#AnakKost

Kembali Keluar Zona Aman (Racauan Ketika Tesis akan Dimulai)

Juli 29, 2017


Gue baru saja tiba di Solo kemarin pagi, setelah terus-terusan menunda keberangkatan ke sini dengan berbagai alasan. Kayak, mau buat ATM baru, kereta yang biasa dinaiki gak ada lagi trayeknya, dan sebagainya. Sebenarnya, gue di rumah nggak lama-lama amat, pulang tanggal 22 Juni dan ke sini tanggal 28 Juli. Karena sebenarnya pun, masuk kuliah itu tanggal awal September di kalender. Tapi namanya rumah, kalau nggak ingat gue harus mulai menyicil memulai tesis, mungkin gue baliknya abis lebaran haji sekalian.
Pinterest.com
Bagi gue, terutama setelah kuliah di Solo, rumah itu tempat pelarian, tempat gue merasa aman damai dan terbebas dari kecemasan. Rumah itu zona aman gue, dan tiap terlalu lama berada di zona aman, gue harus kembali menyesuaikan diri untuk bisa terbiasa lagi.
Gue ngerasa, gue ga memaksa untuk segera ke Solo kemarin. Rasanya, gue ingin lama di rumah sebelum balik ke Solo untuk menyiapkan diri bergulat dengan tesis. Sekarang, gue nggak tahu apa gue benar-benar siap, tapi gue juga sadar kalau lebih baik gue memulai daripada menunggu siap. Gue nggak tahu gimana pembimbing gue nanti, kesibukan mereka, dan masalah-masalah lain, jadi gue pikir lebih baik gue memulai sekarang.
Gue selalu berusaha meyakini, apa yang dimulai pasti akan diakhiri, karena umur manusia pun begitu. Belajar dari skripsi gue yang pada akhirnya selesai, gue mikir kalau tesis gue pun akan selesai.Yang gue butuhkan adalah konsisten, ketekunan, kesabaran, dan rajin berdoa, hal-hal yang gampang ditulis tapi kadang susah dikerjain. Dan sebenarnya, makin hari gue makin sadar kalau kadang masalah yang ada itu lebih ke masalah gue sendiri, gue suka cemas yang berakhir nunda tugas, padahal waktu gue kerjain yang akhirnya bisa (walau kadang nggak kayak yang gue harapkan).
 Gue sadar kalo hidup bukan lomba lari, yang gue tahu, kalau gue mau lari ke finish, yah gue harus fokus sama lintasan gue. Lintasan tiap orang berbeda jadi nggak baik untuk banding-bandingin.
Gue sadar sekarang, kenapa rumah adalah zona aman gue setelah gue kuliah. Karena waktu pulang ke rumah, gue benar-benar pulang, berlibur, mendekam di rumah dan menikmati hari-hari bersama keluarga dan kucing gue. Di rumah gue nggak mikirin mau makan apa hari ini karena selalu ada makanan, gak mikirin betapa tingginya cucian kotor karena ada mesin cuci, nggak mikirin tugas-tugas kuliah karena lagi libur, dan semua itu berimbas ke menurunnya kecemasan gue kalau di rumah. emang sih, gue masih mikir dan takut soal masa depan di rumah, tapi nggak seseram pas gue jauh dari rumah.
Pada akhirnya, gue emang harus ketemu tesis lagi dan memulai dramanya yang gue harap berjalan lancar sehingga gue cepat lulus. Bukan apa sih, uang kuliah dan biaya hidup kan mahal, jadi gue harus segera lulus untuk ngeringanin orangtua gue. Kalau ditanya mau jadi apa setelah lulus, gue ada pikiran, tapi gue nggak tahu apa takdir gue ke sana atau gak. Papa nyuruh gue untuk lebih realistis dalam hidup, dan mungkin pada akhirnya gue harus bekerja, nggak kuliah terus, dan yakin aja Tuhan akan kasih gue pekerjaan yang baik dan menyenangkan nanti.
Gue memutuskan untuk rehat dari wattpad dulu sampai sidang tesis atau paling ga, sampai gue udah mau selesai. Mengingat waktu gue skripsian kemarin, agak terjadi kelambanan akibat gue malah nulis puisi dan 24. Ya, walaupun sekarang gue nggak bisa lagi meracau kayak dulu, atau racau-racau itu memang akan keluar waktu gue rada stres dan semacamnya. 

