#JustWrite

Mungkin aku harus menulis di blog lagi

Juni 13, 2023

 Sudah lama aku tak membuka blog, dan aku berpikir bukankah menyenangkan jika aku kembali dan kembali perlahan-lahan menulis fiksi lagi? Belakangan aku menyadari bahwa salah satu hal yang membuatku dulu bisa konsisten menulis adalah karena hampir setiap hari aku menulis di blog. Tulisan-tulisan yang muram, sangat muram, dan sebagian sudah ku unpublished karena terlalu muram dan depresif. 

Entah, ada apa dengan tampilan blog sampai aku merasa sangat bebas menulis di sini, lebih terbuka, bahkan merasa sangat nyaman ketimbang menulis di Word atau Google doc, misalnya. Mengenai menulis tangan tak usah dibahas karena tulisanku jelek, menuju kehancuran, dan aku benci menulis tangan.

Belakangan aku berpikir, mungkin saja jika aku ingin kembali menulis fiksi, aku harus kembali menulis di blog seperti dahulu. Mungkin, ini ide yang menarik untuk melatih habit menulisku lagi. 


#FotoBercerita

Racauan Nikola tentang Mikola

Januari 15, 2021

 Sepertinya, sebelum kembali menulis  novel bernapas panjang, aku butuh pemanasan dengan rutin menulis Gambar Bercerita. Gambar Bercerita adalah kumilih gambar secara random, lalu kumenulis apa yang ada di kepalaku.

Selamat membaca ^^


sumber gambar


Nikola Tesla. Begitu lelaki kurus berambut berantakan itu memberiku nama. Berjuta kali ia menceritakan bahwa nama itu adalah nama fisikawan favoritnya. Tentu saja aku tidak tahu dengan jelas apa itu fisikawan. Setiap aku memandang lurus ke matanya untuk meminta penjelasan apa itu fisikawan, Miko --- nama lelaki itu--- malah beranjak ke rak kayu dan mengeluarkan bungkus snack kesukaanku. Aku tidak mengerti, apakah Miko sebenarnya tidak mengerti pertanyaanku. Atau... fisikawan sebenarnya berarti pemangsa kucing, dan ia menyembunyikan fakta itu dengan menutup mulutku dengan makanan. Aku harus mengakui bahwa makanan adalah penutup mulut paling ampuh, setidaknya bagiku.

Aku merasa nama ini terlalu panjang dan terdengar keren untuk seekor kucing domestik. Pasalnya, tetangga kamar kost Miko yang berambut seperti sarang burung, memelihara seekor kucing persia yang aduhai bulunya. Matanya pun bulat besar dengan hidup pesek sempurna. Si Persia ini dipanggil Dugong oleh pemiliknya. Jika saja kau tidak melihat betapa seksi liukan buntutnya, kau mungkin akan berpikir Dugong adalah kucing gempal yang bulat sempurna dan siap dijadikan bola. Dugong diadopsi beberapa minggu setelah aku tinggal di kamar kost Mikola yang begitu rapi. Mikola tidak pernah membiarkan spreinya berantakan, dan ia akan menumpuk buku berdasarkan warna. 

Omong-omong, izinkan aku bercerita bagaimana Mikola mengadopsiku. Ini bukan cerita yang tragis kalau-kalau tanganmu siap mengambil tisu. Aku adalah kucing tanpa nama yang lahir dari seekor betina di gedung tempat Miko berkuliah. Ibuku adalah kucing betina yang haus belaian dan begitu menggandrungi kucing garong berbulu kelabu yang tidak begitu tampan---konon ia ayahku juga. Jadi, begitu aku dan seekor saudaraku terlihat bisa tegak berjalan, ibuku meninggalkanku dengan pesan,"Hidup ini kejam, kamu bisa mati jika tak bisa bertahan." Kalau saat itu aku sudah sebesar saat ini---aku sudah melewati 7 purnama--- aku mungkin akan berkata,"Jika hidup ini kejam, dan Ibu tak bisa membuatku bertahan, untuk apa dan siapa aku dilahirkan?" 

Aku hampir mati kedinginan ketika Mikola menemukanku kehujanan di teras gedung kampusnya. Kembaranku sudah diambil seorang mahasiswi. Aku sebenarnya berlari mengejar kembaranku, tetapi manusia itu tidak menyadari. Tentu akan lebih baik kalau ia mengadopsi kami berdua. Oh, betapa malangnya aku. Ibuku yang bucin meninggalkanku, dan kembaranku diadopsi lebih dulu. Namun, Mikola datang seperti malaikat. Tangannya yang besar meraih badanku yang kurus kerempeng dan membungkusku dengan jaket hitamnya yang wangi.

