#FotoBercerita

Racauan Nikola tentang Mikola

Januari 15, 2021

 Sepertinya, sebelum kembali menulis  novel bernapas panjang, aku butuh pemanasan dengan rutin menulis Gambar Bercerita. Gambar Bercerita adalah kumilih gambar secara random, lalu kumenulis apa yang ada di kepalaku.

Selamat membaca ^^


sumber gambar


Nikola Tesla. Begitu lelaki kurus berambut berantakan itu memberiku nama. Berjuta kali ia menceritakan bahwa nama itu adalah nama fisikawan favoritnya. Tentu saja aku tidak tahu dengan jelas apa itu fisikawan. Setiap aku memandang lurus ke matanya untuk meminta penjelasan apa itu fisikawan, Miko --- nama lelaki itu--- malah beranjak ke rak kayu dan mengeluarkan bungkus snack kesukaanku. Aku tidak mengerti, apakah Miko sebenarnya tidak mengerti pertanyaanku. Atau... fisikawan sebenarnya berarti pemangsa kucing, dan ia menyembunyikan fakta itu dengan menutup mulutku dengan makanan. Aku harus mengakui bahwa makanan adalah penutup mulut paling ampuh, setidaknya bagiku.

Aku merasa nama ini terlalu panjang dan terdengar keren untuk seekor kucing domestik. Pasalnya, tetangga kamar kost Miko yang berambut seperti sarang burung, memelihara seekor kucing persia yang aduhai bulunya. Matanya pun bulat besar dengan hidup pesek sempurna. Si Persia ini dipanggil Dugong oleh pemiliknya. Jika saja kau tidak melihat betapa seksi liukan buntutnya, kau mungkin akan berpikir Dugong adalah kucing gempal yang bulat sempurna dan siap dijadikan bola. Dugong diadopsi beberapa minggu setelah aku tinggal di kamar kost Mikola yang begitu rapi. Mikola tidak pernah membiarkan spreinya berantakan, dan ia akan menumpuk buku berdasarkan warna. 

Omong-omong, izinkan aku bercerita bagaimana Mikola mengadopsiku. Ini bukan cerita yang tragis kalau-kalau tanganmu siap mengambil tisu. Aku adalah kucing tanpa nama yang lahir dari seekor betina di gedung tempat Miko berkuliah. Ibuku adalah kucing betina yang haus belaian dan begitu menggandrungi kucing garong berbulu kelabu yang tidak begitu tampan---konon ia ayahku juga. Jadi, begitu aku dan seekor saudaraku terlihat bisa tegak berjalan, ibuku meninggalkanku dengan pesan,"Hidup ini kejam, kamu bisa mati jika tak bisa bertahan." Kalau saat itu aku sudah sebesar saat ini---aku sudah melewati 7 purnama--- aku mungkin akan berkata,"Jika hidup ini kejam, dan Ibu tak bisa membuatku bertahan, untuk apa dan siapa aku dilahirkan?" 

Aku hampir mati kedinginan ketika Mikola menemukanku kehujanan di teras gedung kampusnya. Kembaranku sudah diambil seorang mahasiswi. Aku sebenarnya berlari mengejar kembaranku, tetapi manusia itu tidak menyadari. Tentu akan lebih baik kalau ia mengadopsi kami berdua. Oh, betapa malangnya aku. Ibuku yang bucin meninggalkanku, dan kembaranku diadopsi lebih dulu. Namun, Mikola datang seperti malaikat. Tangannya yang besar meraih badanku yang kurus kerempeng dan membungkusku dengan jaket hitamnya yang wangi.

"Ini obat cacing, dan kau harus meminumnya," begitu kata Mikola ketika sebuah jarum suntik tanpa jarum---sebagai kucing aku tidak tahu kata yang pas--- tepat di depan bibirku. Aku hanya menurut ketika cairan berwarna oranye kental dengan rasa asam itu masuk ke mulutku. Lalu Mikola berseru tatkala ada binatang menggeliat di bak pasir. 
"Cacingnya keluar! Cacingnya keluar! Hebat!" seru Mikola.
Cacing. Aku baru tahu kalau  bahwa seekor kucing bisa memelihara hewan di perutnya. Bukankah itu hebat, kawan? Lantas mengapa harus kukeluarkan?

