#JustWrite

In Memoriam Cio Chihiro

April 02, 2019

Bahwa kepergian tanpa pertanda selalu melipatkan duka.
Foto terakhir Co
Saya tidak tahu mengapa saya kerap menulis di blog ini jika kucing saya tiada. Kadang saya pikir, dengan menuliskan salam perpisahan, saya akan mengikhlaskan. Maka hari ini,  selepas Cio pergi, saya membuka blog yang sudah jarang saya kunjungi untuk menulis segala hal yang mungkin bisa memudahkan saya mengikhlaskannya.
bayi Cio


bayi Cio
Namanya Chihiro, seperti nama anak di Spirited Away. Hanya saja Chihiro jantan. Karena nama itu begitu panjang, ia  dipanggil Cio. Cio lahir 12 September 2018 bersama Lulu, Popo, dan Poki. Poki sendiri terkena virus waktu masih 50-an hari dan meninggal. Sejak kecil, Cio tumbuh jadi kucing yang lucu dan menggemaskan. Manis, pintar dan manja. Namun, ia terserang jamur saat usia 2-3 bulan. Jamur yang bandel karena sudah hampir sembuh, tiba-tiba kembali. Jamur yang bikin buntut cio gundul dan beberapa bagian tubuhnya botok. Jamur yang bikin Cio nggak kelihatan lucu secara fisik. 
Dari belakang Popo, Lulu, dan Cio
Nggak hanya jamur, Cio juga kena semacam stroke setelah Poki meninggal. Dia jadi murung dan sedih terus. Susah makan, dan mukanya nggak happy lagi. Cio stres sampai kepalanya tengkleng, semacam miring ke kiri. Hal yang bikin dia nggak bisa nengok dan berputar-putar. Tapi sebulan belakangan, miring di kepalanya sudah nggak begitu. 
Cio sudah sembuh dari jamur sebulan ke belakang. Dia sudah suntik jamur di puskeswan dua kali, diberi salep, dan akhirnya sembuh karena dimandikan dengan bubuk belerang. Cio udah sehat, udah makan lahap, udah kembali happy.
Cio adalah jenis kucing yang penyayang. Dia sayang semua kucing, bahkan adik-adik bayinya pun di asuh. Pun, dia manja dengan kucing domestik yang seolah-olah jadi pengasuhnya dari kecil. Cio seperti anak kecil lucu yang selalu baik hati yang nggak ada dia, kerasa sekali.

Cio dan endorsement.
Biasanya, dia bakal duduk di bawah meja laptop dan duduk di keyboard kalau mulai cari perhatian. Biasanya, dia ngikutin ke kulkas untuk minta makanan apa yang bisa dia makan. 
Biasanya, dia minta buah-buahan yang saya makan karena dia suka. Cio suka durian, alpukat, sampai duku.
Biasanya, dia tidur sama saya. Menjilati kepala saya dan mengusap-usap kepalanya di kepala saya seolah saya kucing. Kalau sedang jahil, dia akan menggigiti hidung dan membuat kesal. Namun, beberapa minggu terakhir, Cio sudah bisa mengurangi kenakalan-kenakalan itu. Dia bisa tidur di samping saya dengan rapi. Masuk ke dalam selimut kalau dingin, dan membangunkan kalau pagi.
hari-hari ketika Cio mulai depresi.
Cio ngajarin saya banyak hal. Termasuk menerima tanpa syarat. Kalau menyayangi kucing nggak hanya ketika lucu, tapi juga mau urusin waktu keadaan kayak Cio yang mungkin kelihatan nggak menarik. Cio ngajarin untuk baik dan ramah. Dia selalu berlari ke pintu kalau ada siapapun yang datang dan berusaha dekat. Cio menemani saya di hari-hari saya merasa begitu kelam sejak akhir tahun dimulai. Di hari-hari saya gagal, depresi, dan merasa dunia gelap sekali. Ada banyak kucing di rumah, tetapi bisa jadi Cio yang paling dekat.