"Ini obat cacing, dan kau harus meminumnya," begitu kata Mikola ketika sebuah jarum suntik tanpa jarum---sebagai kucing aku tidak tahu kata yang pas--- tepat di depan bibirku. Aku hanya menurut ketika cairan berwarna oranye kental dengan rasa asam itu masuk ke mulutku. Lalu Mikola berseru tatkala ada binatang menggeliat di bak pasir. 
"Cacingnya keluar! Cacingnya keluar! Hebat!" seru Mikola.
Cacing. Aku baru tahu kalau  bahwa seekor kucing bisa memelihara hewan di perutnya. Bukankah itu hebat, kawan? Lantas mengapa harus kukeluarkan?

Hari-hariku bersama Mikola sangat menyenangkan. Tubuhku mulai berisi, buluku mulai berkilau, dan Miko selalu mengajakku bermain. Sampai ... sampai Miko membawa bungkusan kabel-kabel. Sampai ia tidak pernah mengalihkan matanya dari benda kotak berlayar yang jika kau pencet-pencet, muncul sesuatu di layarnya. Kadang-kadang Miko berubah menjadi Miko yang tak pernah mandi karena menghabiskan waktu dari matahari terbit hingga kembali ke peraduan dengan kabel ini. Miko mulai mengabaikanku, ia pun kadang lupa membersihkan bak pasirku. 

Pagi tadi, Miko membawa bungkusan plastik makananku. "Kau boleh makan sepuasnya. Ada atau tiada aku, kau harus tetap hidup. Hiduplah dengan hati senang, Nikola Tesla," tiba-tiba Miko berkata demikian. Aku kembali memandanginya. Lalu seperti kesalahpahaman yang tak kunjung berakhir, Miko malah mengambil mangkuk makananku dan menuangnya ke mangkuk. Miko membiarkanku makan dengan lahap. Lalu ia mandi dan duduk di meja belajarnya.
"Kadang, kadang aku mau menyerah, Nikola Tesla. Kadang aku ingin mengakhiri apa yang tidak pernah kumulai. Kadang, kita tidak meminta dilahirkan tetapi diberi setumpuk beban," Miko menatapku. Aku sependapat, aku tidak pernah minta dilahirkan dari ibu yang hanya menginginkan bercinta dengan garong tidak tampan.

"Kadang aku ingin membelit leherku dengan kabel-kabel itu. Tentu enak, ya menjadi kucing. Orang-orang tidak berharap tinggi hanya karena kau pernah juara olimpiade fisika. Lalu, ketika harapan mereka kupatahkan, mereka kecewa dan marah. 
Bahkan sebelum aku marah dengan diri sendiri, aku sudah dimarahi," lanjutnya. Lalu kulihat ada air yang menetes dari pelupuk mata Mikola. Jangan! Aku tidak mau Mikola menangis. Aku tidak mau Mikola sedih! Dia sudah menyelamatkanku, dia manusia baik. Jangan! Mikola tidak boleh menangis. Aku hanya bisa mengeong dengan keras. Tanpa kutahu apakah Mikola tahu artinya adalah,"Jangan menangis, aku sayang padamu."

Mikola terlihat membuka sebuah botol, dan mengeluarkan banyak sekali pil. Mirip pil yang ia beri tiap aku flu. Tapi, aku hanya minum satu. Mengapa Mikola minum banyak sekali? Apa karena ia manusia?

"Terima kasih sudah membuatku lebih lama bertahan, Nikola Tesla-ku." Mikola meraihku, dan memelukku dengan erat. Ia berjalan ke tempat tidur, dan merebahkan dirinya di sana. Lalu meletakkannku di sampingnya. Mikola mungkin lelah. Aku akan menemaninya dan tidak akan mengganggu.

***

Mikola jahat. Mikola jahaaaat!
Mikola tidak tidur, Mikola tidur selamanya. Matahari sudah hilang ketika aku terbangun dan menemukan mulut Mikola penuh buih. Aku keluar lewat jendela dan memanggil tetangga Mikola, pria kamar sebelah pemilik persia cantik itu. Aku terus mengeong dan meminta Pria Kamar Sebelah melihatnya. Lalu, Pria Kamar Sebelah berteriak,"MIKO, KENAPA LU HARUS NYERAH? KENAPA HARUS MATI SEKARANG?"

Aku mengingat bagaimana benda di dadaku bertalu kuat begitu mendengar kata mati. MIKO TIDAK MATI. MIKO TIDAK BOLEH MENINGGALKANKU. AKU DENGAN SIAPA?

Lalu kamar kost Miko mendadak ramai. Raungan mobil putih berbunyi berhenti di depan rumah kost, mengeluarkan manusia yang kemudian membawa Miko entah ke mana. Itulah kali terakhir aku melihat Miko. Pria Kamar Sebelah sempat menenangkanku yang terus menerus mengeong. Ia pun membolehkanku tinggal di kamarnya bersama Si Persia Cantik. Sekalipun Si Cantik Dugong menggoda, aku tak niat bercinta karena begitu berduka.