By the way, gue masih bingung apakah gue pulang atau tidak lebaran ini. Gue pengen pulang dan berlebaran karena gue nggak pernah lebaran haji dari 2012.  Gue mikir, seminggu di rumah udah cukup, asal gue bisa lebaran. Lagipula, katanya nggak ada lagi kuliah. Cuma, gue malas aja naik bus. Tapi, kereta yang gue naikin udah nggak ada. Deu, gue makin pusing dan tulisan ini makin ngalor ngidul. Jadi sekianlah

#JustWrite

Batu Berair

Juni 11, 2017

Batu itu sudah mencair, kalau pun tidak, ia mungkin menjadi agar-agar. Tahukah, kamu? Sebongkah batu itu memang menyimpan beberapa ml air di dalamnya. Dahulu kata, batu itu akan semakin keras ketika sebuah palu menghantamnya, melindungi air yang tersimpan di tengahnya. Itu dulu, sebelum matahari menghanguskan batu menjadi kehitaman dan batu itu menjadi sesuatu yang begitu rentan. Jangankan palu, tertiup angin saja batu itu bisa terbelah menjadi dua, mengalirkan tetes-tetes air di dalamnya. Kadang, tak ada angin tak ada hujan, batu itu membelah sendiri, mengalirkan air yang ia simpan. Batu itu tidak sekuat dahulu, hanya saja, palu tak sesering dipukulkan seperti sebelumnya, dan batu itu bisa menutup kembali ketika warnanya yang hitam berubah menjadi kemerahan tiap matahari pergi. Ini tentang batu, dan hanya tentang batu.

#AnakKost

Masih mau ngancem orangtua?

Mei 30, 2017

Akhir-akhir ini, gue sering lihat berita yang mungkin kebetulan sejenis. Like, gue baca berita ada bapak-bapak yang beli HP dengan pecahan uang dua ribuan, karena anaknya nggak mau sekolah kalau nggak dibeliin android. Atau gue nonton 86 yang anak SD kelas 6, udah pacaran, main sampai tengah malam, dan kalau nggak dibolehin main, mengancam yang aneh-aneh. Berita-berita macam itu sebenarnya mungkin sering gue dengar dari dulu. Berita-berita semacamnya yang intinya banyak anak-anak yang meminta sesuatu ke orang tua tanpa sadar kemampuan orangtua mereka, banyak yang mengancam orangtua demi melakukan sesuatu yang salah. Hal-hal yang kadang bikin gue sedih dengarnya. Iya, nggak tahu kenapa, akhir-akhir ini gue mendadak jadi sensi dengan lingkungan sampai gue menutup twitter dan facebook demi kesehatan gue.

Gue bukan anak paling baik sedunia, gue juga masih kuliah dan masih diberi uang bulanan tiap akhir bulan. Gue masih menyusahkan orangtua gue dari segi finansial, menang lomba atau fee proyek nulis pun nggak seberapa. Mungkin gue nggak pantas mengkritisi mereka, dan belum tentu gue lebih baik dari mereka. Gue mungkin perlu bersyukur karena gue tidak pernah meminta, orangtua gue yang ngasih duluan, kalau mereka nggak kirim-kirim gue uang bulanan, mungkin memang sedang tidak ada dan itulah pentingnya gue untuk menabung. Tapi, dari kecil, gue selalu diajarkan, kalau gue mau sesuatu, gue harus usaha, kalau kurang, baru mereka bantuin. HP pertama gue, waktu SMP, adalah hasil tabungan lebaran, menang lomba waktu SD, dan gue jualan stiker yang kemudian ditambahin bapak gue. Kamera gue yang sekarang, setengahnya adalah hasil jualan buku bekas hampir setahun dan setengahnya lagi dari ibu gue. Mungkin dia kasian karena gue kehilangan kamera gue dari SMA. Gitu juga dengan HP yang sekarang gue pakai, HP gue rusak, ibu gue memberi sejumlah uang yang kalau gue mau lebih dari itu, pakai uang sendiri. Tetapi, gue merasa, gue nggak begitu butuh hp yang cetar, hp gue cuma J1 mini. HP apalah itu kalau dibandingin temen-temen gue. Gue sadar, gue bukan orang kaya, dan gue merasa jahat kalau gue meminta sesuatu yang mahal.

