#JustWrite

Memang ada ? (puisi)

Mei 31, 2016

memang ada, waktu di mana tunggu dijawab jadi temu?
memang ada, waktu di mana temu berkerumun jadi candu?
memang ada, waktu di mana candu berserak lalu jadi rindu?
memang ada?

memang ada, waktu di mana hari dihitung dinanti?
memang ada, manusia yang berlari tiba-tiba berhenti?
memang ada, manusia tengah menari lalu berhenti  dan musik bernyanyi sendiri

memang sudah tahu, mau ke mana dirimu?
memangnya... hidup harus ya, berlari buru-buru?
memangnya... hidupmu lomba lari? Berarti ingin segera finish alias mati?
memang bagus ya, tiap hari mengkomparasi diri?
memangnya ada yang penting dalam barisan kata-kata ini?
ah, setidaknya lebih penting daripada manusia tukang mengkomparasi udang dan besi.

31/5/2016
1;24 AM




#JustWrite

Malam (Puisi)

Mei 31, 2016

malam pekat tak jadi memikat
lupa ia jatuhkan hujan sampai esok pagi di waktu solat
malam rupanya letih
diguyur hujan sampai tanah berbuih
disambar petir sampai gemetar
lalu gegar gemuruh yang menggelegar

malam ingin sekali saja terkapar
biar sepi jangkrik-jangkrik berhenti berdendang
biar gila katak-katak sehari tak bernyanyi
biar saja angin bersembunyi 
biar saja rembulan tak bersinar
lalu bintang enggan terang benderang


malam hanya ingin dinikmati
malam hanya ingin diramaikan
malam hanya ingin ditemani
bukan ditinggal pergi atau bergelung sendiri


#Imajinasi

89

April 27, 2016



Nyaris
tragis
Hampir
dipinggir
Mepet
Nyerempet
Tipis
Meringis
Sadis
Manis
Tepian dihempas
Penghujung jumpalitan

(20/4/2016)

#JustWrite

Motto-motto yang sebenarnya pengin ditulis di skripsi tapi...

April 27, 2016

Ada beberapa motto yang ingin saya tulis di halaman motto skripsi. Namun, beberapa kalimat mungkin akan dicoret dosen, dan beberapa saya coret dulu karena sudah yakin akan dicoret.

1. Procaffeinating, so first, coffee
Karena... ketika saya belum ngopi kadang saya cuma bengong, ngantuk, meracau nggak jelas, atau mainan. Jadi kopi berperan penting dalam segala aspek kehidupan saya, tentunya

2. Pantang pulang sebelum sidang
Ya, walau kenyataannya setelah sidang saya mengurusi birokrasi dahulu demi bisa wisuda, tapi reinforcement berupa tiket pulang-yang sebenernya, ya... saya bisa pulang kalau saya mau- efektif mendorong diri saya untuk begadang, mengerjakan skripsi, dan berguling-guling dengan revisi.

3. Berhasil tidak untuk dipuji, gagal tidak untuk dicaci maki, sebab yang penting adalah berarti.
Dibalik kalimat tersebut, intinya, yang penting skripsinya jadi. Dan saya ga terlalu suka dipuji, tapi nggak suka juga dicaci. Dan niat awal itu  jadi berarti, setidaknya buat diri sendiri.

4. Semua yang hidup pasti mati, maka semua yang dimulai pasti diakhiri.
Intinya sih saya cuma mau bilang, skripsi yang dimulai, kalau ada usaha, doa, dan usia pasti selesai juga.

5. Kemenangan adalah mengalahkan dia yang ada tiap engkau berkaca.
Ehem. Jadi... saya berpikir bahwa cepat atau lambatnya kita bergantung diri kita. Ada pengaruh dosbing dsb, tapi semuanya tetap balik lagi ke diri sendiri.


Itu dulu deh, kalo inget saya tambah hawhawhaw

#JustWrite

Antitesis

April 27, 2016



Antitesis.


an·ti·te·sis /antitésis/ n 1 pertentangan yg benar-benar.



Ya. Kadang saya tak ingin berumur panjang. Mungkin, jika boleh memilih saya hanya ingin sampai ujung 20-an saja. 28,29 begitu. Entahlah. Saya tidak punya bayangan akan berumur panjang. Tidak ada. Pun seperti tidak mau. Tetapi, di malam-malam ketika saya sleep apnea atau sleep paralyzed, atau keduanya, saya ketakutan. Ketika saya sesak napas dan tidak bisa bangun, lalu otak saya ketakutan dan merapal memanggil Tuhan. Ketika suatu hari saat tidur dan saya ‘ketindihan’, dada saya sesak, jantung saya bertalu lebih kencang, saya merasa seperti berhenti sesaat—ini hanya perasaan saja— dan takut mati saat itu juga. Saya berpikir,bagaimana kalau saya mati di kamar kost? Teman kost saya tidak tahu kalau saya sudah ‘pergi’ dan mengira saya pulang, atau memang sedang tidak mood meracau.
Saya tidak mau berumur panjang tapi takut menghadapi kematian.
Selain Tuhan, tidak ada hal yang saya percaya di dunia selain kematian. Sebagaimana saya sudah hidup pasti saya akan mati. Sebagaimana ada mula yang akan diakhiri.
Saya tahu hidup adalah soal keberanian. Waktu SD, keberanian adalah ketika saya mengangkat tangan ketika ditanya siapa yang mau disuntik lebih dulu. Atau sejak kuliah mungkin keberanian saya adalah pergi ke sana ke mari sendiri. Termasuk ketika kereta sampai pelabuhan dini hari dan sepi. Tapi sejak 19 tahun, keberanian bagi saya adalah berani menghadapi hidup. Menghadapi ketakutan yang sebenarnya saya yang menciptakan. Bahwa saya tidak punya musuh selain sosok yang ada tiap saya berkaca. Yang menciptakan pertanyaan aneh. Yang membuat saya takut. Yang menenangkan saja juga pada akhirnya.Saya tidak mengerti mengapa saya terlalu memikirkan keberadaan saya di sini. Memikirkan Tuhan maunya saya ngapain, gimana, dan dijebloskan di mana.
Saya enggak tahu usia saya sampai angka berapa. Entah saya akan pergi lebih cepat dari keinginan saya atau justru lebih lama. Terserah Tuhan. Mungkin saya harus memantaskan diri menghadapi kematian. Saya kira memantaskan diri untuk bertemu Tuhan adalah suatu hal yang bisa membuat saya tidak takut dengan hidup. Jika saya lahir lebih cepat dari seharusnya, tidak menutup kemungkinan saya pergi lebih cepat dari manusia pada umumnya kan?
Saya belum juga berani.
Saya masih takut mati dan segala konsekuensi perbuatan saya ketika hidup. Dan takut hidup yang berimbas pada hidup setelah mati.
Ah, malam makin pekat.
Sekian.

Popular Posts

My Instagram