Pada suatu hari, yang aku inginkan adalah mati muda. Kukata pada Tuhan, izinkan aku berakhir sebelum dua puluh empat. Namun, Tuhan tidak mendengarkanku. Mungkin ada yang harus kulakukan, pikirku begitu. Entah apa pun, kurasa kuhanya terus-menerus dihantam kehidupan yang tidak menyenangkan. Tuhan tidaklah jahat, tidak, tidak pernah Tuhanku jahat.
Pada suatu pagi, aku lalu berharap lagi. Tuhan, izinkan aku bergabung di klub dua puluh tujuh. Namun, doaku sepertinya terlalu jauh. Biar aku berpeluh, biar aku mengeluh, aku masih ada. Meskipun aku tiada tahu artiku ada untuk apa, aku masih ada. Meskipun aku tak berdoa berumur panjang, Tuhan memanjangkannya. Lihat, Tuhan terlalu baik padamu. Lihat, dia memberi kesempatanmu untuk menjawab pertanyaan yang sampai kini belum terjawab itu.
Pada suatu waktu, aku masihlah takut menua. Aku tetaplah manusia yang tak ingin mencapai usia terlalu tinggi. Aku manusia yang menyadari aku bukanlah apa-apa, dan Tuhan memberiku waktu untuk bersiap menghadapNya. Sebab bekalku belum cukup, sebab aku terlalu buruk, mungkin begitu. Sebab yang kutahu, menghadap Tuhan adalah kepastian yang paling pasti yang aku tahu pasti terjadi.
Pada suatu hari yang tidak pernah terjadi, aku ingin berterima kasih sebab Tuhan membuatku ada. Walau aku tidak pernah bisa menjawab mengapa aku harus ada, mengapa aku harus terus ada, dan mengapa aku harus bertahan untuk tidak meniadakan diri.
Aku ada bukan karena aku, maka tiada boleh kumeniadakan diriku. Maka pada suatu hari, aku akan menghadapnya dengan senyuman. Kalau-kalau saat bertemu denganNya lah aku tahu mengapa aku ada dan harus ada di dunia, sesuatu yang kurasa... tidak pernah kuminta.
Sudah lama aku tak membuka blog, dan aku berpikir bukankah menyenangkan jika aku kembali dan kembali perlahan-lahan menulis fiksi lagi? Belakangan aku menyadari bahwa salah satu hal yang membuatku dulu bisa konsisten menulis adalah karena hampir setiap hari aku menulis di blog. Tulisan-tulisan yang muram, sangat muram, dan sebagian sudah ku unpublished karena terlalu muram dan depresif.
Entah, ada apa dengan tampilan blog sampai aku merasa sangat bebas menulis di sini, lebih terbuka, bahkan merasa sangat nyaman ketimbang menulis di Word atau Google doc, misalnya. Mengenai menulis tangan tak usah dibahas karena tulisanku jelek, menuju kehancuran, dan aku benci menulis tangan.
Belakangan aku berpikir, mungkin saja jika aku ingin kembali menulis fiksi, aku harus kembali menulis di blog seperti dahulu. Mungkin, ini ide yang menarik untuk melatih habit menulisku lagi.
Jikalau dongeng selalu dimulai dengan kata-kata seperti 'pada suatu hari' maka anggap saja tiga kata itulah yang memulai cerita ini. Pada suatu hari seekor kelinci kecil berbulu kelabu melompat-lompat di sebuah taman. Matanya menjelajah rerumputan, melihat bunga warna-warni yang basah oleh tetesan embun. Musim panas telah tiba, ia bermain di taman dengan riang gembira.
Semuanya terasa menyenangkan, sampai ia melihat lubang berdiameter sekitar 37 cm di pinggir taman, di bawah pohon mangga yang sedang berbunga. Separuh bagian lubang itu tertutup oleh besi tua berbentuk lingkaran yang penuh karat. Besi itu seharusnya menutup lubang rapat-rapat. Namun, siapa yang tahu kalau ada tangan usil yang menggeser besi karat itu untuk membuang "sesuatu". Kotak sampah mungkin terlalu jauh hingga lubang pun menjadi solusi. Manusia menciptakan kotak sampah, tetapi mereka pula yang malas menggunakannya. Ya, begitulah manusia, makhluk paling merasa benar sedunia.
| sumber gambar |
Kembali lagi soal kelinci itu, ia adalah seekor kelinci yang iseng. Kadang-kadang ia tidak berpikir panjang, mungkin karena telinganya tidak begitu panjang. Kadang-kadang ia memanjat pohon lalu menangis hingga pemadam kebakaran datang menolongnya. Aku basah kuyup karena melompat-lompat di bawah air mancur yang berada di tengah taman. Hari itu ia pun tidak menggunakan gumpalan jeli di kepalanya untuk berpikir. Sepertinya, setan impulsif sedang bersamanya tatkala ia masuk ke lubang itu. Lubang yang dalam dan gelap. Lubang yang menjadi penyesalan terbesar dalam sejarah 24 bulan hidupnya di dunia.
Lubang itu gelap, becek, sempit, dan seperti tak berujung. Kelinci itu tidak berani melompat setinggi biasanya. Ia mendadak menjadi siput, berjalan pelan, mengendap, dan memastikan tak ada apa pun yang melukai dirinya.
Sampah memenuhi kanan dan kiri jalanan di dasar lubang. Bungkusan-bungkusan bergambar kacang, tumpukan baju, hingga tak lagi bergambar terlihat bergerak ke kiri dan kanan di dasar lubang.
Mereka tampak hidup!