Hari-hariku bersama Mikola sangat menyenangkan. Tubuhku mulai berisi, buluku mulai berkilau, dan Miko selalu mengajakku bermain. Sampai ... sampai Miko membawa bungkusan kabel-kabel. Sampai ia tidak pernah mengalihkan matanya dari benda kotak berlayar yang jika kau pencet-pencet, muncul sesuatu di layarnya. Kadang-kadang Miko berubah menjadi Miko yang tak pernah mandi karena menghabiskan waktu dari matahari terbit hingga kembali ke peraduan dengan kabel ini. Miko mulai mengabaikanku, ia pun kadang lupa membersihkan bak pasirku. 

Pagi tadi, Miko membawa bungkusan plastik makananku. "Kau boleh makan sepuasnya. Ada atau tiada aku, kau harus tetap hidup. Hiduplah dengan hati senang, Nikola Tesla," tiba-tiba Miko berkata demikian. Aku kembali memandanginya. Lalu seperti kesalahpahaman yang tak kunjung berakhir, Miko malah mengambil mangkuk makananku dan menuangnya ke mangkuk. Miko membiarkanku makan dengan lahap. Lalu ia mandi dan duduk di meja belajarnya.
"Kadang, kadang aku mau menyerah, Nikola Tesla. Kadang aku ingin mengakhiri apa yang tidak pernah kumulai. Kadang, kita tidak meminta dilahirkan tetapi diberi setumpuk beban," Miko menatapku. Aku sependapat, aku tidak pernah minta dilahirkan dari ibu yang hanya menginginkan bercinta dengan garong tidak tampan.

"Kadang aku ingin membelit leherku dengan kabel-kabel itu. Tentu enak, ya menjadi kucing. Orang-orang tidak berharap tinggi hanya karena kau pernah juara olimpiade fisika. Lalu, ketika harapan mereka kupatahkan, mereka kecewa dan marah. 
Bahkan sebelum aku marah dengan diri sendiri, aku sudah dimarahi," lanjutnya. Lalu kulihat ada air yang menetes dari pelupuk mata Mikola. Jangan! Aku tidak mau Mikola menangis. Aku tidak mau Mikola sedih! Dia sudah menyelamatkanku, dia manusia baik. Jangan! Mikola tidak boleh menangis. Aku hanya bisa mengeong dengan keras. Tanpa kutahu apakah Mikola tahu artinya adalah,"Jangan menangis, aku sayang padamu."

Mikola terlihat membuka sebuah botol, dan mengeluarkan banyak sekali pil. Mirip pil yang ia beri tiap aku flu. Tapi, aku hanya minum satu. Mengapa Mikola minum banyak sekali? Apa karena ia manusia?

"Terima kasih sudah membuatku lebih lama bertahan, Nikola Tesla-ku." Mikola meraihku, dan memelukku dengan erat. Ia berjalan ke tempat tidur, dan merebahkan dirinya di sana. Lalu meletakkannku di sampingnya. Mikola mungkin lelah. Aku akan menemaninya dan tidak akan mengganggu.

***

Mikola jahat. Mikola jahaaaat!
Mikola tidak tidur, Mikola tidur selamanya. Matahari sudah hilang ketika aku terbangun dan menemukan mulut Mikola penuh buih. Aku keluar lewat jendela dan memanggil tetangga Mikola, pria kamar sebelah pemilik persia cantik itu. Aku terus mengeong dan meminta Pria Kamar Sebelah melihatnya. Lalu, Pria Kamar Sebelah berteriak,"MIKO, KENAPA LU HARUS NYERAH? KENAPA HARUS MATI SEKARANG?"

Aku mengingat bagaimana benda di dadaku bertalu kuat begitu mendengar kata mati. MIKO TIDAK MATI. MIKO TIDAK BOLEH MENINGGALKANKU. AKU DENGAN SIAPA?

Lalu kamar kost Miko mendadak ramai. Raungan mobil putih berbunyi berhenti di depan rumah kost, mengeluarkan manusia yang kemudian membawa Miko entah ke mana. Itulah kali terakhir aku melihat Miko. Pria Kamar Sebelah sempat menenangkanku yang terus menerus mengeong. Ia pun membolehkanku tinggal di kamarnya bersama Si Persia Cantik. Sekalipun Si Cantik Dugong menggoda, aku tak niat bercinta karena begitu berduka.