Pagi itu, 30 Maret, saya menanam bunga di belakang. Biasanya, Cio akan menemani saya. Duduk di sebelah dan mengganggu. Namun, pagi itu tidak. Cio tidak ada dan saya mengira ia bermain di kebun dengan Popo dan Lulu. Ternyata tidak, Cio tidak ada. Saya mengelilingi rumah berkali-kali. Mengguncang-guncang toples makan sambil memanggil namanya, tapi Cio tidak datang. Padahal, dia adalah yang tercepat datang jika dipanggil. Ibu saya mencari di Puskesmas, tidak ada. Saya semakin khawatir kalau-kalau ia masuk sumur puskesmas yang terbuka ---dan pada akhirnya saya tutup kemarin.
Saya ingat, saya bilang ke mama saya, saya yakin kalau Cio akan pulang.
Cio dan kambing-kambing 

Cio memang pulang, tapi berpulang pada Tuhan. Sorenya, Pap mencari lagi di puskesmas, dan di dalam kolam ikan puskesmas, di balik eceng gondok, ada Cio. Ada Cio yang tercebur dan sudah tiada. Ada Cio yang mungkin terjatuh dari pagar beling Puskesmas dan masuk ke kolam. Ia jarang keluar lewat pagar itu, tetapi mungkin ia naik ke sana dan ketika turun malah nyemplung. Keseimbangan Cio tidak begitu bagus karena kepalanya yang miring.
Sore itu Cio dikuburkan tetapi saya tidak ingin melihatnya. Saya nggak bisa bayangin gimana Cio kedinginan di sana, gimana dia meminta pertolongan tapi nggak ada yang menolong. Jika saja bukan Sabtu, pastilah petugas puskesmas yang biasa duduk di pinggir kolam mendapatinya. Sayang, Cio nggak tertolong.

Satu hal yang membuat saya sedih adalah, Cio sudah sembuh dan kembali bahagia, harus meninggal dengan cara yang menyakitkan. Cio sudah berjuang untuk kembali berbulu normal, dan ketika itu terjadi, ia malah dipanggil Tuhan.
Bulu Co mulai tumbuh.
Saya ingin berandai jika saja saya mengajak Cio menanam bunga dan tidak membiarkan ia mengganggu Mbah saya masak sampai akhirnya memutuskan pergi main lewat naik genting, mungkin Cio masih ada. Tapi seandainya itu jahat. Cio nggak akan kembali. Cio sudah pergi terkubur dan mungkin bertemu kembarannya, Poki. Cio sudah senang di sana.

Terima kasih untuk semuanya, Co. Maafkan kalau Cici sering galak kalau Co nakal, gigitin dan cakar kaki Cici. Cici sayang Co selalu. Semoga kita bertemu di kehidupan baru nanti. Semoga Cici bisa kuat kayak Co.
Sleep tight, Co.


Goodbye Chihiro. Tidur yang tenang, Co.

#JustClick

Mochino #foto

Februari 28, 2015

Setelah kemarin saya menulis tentang Tomitom kucing saya, nampaknya Mochino akan iri kalau dia tidak ditulis dan fotonya ada di blog saya.
Mochino adalah kelinci saya, dia ada di rumah saya sejak usianya kira-kira setahun saat saya kelas 1 SMA. Jadi sekarang, umur Mochino sekitar 5 atau 6 tahun. Mochino laki-laki, dan karena sulit mencari pendamping Mochino ( kelinci betina yang agak dewasa), maka Mochi masih single dan available.
Hidup bersama manusia dan sekumpulan kucing di rumah membuat Mochi bertingkah seperti kucing. Mochi makan nasi, dia akan berdiri tiap ada orang yang ke dapur kotor. Berdiri adalah kode Mochi minta makan. Selain nasi, Mochi suka tempe, tahu, sayuran (tentu saja) dan Mochi sering meminta ikan Tomitom.
Mochi suka tertawa jumawa memakan sayurnya ketika kucing-kucing berebut ikan, dia merasa tak ada saingan. Mochino tinggal di bawah kursi bambu di dapur kotor. Mochino akan pup di bawah jendela kamar L, sebab dulu disitu adalah batu kerikil dan seperti kucing Mochino suka sok mengubur pupnya. Tapi semenjak di semen, Mochino tetap pup dan pipis disitu, tapi Papa akan membersihkan Pupnya tiap hari .


