#AnakKost

Solo, izinkan untuk segera hengkang

September 04, 2017

Setelah sejak Agustus 2012 gue tinggal di Solo, gue merasa bosan, jenuh, dan ketidakbetahan sejak Agustus 2017. Tidak ada yang salah dari sebuah kota yang tentu lebih maju dari tempat gue tinggal. Tidak ada yang salah dari kota yang menurut gue cukup ramah, murah, dan nyaman. Yang salah adalah gue, gue yang mudah bosan.
Biasanya, gue ga pernah berniat pulang waktu lebaran haji karena memang nggak sempat. Tapi sekarang, gue menyengaja pulang, membawa. sebuah buku tebal untuk melanjutkan bab dua tesis yang tak selesai-selesai. Belum juga sebulan dan gue merasa tidak betah. Rasanya berat sekali untuk kembali ke Solo, padahal liburan juga tak terlalu lama, gue beberapa kali liburan hampir dua bulan karena dirapel dengan libur lebaran.
Gue belum tahu akan ke mana gue setelah lulus, siapa yang akan menerima gue sebagai pekerja atau apa yang akan gue lakukan. Tetapi gue jadi merasa ingin segera lulus, gue jadi merasa ingin segera menyelesaikan tesis gue sebelum gue makin jenuh. Tetapi gue nggak mau juga kehidupan gue sekarang sampai gue lulus besok terganggu karena ketidakbetahan ini. Gue harus kembali membiasakan diri untuk menyamankan diri gue di sana. Gue belum bekerja, dan gue pikir gue bisa menyegerakan kelulusan dengan fokus nulis tesis dan nulis fiksi/novel gue.
Gue tahu kalau gue pasti akan merindukan kota ini ketika gue sudah entah di mana. Gue pasti akan kangen dengan lapak buku bekas gladak, kain-kain di klewer, PGS, Beteng, dan kampus gue tentu saja.
Tetapi untuk saat ini, gue merasa jenuh, bosan, ingin segera mengepak barang dan pindah untuk selama-lamanya. Bukan salah kotanya, salah gue yang pembosan. Maka Solo, izinkan gue untuk segera hengkang.

#AnakKost

Baru Datang Sudah Ingin Pulang

Agustus 05, 2017

Benar sekali, baru Sabtu pagi kemarin saya diantar Papa ke Merak dan naik bus ke Solo siangnya. Baruuuu... banget. Sayangnya, entah kenapa saya jadi ingin segera pulang lagi. Entah karena Mama saya bilang kalau bisa lebaran haji pulang (dan saya emang udah rencana dari zaman puasa untuk pulang pas Idul Adha) atau saya merasa libur masih kurang, mengingat di rumah cuma sebulan (dan mengingat biasanya hampir 2 bulan kalau libur semester).
Pinterest.com
Biasanya, saya akan bayar kuliah dari rumah pakai autodebet. Biasanya, saya akan krsan online dan nitip teman untuk tanda tangan krs. Tapi ini... bahkan saat pembayaran belum dimulai saya udah di sini. Yah, salah saya juga sih cepat-cepat, tapi kan ini pilihan. 

Tapi entah kenapa, saya merasa nggak sabar untuk segera akhir bulan. Rasanya kalau di rumah, waktu berjalan cepat sekali. Kalau di sini... semua bergantung apakah hari itu saya sibuk apa nggak.  
Mungkin saya memang harus pulang untuk berlebaran, karena dari tahun 2012, saya cuma pulang untuk lebaran idul fitri aja. Mungkin saya pulang sebentar saja, kalau lebaran hari Jumat, mungkin saya pulang Selasa atau Rabunya dan kembali ke Solo Seninnya. 
 Saya nggak tahu, mungkin saya akan pulang saat akan lebaran haji, dan kembali lagi ke Solo dan baru pulang saat saya sudah selesai sidang tesis. Mungkin saya harus kembali seperti skripsi dulu, berkomitmen untuk 'Pantang Pulang Sebelum Sidang' mulai September ini. Kalau nggak gitu, saya nanti nggak semangat. Bisa jadi saya malah akan pulang terus yang bisa-bisa menghambat kelulusan. Saya mau kuliah cepat selesai karena saya tahu, kuliah itu mahal. Dan selama Agustus ini, saya harus mengusahakan proposal saya selesai segera agar bisa ujian proposal.
Ya, saya memang ingin pulang dan dekat dengan keluarga dan kucing-kucing saya. Tapi saya tahu, saya punya tanggung jawab untuk menyelesaikan apa yang saya mulai untuk mereka.  Semoga tugas akhir saya bisa lancar. Amin