Dear, gue bukan mau menasehati atau apa, siapalah gue ini. Gue hanya ingin berkata bahwa sadar, lu itu siapa, dan siapa orangtua lu. Sadar, sebatas mana kemampuan orangtua baru lu minta. Orangtua mana yang nggak mau anaknya senang, orangtua mana yang nggak mau memberikan apa yang diinginkan anaknya, tapi sadar, kemampuan orangtua lu itu semana. Jangan meminta apa yang mereka nggak mampu, lu tahu, orangtua lu akan sedih ketika dia nggak bisa ngasih apa yang lu inginkan bahkan tanpa lu marah-marah. Tanpa lu sadar, lu-lu pada yang minta motor atau mobil di usia muda dan ngancem aneh-aneh padahal orangtua lu nggak mampu, lu udah memberatkan pikiran mereka. Bahkan, gue pernah dengar, ada bapak yang kena serangan jantung dan meninggal karena anaknya minta motor mahal dan ngancem yang aneh-aneh. Lu mau orangtua lu meninggal hanya karena itu? Lu yang ngancem-ngancem, emang lu udah ngasih apa ke orangtua lu? Apa sekolah lu bagus? Apa lu membanggakan mereka? Apa lu bantuin mereka di rumah? Lu sadar itu? Lu sama aja kayak demo-demo di depan istana negara, minta macem-macem, padahal bayar pajak aja kagak.

Orang-orang pada akhirnya nggak melihat lu dari kendaraan apa yang lu pakai, Hp apa yang lu pakai, baju apa yang lu pakai. Kalau lu memang mampunya 20, jangan maksa 30. Kalau teman-teman lu memaksa lu untuk seperti mereka, pikirkan lagi pertemanan kalian. Pertemanan nggak sepicik itu. 

Sudahlah, selamat puasa. 
Maaf kalau gue ber-lu-lu. Gue nggak bermaksud menuduh orang, nuduh lu, dan gue memang sering ber-lu-gue dengan diri sendiri. Dan, gue merasa lebih lepas kalau gue ber-lu-lu.

#Imajinasi

Puisi-puisi abal gue di Wattpad

Mei 29, 2017

Honestly, gue bukan tukang baca buku puisi atau sejenisnya. Kadang susah buat gue untuk paham maksud dari puisi meski gue kadang baca-baca aja tanpa peduli banyak untuk menelaah lebih jauh. Itu juga yang sering terjadi saat gue nulis racauan yang mungkin bisa dikatakan sebagai puisi, meski gue merasa itu terlalu memalukan disebut puisi. Tetapi... kata teman gue, gue harus menghargai karya gue. Sebenarnya, gue bisa aja menulis puisi di blog ini, cuma dulu, gue sedang senang meracau karena entah kenapa, enak aja nulis di aplikasi wattpad di HP. Sekarang sih, gue udah bosan dan udah lama banget nggak nulis puisi lagi. Gue nulis racauan kalau gue lagi merasa ga baik-baik saja, atau justru waktu baik-baik saja. Sayangnya, sampai sekarang susah buat gue untuk nulis sesuatu yang bahagia, biar gue lagi senang, kadang gue nulis yang menyedihkan. Oke, jadi di bawah ini ada beberapa kumpulan puisi abal gue.
Yang pertama, ada Abu-abu. Gue gabisa ngasih judul, dan abu-abu itu, puisi pertama dan posting pertama di akun gue. Akun gue namanya PlutoPamit. Dulu gue iseng, gue pengin kasih nama Pluto aja, tapi harus 6 karakter, jadilah gue kasih nama PlutoP, dan gue ubah jadi Plutopamit kemudian.




Setelah itu, gue nulis Juni untuk Juli, itu, proyek iseng gue nulis selama Juni-Juli.



Dan terakhir, ada The Escapist, ini masih on going sih, cuma karena gue memutuskan untuk puasa Wattpad, dan gue udah bosen publish di Wattpad, kayak lebih enak nulis di blog atau di word aja gitu, jadi dia terabaikan.


Yasuda, selamat puasa, semoga postingan ini bermanfaat.