Tanpa kisah cinta, ini foto-foto Mochino...

17 September 2011
2 September 2011
27 November 2011
27 November 2011
27/11/11 ( Mochino dan Odindut)
25 Maret 2012 ( Mochino& Odindut)
25 Maret 2012 ( Mochi nemu bungkus coki-coki -.-)


9 Juli 2013
       

1 Januari 2015. Mochi mungkin kenyang (dan minta mangganya dikupasin)
7 Februari 2015
Juli 2013
17 Februari 2013

Terima kasih sudah melihat foto Mochi :)

#FotoBercerita

Apa Hidup Harus Diakhiri Sendiri ? #FotoBercerita

Februari 27, 2015


#FotoBercerita adalah menu baru di blog ini. Saya akan menuangkan imajinasi,pikiran, dan saudara-saudaranya dari foto yang saya ambil atau temukan di website lain ke dalam bentuk tulisan.

foto diambil 13/11/2010 di Pelabuhan Bakauheni ( manusia yang loncat itu tidak bunuh diri, hanya mempertontonkan aksi memungut koin nantinya)

Apa Hidup Harus Diakhiri Sendiri ?

Jika saya bertanya padamu, apakah sebaiknya saya mengakhiri hidup saya saja, mungkinkah kamu akan berkata ya? Orang-orang seperti kamu yang hidup dalam keluarga bahagia, hidup berkecukupan, dan selalu dikelilingi orang baik mungkin berkata ,"Jangan'!" Saya tahu sebab saya sudah pernah bertanya. Saya tahu sebab teman saya, Tono namanya, ia malah menceramahi saya panjang lebar tentang penting hidup, pentingnya menjadi khalifah di bumi sebab Tuhan sudah menugaskan. Saya hanya terdiam, menyangkal Tono sama saja menambah jumlah waktu ceramahnya yang gratis itu.
Lalu jika saya bertanya pada kamu yang hidup menderita, akankah kamu menjawab 'jangan' seperti Tono ? Atau kamu malah berkata,"Ide bagus, mari akhiri hidup kita bersama!". Saya belum pernah menanyakannya.

Oh ya sebelumnya nama saya Mian.. Hanya Mian tanpa embel-embel Frederick,George,atau Steve. Sebelum kamu mengatakan yang tidak-tidak tentang saya, bolehkah saya bercerita sedikit tentang hidup saya ? Hari ini saya ulang tahun, kalau tidak salah ulang tahun yang ke-20, sebentar saya cek dulu KTP saya. Hahaha, ternyata hari ini ulangtahun saya ke-23. Saya sendiri sering lupa tahun lahir saya, orang-orang seperti saya tidak terlalu memperdulikan ulang tahun dan semacamnya. Itu hanya sebagian dari omong kosong yang diciptakan para orang kaya untuk membahagiakan diri mereka dan tentu saja menghabiskan uang.
Saya lahir di tepi pantai di Ketapang, sebuah daerah yang tidak jauh dari Pelabuhan Bakauheni. Ayah saya nelayan dan Ibu saya bekerja di rumah Pak Parmin, Ibu mengurusi rumput-rumput laut yang ditanam lelaki gendut itu. Masa kecil saya bahagia. Yang saya sebut masa kecil adalah bayi hingga 6 tahun, sebab setelah itu bahagia hanyalah kata yang ada di KBBI, bukan kamus kehidupan saya. Saya bisa menerbangkan layangan di pinggir pantai, Ikut Ayah menangkap ikan dengan perahunya ketika libur sekolah, mengejar kepiting-kepiting lucu, atau berenang, keterampilan yang harus dimiliki anak-anak yang hidup di pinggir pantai. Sebab kamu tidak akan ditemani siapapun kalau kamu tak bisa berenang, permainan kami kebanyakan di air.
Petaka itu tiba ketika Ayah hilang. Seperti biasa, Ayah pamit pada saya dan saudara-saudari saya menjelang magrib. Namun Ayah tak kunjungi kembali. Tiap malam sehabis mengaji di mushola, saya tak pernah bermain dengan yang lainnya. Saya mendadak menjadi Mian yang selalu berdoa Ayah masih hidup. Hingga sepuluh hari kemudian, Wak Uji dan Kang Emil menemukan patahan perahu Ayah, sepotong papan berwarna merah dengan nama Mian yang di cat putih. Saya menangis ketika itu, menjerit-jerit, memeluk papan itu dengan erat. Semua berkata ,"Sabar ya Mian,". Mereka berkata begitu mudah, seakan berkata,"Selamat Ulang tahun Mian,". Hati saya runtuh kala itu. Sampai sekarang, saya selalu merindukan Ayah dan nyanyian karangannya sendiri. 
Akulah si Pelaut Pemberani
Penangkap ikan di lautan
Tenggiri,tuna, tongkol, dan simba
Masuk dalam jaring-jaringku
Akulah Si Pelaut pemberani
Tak takut badai, tak takut ombak
Sebab kerjaku untuk hidup orang banyak

