Malam ini mungkin saya mau bermain sampai bosan, sampai senang, sampai semua 'demons' yang mendatangkan kecemasan itu pergi dari bilik-bilik limbik.
cerminlah yang
tak pernah berdusta
tampaklah
diri sebenarnya jiwa
tangis hati,
menangis rupa di sana
tawa jiwa, tertawa
wajah di sana
cerminlah yang
selalu jujur
bulat dia
tampakkan bundar
kerempeng ia
tunjukkan ceking
hanya hati yang
paham benar
meski senyum engkau sungging
hatimu meradang mengerang
dukamu
tertutup tarikan bibir; tersungging
lagi hatimu
teremas getir
pada
cerminlah kau beradu
siapakah
lawan terbesar dalam hidupmu?
adalah ia yang
tertawa dan menangis bersama tiap engkau berkaca
10/4/2016
00:01
malamku gelap
pekat namun tak pikat
malamku kelam
diam sunyi mencekam
malamku hening
gelas-gelas kopi bergeming
hujan sudah lama berlalu
desau berisik pergi
jemari ribut sendiri
bisikan menari
kaki bergelayap
bibir berteriak
adakah aku? adakah aku? aku... adakah di dunia ini?
ini malamku
malamku dan diam
malamku dan kutukan kesunyian
8/4/2016
di tengah malam pekat tak memikat
Saya sulit memfokuskan diri saat menulis ini. Mungkin ini akan melebar ke sana dan ke mari nggak jelas juntrungannya.
![]() |
| gambar ditemukan di Pinterest |
Saya membaca sebuah buku, selayaknya buku yang diterbitkan tentulah memiliki judul. Buku ini saya pinjam di iJakarta. Tentu sebab saya tidak memiliki cukup uang untuk membelinya di toko buku dan sejenak memfoto buku tersebut dan mengunggahnya di sosial media saya.
Buku itu berjudul Soe Hok-Gie ... Sekali Lagi. Ditulis ramai-ramai. Saya tidak bermaksud mengulas buku itu sebab belum selesai. Saya membaca sebaris kalimat yang ditulis Gie di catatan hariannya. Omong-omong saya belum membaca CSD. Gie bilang di Indonesia ini hanya ada dua pilihan, menjadi apatis atau idealis. Saya setuju, kemudian saya ingin menambahkan pencitraan di sana. Ya, semoga saja Gie tidak murka.
Ini memang tidak ada kaitannya dengan Gie, ini hanyalah opini yang tercetus begitu saja yang sayangnya mungkin tidak terlalu memiliki benang merah dengan pendapat Gie.
Kini. Sekarang. Saat ini. Adalah sebuah masa di mana citra dibentuk dan dibuat dengan sesuatu yang kemudian sering disebut dengan sosial media. Tidak hanya sosial media sesungguhnya. Namun, agar saya yang gemar meracau ke mana-mana ini dapat fokus maka yang saya akan soroti adalah sosial media.
Jika Sukab berkata pada Alina dunia sudah kebanyakan kata-kata, saya mungkin akan berkata pada Sukab bahwa kini dunia sudah terlalu banyak pencitraan. Entah citra itu murni atau dusta. Entah dibuat sedemikian rupa atau penuh ketidaksengajaan sedang melakukan sehingga dianggap pencitraan. Entah dipandang sebagai sesuatu yang normal-normal saja, atau dipandang sinis. Saya berusaha menempatkan diri senetral mungkin di sini. Sebab kemungkinan besar saya pun mungkin pernah atau akan melakukan pencitraan itu.
Sebab ini pencitraan di sosial media, dan sosial media itu banyak, saya sebaiknya perlu mempersempit menjadi facebook, twitter, instagram, Path, BBM, Line, Goodreads ? Ya, cukup itu saja. Sebab yang saya sering jumpai di sana.
Zaman sosial media adalah zaman di kala setiap dari kita gemar membagi apa yang sedang terjadi, pernah terjadi, atau diimpikan terjadi. Zaman di mana gemar membagi apa yang dirasakan, pernah dirasakan dan penuh kebebasan beropini. Mungkin ini bagus. Di mana, sebuah peristiwa seperti bom dapat cepat diketahui melalui sebuah tweet. Sebuah informasi kemacetan diketahui setelah foto pohon tumbang di jalanan diunggah dan menjadi profil picture BBM. Sebuah restoran diketahui khalayak akibat seorang seleb instagram memotretnya dan mendewakan makanan itu—kemudian bisa jadi pengunjung kecewa sebab seleb itu dibayar untuk makan lima kali di sana demi sebuah foto dan dusta enak—ini tentu hanya sebuah ilustrasi yang bisa saja terjadi. Atau... kita jadi tahu akan buku bagus akibat seseorang memotret buku yang baru saja dibelinya lalu memuji setengah jiwa —meski maksud si tukang upload adalah dengan mention penulis ia akan disapa balik.
Yang saya beberkan barusan hanya sekelumit jika dipandang positif dan memang perilakunya mengarah pada hal positif meski dari sudut pandang sinisme hal tersebut bisa saja dianggap negatif. Dari pengamatan saya sebagai manusia yang hidup di zaman berlabel kekinian,
Kita mati saja
Bagaimana?
Jika hari-hari lampau disusuri iba
Jika kini penuh manusia bercitra
Sedang borok mereka ditutupi dusta
Dan caci maki kita sudah inalilahi
Dan teguran nyaris jadi kotoran sapi
Kita siapa di tengah mereka?
Kita mati saja
Bagaimana?
Sebab angka yang banyak untuk apa?
Tidakkah hidup bukan matematika?
Kita mati saja
Bagaimana?
Omong-omong... sudahkah kita berarti?
Jika sudah ayolah eksekusi
Chairil saja bilang, “Sekali berarti sudah itu mati!”
Kita mati saja
Bagaimana?
Coba tengok dulu pahala
Bisa tidak tanya pada malaikat kanan kita?
Kalau-kalau sudah cukup perbekalan
Jadi tak di neraka kita ditelantarkan
Kita mati saja
Bagaimana?
Kamu bunuh saya
Saya bunuh kamu
Kita tidak bunuh diri namanya
Sebentar... pembunuhan dosa besar
Kita mati saja
Bagaimana?
Lalu kamu tertawa
Cuma berujar,” Mati itu pasti. Kita tunggu saja malaikat datang menyapa.
Bagaimana?”
Kita mati saja
Bagaimana?
Kamu tertawa lagi
“Malaikat bilang pahalamu kurang. Lekas perbanyak sebelum kematian
menghadang.”
Kita... ah. Lalu kita terdiam
5.4.2016
Kepada Ibu, kusampaikan salam rindu lewat merpati-merpati yang terbang di
pelataran pagi ini. Kukatakan pada mereka bahwa gadis yang delapan bulan kau
kandung dulu merindumu. Sangat. Kukirimkan peluk hangat lewat merpati yang
terbang paling tinggi. Kuharap masih ada kehangatan ketika ia menyampaikan
pesan rinduku padamu. Sehangat kopi kita setiap pagi.
kepada Ibu. Semoga kau tak
pernah kelelahan mendoakanku. Sebab kepulanganku berkaitan erat dengan
terjawabnya doa-doamu. Doa kita.
Kepada Ibu. Selamat pagi.
Semoga hari ini cerah. Dan hati kita ceria.
Kepada Ibu, sekali lagi aku
rindu. Rindu yang kucandu.
Januari 2016