Semua terasa menyedihkan. Aku seperti dihempaskan setelah hidup dengan damai. Kemarin, keluarga Mikola datang mengemasi semua barang lelaki itu. Mereka berniat membawaku, tetapi Pria Kamar Sebelah berkata bahwa surat yang ditulis Mikola berkata aku harus tinggal di rumah perempuan bernama Jane--- perempuan yang paling dekat dengan Mikola, begitu Pria Kamar Sebelah berkata. Hari ini Jane akan menjemputku, dan aku tak tahu bagaimana rupa wanita itu.

***

Seharusnya aku bahagia. Seharusnya, aku bahagia bertemu saudaraku yang ternyata tinggal bersama Jane. Aku terkejut ketika melihat perempuan itu berdiri di pintu, perempuan yang kulihat meraih saudaraku dan membawanya pulang. Seharusnya aku bermain bola benang dengan Alexander Volta---nama saudaraku yang juga fisikawan--- dan bukan merenung di balik jendela.

Mengapa Mikola meninggalkanku, padahal ia menyayangiku?

Mengapa Mikola meninggalkanku tanpa memberiku penjelasan apakah fisikawan itu sebenarnya?

Jika aku mati, apakah aku akan bertemu Mikola nantinya? Karena aku tidak bisa menjanjikan hidup dengan senang setelah ditinggalkan.

====END===

Lampung, 15 Januari 2021


#Imajinasi

Puisi-puisi abal gue di Wattpad

Mei 29, 2017

Honestly, gue bukan tukang baca buku puisi atau sejenisnya. Kadang susah buat gue untuk paham maksud dari puisi meski gue kadang baca-baca aja tanpa peduli banyak untuk menelaah lebih jauh. Itu juga yang sering terjadi saat gue nulis racauan yang mungkin bisa dikatakan sebagai puisi, meski gue merasa itu terlalu memalukan disebut puisi. Tetapi... kata teman gue, gue harus menghargai karya gue. Sebenarnya, gue bisa aja menulis puisi di blog ini, cuma dulu, gue sedang senang meracau karena entah kenapa, enak aja nulis di aplikasi wattpad di HP. Sekarang sih, gue udah bosan dan udah lama banget nggak nulis puisi lagi. Gue nulis racauan kalau gue lagi merasa ga baik-baik saja, atau justru waktu baik-baik saja. Sayangnya, sampai sekarang susah buat gue untuk nulis sesuatu yang bahagia, biar gue lagi senang, kadang gue nulis yang menyedihkan. Oke, jadi di bawah ini ada beberapa kumpulan puisi abal gue.
Yang pertama, ada Abu-abu. Gue gabisa ngasih judul, dan abu-abu itu, puisi pertama dan posting pertama di akun gue. Akun gue namanya PlutoPamit. Dulu gue iseng, gue pengin kasih nama Pluto aja, tapi harus 6 karakter, jadilah gue kasih nama PlutoP, dan gue ubah jadi Plutopamit kemudian.




Setelah itu, gue nulis Juni untuk Juli, itu, proyek iseng gue nulis selama Juni-Juli.



Dan terakhir, ada The Escapist, ini masih on going sih, cuma karena gue memutuskan untuk puasa Wattpad, dan gue udah bosen publish di Wattpad, kayak lebih enak nulis di blog atau di word aja gitu, jadi dia terabaikan.


Yasuda, selamat puasa, semoga postingan ini bermanfaat.

#FotoBercerita

Tjurhat si Boy

Februari 09, 2017






Nama saya Boy dan saya kucing. Perut saya buncit dan karena itu beberapa kucing lain seenaknya memanggil saya Si Gendut. Saya tentu enggak suka dengan panggilan itu. Biar Ibu memberikan nama kuno seperti Paimin atau Samijan pun, saya tetap lebih menyukai dipanggil begitu daripada Si Gendut. Saya memang sedikit buncit, tetapi kucing lain tidak sepantasnya memanggil saya seperti itu.
Kucing-kucing sering memanggil kucing lain dengan sebutan yang tidak hewani. Kucing yang tidak pintar sering di panggil Si Bebal, Si Bodoh, atau Si Tolol. Padahal, tidak ada kucing yang benar-benar menerima dipanggil Si Tolol sekalipun ia mengerti bahwa dirinya bodoh dan teramat tolol.