#AnakKost

Kembali Keluar Zona Aman (Racauan Ketika Tesis akan Dimulai)

Juli 29, 2017


Gue baru saja tiba di Solo kemarin pagi, setelah terus-terusan menunda keberangkatan ke sini dengan berbagai alasan. Kayak, mau buat ATM baru, kereta yang biasa dinaiki gak ada lagi trayeknya, dan sebagainya. Sebenarnya, gue di rumah nggak lama-lama amat, pulang tanggal 22 Juni dan ke sini tanggal 28 Juli. Karena sebenarnya pun, masuk kuliah itu tanggal awal September di kalender. Tapi namanya rumah, kalau nggak ingat gue harus mulai menyicil memulai tesis, mungkin gue baliknya abis lebaran haji sekalian.
Pinterest.com
Bagi gue, terutama setelah kuliah di Solo, rumah itu tempat pelarian, tempat gue merasa aman damai dan terbebas dari kecemasan. Rumah itu zona aman gue, dan tiap terlalu lama berada di zona aman, gue harus kembali menyesuaikan diri untuk bisa terbiasa lagi.
Gue ngerasa, gue ga memaksa untuk segera ke Solo kemarin. Rasanya, gue ingin lama di rumah sebelum balik ke Solo untuk menyiapkan diri bergulat dengan tesis. Sekarang, gue nggak tahu apa gue benar-benar siap, tapi gue juga sadar kalau lebih baik gue memulai daripada menunggu siap. Gue nggak tahu gimana pembimbing gue nanti, kesibukan mereka, dan masalah-masalah lain, jadi gue pikir lebih baik gue memulai sekarang.
Gue selalu berusaha meyakini, apa yang dimulai pasti akan diakhiri, karena umur manusia pun begitu. Belajar dari skripsi gue yang pada akhirnya selesai, gue mikir kalau tesis gue pun akan selesai.Yang gue butuhkan adalah konsisten, ketekunan, kesabaran, dan rajin berdoa, hal-hal yang gampang ditulis tapi kadang susah dikerjain. Dan sebenarnya, makin hari gue makin sadar kalau kadang masalah yang ada itu lebih ke masalah gue sendiri, gue suka cemas yang berakhir nunda tugas, padahal waktu gue kerjain yang akhirnya bisa (walau kadang nggak kayak yang gue harapkan).
 Gue sadar kalo hidup bukan lomba lari, yang gue tahu, kalau gue mau lari ke finish, yah gue harus fokus sama lintasan gue. Lintasan tiap orang berbeda jadi nggak baik untuk banding-bandingin.
Gue sadar sekarang, kenapa rumah adalah zona aman gue setelah gue kuliah. Karena waktu pulang ke rumah, gue benar-benar pulang, berlibur, mendekam di rumah dan menikmati hari-hari bersama keluarga dan kucing gue. Di rumah gue nggak mikirin mau makan apa hari ini karena selalu ada makanan, gak mikirin betapa tingginya cucian kotor karena ada mesin cuci, nggak mikirin tugas-tugas kuliah karena lagi libur, dan semua itu berimbas ke menurunnya kecemasan gue kalau di rumah. emang sih, gue masih mikir dan takut soal masa depan di rumah, tapi nggak seseram pas gue jauh dari rumah.
Pada akhirnya, gue emang harus ketemu tesis lagi dan memulai dramanya yang gue harap berjalan lancar sehingga gue cepat lulus. Bukan apa sih, uang kuliah dan biaya hidup kan mahal, jadi gue harus segera lulus untuk ngeringanin orangtua gue. Kalau ditanya mau jadi apa setelah lulus, gue ada pikiran, tapi gue nggak tahu apa takdir gue ke sana atau gak. Papa nyuruh gue untuk lebih realistis dalam hidup, dan mungkin pada akhirnya gue harus bekerja, nggak kuliah terus, dan yakin aja Tuhan akan kasih gue pekerjaan yang baik dan menyenangkan nanti.
Gue memutuskan untuk rehat dari wattpad dulu sampai sidang tesis atau paling ga, sampai gue udah mau selesai. Mengingat waktu gue skripsian kemarin, agak terjadi kelambanan akibat gue malah nulis puisi dan 24. Ya, walaupun sekarang gue nggak bisa lagi meracau kayak dulu, atau racau-racau itu memang akan keluar waktu gue rada stres dan semacamnya. 