Yang jelas, hidup kami yang awalnya sederhana berubah menjadi merana dan sengsara semenjak Ayah tak ada. Kakakku Mina yang saat itu kelas 1 SMA putus sekolah, ia pun pergi ke Jakarta.Kak Mina menjadi pembantu rumah tangga di sana. Saya yang masih SD tetap bersekolah, hanya dua adik kembar saya, Amin dan Iman terpaksa keluar dari taman kanak-kanak. Ibu tidak sanggup membiayai kami. Saya berubah menjadi anak yang pendiam kala itu. Saya mencari berbagai pekerjaan untuk bisa membantu itu. Saya yang sekecil itu dipaksa dewasa, sebab sayalah anak lelaki pertama. Ibu tak pernah meminta anak tujuh tahunnya ini bekerja, tapi Ayah pernah berkata,"Mian, kamu lelaki.Kamu yang bertanggung jawab pada keluarga ini kalau Ayah mati."
Saya mencari kepiting untuk dijual, mengambil kelapa di pesisir pantai, keliling kampung sambil membawa bakwan,pisang goreng, dan tempe goreng buatan Ibu. Hingga saya ikut Bang Itom ke Pelabuhan Bakauheni, kau tahu apa yang saya lakukan? Berenang di dekat kapal dan menangkap koin-koin  yang dilempar orang dari atas kapal. Mereka tampak bahagia melihat saya menangkap koin koin itu dengan mulut, dan saya bahagia mendapat uang tambahan.
Waktu berjalan, saya lulus SD dengan hasil cemerlang. Teman-teman saya melanjutkan sekolah ke SMP, tapi tidak untuk saya. Saya berhenti sebab saya tahu diri. Si kembar sudah SD dan saya harus membantu Ibu. Uang Kak Mina tidak sebanyak dulu semenjak ia menikah dengan Sopir Taksi di Jakarta sana. Saya tidak ingin melaut seperti Ayah, saya takut hilang dan keluarga saya merana. Maka saya berjualan pop mie dan kopi di Pelabuhan Bakauheni. 
Dan kehidupan yang sebenarnya dimulai. Preman yang memalak saya seenaknya, jam tidur yang sudah kacau tambah berantakan, dan dagangan yang saya tinggalkan di depan mushola dicuri adalah fakta bahwa hidup terlalu busuk untuk saya. Lebih lagi Ibu malah menikah dengan lelaki sialan, duda tanpa anak yang lebih muda dari Ibu. Yang jelas Ibu pindah entah ke mana bersama si kembar.Dibutakan cinta Ibu hanya berkata," Kamu mau ikut Ibu atau tidak?" dan ketika saya hanya terdiam Ibu malah berkata,"Kamu tidak mau meninggalkan rumah kita ini ya? Kamu mau dekat dengan lautan dan mengenang Ayah? Kalau begitu jaga dirimu ya?"
Ibu macam apa itu? Saya hanya menangis dalam diam ketika Ibu membawa Iman dan Amin ke Colt Diesel pria brengsek itu. Di usia lima belas, saya sudah menjadi sebatang kara karena Ibu meninggalkan saya. 
Saya tidak tahu kenapa Tuhan memperlakukan ini semua pada saya. Apakah Tuhan yakin saya manusia kuat hingga berbagai cobaan Dia hantamkan pada saya. Hidup di pelabuhan yang keras membuat hati saya membatu. Sudah lagi, Marina, perempuan yang saya cintai lebih memilih lelaki pilihan  orangtuanya. Lelaki kecil, hitam dan keriting yang jadi PNS di kantor bupati. Kadang harta bisa membutakan, bukan? Di usia 20 saya patah hati. 
Saya sendirian. Tak ada orangtua, dan keluarga dari Ayah maupun Ibu tidak menyukai saya sebab mereka dahulu kawin lari. Tak ada cinta, Marina yang membuat saya makin merana. Dan kalau begini, untuk siapa saya hidup? Untuk siapa? Tidak ada. Tidak ada yang saya perjuangkan pula dalam hidup yang terlalu dramatis ini. Atau saya yang mendramatisir? Entahlah.
Maka saya sudah di tepi tebing ini, tebing di tepian pelabuhan. Jika saya terjunkan diri dan mati, mungkin sudah waktunya. Mungkin memang hidup harus saya akhiri sendiri. Jika saya masih hidup setelah ini, akan saya cari jawaban, mengapa hidup saya belum berakhir...