Sudahlah, terlalu banyak mengeluh tidak akan membuat saya menjadi kurus. Saya hanya perlu lebih banyak bergerak agar saya menjadi kucing yang lincah. Apa yang dilihat mata itulah yang terekam pertama, kucing-kucing melihat saya sebagai kucing yang gendut, dan saya hanya perlu tidak memperdulikannya. 
**



Merasa sudah lama tidak bermain-main di blog dan terlalu sering meracau tidak jelas di tempat lain. Dan kurasa kuharus kembali ke dunia jingga yang lain yaitu blog. Mungkin dimulai dari gambar bercerita dan meracau sesuka hati.


#Imajinasi

89

April 27, 2016



Nyaris
tragis
Hampir
dipinggir
Mepet
Nyerempet
Tipis
Meringis
Sadis
Manis
Tepian dihempas
Penghujung jumpalitan

(20/4/2016)

#Imajinasi

Lempar #flashfiction

Februari 03, 2016

Saya merasa terengah-engah. Kopi yang ketiga sudah tinggal ampasnya. Tentu ini kopi asli, bukan kopi mainan yang terlalu banyak aksesorisnya. Ini kopi asli yang bijinya saya giling sendiri. Dan saya bubuhkan 123 butir gula. Kira-kira sebanyak itu. Ah, mengapa malah membicarakan kopi. Mari pindahkan sorot kamera ke sebelah kiri. Ya, itu, dia. Ya, dia yang berdiri di depan pintu sambil membawa nampan kopi. Sejak tadi dia hanya terpaku. Tidak, dia menjerit tiap kali saya melemparkan kursi, sendok, pensil, piring, gelas, baju kotor, dan segala hal yang saya rasa enak untuk dilempar. Dia asisten rumah tangga. Lebih tepatnya pembantu di apartemen saya yang tidak terlalu besar ini. Bukan saya yang mau ada pembantu, ini ulah paduka ratu yang melahirkan saya delapan belas tahun lalu.
Dia bertanya mengapa saya melakukan itu. Dan saya jawab dengan tatapan tajam, menghunjam, yang kalau dia pintar dia akan mengartikannya sebagai perintah diam. Sayangnya dia tidak sepintar yang saya kira. Dia malah ikut-ikut menjatuhkan nampannya. Dia dengan mudahnya menghancurkan mug kesayangan saya. Benda yang saya yakini tidak akan saya lempar dalam situasi seperti saat ini. Saya menjerit. Dia berteriak. Saya memekik. Dia tertawa. Loh, kok jadi begini? Seharusnya dia tidak tertawa. Tapi kemudian dia berbalik. Masuk ke ruangan kecil dengan kasur lipat dan lemari kecil, tempat dimana ia biasa tidur.
Saya terduduk di sofa yang sudah tertumpah kopi, penuh baju kotor, dan pecahan piring. Lalu otak saya mengelana. Mengapa bisa seberantakan ini sedang saya punya asisten rumah tangga. Maka saya berjalan ke ruangan kecil itu. Mengetukkan pintu sambil berseru memanggil namanya yang saya rahasiakan. Pintu tidak kunjung di buka. Terkunci lagi. Dengan kuda-kuda, saya tendang terjang pintu itu. Berkali-kali. Hingga saya lelah sendiri.
Saya berjalan ke lemari es dan meminum yogurt. Hanya ada itu. Mungkin saya perlu ke swalayan nanti. Memenuhi kulkas dengan berbagai panganan yang mau membahagiakan saya. Setelah merasa segar, saya dobrak pintu itu. Dan berhasil. Saya menari-nari merayakan kehebatan saya mendobrak pintu.
Kini saya menatap sesosok perempuan yang terduduk di kasurnya. Tubuhnya berserah pada tembok. Matanya tertutup rapat. Dan spreinya yang putih berganti motif menjadi polkadot dengan cipratan-cipratan darah segar. Di tangannya ada sebilah pisau dan garpu. Ya Tuhan. Ada apa ini? Dia bunuh diri? Mati? Kenapa lucu sekali.


