Malam.. 1 Januari 2014 menyusup ke depan mata.
Otak saya menyusun resolusi,membuat list harapan. Ya,semua masih ada di otak saya.
Saya berharap,saya berdoa semua yang belum tercapai di 2013 bisa tercapai di 2014
semakin baik ke depannya, bahagia, panjang umur, dilimpahkan rezeki,kesehatan dan berkah untuk saya dan keluarga
itu saja.
Terimakasih Allah
Selamat Malam
Siang, panas , gerah dan mengantuk. Jujur saya ingin tidur, tapi tangan saya gatal untuk menuliskan apa yang saya lihat,dengar dan lakukan tadi. Jadi, tadi siang saya nonton Edensor dengan Opie dan Wara di 21 Grandmall.
Jika saya ditanya,"sebutkan 1 kata tentang film ini!" maka jawaban saya adalah,"Mengecewakan"
Maaf Om Benni, tapi film Edensor yang saya tonton jauh di luar ekspektasi saya. Saya membaca Edensor memang sudah lama sekali, SMP. Tapi yang saya ingat, ada cerita Arai dan Ikal keliling dunia, cerita sedih Arai yang terpaksa pulang ke Indonesia dan tidak melanjutkan studinya -kalau saya tidak salah- . Dan di film ini tidak ada, saya betul-betul kecewa.
Alurnya lurus,datar saja. Saya yang batu, atau bagaimana. Saya hanya sedikit tertawa, sedikit terharu, sedikit. Tidak ada klimaks, bahkan terlihat seperti tidak ada konflik.
Ketika Pak Cik Andrea disorot kamera, sedang mengetik saya pikir ini adalah prolog sebuah cerita awal mereka berkelana. Tapi yang muncul adalah..... tara!!! Nama-nama manusia yang menandakan film ini selesai. Mungkin ingin membuat penonton terkejut, saya rasa ini berhasil. Saya berhasil terkejut filmnya sudah selesai dan tentu saja kecewa. Dan ternyata tidak hanya saya, di toilet, saya mendengar gadis-gadis lain membicarakan kekecewaan mereka.
Akting Lukman Sardi dan Abimana? Mereka bagus, hanya skenarionya yang mengecewakan.
Atau akan ada Edensor II? Duh,kenapa harus ada part 1 part 2. Edensor tak setebal Harry Potter 7 jika harus dibagi dua. Tapi terserah produser dan sutradara juga.
Ada beberapa yang mengganggu mata saya, saya tahu sponsornya BTN,Kantor Pos, tapi la ya jangan disorot terus. Jadi bener-bener terlihat iklan. Habibie Ainun kenapa jadi kurang dapet suasana zaman dulunya? Karena tiba-tiba ada chocolatos dan Wardah. *Maap ya nyebutin merk.
Dan carrier serta koper yang dibawa, seperti nggak ada isinya, atau isinya terlalu sedikit ya. Kenapa 5cm dikritik para pendaki, salah satunya karena carriernya terlihat ringan sekali.
Saya mungkin terlalu berekspektasi tinggi-tinggi, hingga ketika melihat realita yang ada saya kecewa. Semoga Maryamah Karpov tidak difilmkan, saya mohon *)
maaf ya untuk semua kru film, next time jangan kecewakan penonton Indonesia
Sekian.
OssyFirstan
Penyuka Buku Edensor yang sedang kecewa dengan filmnya
Saya akan disini. Duduk,diam menunggumu.
Saya akan duduk disini, bersama ransel usang dan sebuah kantong tidur keras.
Saya akan makan disini, menggigit sepotong roti, atau segelas susu sambil terus menatap sekeliling,berusaha kembali menemukanmu.
Saya akan tidur disini, tidak lihat saya membawa kantong tidur biru itu?
Mandi? Saya percaya hujan akan turun, saat itulah saya mandi. Sisanya, saya hanya akan gosok gigi.
Tidur? ya,tentu saja, ketika jam saya menunjukkan pukul 1 saya akan menyelinap dalam kantong tidur
Saya tak berdusta, saya akan melakukannya. Saya akan pergi, setelah saya melihatmu. Saya akan berlari,ketika menemukannya, mengejarmu.
Saya akan lakukan itu!
----------------------------------------------------------------------
Sudah 7 hari saya disini, duduk dan menunggumu. Atau berdiri bertanya pada setiap orang yang saya temui . Saya menunjukkan sebuah foto candid yang saya ambil saat pertama bertemu. Semua menggeleng,tidak ada yang pernah melihatmu. Saya meletakkan sebuah papan dari kardus bekas,menuliskan "apakah kamu tahu dimana dia?" dan sebuah fotomu. Saya tidak berdusta kan? Saya benar-benar melakukannya. Dan saya tak kunjung melihatmu,menemukanmu.
Tapi saya percaya, saya akan bertemu denganmu. Nanti,di suatu hari. Di depan toko roti ini.
Kamu, tahukah kamu?
Malam ini saya masih terjaga, pukul 8 malam entah lebih berapa. Belum terlalu malam,pikir saya.
Saya menyeduh segelas teh, menyesap dalam-dalam, menjilati manisnya gula, menghirup dalam-dalam wangi daun teh muda.
Saya menutup rapat-rapat kopi, menjauhkannya dari mata , menyembunyikan kata tepatnya. Saya tak ingin terus terjaga malam ini, singkirkan dulu imajinasi atau bubuk kafein yang menghamburkan rindu dan setitik ilusi. Bahkan halusinasi tentang rindu yang bermanifestasi.
Haha,kata-kata saya seperti pecandu saja. Pecandu kopi mungkin, oh tidak juga. Ada fase setiap bulan dimana saya tidak menyesapnya,ketika saya tidak ingin ada kram perut di agenda bulanan tepatnya. Saya bukan pecandu kafein, cukuplah sebut saya penegak kopi peminum susu karena saya mencintai keduanya.
Saya mencandu rindu. Saya
Jika minum berdiri tidak baik, mengapa hampir seluruh iklan menunjukkan minum berdiri?