#JustWrite

Street Photography, sesuatu yang mungkin harus saya coba.

Februari 27, 2015

Saya membaca sebuah artikel di Hipwee tentang Street Photography kemarin. Dan entah mengapa saya jadi tertarik melakukannya. Sebagai pemula yang memotret karena suka, menangkap foto orang di jalanan mungkin akan membuat saya bahagia. Saya selalu senang bisa memfoto serangga yang ada di kebun sebelah rumah saya, meski pada akhirnya badan saya akan merah-merah semua karena digigitin nyamuk atau serangga lain. Karena nggak semua situasi membuat saya bahagia ketika memfotonya. Sebab bagi saya memotret seperti bermain. Memainkan kamera, saya tidak terlalu peduli pada teknik sebab tujuan saya memotret adalah menyenangkan hati. Terlalu banyak teknik bisa membuat saya pusing duluan. Haha. Baiklah, akan saya share kalau saya sudah melakukannya.

#JustClick

Kucing-kucing yang diduga sebagai pacar Tomitom

Februari 23, 2015

Sebelum memberi tahu padamu, siapa saja kucing-kucing lelaki yang dicurigai sebagai pacarnya Tomitom, akan kuperkenalkan siapa itu Tomitom. Kamu bisa meninggalkan tulisan ini sekarang kalau kamu pikir menggosipkan seekor kucing yang beranjak remaja adalah tindakan kurang kerjaan. Sejujurnya aku memang sedang tidak ada kerjaan sekarang, dan daripada menulis yang aneh-aneh maka aku akan menulis tentang Tomitom. Kadang aku berpikir menulis hal ini masuk kategori aneh
dari kiri : Miga - Tomitom - Sitam

Tomitom adalah seekor kucing hitam. Benar-benar hitam! Namun begitu bulunya sangat lembut. Tomitom dilahirkan oleh Miceng, seekor kucing yang indera penciumannya memburuk semenjak sebuah tulang ikan yang besar menyangkut di giginya dan beberapa hari kemudian aku bersama mamaku berhasil mengeluarkan tulang itu. Tomitom lahir bersama saudara-saudaranya, sayangnya mereka mati. Hanya Tomitom yang hidup. Ibu Tomitom sendiri sudah dua kali mengandung dan melahirkan bayi yang menggemaskan. ( Yang anehnya setiap aku pulang untuk berlibur, aku menjumpai Ibuk - nama panggilan untuk Miceng) . Sayangnya anak sang ibu selalu berakhir di kuburan kucing di belakang rumahku. Sebagian dari mereka mati karena distemper ( Ini hasil hipotesaku yang selalu ingin jadi dokter hewan tiap melihat kucing sakit) dan 2 atau 3 meninggal di bunuh kucing garong. 
Ibu kucing hanya memiliki Tomitom, dan sampai sekarang, Ibu kucing masih menyayangi Mitom. Mereka sering saling memandikan dan bercanda. Tomitom suka menggoda Ibunya dengan memainkan buntutnya.