Ya ampun ini apa yaaa. Gak tau ah ini nulis apaan >.<

#Imajinasi

Analogi coklat pahit, udang goreng, dan orang kelaparan.

Januari 11, 2016

Analoginya adalah, jangan mengeluh coklat yang ditanganmu pahit di depan orang yang nggak makan 2 hari.

 Saya menulis itu tadi sore di akun media sosial saya. Sebuah kesimpulan yang didapat dari kegelisahan dan kecemasan yang saya rasakan. Sebuah manifestasi pemikiran yang mengelana ke belantara. Bahwa ada hal yang sesungguhnya sangat ingin tidak saya pikirkan, sebab pikiran itu bisa melukai diri saya sendiri. Dan kalimat yang saya posting di media sosial itu mungkin akan coba saya jabarkan di sini.

Ilustrasinya misalkan saya lapar. Saya punya coklat hitam yang saya tahu pahit. Lalu di depan saya, seseorang mengunyah udang goreng yang enak. Saya ingin udang goreng itu, tapi uang saya belum cukup. Orang yang punya udang goreng itu pergi dan saya duduk menghabiskan coklat yang tidak enak. Seseorang duduk lesu. Mengaku tidak makan dua hari. Maka sebuah kesalahan besar kalau saya berkata," Dih,Coklatnya nggak enak." di depan orang kelaparan yang mungkin menerima apapun selama halal dan bisa dimakan. Dan kesalahan besar lagi jika si pemilik udang goreng mengeluh udangnya kurang pada saya yang memakan coklat kepahitan.
Saya pernah merasakan bagaimana rasa menjadi orang kelaparan di ilustrasi itu. Saya pernah merasakan bagaimana memakan coklat pahit dan mendamba udang goreng. Saja juga pernah memakan udang goreng yang saya tahu ada orang yang menginginkannya. Dan satu hal yang saya harus ingat. Bahwa saya tidak boleh mengeluh coklat saya pahit sekali di depan orang kelaparan. Silakan diartikan sendiri sesuai pemikiranmu

#Imajinasi

Surat Chero #1

Desember 19, 2015


 Surat Chero #1

Kepada Kaisha Btari Zechmeister
Jadi kurasa sekarang sudah waktunya kita hentikan semua perdebatan tempo dulu. Kalau saja masih ada ingatan itu di otakmu. Sebab aku tidak yakin, gebrakan dan siraman kopimu ke kemejaku masih tercetak di memorimu.
Begini. Aku tahu, bahwa hujan, senja, dan pelangi-mu itu adalah hal yang bisa didramatisasi seenakmu, sesukamu, sekacanganmu, atau seintelektual yang kamu bisa. Aku tahu bahwa hujan bagimu syahdu, meresonansi ingatan, dan entah apa sebab aku sudah lupa semua itu.
Kaisha, aku hanya ingin kamu menoleh sesekali. Kepada trotoar, semangka, tiang listrik, kapur tulis, bola, apapun itu terkecuali hujan-senja-pelangi. Bejibun Kaisha  kata yang ada di KBBI. Begitu banyak hal dan kata yang bisa diurai selain hujan-senja-pelangi milikmu itu! Sebab aku takut obsesimu itu suatu hari menimbulkan halusinasi, delusi, apalah itu. Aku hanya pernah membaca sekali di buku psikologi.
Kaisha. Menarilah bersama paku payung, wortel, air comberan, dan apapun selain air hujan. Bosan. Bosan aku mendengar ucapanmu. Kamu selalu berkata,”Aku menari. Menari aku. Hujan dan aku. Aku dan hujan menari,” bedebah Kaisha! Aku hapal di luar kepala!
Kaisha. Berhentilah berkata,”Jingga-jingga-jingga. Sewarna senja. Merona menghambur cahaya,” keparat Kaisha! Aku mematri nyanyianmu. Enyah! Enyah!
Dan Kaisha. Berhenti mengucap,”Pelangi tujuh warna. Hidupku ceria. Hujan deras  tiba tapi berujung warna-warni bahagia.” Duh Kaisha! Otakku dengan bodoh mengingatnya!
Maka Kaisha, sebelum otakku terus dijejali obsesimu pada hujan-senja-pelangi, berhentilah. Mari berhenti Kaisha, jika tidak kurangi. Sebab dunia masih ada matahari, kerikil, spidol, jepit jemuran, dan lainnya.
Bagaimana Kaisha? Kutunggu hari ini di lantai tiga seperti biasa. Tanpa hujan-senja-pelangi.