Semua terasa menyedihkan. Aku seperti dihempaskan setelah hidup dengan damai. Kemarin, keluarga Mikola datang mengemasi semua barang lelaki itu. Mereka berniat membawaku, tetapi Pria Kamar Sebelah berkata bahwa surat yang ditulis Mikola berkata aku harus tinggal di rumah perempuan bernama Jane--- perempuan yang paling dekat dengan Mikola, begitu Pria Kamar Sebelah berkata. Hari ini Jane akan menjemputku, dan aku tak tahu bagaimana rupa wanita itu.

***

Seharusnya aku bahagia. Seharusnya, aku bahagia bertemu saudaraku yang ternyata tinggal bersama Jane. Aku terkejut ketika melihat perempuan itu berdiri di pintu, perempuan yang kulihat meraih saudaraku dan membawanya pulang. Seharusnya aku bermain bola benang dengan Alexander Volta---nama saudaraku yang juga fisikawan--- dan bukan merenung di balik jendela.

Mengapa Mikola meninggalkanku, padahal ia menyayangiku?

Mengapa Mikola meninggalkanku tanpa memberiku penjelasan apakah fisikawan itu sebenarnya?

Jika aku mati, apakah aku akan bertemu Mikola nantinya? Karena aku tidak bisa menjanjikan hidup dengan senang setelah ditinggalkan.

====END===

Lampung, 15 Januari 2021


#JustWrite

Tameo, aku menangis malam ini.

Agustus 08, 2020

Kadang-kadang aku sedih tanpa alasan. Kadang-kadang, aku bertanya-tanya mengapa aku sedih ketika tidak ada hal yang menjadi pemicunya. Sampai pada suatu hari, entah itu di IG live seorang psikolog atau webinar, si psikolog berkata,"Kadang, emosi yang kita rasakan hari ini itu delay. Sebenarnya, hal yang membuat sedihnya kemarin, kemarin lusa, tapi kita baru sadar hari ini."
Lalu aku berpikir, mungkin saja itu yang terjadi padaku. Ketika sebuah kabar duka datang, kadang aku hanya diam dan tidak merasakan apa-apa. Ketika nenekku meninggal, aku baru menangis sebulan kemudian karena aku baru teringat dan menyadari hal itu. Dan karena terlalu lama, kadang tidak semua sedih hari ini diketahui mengapa. Selain, aku memang menyadari bahwa aku tidak cukup bisa peka dan berempati dengan manusia ketimbang dengan hewan. :(
Aku menulis malam ini dengan perasaan sedih yang kusadari sebagai kesedihan karena Tameo meninggal 3 hari lalu, setelah sehari sebelumnya anaknya berpulang. Tameo yang beberapa hari demam tinggi sampai tidak bisa menyusui anak, napsu makan menurun, sampai ia kemudian susah makan. Aku ingat ketika aku memberikannya potongan daging mentah dan ia melahap mantap (karena di akhir-akhir hidupnya ia hanya mau daging beku, ikan setengah makan, ayam rebus) dan aku berkata,"Nggak apa-apa, Tameo harus makan enak. Tameo harus makan enak sebelum mati, nggak makan tempe-ikan aja. " 
Lalu adikku berkata,"Cici doain Tameo mati, bilang ini makanan terakhirnya?"
Aku menggeleng dan waktu itu berkata,"Nggaklah, maksudnya seumur hidup Tameo, dia juga makan daging." Lalu besoknya Tameo meninggal tiba-tiba, setelah malamnya makan dengan lahap, pup pada tempatnya, tetapi ia sudah terlihat lemah dan batuk-batuk.

Tameo adalah kucing yang pernah kumarahi karena ketika di kost, ketika semua anak kucing bisa toiletting dengan benar, Tameo selalu pipis di kasur, dan butuh diajari lebih keras.
Tameo adalah kucing yang sayang anaknya begitu rupa, sampai-sampai mencuri anak ayam tetangga dan membawakannya untuk bayi-bayi yang tak mengerti---dan anak bayi itu mati. Entah mengapa ia memang senang berburu. Lalu Tameo dikandangkan sebulan agar tak lagi mencuri anak ayam, dan untungnya berhasil.
Tameo sudah pergi, meski masih banyak kucing, tetapi tidak ada lagi yang masuk ke kamar untuk membangunkan terlalu pagi sambil mengabarkan bahwa ini waktunya sarapan, loh.