#JustWrite

Keluarga yang Terlempar ke Luar Angkasa (Cerpen)

Mei 25, 2017

Kegaduhan pagi ini dimulai dari teriakan Mbah Sastro, lelaki berusia tujuh puluhan, mantan dosen seni rupa yang memelihara selusin burung di halaman rumahnya. Lelaki bersarung kotak-kotak dengan kaus putih itu berteriak,”Mereka terbang! Hei, mereka terbang!”
Awalnya, tidak ada yang memperhatikan teriakan Mbah Sastro, pagi masih begitu sepi, sampai tukang kebun mereka, Kerik, turut melihat ke angkasa dan terpana. Kerik semula mengira Mbah Sastro menunjuk kawanan burung seharga jutaannya lepas dari sangkar, tetapi yang kemudian dilihatnya adalah tiga orang manusia bergandengan melayang-layang dan terpental-pental di langit. Tubuh mereka sesekali terlihat seperti melompat-lompat, sesekali terombang-ambing,mendadak berputar-putar seperti komedi putar, lalu secepat kilat tertarik ke atas hingga tak lagi terlihat.
Semuanya peristiwa tadi terekam dalam kamera ponsel pintar Kerik. Tangan kapalannya tergerak untuk mendokumentasikan kejadian itu karena berpikir video amatirnya bisa menjadi bukti sejarah seperti rekaman video-video amatir saat tsunami Aceh. Bagi Kerik, ia tidak mungkin memanjat tiang listrik dan meloncat dengan sprei yang diikat di pundak seperti Superman untuk menolong keluarga itu. Pun, istrinya, berkata bahwa ia membutuhkan Kerik yang apa adanya, maka ia tidak perlu menjadi Superhero, misalnya. Kerik memilih mendokumentasikan daripada sok jagoan.
“Apa yang baru saja terjadi?” tanya Mbah Sastro, lebih seperti berbicara sendiri ketimbang berbincang dengan Kerik.
“Mereka terbang. Bu Ninik, Pak Akmal, dan anaknya Imora terbang,” jawab Kerik. Lalu menunjukkan video rekamannya. Video yang baru saja ia sebarkan di grup whatsapp ‘Perumahan Srikandi’. Video yang memancing setiap orang di perumahan keluar dari rumah mereka dengan keadaan apa adanya sambil memandang langit dengan sejuta tanya. Sebagian masih menggunakan daster, beberapa memilih berpiyama, dan sekumpulan bapak-bapak yang mengenakan kaus dalam putih dengan celana pendek atau sarung. Semuanya memegang ponsel, dan bisik-bisik mulai terdengar. Segerombol anak kecil tertawa berlarian tanpa peduli bahwa salah satu teman main mereka yang cengeng, Imora, baru saja terlempar dari bumi, mungkin ke luar angkasa. Hari itu, Minggu 30 April, televisi-televisi, juga portal berita online heboh dengan sebuah berita berjudul ,”Keluarga yang Terlempar Ke Luar Angkasa”