Salam sehangat kuah mi,
Chero Che Santrock

#FotoBercerita

Burung Hantu di Lengan kiri #FotoBercerita

Juni 18, 2015

Di temukan di Pinterest

Aku diam memandang secarik foto yang tak sengaja kutemukan di antara tumpukan foto-foto yang terselip di binderku saat kuliah dulu. Sebuah lengan dengan tato burung hantu yang kupuja setengah mati. Tato yang kubuat 27 Februari 5 tahun yang lalu, saat aku masi. Aku ingat, minggu-minggu awal setelah si burung hantu bertengger di lenganku, hariku kulalui dengan kemeja lengan panjang atau kaus sebatas siku. Tak seperti bangkai yang akhirnya tercium baunya, tato burung hantuku ini pun terlihat oleh Dad di suatu pagi.
"Apa yang ada di lenganmu itu?" tanyanya ketika aku berjalan menuju kulkas. Dad duduk manis di meja makan dengan secangkir kopi hitam yang nyaris tandas. Aku terdiam dan memandang pakaian yang kukenakan, hanya kaos dalam yang sudah pasti memerlihatkan goresan tangan Andrea ini.
"Ta..tato," jawabku terbata. Dadaku berdegug kencang menunggu makian.Kualihkan pandangan ke isi kulkas, mengambil sekotak susu cair stoberi.
"Bagus sekali,ya! Sudah dilarang menggambar malah menggambari lengan," sindir Dad dengan tatapan mata yang tertuju pada lengan kiriku. Aku menunduk dan berjalan menuju kamar.
"Odrei!" panggil Dad. Oh, tidak memanggil, ia berteriak. Aku menoleh dan kembali berjalan.
"Mau jadi apa kamu hah? Tatoan begitu? Kamu tahu tidak kalau tato itu menyulitkanmu bekerja, belum lagi agama kita...," racauan dari mulut Dad terdengar. Tak kuhiraukan dan tetap berjalan menuju kamar. 
Dan setelah itu, pertengkaran membahas tato terus berlanjut. Hingga ia bosan, hingga Dad memilih memakiku untuk hal yang lain. Kami selalu berdebat, kami tak pernah sependapat. Hingga aku memutuskan pergi. Meninggalkan Dad, Mami, Nath, dan semua kehidupan tak menyenangkanku.
Dua tahun awal perginya diriku adalah tahun-tahun awal yang paling berkesan sepanjang 23 tahun usia hidupku. Aku bebas menggambar, melukis, mencipta kembali komik dari segala ide liar yang Dad bilang tak masuk akal. Aku menikmati kesendirian di tempat yang sepi. Atau menyendiri di keramaian manusia tak di kenal. Aku menyanjung hidup nomadenku. Sampai insiden keparat itu tiba. Merengut tangan yang selama ini kugunakan untuk menulis, menggambar, memegang kamera. Tangan kiriku sudah tidak ada. Aku hanya punya selembar foto hasil bidikan  Cika. 
"Simpan ini Odrei, kenang-kenangan bahwa lu punya tato kece di lengan," sahutnya dulu. Aku menyimpannya Cika, bahwa cuma ini yang membuktikan aku punya lengan memukau dengan tato menawan.



aaaaak. Main Pinterest dan melihat tato itu. Keren yak, sayang tato haram u.u. Dan ingat Ode. Ah tau ah.