Dear Tameo, berbulan-bulan aku ingin menangis dan tidak kunjung bisa. Malam ini aku bisa menangis karenamu. Tentu saja lega bisa menangis, tetapi aku lebih memilih jika dirimu masih ada. Tapi aku ikhlas, kok. I'll try my best for you. I hugs you couple time and said,"Cici sayang Tameo."  So, i really love you cause i'm deeply loosing you, now.
Terima kasih sudah menemani saya menulis tesis, menulis Ikan Kecil, dan menemani saya sampai sekarang. I'm happy for feeding you everyday. I'm sorry for everything, Tameo. Kadang-kadang aku galak jika kamu mulai berulah. Aku akan menghabiskan tangisanku malam ini, dan akan mengikhlaskanmu.
Selamat jalan, Tameo. Selamat jalan...

#JustWrite

Bantu Kodok Itu Keluar dari Sarang Ayam!

Juli 17, 2020

Kadang, yang ingin saya lakukan hanyalah keluar dari tempat yang sejak awal tidak pernah saya inginkan tetapi dengan bodohnya saya datangi.

Kadang, yang ingin saya lakukan hanyalah mencari kedamaian, yang tentu tidak saya temukan di tempat yang sekarang.
Kadang, saya ingin dikelilingi orang bijak nan cerdas yang secara sadar dan tidak mendorong saya untuk menjadi demikian. 
Saya seperti katak diantara ayam-ayam, yang menunggu sekumpulan ayam itu menginjak hingga saya tiada. Saya butuh rumah baru, di mana saya tidak perlu cemas tiap harus berdekatan dengan ayam-ayam yang siap memangsa kodok kelabu kapan saja.

#JustWrite

Apakah terlalu berencana malah mendatangkan bencana?

Juli 13, 2020

Oke, beberapa hari yang lalu aku baca sebuah novel, Melankolia Ninna. Bercerita tentang sepasang suami istri yang sudah lima tahun menikah, tetapi tak kunjung mendapatkan anak dan tidak akan pernah mendapatkan anak karena di awal cerita, rahim sang istri diangkat. Lalu, ada sesuatu yang menarik yang membuatku jadi mengfungsikan otakku untuk bekerja dan bertanya. 
Apa overplanning (apa sih istilah untuk terlalu jauh berencana?) tidak selalu baik?
Apa Tuhan tidak ingin manusia berencana terlalu dalam? Ya, berencana bagus, tetapi yang berlebihan mungkin tidak baik.
Apa ketika kita mengejar sesuatu terlalu kencang, justru kita sedang berlari menjauhkan dari apa yang kita inginkan?
Apakah terlalu berencana malah mendatangkan bencana?

Aku berpikir demikian setelah menemukan kalau pasangan di novel tersebut, Ninna dan Gamal sudah merancang kamar bayi, membeli peralatan bayi, membuat boks bayi, bahkan ketika mereka belum memiliki tanda-tanda memiliki bayi. Hingga ketika mereka menemukan kenyataan bahwa tidak akan ada bayi dari rahim sang istri, patah itu semakin berkeping. Barang-barang perbayian itu terasa seperti pisau-pisau yang menghunjam-hunjam. Mungkin jadi terlihat seperti sepasang calon orangtua yang patah hati ketika bayinya meninggal padahal mereka sudah membeli perlengkapan bayi. Membayangkan bayi yang telah dikubur memakai jumpsuit, tidur di boks yang dibuat. Namun Gamal dan Ninna, tidak ada wujud nyata yang mereka bayangkan untuk tidur di boks atau memakai baju-baju itu. Apalagi, baju dan boks itu kemudian menjadi sumber pertengkaran mereka.

... aku jadi berpikir. Bahwa berencana secukupnya saja. Rencana yang berlebihan pun tidaklah baik, ketika harapan dan kenyataan tidak beriringan. Selama ini kusebenarnya pun tak punya banyak rencana dalam hidup karena planning kadang bikin pewning. Todolist harian saja tak semuanya tercontreng. Sudahlah racauan ini, racauan yang tidak kurencanakan di todolistku. Haha

#JustWrite

Noia, ini tentang datang, pergi, hilang, berganti.

Juli 13, 2020

Begini, Noia, akan selalu ada yang datang dalam hidup, meski mereka hanya orang-orang yang tak sengaja berpapasan di jalan, petugas swalayan di tempat yang mungkin tak akan kau kunjungi tiap hari, atau seseorang yang kemudian menjadikanmu teman, sahabat, kekasih, kerabat, atau musuh. Bumi berputar, manusia terus bergerak, tidak ada dari kita yang benar-benar diam. Sekali pun kau terbujur kaku di sebuah dipan pada bangsal rumah sakit, cepat lambat ada yang bergerak mendekatimu, perawat, dokter, petugas kebersihan, keluargamu.