By the way, gue masih bingung apakah gue pulang atau tidak lebaran ini. Gue pengen pulang dan berlebaran karena gue nggak pernah lebaran haji dari 2012.  Gue mikir, seminggu di rumah udah cukup, asal gue bisa lebaran. Lagipula, katanya nggak ada lagi kuliah. Cuma, gue malas aja naik bus. Tapi, kereta yang gue naikin udah nggak ada. Deu, gue makin pusing dan tulisan ini makin ngalor ngidul. Jadi sekianlah

#AnakKost

Masih mau ngancem orangtua?

Mei 30, 2017

Akhir-akhir ini, gue sering lihat berita yang mungkin kebetulan sejenis. Like, gue baca berita ada bapak-bapak yang beli HP dengan pecahan uang dua ribuan, karena anaknya nggak mau sekolah kalau nggak dibeliin android. Atau gue nonton 86 yang anak SD kelas 6, udah pacaran, main sampai tengah malam, dan kalau nggak dibolehin main, mengancam yang aneh-aneh. Berita-berita macam itu sebenarnya mungkin sering gue dengar dari dulu. Berita-berita semacamnya yang intinya banyak anak-anak yang meminta sesuatu ke orang tua tanpa sadar kemampuan orangtua mereka, banyak yang mengancam orangtua demi melakukan sesuatu yang salah. Hal-hal yang kadang bikin gue sedih dengarnya. Iya, nggak tahu kenapa, akhir-akhir ini gue mendadak jadi sensi dengan lingkungan sampai gue menutup twitter dan facebook demi kesehatan gue.

Gue bukan anak paling baik sedunia, gue juga masih kuliah dan masih diberi uang bulanan tiap akhir bulan. Gue masih menyusahkan orangtua gue dari segi finansial, menang lomba atau fee proyek nulis pun nggak seberapa. Mungkin gue nggak pantas mengkritisi mereka, dan belum tentu gue lebih baik dari mereka. Gue mungkin perlu bersyukur karena gue tidak pernah meminta, orangtua gue yang ngasih duluan, kalau mereka nggak kirim-kirim gue uang bulanan, mungkin memang sedang tidak ada dan itulah pentingnya gue untuk menabung. Tapi, dari kecil, gue selalu diajarkan, kalau gue mau sesuatu, gue harus usaha, kalau kurang, baru mereka bantuin. HP pertama gue, waktu SMP, adalah hasil tabungan lebaran, menang lomba waktu SD, dan gue jualan stiker yang kemudian ditambahin bapak gue. Kamera gue yang sekarang, setengahnya adalah hasil jualan buku bekas hampir setahun dan setengahnya lagi dari ibu gue. Mungkin dia kasian karena gue kehilangan kamera gue dari SMA. Gitu juga dengan HP yang sekarang gue pakai, HP gue rusak, ibu gue memberi sejumlah uang yang kalau gue mau lebih dari itu, pakai uang sendiri. Tetapi, gue merasa, gue nggak begitu butuh hp yang cetar, hp gue cuma J1 mini. HP apalah itu kalau dibandingin temen-temen gue. Gue sadar, gue bukan orang kaya, dan gue merasa jahat kalau gue meminta sesuatu yang mahal.