Tomitom Agustus 2014
Oya, Tomitom ini perempuan. Namanya saja yang kelaki-lakian. Ini semua salahku yang mengira ia lelaki ketika bayi. Ovira bertanya siapa namanya, dan kujawab Timoty, tapi ia salah dengar dan selalu memanggil Tomitom. Oh ya, Tomitom adalah kucing yang baik. Ia sering bermain dengan kelinci jantanku yang sudah tua ( 5 tahun cukup tua kan untuk kelinci), mereka sering berkejar-kejaran mesra atau saling berebut makanan. ( Kucingku dan kelinciku sama-sama suka tempe)
Aku sudah mengaduk-aduk file dan tidak menemukan foto Tomitom yang bagus. Ia memang kurang bagus difoto. Hanya hitam saja kebanyakan fotonya.

Baiklah. Sesuai judul di atas, aku akan menuliskan kucing jantan terduga teman dekat Tomitom
  1.  Miga Cul 
 Kata Ovira namanya Miga. Tapi gigi Miga ( taringnya) keluar dan kupikir itu seperti gingsul. Jadi kutambahkan Migacul alias Miga gingsul. Miga sering dipanggil Icul juga. Kucing tampan ini sering menginap dan makan di rumah kami. Ia berteman dengan Tomitom sejak pindah ke daerah rumahku. Papanya adalah seekor kucing garong putih-kuning dan tidak ada yang tahu siapa mamanya. Ovira bilang Miga adalah teman sekolah Tomitom. Miga selalu ada dimana Tomitom ada. Umur mereka tidak terlalu jauh. Tapi hubungan mereka renggang semenjak Tomitom punya adik dan mayat bayi kucing tergeletak tanpa badan di ruang baju rumah kami. Miga dicurigai sebagai pembunuh adik Tomitom, dan ini membuat Ibu Tomitom marah tiap Miga muncul.
Yang jelas, Miga selalu 'bertanding' melawan kucing-kucing lelaki yang mendekati rumah kami. Mungkin Miga dan Tomitom terperangkap di  friend zone.


2. Si Tampan yang matang dan mapan.

Oke,aku tak tahu siapa nama kucing ini. Ia tinggal di perumahan Puskesmas atau mungkin perumahan Koramil dan berlari jika manusia mendekat. Jika ia manusia, mungkin ia adalah lelaki tampan dan mapan yang siap menikah yang suka pergi ke tempat fitness. Dia susah sekali di foto.
 Foto-foto di samping di ambil dari jarak yang jauh dengan zoom sampai ujung di suatu pagi yang cerah di hari Minggu. Saat itu Tomitom, Miga, dan Sitam (panggil saja begitu) bertemu dan hanya saling bertatapan. Ettah apa yang diperbincangkan dalam keheningan kucing-kucing itu.













3. Si Manis Pemalu yang ngapel depan pintu.

Aku juga nggak tahu namanya siapa. Tapi aku pernah lihat dia di rumah Pak Camat, mungkin saja dia kucingnya Pak Camat, tapi Pak Camat baru saja pindah. Dia datang di suatu siang dan adikku Ovira memfoto pertemuan mereka. Namun saat ovira mendekat, Sinilu ( singkatan : Si manis pemalu) lari. Sinilu seperti seorang lelaki imut-imut yang malu dan bikin geretan di film-film. Kupikir Tomitom menyukainya sebab mengingatkannya pada Odindut, kakeknya. Seekor kucing jantan (tampan) yang mengasuh bayi-bayinya karena sang ibu pergi (bersama garong lain). Agak aneh ya,kucing lelaki merawat anak-anaknya. Aku nggak tahu kelanjutan hubungan mereka sebab sekarang aku lagi gak di rumah.



Aku nggak tahu sekarang Tomitom pacaran dengan siapa. Yang jelas kalau aku pulang Tomitom hamil/melahirkan, mereka bertiga adalah kucing yang dicurigai menghamili Tomitom. 




Baiklah. Terima kasih bagi yang sudah membaca pikiran dan spekulasi ngelanturku. Semua foto diatas (kecuali foto pertama), menggunakan Canon Ixus 95is ( yang sekarang dipakai Ovira untuk belajar memotret).