Lalu Noia, seperti stasiun, di mana ada kereta yang berangkat dan tiba, ada yang datang dan pergi, begitu pula orang-orang di hidupmu. Entah kita yang meninggalkan, atau kita yang ditinggalkan. Entah dengan cara yang menyenangkan, atau menyakitkan. Entah untuk kembali, atau tiada temu lagi. Itu wajar, Noia. Saat pindah sekolah, kita meninggalkan teman-teman lama kita, dan berjumpa dengan yang baru. Sekali pun tak pernah ada niat melupakan teman-teman, terkadang kepergian yang merentang jarak pun memutus satu persatu jalinan. Menghilang.

Kadang, penjual jamu yang kita beli menghilang dari pandangan di tikungan. Kadang, kita lah yang menghilang dari hidup orang-orang dengan atau tanpa sadar. Kehilangan kadang menyakitkan ketika kita merasa memiliki atau itu adalah seseorang atau sesuatu yang berarti. Namun, kadang-kadang kehilangan bukan siapa-siapa tidak akan meninggalkan duka. Kau hanya sekali membeli tahu pada seorang bapak-bapak, lalu setelah itu ia tak pernah lagi menyinggahi rumahmu. Apa kau kehilangan? Mungkin tidak, bahkan mungkin tidak ingat. Sebab ada ibu bersepeda yang juga menjual tahu. Yang hilang kadang berganti, meski yang hilang kadang tak terganti.
Begitulah Noia, lepaskan orang-orang yang memang hanya ingin singgah. Tidak semua hubungan harus dipertahankan jika sudah tidak dapat diperbaiki, jika kau sudah tidak nyaman. Terkadang membuat renggang dan membuat jarak tidak mengapa. Justru kamu punya waktu untuk memikirkan arti mereka. Kadang, kita merasa orang-orang berarti bagi kita, tetapi bagi mereka, kita bukanlah siapa-siapa. Maka sabar, Noia. Mari kita lihat apa yang terjadi, bagaimana waktu akan menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Sebab hidup memang tentang datang, pergi, hilang, berganti.

#JustWrite

Maafkan Aku, ya

Juni 23, 2020

Hari ini aku banyak mendengar lagu-lagu yang kuputar dulu. Lagu yang kuputar SMA, kuliah, skripsi, tesis, sampai akhir-akhir ini. Satu hal yang aku tidak suka dari mendengar lagu adalah, setiap nada dan liriknya melemparkanku ke masa lalu. Meski lirik itu tidak berkaitan dengan yang terjadi. Sebagaimana Love of My Life-nya Queen membuatku teringat tumpukan jurnal dan tugas-tugas Pak Munawir. Atau Sepasang Kekasih Yang Pertama Bercinta Di Luar Angkasa yang membuatku teringat skripsiku.


Belakangan di daerahku hujan, deras. Pagi ke pagi hujan tanpa henti. Aku bukan tidak suka hujan, tapi hujan kerap membuatku bumbalipop. Hujan kerap membuatku kelabu. Sesuatu yang terjadi kini. Aku tahu aku menunjukkan sedikit gejala burn-out dan zoom fatigue, maka hari ini yang kulakukan adalah "bersenang-senang". Sayangnya, makin malam aku makin muram. Termasuk melihat sebuah buku yang kutulis tahun 2016 dan terbit di tahun 2017 (aku tidak menggunakan namaku sebagai penulisnya :)). Aku tidak jadi mengerjakan tugasku malam ini, yang terjadi adalah dadaku menyesak sampai aku berhenti pada satu pertanyaan, apa aku terlalu jahat pada diriku? Apa aku terlalu menekannya begitu rupa? Apa aku terlalu ingin menggapai yang tinggi hingga tiap aku jatuh saat melompat, aku patah berkeping-keping?  Apa aku memang harus selalu mendapatkan yang kumau tapi bukan yang kuinginkan? Apa aku... terlalu batu sampai tak ada lagi yang bisa kulunakkan? Apa aku terlalu batu sampai sejak berbulan lalu tak bisa meledakkan tangis dan menyimpan sesak tanpa sebab?

Diriku, maafkan aku. Aku tidak pernah membuatmu merasa baik-baik saja. Aku tidak pernah merasa cukup baik untuk apa pun. Aku terus mematahkan harapan yang pernah dibuat. Aku selalu merasa busuk tanpa menyadari bahwa kadang kau tidak sebusuk itu. Aku berkata bahwa aku menyayangimu padahal tanpa sadar terus menyakitimu. Ini tidak mudah, tetapi maafkan aku. Mari kita berdamai, sebab tiada tahu usia. Kita harus pergi dengan tenang, bukan?