Dear, gue bukan mau menasehati atau apa, siapalah gue ini. Gue hanya ingin berkata bahwa sadar, lu itu siapa, dan siapa orangtua lu. Sadar, sebatas mana kemampuan orangtua baru lu minta. Orangtua mana yang nggak mau anaknya senang, orangtua mana yang nggak mau memberikan apa yang diinginkan anaknya, tapi sadar, kemampuan orangtua lu itu semana. Jangan meminta apa yang mereka nggak mampu, lu tahu, orangtua lu akan sedih ketika dia nggak bisa ngasih apa yang lu inginkan bahkan tanpa lu marah-marah. Tanpa lu sadar, lu-lu pada yang minta motor atau mobil di usia muda dan ngancem aneh-aneh padahal orangtua lu nggak mampu, lu udah memberatkan pikiran mereka. Bahkan, gue pernah dengar, ada bapak yang kena serangan jantung dan meninggal karena anaknya minta motor mahal dan ngancem yang aneh-aneh. Lu mau orangtua lu meninggal hanya karena itu? Lu yang ngancem-ngancem, emang lu udah ngasih apa ke orangtua lu? Apa sekolah lu bagus? Apa lu membanggakan mereka? Apa lu bantuin mereka di rumah? Lu sadar itu? Lu sama aja kayak demo-demo di depan istana negara, minta macem-macem, padahal bayar pajak aja kagak.

Orang-orang pada akhirnya nggak melihat lu dari kendaraan apa yang lu pakai, Hp apa yang lu pakai, baju apa yang lu pakai. Kalau lu memang mampunya 20, jangan maksa 30. Kalau teman-teman lu memaksa lu untuk seperti mereka, pikirkan lagi pertemanan kalian. Pertemanan nggak sepicik itu. 

Sudahlah, selamat puasa. 
Maaf kalau gue ber-lu-lu. Gue nggak bermaksud menuduh orang, nuduh lu, dan gue memang sering ber-lu-gue dengan diri sendiri. Dan, gue merasa lebih lepas kalau gue ber-lu-lu.

#AnakKost

4 Juni 2016, Wisuda a.k.a Wis... udah

Juni 16, 2016



Berkemungkinan banyak foto sedikit tulisan, sebab bingung bagaimana menuliskannya ^^

Setelah 12 April lalu dimejahijaukan, 19 April dinyatakan lulus, akhirnya 4 Juni lalu saya diwisuda.

wi:su:da n peresmian atau pelantikan yg dilakukan dng upacara khidmat

Ya, itu arti wisuda yang saya kutip dari Kamus Besar Bahasa Indonesia atau yang biasa kita sebut dengan KBBI. Tapi beberapa orang memplesetkan wisuda menjadi uwis udah. Mungkin artinya pendidikan di suatu jenjang sudah selesai. Meski saya selalu berpikir bahwa kita tidak akan pernah berhenti belajar sampai meninggal.

Bagaimana rasanya wisuda?

Rasanya... cukup menyenangkan. Mengingat sebelumnya saya hanya berpikir semacam, oh wisuda, oke.  Tetapi kemudian setelah duduk dari menerima ijazah saya tiba-tiba berpikir untuk wisuda lagi (?)

Di kampus saya, wisuda dibagi menjadi dua kelompok. Pagi dan siang hari. Sayangnya, saya mendapatkan wisuda pagi hari. Wisuda di pagi hari berarti saya harus sudah ada di tempat paling tidak 06:30 – karena 07:00 harus berbaris di gedung rektorat – dan acara dimulai pukul 07:30 sampai 10:00. Saya bangun saat azan subuh dan mandi sesuka hati. Memakai baju dan dibedakin mama saya. Cukup diberi bedak dan sedikit lipstik saja. Rasanya aneh kalau wajah saya ini dicoret-coret, gerah. Maka salutlah saya untuk mereka yang dandan cantik-cantik waktu wisuda. Entah jam berapa mereka bangun untuk didandani seperti itu. 
Undangan orangtua/wali wisuda, cuma boleh satu T.T


Sebelum masuk ke kampus, sejenak berhenti untuk berfoto di sini. Rasanya ingin tertawa, mengingat saya dan Pinyot sering tertawa kalau melihat Maru (Mahasiswa baru) yang berfoto-foto di sini ketika pendaftaran ulang tiba.  