Banyak spekulasi yang muncul mengapa mereka terbang di angkasa dan hilang begitu saja.  Bu Laksmi agak gendeng, percaya bahwa mereka dipilih Tuhan untuk mendapatkan hidayah baru atas agama baru. Cucu Mbah Sastro, Bima dan Yudhistira, percaya bahwa Bu Nini dan Pak Akmal berencana bercinta di luar angkasa agar bisa kembali ke dunia dan menyenandungkan lagu Sepasang Kekasih yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa. Tante Gita, guru fisika di sebuah SMA percaya bahwa ada gaya gravitasi yang sangat kuat yang menarik mereka. Masih banyak lagi pendapat lain, mulai dari yang dapat diterima akal pikiran hingga terlalu imajinatif.
Semua pendapat itu seketika terbantahkan ketika polisi yang menggeledah rumah keluarga kecil itu menemukan secarik kertas berwarna merah muda dengan tulisan biru bertuliskan : Suara kalian begitu memuakkan, bernyanyilah, teriaklah, menarilah, enyahlah kalian ke luar angkasa! Bumsakdarkesembrotosengkasurutusingrotogozokosooo platu-platu.
Berhari-hari polisi melakukan penyelidikan, tetapi tidak juga menemukan jawaban. Rumah keluarga kecil itu kemudian ditempati saudara mereka. Tidak ada yang membicarakan terlemparnya keluarga itu sekarang.  Tetapi Kerik, patut berbangga. Ia menjadi komedian di layar kaca. Tingkahnya yang lucu saat diundang sebagai saksi mata di berbagai televisi mengundang gelak tawa dan ia pun pensiun dari tukang kebun. Sekarang, tiap malam, ia muncul di televisi bersama Sule. Memang tidak ada lagi yang membicarakannya, tetapi semua warga ingat. Termasuk Karla.
pinterest
Karla mengira itu hanyalah buku catatan biasa milik tetangganya, Naya. Maka, ia dengan santainya membaca buku catatan itu sambil mengunyah keripik singkong dan menonton Kerik di televisi. Naya sedang mandi dan mata Karla terus menelusuri kata demi kata di buku itu.
Saya benci tetangga saya.
Tidak ada alasan yang pasti mengapa saya membencinya selain sulutan emosi tiap kali mendengar suara-suara mereka yang masuk lewat lubang angin. Suara-suara sumbang dan cempreng yang menyulut emosi saya. Suara-suara yang tak pernah saya izinkan memasuki gendang telinga saya tetapi dengan mudahnya menggetarkan koklea dan otak menangkapnya dengan mudah, semudah ketidaksukaan saya.
Seperti cinta yang kadang tanpa alasan, seperti itulah ketidaksukaan saya pada suara-suara dari rumah sebelah. Tanpa alasan. Kekesalan yang tak diketahui mengapa saya begitu tidak suka dengan suara-suara yang mereka ucapkan. Seperti ketidaksukaan saya pada suara keran bocor yang meneteskan air perlahan-lahan, layaknya ketidaksukaan saya pada tempe busuk dan terong rebus.
Saya tinggal di perumahan yang padat penduduknya. Selain manusia, perumahan ini juga dihuni sapi-sapi, kambing-kambing, beberapa burung  dan ayam petelur. Tetapi, ini bukan peternakan. Ini hanya kompleks perumahan padat kelas menengah ke bawah di mana untuk menghemat, si juru gambar membuat tiap rumah berdampingan. Ini adalah hal yang paling saya sesalkan. Mengapa ayah saya membelikan rumah ini sebagai tanda kebebasan saya karena diterima kerja sebagai ... sebaiknya saya tidak terlalu mengumbar tentang pribadi saya.
Saya tidak pernah membenci tetangga tanpa sebab sebelumnya. Saat masih kecil, saya pernah tidak suka dengan ibu teman saya yang tiap saya bermain dengan anaknya, ia sibuk membicarakan ibu teman saya yang lain yang bersama pembantunya. Mereka duduk di meja makan, mengudap pisang sambil menceritakan hal yang sebaiknya tidak dibicarakan. Saya juga pernah membenci tetangga saya yang membuang sampah di halaman belakang rumah saya. Saya menyadari bahwa halaman kami memang luas, bahkan teramat luas sampai ayah dan kakak saya sering bermain bola di sana. Tetapi, bukan berarti sebuah tanah lapang bisa dengan seenaknya digunakan sebagai tempat membuang sampah. Saya kesal dan geram, belum lagi mereka tidak mengaku. Maka saya juga tidak mengaku saat menaburkan satu ember daun mangga yang banyak semutnya di depan rumah mereka. Masih ada cerita lainnya.
Ini adalah kasus baru, membenci tanpa tahu mengapa. Tidak suka hanya karena suara. Dan lebih anehnya, saya tidak pernah bertatap muka dengan mereka yang tinggal di belakang rumah saya. Ya, belakang dan bukan di kanan atau kiri. Kalau pernah bertemu juga, saya tidak tahu mereka yang mana.
Rumah yang ditempati tetangga yang saya benci adalah rumah seorang nenek renta pada awalnya. saya sering mendengar suaranya terbatuk-batuk atau memanggil pembantunya, entah mengeluh tehnya tidak panas atau sekadar merasa pegal-pegal. Suara nenek itu tidak pernah menganggu telinga saya, saya merasa baik-baik saja sampai nenek itu suaranya tidak lagi terdengar. Ia belum meninggal, hanya saja anaknya yang tertua membawa nenek itu untuk tinggal di rumah mereka sebagai baktinya. Saya tahu itu dari obrolan dua pembantu saat membeli sayur, kebetulan salah satunya adalah pembantu si nenek yang sekarang pun ikut pindah. Si nenek sangat menyayangi pembantunya.
Andai si nenek tidak pindah, mungkin cerita saya tidak akan menceritakan ini. Suatu hari, setelah berminggu-minggu rumah si nenek kosong dan saya hanya mendengar tokek tiap malam, terjadi kegaduhan di rumah itu. Suara-suara cempreng yang menyakitkan telinga saya dimulai. Tidak begitu ingat, tetapi suara yang pertama kali mengusik emosi saya adalah soal sikat gigi.
“Pokoknya, kirimkan sikat gigi Imora ke rumah baruku. Imora hanya mau sikat gigi itu, lagipula susah mencari sikat gigi seperti itu di sini. “
Yang saya lakukan pertama ketika mendengar suara wanita dengan aksen suatu-daerah-yang-tidak-ingin-saya-sebut adalah membuat kernyitan di dahi. Sebegitu pentingkah sebuah sikat gigi? Lebih lagi ucapan menyoal Imora-hanya-mau-sikat-gigi-itu membuat saya bergidik, membayangkan usia Imora yang sepertinya masih balita, sikat gigi seperti apa yang begitu hebatnya sampai harus dikirimkan dari rumah lama yang saya tahu ribuan kilometer dari kompleks ini, dan ... sudah berapa lama sikat gigi itu dipakai? Bukankah sikat gigi paling tidak diganti 2-3 bulan sekali? Membayangkannya saja sudah jijik.
 Seperti ungkapan sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit, kebencian saya terhadap mereka membukit. Tentu saja karena anaknya yang mungkin tidak pernah berganti sikat gigi itu terus-terusan menjerit, ibunya balas memekik, dan bapaknya tertawa sumbang. Juga ungkapan cinta sang ibu terhadap anaknya yang berlebihan seperti: Oh, Cintaku, mau makan dengan tempe goreng hari ini? Astaga, kamu begitu cantik seperti Annabelle.
Sebentar, bukankah Annabelle menyeramkan?
Kebencian akan suara mereka membuat jantung saya berdetak tak karuan. Seperti semua emosi negatif berkumpul menjadi satu. Layaknya bom atom yang siap untuk diledakkan kapan saja tiap tersulut kebencian akan teriakan memanggil sang ibu dengan isakan dan kata marahnya. Saya tidak suka mendengar anak yang memarahi ibunya dan ibu yang merasa bersalah dimarahi anaknya bukan atas kesalahannya.
Pagi itu, bom atom itu meledak. Saya kirimkan selembar kertas beserta mantra yang bisa mendepak mereka dari bumi ini. Selembar kertas yang dibaca sang ibu dengan suara cemprengnya, yang mengantarkan mereka ke langit dan  mungkin tinggal di luar angkasa. Saya merasa...