#JustWrite

Ketika saya terus menanam, dan menulis terlupakan

Januari 20, 2020

Saya merasa begitu jatuh di akhir tahun 2018, dan terpuruk, dan patah. Hari-hari kembali suram dan kelabu. Sampai saya berpikiran bahwa saya perlu sesuatu untuk dijadikan pelampiasan. Menulis sudah tidak lagi menjadi pelarian karen terkadang menulis terlalu frontal di blog agak menyeramkan. Pun, ketika itu menulis fiksi tidak menjadi jawaban karena semua ide yang ada terlalu suram.
Dulu sekali, tiap saya merasa Bumbalipop, semua akan lepas kalau saya menulis bebas, meracau, membuat puisi mainan. Lalu, kalau sudah pada puncaknya, saya akan memotret malam-malam, atau memotret ke kebun sendirian. Sayangnya, ketika saya terhempas itu, menulis dan memotret tidak lagi bisa. Sampai saya tiba-tiba dibawakan beberapa batang stek krokot oleh mama dan biji zinnia. Berawal dari iseng, saya mulai menanam. Mossrose/krokot adalah tanaman yang mudah sekali bertumbuh dan membanyak hingga saya merasa bahagia bisa membuat tanaman tumbuh dan berbunga berkat tangan saya. Mereka mekar, mereka membanyak. Saya mulai membeli bibit warna lain, benih vinca, dan sebagainya. Menanam menjadi pelarian. Membawa cangkul mini dan ember untuk mencari tanah terasa seperti me time. Gunting adalah teman saya dan pot serta polibag punya bagian atas setiap  gaji yang saya terima.
Kalau tidak bekerja, saya akan bercocok tanam. Kalau libur, saya akan mencari tanah dan mereplant, menabur benih. Semua yang membuat saya lupa untuk menulis.

Sekarang, tepat setahun mungkin saya bercocok tanam. Kadang, saya rindu untuk menulis, tetapi saya pun tidak lagi tahu apakah saya masih bisa menulis fiksi atau tidak. Jari saya telanjur lebih suka bertemu tanah ketimbang laptop atau pulpen. Tulisan tangan saya menuju kehancuran 
Saya mungkin akan menulis lagi, tapi saya tidak tahu, bagaimana melemaskan jari yang telanjur mati di hadapan lembaran fiksi.

#Meracau

Bumbalipop datang pagi ini

November 13, 2019

Bumbalipop datang pagi ini. Saya merasa ingin meledak sebab lelah yang teramat sangat. Padahal, saya tidak melakukan hal berat, mungkin agak banyak saja, Saya merasa lelah dengan sekumpulan hal yang ingin saya lakukan, tetapi saya begitu payah menyelesaikannya. Sekalipun saya sudah menjauhkan dari gadget, internet, distraksi, tidak membuka satupun buku, tidak menulis apapun, tetapi kepala saya tetaplah berjalan-jalan sendiri. Dan saya semakin payah memulai dan menyelesaikan semuanya. Saya tahu, saya butuh istirahat dari semuanya. Saya butuh mengosongkan kepala saya dan membuat saya kembali bersemangat. Saya tahu, tetapi selalu tidak ada waktu.
Banyak hal yang ingin saya tumpahkan, tetapi masih banyak to do list yang harus saya kerjakan. Mungkin saya harus kembali meracau, entah di sini, atau saya simpan sendiri.