Bersama Mama, Papa, Obith dan Ovi




Dan berkumpulah kami di dalam rektorat. Berbaris rapi dan bersiap menuju auditorium.
Bersama Elok saat berbaris di rektorat ^^



Saya duduk di T4-20 di mana sebelah kanan saya, adalah Vivin. Entah di mana Vivin hingga prosesi berjalan dari dalam rektorat ke auditorium dia belum juga muncul. Untungnya, beberapa menit sebelum pintu ditutup dia datang. Wisuda berjalan dengan lancar. 

Mungkin harus ada suatu kejadian agar saya mengingat prosesi ini. Setelah nama saya dipanggil ke depan, dan menerima ijazah, Pak Ravik berkata,"Ossy, selamat ya. Sukses. Agak maju sedikit." Ternyata, beliau mencoba meraih kucir saya dan tidak sampai. Padahal sudah saya injak titik putih seperti yang dikatakan instruktur. Maka segeralah saya bergerak maju, beliau memindahkan kucir, dan bersalaman. 
Makasih Pak
Setelah prosesi, sambil menunggu teman-teman lain maju, saya dan Vivin, beberapa kali berfoto. Kami tahu bahwa sebenarnya tidak diperkenankan untuk berfoto tapi... yasudahlah.





Setelah prosesi wisuda kami keluar dan berhamburan di sekitar rektorat. Saya menyayangkan PLB 2012 yang diwisuda hari itu yaitu, Six, saya, Latifa, Tyar, Whanik, Vivin, Endo, Zuhri, dan Elok tidak berfoto bersama. Bahkan saya tidak sempat berfoto dengan Ipeh- panggilan nista Latifa- yang teman mengurus sidang, sidang bersama, revisi bersama, jilid bersama, mengurus wisuda bersama L Saya ingin mengucapkan terima kasih untuk semua teman-teman yang datang. Wisuda ini menjadi menyenangkan karena adanya kalian haghaghag. Dan campuran antara bingung mau menulis apa, maka di bawah ini saya masukkan foto-foto yang di dapat dari berbagai sumber. ^^





dari kiri Six, saya, Vivin, Abe, dan Tyar






With Pinyot dan doodle ketjenya (mau order buka ig opiedesu
Dan terima kasih untuk teman-teman KKN Troketon's Team yang mau datang, sempat cari-carian. Maafkan baterai smartphone saya yang mulai lemah. Terima kasih sudah mencari saya di tumpukan manusia. Terima kasih sudah datang Eka, Dina, Rimdut, Gita, Yuni, Anggi, dan Ayu bottom two. Terima kasih untuk papan tulis dan bantal lehernya ^^. Bisa dipakai mudik.

Troketon's Team

Dan terima kasih untuk bingkisan, bunga-bunga (yang kini telah layu, pastinya) yang diberikan.
Saya sangat mengapresiasi kalian ^^. Semoga wisuda kalian nanti saya bisa datang ya!


Terima kasih Pinyot untuk doodle-nya!

Terima kasih Ken untuk gambarnya. Saya anggap lukisan ini berarti ,bahwa setelah wisuda
kita masih punya mimpi yang dikejar tinggi-tinggi.
Terima kasih untuk bunga-bunganya, beberapa sudah rontok dan layu T.T
Mengingatkan akan bingkisan sidang ke Six. Terima kasih Woro,
mungkin bisa melonjakkan berat badan dan turun drastis saat puasa ini.
.
Dan setelah itu, saya dan Six pergi ke studio foto. Tadinya, kami yang wisuda Juni akan foto bersama ditraktir Six. Sayangnya, tidak jadi karena beberapa sudah pulang atau berkumpul bersama keluarga. Terima kasih Eky dan Six untuk foto-foto ketjenya.
With Sixma
Jump!