“Tidak sopan! Membaca tulisan orang sembarangan!” teriak Naya, ia berlari dari toilet dan langsung melompati sofa. Mengambil buku hariannya dan melemparkan tatapan penuh hunusan pedang ke arah Karla.
“Kamu jahat, Naya. Suara keluarga itu memang memekakkan, dan tingkah mereka berlebihan, tetapi mereka tetangga kita.”
“Terserah, itu sudah lama terjadi. Aku harap kamu diam,” sahut Naya pelan tetapi sedikit penuh penekanan.
Karla tidak menjawab. Ia memutuskan keluar dari rumah Naya tanpa sepatah kata. Di depan rumah Naya, Karla mengirimkan pesan ke grup whatsapp kompleks perumahan mereka.
Naya yang menerbangkan keluarga Akmal.

Notifikasi ponsel Naya berbunyi detik itu juga. Sebaris pesan Karla di grup langsung terbaca. Matanya terhunus ke punggung Karla yang berjalan menjauhi rumahnya. Tangan Naya seketika menari di atas ponselnya.
Sesaat kemudian, langkah Karla terhenti. Ponselnya bergetar dan sebuah  pesan dari Naya ia terima. Perlahan ia membacanya. Bumsakdarkesembrotosengkasurutusingrotogozokosoooplatu platusutukumbro

Seketika tubuh Karla tertarik ke atas, kakinya terayun-ayun, tangannya melambai-lambai, dan teriakannya tersapu angin. Hari itu Karla terlempar ke ruang angkasa, tanpa seorang pun merekam peristiwa itu.


Surakarta, 1 Mei 2017

Popular Posts

My Instagram