#Imajinasi

On his mind.#ff

Mei 12, 2015

Kemarin, pulang kuliah entah kenapa langsung ngambil buku and write this. Belum selesai atau mungkin hanya sampai sini, aku juga nggak tahu. Lelaki yang ada di cerita ini hanya minta diceritakan kisahnya meski belum berakhir. Enjoy it. Mau kritik saran juga boleh :)


Symphony No.40 in G Minor milik Mozart memenuhi ruang pendengaran saya. Pelantang dengar terpasang rapat di kanan dan kiri telinga. Saat ini saya merasa sedang berlari, berusaha pergi dari kenyataan kejam yang saya takuti. Saya tahu bahwa kenyataan bedebah dan menyakitkan itu tidak akan pergi sekuat apapun saya berteriak mengusirnya. Mungkin saya sedang menyangkal. Meski saya paham benar menyangkal adalah kesia-siaan.
You know, you must face the truth. Stop asking ‘why’ .
Bukan, itu bukan perkataan saya. Seorang lelaki tua berjambang putih dengan topi kuning yang mengatakannya pada saya beberapa hari lalu. Tidak, kami tidak mengobrol atau saling mencurahkan masalah. Saya sedang menunggu bus ungu nomor 37 yang saya yakini bisa mengantarkan saya ke surga barang sejenak. Lelaki itu datang dengan tas coklat yang ia rapatkan ke kemeja putihnya yang lusuh. Ia memandang saya dan berkata,”Dear, You know, you must face the truth. Stop asking ‘why’ . “ . Saya tidak menanggapinya, saya malas berbincang-bincang dengan siapapun sekarang. tidak ada orang di dunia ini yang bisa saya percaya. Tapi dengan bedebah, ucapan kakek tua itu terpatri di otak saya. Lihat, saya ingat setiap katanya sekarang, bukan?
Tak lama setelah mendengar ucapan kakek tua itu, bus nomor 37 datang dan saya meninggalkan si kakek. Bus itu berhenti di depan sebuah bar dan saya masuk ke sana. Memesan berseloki-seloki minuman setan. Apapun nama minuman beralkohol yang terdengar indah di telinga, saya pesan malam itu. Seperti, “Welcome to the jungle”, “Imagine Cow” sampai “Red or blue or black or yellow, bullshit !”. I know... saya tahu mabuk adalah hal buruk. Tapi saya sedang menyangkal apapun sekarang. Bersama cairan fermentasi laknat Tuhan saya melayang. Terbang ke langit lapis sekian dan tertawa sepuas setan. Bahwa saya hanya bisa tertawa dan menertawakan nasib saya bersama “Red or blue or black or yellow, bullshit!” dan dentam-dentum musik yang tak pernah menertawakan apa yang saya teriakkan. Malam dimana saya mabuk itu saya melihat cahaya berkilauan. Mungkin malaikat, tapi sudikah makhluk suci itu masuk ke bar?
Pelantang dengar masih berbunyi, memutar simfoni Mozart yang lain. saya menutup mata, menikmati hembusan angin yang menerpa pori-pori kulit saya. Cuaca cerah namun angin membuat saya tak gerah. Bisakah saya menjadi angin? Yang bisa berhembus sesukanya. Dari utara ke selatan, dari barat ke timur laut. Bisa dengan manja berayun di dahan pohon atau kesetanan dan menjadi angin ribut atau badai. Lalu malu-malu dan berhembus pelan tanpa terasa.
Serotonin, oksitosin, dopamin, dan endorfin. Apalagi? Apalagi hormon yang menyebabkan manusia jadi bahagia?
Ada sebuah teori busk yang sangat saya benci setengah mati. Teori itu berkata bahwa semua bermula dari otak, dari pikiran kita. Ya, semua yang kita rasakan dan pikirkan bermula dari benda menyerupai agar-agar yang terombang-ambing di kepala dan ditahan cairan yang tidak pedulilah saya akan namanya.
Jadi, ketika saya sedih sebab otak. Saya resah karena otak. Saya senang karena otak. Bodoh saya karena otak. Sebab otak pula saya pintar. semuanya sebab otak. Saya benci teori itu mungkin karena memang benar. Dan saya makin benci ketika saya merasa resah, saya hanya bisa menyalahkan otak. Bukan kaleng soda di depan mata saya, bukan gadis cantik yang mengerling manja di sudut bar, atau pengemis buruk rupa. Segala kesalahan, kesedihan, dan tawa saya berasal dari otak. Terpujilah engkau ketika saya bahagia dan terkutuklah engkau ketika saya sengsara, otak.
Musik yang katanya dapat mengubah perasaan menjadi lebih ceria tak menimbulkan apa-apa Saya sedih sekarang. dan makin sedih tidak ada yang bisa saya salahkan. Terlebih semuanya salah otak dan menyalahkan otak sama saja menyalahkan diri sendiri.
Serotonin, oksitosin,dopamin, dan endorfin. Mungkinkah saya sedang miskin mereka sekarang? Hingga saya tidak bahagia d merasa hancur lalu ingin kabur. Apakah jika hormon itu melonjak, saya bisa bahagia? Bisakah mereka menyelesaikan masalah pelik saya? Saya tidak percaya, tapi tidak ada yang salah untuk mencoba.
***
Lelaki kurus itu menghampiri saya ketika saya duduk di taman kemarin. Menawari pil-pil dengan harga selangit yang warna-warni dan menarik hati. pil itu tersenyum pada saya.
“Bisa menaikkan serotonin, dopamin, oksitosin, endorfin?” tanya saya.
“Ah, Anda bicara apa Tuan? Yang saya tahu bahwa Anda bisa bahagia jika Anda menelan pil ini. Anda akan merasa seperti di surga, melayang tanpa batas dan lupa semua masalah Anda. Lihat, saya terlihat bahagia bukan? Hahaha.”
Saya mengamati lelaki itu, dari rambutnya yang keriting, matanya yang cekung namun terlihat bergairah dan semangat, bibirnya menghitam dan terus menyungginggkan senyum sambil tertawa. Saya butuh bisa tersenyum dan tertawa seperti dia. Saya butuh senang, saya butuh, saya menginginkannya.
Maka saya menguras uang yang ada di bank, mengubah digit yang saya miliki demi pil warna-warni yang terus tersenyum pada saya.
Malamnya saya menelan sebutir pil tersenyum berwarna pink. Pil yang saya yakini mampu mendongkrak kadar serotonin, dopamin, Oksitosin, endorfin dan tentu pemicu bahagia dan segala tawa. Malam itu saya merasa manusia paling bahagia. Saya melihat semua orang tersenyum pada saya, mereka ada di langit-langit kamar. Bahkan adik saya yang sudah mati pun tertawa di langit-langit.
Ada rasa nyaman dan tenang. Senyum saya terus terkembang bersama tawa yang membahana. Saya telan lagi pil bahagia itu. mendadak semua orang yang ada di langit kamar menghilang. Saya kesal, namun dua ekor kelinci dengan jas datang. mereka lucu sekali. Kelinci dengan pita merah memegan mikrofon dan si pita hijau memegang tamborin. Belum menyanyi saja saya sudah tertawa, kelinci-kelinci itu lucu sekali dan mereka bergoyang-goyang. Si pita merah memulai nyanyiaannya. Tidak ada masalah sampai ia lupa lirik di bait kedua baris kedua,pula.