Baiklah, hari ini sudah 16 Juni, sudah 12 hari pasca saya wisuda. Tulisan ini dibuat sebagai bentuk penutup euforia. Sebab wisuda bukan akhir, wisuda adalah awal dari kehidupan yang kadang terdengar dan selintas menyeramkan. Saya tidak tahu apakah keputusan-keputusan yang akan saya ambil setelah lulus ini yang terbaik, tapi saya percaya, jika Tuhan meng-acc, maka itu yang terbaik untuk kita.


Terima kasih teman-teman. Sukses untuk kita semua, semoga September PLB 2012 ramai diwisuda.

#AnakKost

ocehan sore di atas kereta

Juli 21, 2015

Tulisan ini entah di post kapan,entah hari ini juga atau pada suatu hari. Saya masih duduk di gerbong 8 saat mengetikkan posting ini. Bersama hati,jiwa dan pikiran yang carut-marut belum tertata.
Pulang kali ini saya lebih ikhlas. Tetap malas packing (selain cuma packing 1 ransel) namun tidak semenyesakkan biasanya. Mungkin karena bisa pulang saja saya sudah bersyukur mengingat rencana awal saya tidak pulang.

Hati saya masih menolak banyak hal. Tapi saya tahu, sekuat saya menolak semakin sakit yang didapat. Mungkin saya bisa kabur dari semuanya tapi tentu bukan jawaban atas masalah. Tapi membuat masalah baru.

Papa saya mengingatkan saya untuk semangat, sesuatu yang saya pikir sudah hilang. Tapi saya ingat, seperti yang saya ungkapkan dulu di posting entah kapan tentang anak pertama. Saya punya tanggung jawab lebih. Dan saya harus lulus cepat dan mendapat pekerjaan yang menyenangkan di segala lini.
Saya tidak boleh menyerah, saya terlanjur ada dan tak mau mati sia-sia.

#AnakKost

Rumah, Pulang dan Perjalanan

Juli 07, 2015

Rumah, pulang dan sebuah perjalanan adalah 3 kata yang selalu menyenangkan untuk didengar. Terlebih jika sepaket.
pulang selalu menuju ke rumah.
Ada perjalanan untuk pulang dan sampai ke rumah.
Perjalanan selalu menyenangkan,selalu ada hal baru,orang baru, dan pemandangan yang memberi warna di perjalanan.Kadang menjadi oleh-oleh cerita di rumah
 Cerita perjalanan pulang.
Aku ingin pulang. Rindu rumah. Dan selalu menyukai perjalanan. Semoga perjalananku selalu menyenangkan

#AnakKost

Cerita Perjalanan Pulang Ke Rumah Kemarin #latepost

Februari 18, 2015

" dalam kata pulang, perjalanan adalah hal yang menyenangkan"
Ossy Firstan



Kuliah dinyatakan selesai ketika saya meninggalkan kost dengan ransel hitam, slingbag Papa, dan tas laptop hitam yang tak berisi laptop, tetapi kain dan buku. Saya berjalan dari kost menuju halte BST yang ada di depan. Menunggu bus datang. Tadinya, saya berharap koridor dua saja. Tapi yang datang malah koridor satu. Dan saya memutuskan untuk menaikinya. Beruntung saya mendapat tempat duduk, sebab hari itu ramai sekali. Bus BST penuh, baik yang duduk maupun berdiri.

KA Krakatau setelah menurunkan penumpang di St.Senen.
Hampir sejam saya berada di BST hingga akhirnya saya turun di halte yang tepat berada di depan Stasiun Purwosari. Stasiun padat, tapi saya bersyukur masih ada tempat duduk. Mbah saya yang kebetulan ada di Solo dan tadinya berniat pulang bersama saya datang. Singkatnya, saya masuk ke area penumpang, pamit, dan tak lama Kereta Krakatau datang. Lebih cepat dari jadwal.  Kereta datang 12:40 sedang di jadwal 12:50. Padahal biasanya kereta telat 5-10 menit.