Sayangnya, setiap badan kelinci itu terkena bungkusan yang melambai-lambai tertiup entah angin dari mana, badannya tergores. Kadang hanya goresan tidak berarti, tetapi sesekali darah mengalir dari tubuh si kelinci. Bulu kelabunya sudah tak lagi mengembang, perlahan ia menjadi kelinci menyedihkan.
Lubang itu tidak menyediakan makanan yang layak tentu saja. Apa yang bisa kau harapkan dari lubang sampah? Kelinci pun kadang menyesali, mengapa sudah tahu lubang sampah masih ia masuki? Mengapa ia terlalu iseng kala itu? Juga kenyataan bahwa mengapa yang ditanyakan tak akan mengubah kenyataan. Jikalau penasaran apa yang dimakan Si Kelinci, kadang-kadang ia menemukan apel nyaris busuk, sepotong wortel, atau sayuran layu. Mungkin, dari pembuangan sampah atau... entahlah. Kelinci tidak dapat berpikir apa-apa selain bagaimana cara keluar dari lubang keparat itu. Sekeras apa pun ia berteriak, pertolongan tak kunjung datang. Sekuat apapun ia mengeluh, se
Kian hari lubang itu semakin gelap. Semakin kelinci itu bergerak maju, semakin banyak keanehan menyengsarakan yang ia temui. Ada raja semut yang menggigit apa pun hingga tubuhnya tambun. Ada ratu semut yang mungkin saja terus berceloteh sambil mengeluarkan api yang membakar apa saja. Termasuk mengenai bulu kelinci itu. Kadangkala ada katak bertanduk hingga kecoa-kecoa yang tak pernah berhenti mempertontonkan aksi terbang berbagai gaya
Kelinci itu terus berjalan dan tidak kunjung menemukan pintu keluar. Badannya sudah kian kurus sebab tak terurus, bulunya rontok, matanya sendu, telinganya tak lagi tegak. Jauh di dalam hati Si Kelinci, sekalipun ia tak ingin berumur panjang, ia tak mau mati di dalam lubang keparat nan mengerikan.
Hari ini Si Kelinci Abu tidak lagi berjalan. Ia meringkuk di dekat tumpukan kulit pisang. Ia tak tahu apakah binatang juga boleh bertuhan. Atau Tuhan sudah tak anggap ia binatang, tetapi bagian dari sampah yang hidup di lubang pembuangan. Tanpa tahu apa salahnya, mungkin Tuhan sedang menghukumnya. Jika Tuhan suka menguji manusia dengan kesenangan dan kesedihan, Si Kelinci tidak mengerti mengapa ia tak pernah merasakan apa itu kesenangan sejak masuk ke dalam lubang. Mungkin Tuhan tidak ada bagi kelinci, hingga lupa memberikan kesenangan meski berada di kegelapan. Mungkin Tuhan juga lupa ada kelinci, sebab sampah-sampah ini menutupi. Namun, Si Kelinci masih yakin Tuhan baik hati termasuk pada kelinci.
Kelinci itu terus berdoa, jika usaha tidak lagi bekerja, mungkin satu-satunya yang ia masih bisa lakukan hanyalah berdoa.
"Kalau aku tidak bisa keluar dari lubang ini segera, biarlah aku mati muda. Lubang ini begitu menyiksa. Bukankah Tuhan Yang Mulia tidak akan pernah kejam pada hamba-Nya?"
2.2.2021
Sepertinya, sebelum kembali menulis novel bernapas panjang, aku butuh pemanasan dengan rutin menulis Gambar Bercerita. Gambar Bercerita adalah kumilih gambar secara random, lalu kumenulis apa yang ada di kepalaku.
Selamat membaca ^^
Aku mengingat bagaimana benda di dadaku bertalu kuat begitu mendengar kata mati. MIKO TIDAK MATI. MIKO TIDAK BOLEH MENINGGALKANKU. AKU DENGAN SIAPA?
Lalu kamar kost Miko mendadak ramai. Raungan mobil putih berbunyi berhenti di depan rumah kost, mengeluarkan manusia yang kemudian membawa Miko entah ke mana. Itulah kali terakhir aku melihat Miko. Pria Kamar Sebelah sempat menenangkanku yang terus menerus mengeong. Ia pun membolehkanku tinggal di kamarnya bersama Si Persia Cantik. Sekalipun Si Cantik Dugong menggoda, aku tak niat bercinta karena begitu berduka.
Semua terasa menyedihkan. Aku seperti dihempaskan setelah hidup dengan damai. Kemarin, keluarga Mikola datang mengemasi semua barang lelaki itu. Mereka berniat membawaku, tetapi Pria Kamar Sebelah berkata bahwa surat yang ditulis Mikola berkata aku harus tinggal di rumah perempuan bernama Jane--- perempuan yang paling dekat dengan Mikola, begitu Pria Kamar Sebelah berkata. Hari ini Jane akan menjemputku, dan aku tak tahu bagaimana rupa wanita itu.
***
Seharusnya aku bahagia. Seharusnya, aku bahagia bertemu saudaraku yang ternyata tinggal bersama Jane. Aku terkejut ketika melihat perempuan itu berdiri di pintu, perempuan yang kulihat meraih saudaraku dan membawanya pulang. Seharusnya aku bermain bola benang dengan Alexander Volta---nama saudaraku yang juga fisikawan--- dan bukan merenung di balik jendela.
Mengapa Mikola meninggalkanku, padahal ia menyayangiku?
Mengapa Mikola meninggalkanku tanpa memberiku penjelasan apakah fisikawan itu sebenarnya?
Jika aku mati, apakah aku akan bertemu Mikola nantinya? Karena aku tidak bisa menjanjikan hidup dengan senang setelah ditinggalkan.
====END===
Lampung, 15 Januari 2021








