#JustWrite

Hujan, Rindu dan Limbikmu

November 21, 2014

“Kenapa sih suka banget sambung-sambungin rindu sama hujan?” tanya Cika padaku. Aku terdiam dan membiarkan otakku bekerja. Aku juga tidak tahu kenapa orang suka menjadi galau dan merindu ketika hujan
“Apa ada hubungannya hujan sama sistem limbik?” tan
ya Cika lagi, sebelum aku berhasil menemukan jawaban atas pertanyaan pertamanya.
“Mungkin ada hubungannya dengan sistem limbik. Katanya suara dan bau hujan dapat meresonansi ingatan, termasuk ingatan bersama orang yang kamu sayang, yang tentu menjadi perhatian sistem limbikmu,” jawabku. Semua ini karena pelajaran anatomi otak, semua hal selalu dihubung-hubungkan dengan sistem limbik.
Lalu aku memandangi tetes-tetes hujan, mengingat daur hidrologi. Kupandangi Cika yang merapatkan jaket coklatnya, dan sepatu bututku sudah basah kuyup. Halte sepi dan bus 03 tak kunjung menampakkan diri, mungkin ikut demo kenaikan BBM.
“Mungkin karena hujan itu bentuk melepas rindu itu sendiri. Air di bumi menguap menjadi awan yang menebal dan akhirnya turun hujan. Saat menjadi awan, uap air dan tanah pasti saling merindu. Hujan adalah waktu dimana air dan tanah bertemu,” ucapku asal.
“Jadi air dan tanah itu seperti aku dan kamu? Dan hujan itu seperti pertemuan kita tiap Rabu Naleo?”
“Mungkin begitu,” sahutku, sayang kamu tak bisa jadi kekasihku.

#JustWrite

Kacau...

November 17, 2014

Seperti karena balon hijau yang meletus, hatiku sangat kacau.
Seperti ada yang porak poranda, aku ingin hancur melebur saja.
Seperti merah yang menggelora, aku ingin marah entah pada siapa.
Seperti akibat yang terjadi tanpa tahu sebab yang pasti.
Ada yang ingin meledak tanpa ditemukan peledak.
Ada yang sesak tanpa tahu yang menyemak di otak.
Sebab bahagia kadang sulit diraba.
Sebab sedih kadang sulit ditemukan penyebabnya.
Sebab begitulah aku.
Mengacau, meracau, kacau.

#JustWrite

Kedua

November 14, 2014

Orangtua saya memberikan kata 'First' di nama saya sebab saya anak pertama. Dan saya tahu, first  disitu adalah urutan kelahiran, bukan posisi saya dalam hal apapun. 
Saya anak pertama, tapi nggak pernah punya nomor absen pertama. Di SD saya urutan 20-an. SMP, 20 akhir atau 30 awal. SMA? Sama. Dan kuliah saya nomor 53. Saya sering peringkat satu saat SD, urutan pertama di hasil tes masuk SMP, dan juara pertama cerdas cermat dan olimpiade saat SD. Tapi saya pernah peringkat ke 7,12,2 dkk saat SMP dan SMA. Tapi, saya menjadi yang kedua di lomba story telling di kabupaten saya saat SMP, atau yang ketiga di olimpiade fisika antar kabupaten. Ya, saya tahu bahwa tidak selamanya saya jadi yang pertama.

Oktober lalu, saya membuat October Challenge, ngeblog seputar pendidikan khusus di blog UNS. Awalnya saya berniat menuliskannya disini atau di blog akudanspedu, tapi saya pikir nggak ada salahnya mencoba UNS blog competition. Hingga saya berusaha tiap hari menulis posting baru. Saya berusaha menuntaskan tantangan saya sendiri, jika saya masuk 10 besar, atau 3 besar, saya anggap itu apresiasi yang menjadi penguat positif tersendiri. Kadang saya tidak ingin menaruh harapan yang terlalu besar, sebab saya nggak mau kecewa terlalu dalam.

Kemarin saya menerima SMS, katanya saya masuk 10 besar blok akademik terbaik. Saya senang, meski saya tidak datang di pengumuman pemenang. Lalu sebuah sms dari panitia berkata saya menjadi pemenang kedua. Saya senang. Awal yang baik dalam kebangkitan saya menulis lagi.

Karena saya nggak selamanya menjadi yang pertama. Kali ini saya menjadi yang kedua. Itu sudah cukup, sebab saya bahagia.



Ossy Firstan

#Meracau

jadi gini..

November 12, 2014

Saya lagi mencoba nulis lagi. Setelah Odrei selesai saya berusaha nulis baru. Outlinenya sudah selesai kemarin, outline yang tadinya udah selesai tapi saya nggak sreg hingga akhirnya saya tinggal mandi. Tapi kamar mandi memberikan saya inspirasi, hingga saya nulis outline baru 1 buku tulis berjam-jam. Hahaha.
Masalah outline selesai. Masalah baru muncul. Saya nggak dapat feel. Kembali ngerasa tulisan saya busuk. Saya suka menulis dengan nada sinis dan pesimis plus kaku. Dan di cerita baru, yang seperti itu nggak bisa dimasukkan. Sebab ini cerita tentang persaingan, persahabatan, sedikit cinta, ya, begitu.
Saya udah nyoba nulis Bab pertama. Saya kira cukup baik. Tapi bab-bab berikutnya saya kesulitan, nggak lepas, nggak tahu kenapa. Saya tulis-hapus-tulis-hapus. Gitu tadi pagi.

Baiklah, saya cuma mau sedikit cerita. Semoga saya bisa mengatasi masalah ini

#AnakKost

Dear Pap, Selamat Hari Papa!

November 12, 2014

Dear Pap,



Saya menulis ini dengan rindu yang membuncah, yang sayangnya sulit untuk diungkap lewat lisan. Saya menulisnya disini, berharap Papa baca, sebab saya tahu, kita sama. Sama-sama sulit untuk bicara. Pap, You teach me to show love without words and i did too. Everything that you did to me, i know it's because you love your daughter, me. Maka saya mungkin nggak pernah langsung bilang saya sayang Papa. Tapi tiap berdoa, saya selalu berdoa untuk Papa.

Selamat Hari Papa ya Papa. Terima kasih sudah berkontribusi banyak dalam menghadirkan saya di dunia, merawat dan membesarkan saya bersama mama tanpa mengeluh meski saya tahu saya pasti membuat repot kalian. Terima kasih sudah memberi saya kebebasan memilih dan melakukan yang saya suka, terima kasih sudah memberi saya kepercayaan yang akan saya jaga. Saya akan bertanggung jawab atas diri saya, berusaha membuat Papa senang dan bersyukur memiliki anak seperti saya.

Saya akan ingat semua pesan Papa di suatu sore ketika saya baru-baru diterima di UNS. Papa cuma sekali berpesan, tidak ada pengulangan, sebab saya tahu, Papa bukan jenis yang terus berceramah dengan isi yang sama sampai bosan.
Papa bilang, kalau perlu ditolak 100 kali waktu naskah kedua saya bersama teman saya tertolak di SMA dulu. Pap, saya akan mengirimkan naskah lagi. Doakan tidak ada penolakan ketiga kali,ya.
Saya tidak tahu mau nulis apa lagi.

 Sekali lagi selamat hari Papa. Semoga Papa selalu sehat dan berumur panjang.
Saya sayang Papa.


Regards.

Ossy Firstan 

Popular Posts

My Instagram