian dalam keabadian yang semu itu. Entah, kau terima atau tidak, hidup akan terus bergerak. Bersiaplah menatap api, kalau-kalau saja tertolak dedaunan dan rerumputan hijau, kelak.
29.9.2016
untuk kau- perempuan yang menulis ini dalam diam.
Semua sudah berbahagia dengan caranya, tinggal kau yang memintal duka lagi nestapa
Semua sudah tertawa sampai pipis di celana, tinggal kau yang masih basah pipinya
Semua sudah berguling-guling kegirangan, tinggal kau yang berguling penuh raungan
kau adalah rupa yang hancur sebab citra dan laku hitam, yang ditumpahi jelaga, dengan sengaja.
berbahagialah dalam kelam yang kau cipta, sebab putihmu kau buang sia-sia.
23/9/2106
memang ada, waktu di mana tunggu dijawab jadi temu?
memang ada, waktu di mana temu berkerumun jadi candu?
memang ada, waktu di mana candu berserak lalu jadi rindu?
memang ada?
memang ada, waktu di mana hari dihitung dinanti?
memang ada, manusia yang berlari tiba-tiba berhenti?
memang ada, manusia tengah menari lalu berhenti dan musik bernyanyi sendiri
memang sudah tahu, mau ke mana dirimu?
memangnya... hidup harus ya, berlari buru-buru?
memangnya... hidupmu lomba lari? Berarti ingin segera finish alias mati?
memang bagus ya, tiap hari mengkomparasi diri?
memangnya ada yang penting dalam barisan kata-kata ini?
ah, setidaknya lebih penting daripada manusia tukang mengkomparasi udang dan besi.
31/5/2016
1;24 AM