“When the blazing sun is gone. When nothing.... when nothing... when nothing... nothing....”
Kelinci berpita merah menunduk menyembunyikan pipinya yang gembil dan memerah karena malu. Meski begiyu ia tetap mengulang-ulang ‘when nothing’. Si pita hijau terlihat asyik sendiri memaikan tamborinnya, tidak peduli dengan si merah dan menari-nari sendiri.
“When nothing shines upon!” seru saya. Si pita merah merona bahagia, melanjutkan nyanyiannya. Tapi ia selalu lupa baris kedua.
Di bait ketiga ia lupa “thanks you for your tiny spark” dan terus menggulang-ulang “thanks you”
Di bait keempat ia terus berkata “And often through” dan lupa bahwa lanjutan tiga kata itu adalah “my curtains peep”.
Bait terakhir ia hanya meracau “the dark” ketika seharusnya “ lights the traveller in the dark”.
Saya bertepuk tangan sambil terengah-engah sebab lelah menertawakan si kelinci. Saya ingin lagi, lalu menelan pil kuning. Tak lama setelah pil itu saya telan, kelinci-kelinci itu undur diri. Saya diam sambil memandangi kaca di depan saya. Sampai seorang raksasa hitam dengan mata kuning tertawa dan mendekati saya. Saya bersembunyi di balik selimut dengan lutut bergetar dan dada bergemuruh kencang. Air mata saya jatuh dan mulut saya memanggil nama Tuhan. Tapi, apakah Tuhan dengar teriakan saya?
*


Popular Posts

My Instagram