13 B, begitu yang tertulis di tiket. Saya masuk ke gerbong 4 atau 5 (saya lupa), menemukan kursi saya dan meletakkan tas di bagasi atas.  Di sebelah saya sudah duduk seorang ibu-ibu yang naik dari Kediri dan turun di Cilegon, berdasarkan pembicaraan singkat, beliau lulusan FSSR UNS tahun delapan puluhan. Perjalanan berjalan seperti biasa. Saya mengudap makanan, membaca komik yang dibawa, menyumpal telinga dengan lagu dan tentu tidur. 
Kereta memasuki Jakarta dan senyum saya terkembang. Tentu saja karena satu per satu penumpang habis. Saya langsung berpindah ke kursi lain, untuk apa lagi kalau nggak untuk.... TIDUR!

Tapi nampaknya Tuhan ingin perjalanan kali ini nggak sesepi biasanya. Di stasiun entah apa namanya masuklah serombongan anak-anak yang saya taksir usianya masih belasan atau SMP-lah. Mereka datang bersama seorang wanita dewasa dan laki-laki dewasa. Entah darimana jam 1 malam begini mereka menghambur ke gerbong. Saya sedang menguasai salah satu kursi ketika perempuan dewasa itu ngomel-ngomel nggak dapat kursi. Saya pun memilih ke kursi saya tadi, ibu yang duduk di samping saya kini tidur di depan saya. Mungkin karena hari libur, maka kereta ramai. Sudah jam 1 malam dan berarti sudah berganti tanggal menjadi 31 Desember. Kereta terus berjalan, namun tetap saja telat. Sangat telat malah.
Jika di jadwal tiba 02:27, nyatanya saya tiba di Stasiun Merak sekitar pukul 03:30. 
Gerimis mewarnai perjalanan saya dini hari itu. Loket dekat stasiun yang kosong, memaksa saya berjalan ke loket yang nun jauh disana. 15 ribu adalah harga yang harus saya bayar untuk sebuah penyebrangan. Jujur saya tidak pernah menyebrang sendiri sebelumnya, dan karena saya belum paham banget seluk beluk Pelabuhan Merak. Saya percayakan pada insting setelah bertanya pada 2 lelaki yang satu kereta dan mereka nggak tahu ( dan lebih kebingungan dari saya)
Saya lupa saat itu dermaga mana yang yang sedang dibuka, tapi sepertinya dermaga enam. Virgo 18, nama yang terpampang. Lumayan bagus kapalnya. Untuk sampai ke tempat penumpang, saya harus naik eskalator. Kapal terlihat ramai, ruang lesehan terlihat penuh dengan laki-laki. Saya putuskan untuk duduk di sofa food court, memesan segelas teh seharga sekotak teh celup. Saya pikir tak apa,anggap saja membayar kursi seperti kalau naik kapal dan pindah ke kelas eksekutif.

Saya menyesap teh hangat dengan perlahan, baru setengah gelas saya teguk ketika seorang ABK datang dan memberitahu ke ABK (kali ini ABK, anak buah kapal, bukan anak berkebutuhan khusus) yang berjaga di pintu untuk menyuruh semuanya pindah kapal. Saya menoleh.
"Bongkar kapal, Mbak. Ayo turun," ujar seorang ABK. Saya memakai tas saya, menjinjing tas laptop dan keluar dari Kapal. Saya menengok ke belakang, namun belum ada penumpang lain yang turun. Namun suara pramugari kapal terdengar. Salah seorang ABK lain memberi tahu saya jalan keluar.

Waw, ini mengagetkan,

#AnakKost

Packing. Sebuah ritual menuju pulang yang selalu buat pusing.

Desember 29, 2014

Saya akan pulang esok hari. Maka saya memutuskan memulai packing. Tidak banyak yang saya bawa, hanya kain, buku&komik (sekitar 10), pakaian dalam dan beberapa buah kaos. Ya,itu saja bersama gadget saya.
Saya masih bingung antara memakai carrier atau membawa tas kuliah dan 1 tas lain. Yang jelas, packing saya hentikan karena saya kebingungan. Karena ada beberapa barang yang belum bisa dimasukaan karena masih saya gunakan.
Baiklah saya harus tidur. Besok saya berencana ke perpustakaan, lalu membeli kudapan untuk pulang (karena beberapa saya makan -.-) dan packing benar-benar packing!