#JustWrite

Icus Si Kaktus

Juli 16, 2019


Hasil gambar untuk red cactus illustration

Icus adalah sebatang kaktus merah. Badannya bulat seperti bola. Seluruh tubuhnya dipenuhi duri-duri yang tajam.
Icus tinggal di taman kota. Tetangganya adalah pohon Tabebuya, bunga mawar, rerumputan, serta tanaman-tanaman lainnya.
Icus senang dengan matahari, dan ia benci hujan. Icus tidak membutuhkan air yang banyak. Jika terlalu sering tersiram air, Icus bisa kedinginan. Tubuhnya pun jadi lembek. Kalau sudah begini, ia bisa mati. Untungnya, Pak Boni, tukang kebun menyiram Icus 2 minggu sekali.
Sebenarnya, ia adalah kaktus merah yang cantik. Sayangnya, tidak ada sebatang tanaman pun yang mau berteman dengannya.
“Aku tidak mau dekat-dekat denganmu. Tubuhmu penuh duri. Daunku robek jika dekat denganmu,” kata Lilir, si bunga anyelir.
“Kenapa begitu? Rosea pun berduri sepertiku,” jawab Icus.
“Duri Rosea tak sebanyak kau, Icus. Ia pun cantik dan wangi,” jawab Lilir.
Icus tertunduk lesu. Ia benci duri-duri di tubuhnya. Duri-duri itu membuatnya tak punya teman. Tak ada seekor serangga pun yang datang dan hinggap di tubuhnya.
“Kau merugikan, Icus. Lihat, kupu-kupu itu! Mereka bergerombol menghisap madu milik Zinnia,” kata Lilir suatu hari. “Meski usianya pendek, Zinnia memberi lebah makan,” tambah Lilir. Mendengar itu, Icus semakin sedih.
Hari demi hari berlalu. Icus yang malang selalu sendirian. Tidak ada yang memerhatikannya selain Pak Boni. Hujan dan panas silih berganti. Sampai pada suatu waktu, musim kemarau datang.
“Kalian mungkin akan jarang kusiram, wahai tanaman. Kota kita kekeringan. Air begitu sulit didapatkan,” kata Pak Boni suatu sore. Musim kemarau yang panjang membuat sumur-sumur kekeringan. Kota menjadi panas dan gersang. Beberapa tumbuhan kering dan layu. Namun, tidak dengan Icus. Ia tetap sehat. Tubuhnya yang menyimpan air dan daunnya yang berupa duri membuatnya tetap segar di musim kemarau.
 Icus senang ia masih sehat, tetapi ia melihat teman-temannya menangis tersedu.
“Umurku mungkin tidak lama lagi. Daunku telah kering semua,” kata Rosea.
“Aku pun sudah lemas,” sahut Lilir.
“Kau beruntung, Cus. Duri-durimu ternyata membantumu bertahan hidup,” ujar Rosea lagi.
Icus terdiam, memandangi duri-duri di tubuhnya.
Hari berlalu, sudah berpuluh hari hujan tak turun. Pak Boni pun tak kunjung datang untuk menyiram taman. Satu per satu tanaman mati, menyisakan Icus dan Kakek Tabe, Si pohon tabebuya.
“Mereka semua mati,” kata Icus.
“Kau merasa sedih? Bukankah mereka pernah mengejekmu dulu?” tanya Kakek Tabe.
“Ya, tapi sudah kumaafkan. Aku tidak ingin sendirian,” kata Icus. Kakek Tabe mengangguk-angguk.
Suatu hari, seorang manusia berjalan-jalan di taman. Ia tampak sedih melihat semua tanaman mati. Namun, matanya berbinar ketika melihat Icus.
“Wah, kaktus ini masih hidup. Ia agak kurus. Mungkin aku bawa pulang saja daripada tidak terurus,” kata manusia itu.
Icus tidak bisa meronta ketika ia dimasukkan ke dalam tas si manusia. Ia melambai-lambaikan tangan pada Kakek Tabe.
Kini, di sinilah Icus tinggal. Di sebuah rak besi bercat putih di dalam sebuah pot kecil warna-warni. Si manusia menanamnya di pot dan ia letakkan bersama kaktus lain miliknya.
“Hai, aku Icus! Aku kaktus juga,” sapa Icus pada kaktus-kaktus lain. Semua kaktus merasa senang dengan kehadiran Icus. Ia pun merasa senang tinggal di sana. Meskipun, ia tetap merindukan Rosea, Lilir, dan Kakek Tabe.
***

#JustWrite

In Memoriam Cio Chihiro

April 02, 2019

Bahwa kepergian tanpa pertanda selalu melipatkan duka.
Foto terakhir Co
Saya tidak tahu mengapa saya kerap menulis di blog ini jika kucing saya tiada. Kadang saya pikir, dengan menuliskan salam perpisahan, saya akan mengikhlaskan. Maka hari ini,  selepas Cio pergi, saya membuka blog yang sudah jarang saya kunjungi untuk menulis segala hal yang mungkin bisa memudahkan saya mengikhlaskannya.
bayi Cio


bayi Cio
Namanya Chihiro, seperti nama anak di Spirited Away. Hanya saja Chihiro jantan. Karena nama itu begitu panjang, ia  dipanggil Cio. Cio lahir 12 September 2018 bersama Lulu, Popo, dan Poki. Poki sendiri terkena virus waktu masih 50-an hari dan meninggal. Sejak kecil, Cio tumbuh jadi kucing yang lucu dan menggemaskan. Manis, pintar dan manja. Namun, ia terserang jamur saat usia 2-3 bulan. Jamur yang bandel karena sudah hampir sembuh, tiba-tiba kembali. Jamur yang bikin buntut cio gundul dan beberapa bagian tubuhnya botok. Jamur yang bikin Cio nggak kelihatan lucu secara fisik. 
Dari belakang Popo, Lulu, dan Cio
Nggak hanya jamur, Cio juga kena semacam stroke setelah Poki meninggal. Dia jadi murung dan sedih terus. Susah makan, dan mukanya nggak happy lagi. Cio stres sampai kepalanya tengkleng, semacam miring ke kiri. Hal yang bikin dia nggak bisa nengok dan berputar-putar. Tapi sebulan belakangan, miring di kepalanya sudah nggak begitu. 
Cio sudah sembuh dari jamur sebulan ke belakang. Dia sudah suntik jamur di puskeswan dua kali, diberi salep, dan akhirnya sembuh karena dimandikan dengan bubuk belerang. Cio udah sehat, udah makan lahap, udah kembali happy.
Cio adalah jenis kucing yang penyayang. Dia sayang semua kucing, bahkan adik-adik bayinya pun di asuh. Pun, dia manja dengan kucing domestik yang seolah-olah jadi pengasuhnya dari kecil. Cio seperti anak kecil lucu yang selalu baik hati yang nggak ada dia, kerasa sekali.