#AnakKost

Cerita Perjalanan Pulang Ke Rumah Kemarin #latepost

Februari 18, 2015

" dalam kata pulang, perjalanan adalah hal yang menyenangkan"
Ossy Firstan



Kuliah dinyatakan selesai ketika saya meninggalkan kost dengan ransel hitam, slingbag Papa, dan tas laptop hitam yang tak berisi laptop, tetapi kain dan buku. Saya berjalan dari kost menuju halte BST yang ada di depan. Menunggu bus datang. Tadinya, saya berharap koridor dua saja. Tapi yang datang malah koridor satu. Dan saya memutuskan untuk menaikinya. Beruntung saya mendapat tempat duduk, sebab hari itu ramai sekali. Bus BST penuh, baik yang duduk maupun berdiri.

KA Krakatau setelah menurunkan penumpang di St.Senen.
Hampir sejam saya berada di BST hingga akhirnya saya turun di halte yang tepat berada di depan Stasiun Purwosari. Stasiun padat, tapi saya bersyukur masih ada tempat duduk. Mbah saya yang kebetulan ada di Solo dan tadinya berniat pulang bersama saya datang. Singkatnya, saya masuk ke area penumpang, pamit, dan tak lama Kereta Krakatau datang. Lebih cepat dari jadwal.  Kereta datang 12:40 sedang di jadwal 12:50. Padahal biasanya kereta telat 5-10 menit.

13 B, begitu yang tertulis di tiket. Saya masuk ke gerbong 4 atau 5 (saya lupa), menemukan kursi saya dan meletakkan tas di bagasi atas.  Di sebelah saya sudah duduk seorang ibu-ibu yang naik dari Kediri dan turun di Cilegon, berdasarkan pembicaraan singkat, beliau lulusan FSSR UNS tahun delapan puluhan. Perjalanan berjalan seperti biasa. Saya mengudap makanan, membaca komik yang dibawa, menyumpal telinga dengan lagu dan tentu tidur. 
Kereta memasuki Jakarta dan senyum saya terkembang. Tentu saja karena satu per satu penumpang habis. Saya langsung berpindah ke kursi lain, untuk apa lagi kalau nggak untuk.... TIDUR!

Tapi nampaknya Tuhan ingin perjalanan kali ini nggak sesepi biasanya. Di stasiun entah apa namanya masuklah serombongan anak-anak yang saya taksir usianya masih belasan atau SMP-lah. Mereka datang bersama seorang wanita dewasa dan laki-laki dewasa. Entah darimana jam 1 malam begini mereka menghambur ke gerbong. Saya sedang menguasai salah satu kursi ketika perempuan dewasa itu ngomel-ngomel nggak dapat kursi. Saya pun memilih ke kursi saya tadi, ibu yang duduk di samping saya kini tidur di depan saya. Mungkin karena hari libur, maka kereta ramai. Sudah jam 1 malam dan berarti sudah berganti tanggal menjadi 31 Desember. Kereta terus berjalan, namun tetap saja telat. Sangat telat malah.
Jika di jadwal tiba 02:27, nyatanya saya tiba di Stasiun Merak sekitar pukul 03:30. 
Gerimis mewarnai perjalanan saya dini hari itu. Loket dekat stasiun yang kosong, memaksa saya berjalan ke loket yang nun jauh disana. 15 ribu adalah harga yang harus saya bayar untuk sebuah penyebrangan. Jujur saya tidak pernah menyebrang sendiri sebelumnya, dan karena saya belum paham banget seluk beluk Pelabuhan Merak. Saya percayakan pada insting setelah bertanya pada 2 lelaki yang satu kereta dan mereka nggak tahu ( dan lebih kebingungan dari saya)
Saya lupa saat itu dermaga mana yang yang sedang dibuka, tapi sepertinya dermaga enam. Virgo 18, nama yang terpampang. Lumayan bagus kapalnya. Untuk sampai ke tempat penumpang, saya harus naik eskalator. Kapal terlihat ramai, ruang lesehan terlihat penuh dengan laki-laki. Saya putuskan untuk duduk di sofa food court, memesan segelas teh seharga sekotak teh celup. Saya pikir tak apa,anggap saja membayar kursi seperti kalau naik kapal dan pindah ke kelas eksekutif.