#AnakKost

Selesai

Desember 24, 2014

Lembar jawaban Pkn dikumpulkan di meja dosen, wajah-wajah sumringah terpancar. Bukan karena UK yang open book, tapi kuliah telah selesai juga jadi alasan. Kuliah berakhir hari ini. Diawali mengumpul UK anatomi otak, paper Pkn, Laporan skala sikap untuk UK Pengukuran psikologi, pun hasil diskusi masalah untuk uk bimbingan klinis. Dilanjutkan UK bina wicara dan UK pengembangan kreativitas dan Pkn tentunya.

Kuliah sudah selesai. Semoga tidak ada remedial apapun. Benar-benar selesai. Namun jika statistik UK4 diumumkan dan saya remedial, sudah saya kerjakan lagi soal saya kemarin dengan penuh ketelitian dan saya titipkan Pinyot.

Mereka pulang hari ini, mereka pulang esok. Saya ? Saya pulang Selasa depan. Tiket sudah terbeli, sebab kemarin saya ingin membeli tanggal 25,tapi saya takut ada kuliah di tanggal 29 atau 30. Tidak mengapa, mungkin saya bisa menikmati me time atau sekadar jalan-jalan di Solo. ^,^

Kuliah sudah selesai. Semoga semua peluh,kerja keras, minggu-minggu penuh begadang, semua usaha dan pengorbanan saya terbayar dengan hasil yang memuaskan. Saya harap tidak ada penurunan hasil.

Selamat berlibur teman-teman @UsNeed12 ( fyi UsNeed itu singkatan UNS's Special Need Education)  Semoga liburan kalian menyenangkan. Kita bertemu lagi di semester 6. ^.^

#AnakKost

Hujan Ma, Selama Hari Mama.

Desember 22, 2014

Hujan, Ma. Sayangnya saya cuma punya Nescafe dan kopi hitam bukan kopi yang biasa mama minum. Tapi nggak apalah, tetap enak.
Katanya ini hari ibu, selamat hari ibu untuk Mama, meski saya percaya hari ibu itu tiap hari, karena mama selalu ada buat saya tiap hari.

Terimakasih ya Ma, sudah bersedia melahirkan saya. Abaikan pernyataan saya dahulu kala yang mempertanyakan kenapa saya yang lahir. Sekarang saya memilih berhenti bertanya. Terima kasih untuk semuanya. Saya salut Mama bisa berani menjadi seorang ibu buat saya, buat Obith dan Ovira. Sebab lahir ke dunia adalah takdir Tuhan, dan menjadi Ibu adalah pilihan.

Selamat hari Mama. Saya sayang mama.

#AnakKost

Pulang

Desember 04, 2014

Apa yang paling disukai perantau selain pulang ke kampung halaman?
Sebab kata kembali selalu menyenangkan untuk di dengar, pun dilakukan. Lihat saja, tiket-tiket kereta telah ludes di penghujung tahun. Dimana liburan akan terjadi, para perantau bergegas kembali ke rumah mereka. Harap-harap cemas aku berdoa agar bisa kebagian. Pernah kutulis di blog ini beberapa waktu lalu, tentang anak rantau dan kata pulang.
Bagiku, pulang selalu menjadi hal yang di nanti, seperti rindu yang selalu jadi candu.

Aku suka pergi. Sesuka itu aku pada kata kembali.
Aku ingin mengembara. Pernah terpikir aku ingin kerja yang pindah-pindah keliling nusantara. Lalu aku bertanya, lantas dimana rumahku kalau begitu? Pada dasarnya rumah bukan hanya bangunan. Rumah bagiku adalah keluarga. Rumah adalah dimana kita merasa sangat-sangat nyaman dan seakan tak perlu apa-apa lagi selain mereka. Jadi mau keluargaku pindah ke Papua, Antartika, di situ mereka, di situ rumah bagiku.

Semakin random.

Popular Posts

My Instagram