Cio dan endorsement.
Biasanya, dia bakal duduk di bawah meja laptop dan duduk di keyboard kalau mulai cari perhatian. Biasanya, dia ngikutin ke kulkas untuk minta makanan apa yang bisa dia makan. 
Biasanya, dia minta buah-buahan yang saya makan karena dia suka. Cio suka durian, alpukat, sampai duku.
Biasanya, dia tidur sama saya. Menjilati kepala saya dan mengusap-usap kepalanya di kepala saya seolah saya kucing. Kalau sedang jahil, dia akan menggigiti hidung dan membuat kesal. Namun, beberapa minggu terakhir, Cio sudah bisa mengurangi kenakalan-kenakalan itu. Dia bisa tidur di samping saya dengan rapi. Masuk ke dalam selimut kalau dingin, dan membangunkan kalau pagi.
hari-hari ketika Cio mulai depresi.
Cio ngajarin saya banyak hal. Termasuk menerima tanpa syarat. Kalau menyayangi kucing nggak hanya ketika lucu, tapi juga mau urusin waktu keadaan kayak Cio yang mungkin kelihatan nggak menarik. Cio ngajarin untuk baik dan ramah. Dia selalu berlari ke pintu kalau ada siapapun yang datang dan berusaha dekat. Cio menemani saya di hari-hari saya merasa begitu kelam sejak akhir tahun dimulai. Di hari-hari saya gagal, depresi, dan merasa dunia gelap sekali. Ada banyak kucing di rumah, tetapi bisa jadi Cio yang paling dekat.


Pagi itu, 30 Maret, saya menanam bunga di belakang. Biasanya, Cio akan menemani saya. Duduk di sebelah dan mengganggu. Namun, pagi itu tidak. Cio tidak ada dan saya mengira ia bermain di kebun dengan Popo dan Lulu. Ternyata tidak, Cio tidak ada. Saya mengelilingi rumah berkali-kali. Mengguncang-guncang toples makan sambil memanggil namanya, tapi Cio tidak datang. Padahal, dia adalah yang tercepat datang jika dipanggil. Ibu saya mencari di Puskesmas, tidak ada. Saya semakin khawatir kalau-kalau ia masuk sumur puskesmas yang terbuka ---dan pada akhirnya saya tutup kemarin.
Saya ingat, saya bilang ke mama saya, saya yakin kalau Cio akan pulang.
Cio dan kambing-kambing 

Cio memang pulang, tapi berpulang pada Tuhan. Sorenya, Pap mencari lagi di puskesmas, dan di dalam kolam ikan puskesmas, di balik eceng gondok, ada Cio. Ada Cio yang tercebur dan sudah tiada. Ada Cio yang mungkin terjatuh dari pagar beling Puskesmas dan masuk ke kolam. Ia jarang keluar lewat pagar itu, tetapi mungkin ia naik ke sana dan ketika turun malah nyemplung. Keseimbangan Cio tidak begitu bagus karena kepalanya yang miring.
Sore itu Cio dikuburkan tetapi saya tidak ingin melihatnya. Saya nggak bisa bayangin gimana Cio kedinginan di sana, gimana dia meminta pertolongan tapi nggak ada yang menolong. Jika saja bukan Sabtu, pastilah petugas puskesmas yang biasa duduk di pinggir kolam mendapatinya. Sayang, Cio nggak tertolong.

Satu hal yang membuat saya sedih adalah, Cio sudah sembuh dan kembali bahagia, harus meninggal dengan cara yang menyakitkan. Cio sudah berjuang untuk kembali berbulu normal, dan ketika itu terjadi, ia malah dipanggil Tuhan.
Bulu Co mulai tumbuh.
Saya ingin berandai jika saja saya mengajak Cio menanam bunga dan tidak membiarkan ia mengganggu Mbah saya masak sampai akhirnya memutuskan pergi main lewat naik genting, mungkin Cio masih ada. Tapi seandainya itu jahat. Cio nggak akan kembali. Cio sudah pergi terkubur dan mungkin bertemu kembarannya, Poki. Cio sudah senang di sana.

Terima kasih untuk semuanya, Co. Maafkan kalau Cici sering galak kalau Co nakal, gigitin dan cakar kaki Cici. Cici sayang Co selalu. Semoga kita bertemu di kehidupan baru nanti. Semoga Cici bisa kuat kayak Co.
Sleep tight, Co.


Goodbye Chihiro. Tidur yang tenang, Co.

Popular Posts

My Instagram