Saya menyesap teh hangat dengan perlahan, baru setengah gelas saya teguk ketika seorang ABK datang dan memberitahu ke ABK (kali ini ABK, anak buah kapal, bukan anak berkebutuhan khusus) yang berjaga di pintu untuk menyuruh semuanya pindah kapal. Saya menoleh.
"Bongkar kapal, Mbak. Ayo turun," ujar seorang ABK. Saya memakai tas saya, menjinjing tas laptop dan keluar dari Kapal. Saya menengok ke belakang, namun belum ada penumpang lain yang turun. Namun suara pramugari kapal terdengar. Salah seorang ABK lain memberi tahu saya jalan keluar.

Waw, ini mengagetkan,

#JustClick

Jepret Jepret Mainan Hello Kitty

Agustus 01, 2013

                Yippe!! Jadi setelah sebulan lalu berlibur di rumah tidak menghasilkan tulisan apapun, baik novel acak-acakan atau posting unek-unek di blog dan rencana meresensi novel-novel yang gagal akibat terbiasa langsung nulis di badan blogger sedang jaringan ndat ndit ndut. Sekarang aku mau share hasil jepretanku. Udah 2 minggu yang lalu sih, tapi karena jaringan ndatnditndut,terserang flu dan faktor X lain jadilah baru hari ini ku posting di blog.
Jadi awalnya aku hanya punya sebuah mainan Hello Kitty dari sebuah minimarket, kemudian mamaku belanja untuk thr kantornya dan mendapat 10 mainan itu, yang kemudian dibagi 2 dengan teman mamaku. Alhasil aku punya 6 dan 1 diberikan ke sepupuku.
Nah selamat menikmati jepretanku, ada beberapa yang ku edit di warna dan kecerahannya Saran dan kritik silakan comment ya "))'

Blue Terhimpit di gua.. (baca : batu bata)

Violet di kangkung mama
Greeny Di daun talas
bersama lampu tidur HK raksasa. *berasa jalan-jalan ya mereka
Blue!
"am i cute?"
Si Merah Muda diatas pohon Buah Naga
Bersama-sama di rerumputan

#JustClick

Gantungan HP Viki #Foto

Mei 25, 2013

Baiklah, jadi Jumat kemarin peksos kosong, maka mahasiswa-mahasiswi luar biasa sudah keluar jam 10an. Untuk yang kostnya deket dan punya kendaraan pulang adalah jalan terbaik
Tapi untukku yang malas jalan dan pulang berpotensi tidur dan bangunnya susah, menghuni lobi dan shelter bersma Opie dan Wara adalah rutinitas di hari Jumat, karena ada matkul di jam 13.30
Singkatnya, aku bingung mau ngapain, novel sudah ludes, nggak bawa laptop,maka ketika menemui gantungan HP viki yang lucu jepret-jepret deh
Ini beberapa jepretannku..
Masih belajar.. *dan masih berharap punya kamera Mirrorless atau DSLR ^___*

 


Ceritany yang cowok menginggal  :(

Ini ceritanya main perosotan, dan besi ini sebenernya besi untuk meletakkan tong sampah


Ini di letakkan di Pohon



Yak itu aja..
Selamat Siang...

#JustClick

Cimeng Si Ulat Bulu #Foto

Mei 25, 2013

Kamis lalu, aku mengerjakan tugas kuliah bersama Opie, Sixma, dan Wara. Saat itu kerjaan kita hampir beres, tinggal finishing dan setuhan akhir, maka Opie dan Six asik menonton Malam Minggu Miko di youtube, aku berkutat dengan laptopku dan Wara, ah aku tak begitu jelas apa yang dia lakukan. Hingga ia berteriak dan berlari.
Usut punya usut ternyata ada ulat bulu kuning dan langsung saja kunamai cimeng.
 Ini beberapa foto cimeng yang berhasil tertangkap si camdigku. Lucu banget ^__^



Udah gitu aja..

Popular Posts

My Instagram