#JustWrite

Hari Di mana Saya Bunuh Diri [Cerpen]

November 19, 2018


Inilah hari itu. Hari yang saya nantikan sejak semua yang saya lihat hanyalah samar dan buram. Hari di mana saya akan pergi dan tidak akan pernah kembali. Hari di mana saya akan ditemukan seseorang, diumumkan lewat pengeras suara masjid, dan gerombolan orang berbondong-bondong memasuki rumah saya. Mungkin, mereka akan berkata,’Sabar, ya!’ kepada kakak sayasatu-satunya manusia yang memiliki hubungan pertalian darah dengan saya. Tuhan sudah mengambil Ibu saya ketika saya dilahirkan. Adanya saya, ternyata petaka bagi Ibu saya, seakan pertanda kalau kehadiran saya memang bertujuan merusak segalanya.
Bapak saya pun tak lebih dari seorang tukang becak yang saya anggap sudah mati. Ia dihukum puluhan tahun penjara untuk hal yang saya tidak benar-benar mengerti. Mungkin becaknya membawa sekilo ganja. Bisa jadi ia membawa penumpang seorang ibu dan bayi hasil curian. Bisa juga, ia bertengkar dengan sesama tukang becak dan salah satunya meninggal di tangan Bapak. Saya tidak tahu mana yang benar, mungkin saja ada sebab-sebab lain. Yang mana semua itu tidak lagi menjadi penting ketika saya di sini bermaksud membicarakan tentang hari ini.
Mengenai hidup, saya selalu bingung sendiri. Saya nggak pernah meminta Tuhan untuk menghidupkan saya. Kepada Tuhan, mohon koreksi kalau-kalau ternyata pada zaman dahulu kala, saya adalah seekor sperma yang menjerit-jerit minta bertemu sel telur. Tapi benar, seingat saya, saya nggak pernah kok bilang, Tuhan, saya mau hidup dong. Kalau tahu adanya saya membuat Ibu saya tiada, mungkin Ibu saya akan menyuruh sel telurnya luruh sebelum waktunya. Atau, Ibu saya jangan-jangan sedang bersuka cita saat malaikat maut menjemputnya? Punya anak yang bentuknya tidak menarik macam saya mungkin akan membuatnya sengsara. Tapi, soal hidup, saya memang tidak mengerti.
Saya tidak mengerti mengapa saya ada. Tidak mengerti mengapa saya harus ada, juga tidak mengerti saya ada untuk apa. Bisa jadi saya diciptakan agar orang-orang kaya raya, mapan, pintar, cantik, molek, dan hidup nyaman jadi sedikit bersyukur. Orang-orang berwajah rupawan akan berkaca di ponselnya begitu melihat saya, lalu dalam hati mereka berkata, “Oh, gue lebih baik dari dia.”. Orang-orang kaya raya pun akan mensyukuri jejeran mobil yang ia miliki begitu mendapati saya yang hanyalah pejalan kaki. Juga mereka yang berotak cerdas, yang semula ingin menangis karena ulangan matematikanya mendapat delapan, akan tersenyum begitu melihat angka tiga di kertas saya.
Jika tujuan itu memang ada, mungkin saya diciptakan untuk membuat orang bersyukur dan sedikit takabur.
Seperti yang sudah saya katakan, bahwa ini hari yang saya nantikan, maka saya mandi dengan bersih. Saya habiskan seperlima sabun dari botolnya. Saya cuci rambut saya dengan dua sanchet sampo yang katanya wanginya tidak akan hilang sampai tujuh hari. Dengan artian, saat sudah dikuburkan selama tujuh hari, rambut saya tetap wangi. Saya juga sudah mengenakan baju terbaik saya, kemeja putih dengan gambar pohon kelapa. Juga saya kenakan celana pendek selutut warna hitam. Satu-satunya celana yang belum pernah dijahit ulang karena robek. Saya akan segera pergi, ke tempat di mana saya bisa mendapatkan segala kebutuhan yang bisa digunakan untuk mengakhiri apa yang tidak pernah saya minta untuk dimulai.
***
Tempat yang saya kunjungi adalah sebuah swalayan. Jaraknya entah berapa kilometer dari kontrakan saya. Untuk sampai ke sana, saya harus merogoh kocek empat ribu rupiah dengan angkutan kota warna kuning.  Kemudian, saya berjalan beberapa puluh langkah sebelum menitipkan ransel hitam yang sedikit sobek di ujungnya. Ransel itu kosong, tetapi akan saya isi begitu saya selesai membeli beberapa barang.
Pertama, saya menuju lemari minuman dingin. Saya mengambil sebotol yogurt yang hanya bisa saya minum sebulan sekali.  Sobat miskin seperti seperti saya manalah mampu meminum dua botol yogurt tiap hari. Sebulan sekali saja sudah suatu keberkahan. Pun, kakak saya sering menertawakan tiap saya meminum susu fermentasi itu lamat-lamat. Katanya, saya tidak pantas meminum minuman semacam itu. Namun, saya ingin minuman inilah yang ada di lambung saya sebelum saya tiada.
Lalu, saya berjalan ke rak berisi aneka obat-obatan pengusir serangga. Ada obat nyamuk cair, kamper, lotion anti nyamuk, kapur pengusir serangga, dan entah apa lagi. Manusia sering merasa terganggu dengan kehadiran serangga yang sebenarnya tak punya niat untuk mengganggu mereka. Saya kira, kecoa tidak pernah berniat mencuri gorengan manusia, ia hanya belum mengerti soal sistem kepemilikan. Sama halnya dengan nyamuk, manalah tahu ia kalau suara dengingannya bikin emosi. Nyamuk dititahkan Tuhan untuk menyedot darah manusia, lalu manusia marah jika mereka digigit nyamuk. Mengapa manusia tidak menyalahkan Tuhan saja? Oh, tentu saja karena pencipta surga dan neraka adalah Tuhan dan bukan nyamuk.
Untuk mengakhiri nyawa kali initerdengar seperti koki yang berkata ‘untuk masakan hari ini’, tidak?saya akan menggunakan obat nyamuk kertas. Obat nyamuk itu seharga seribu enam ratus rupiah per sachet. Di dalam satu sachet itu, ada sepuluh lembar kertas yang bisa dibakar dan mengeluarkan asap pengusir nyamuk.  Dengan inilah napas saya akan menyesak dan malaikat memanggil saya untuk menghadap Tuhan. Itu pun kalau Tuhan masih sudi bertemu dengan saya.
Ngomong-ngomong, alasan saya untuk mengakhiri hidup ini adalah karena saya sudah tidak punya alasan untuk melanjutkan hidup. Maksudnya, tidak ada satu hal pun yang tampak menarik untuk menjadi alasan bertahan. Masa depan sudah jelas begitu suram, keluarga tak ada, merah muda dan cinta adalah bedebah, dan bosan. Oh, capek. Menjalani hal yang tidak kamu inginkan begitu melelahkan. Jadi bisa dibilang, saya bosan dan capek untuk hidup.
Baik, soal asap obat yang dapat membunuh itu, sebenarnya saya dapatkan dari koran. Setelah menimbang-nimbang dengan cara apakah saya akan meninggalkan dunia ini, saya pun memilih obat nyamuk. Menggantung diri saya dengan tali tambang terdengar begitu mainstream. Seorang Pemuda Tewas Gantung Diri di Tiang Jemuran, judul macam ini sudah terlalu sering. Meminum cairan obat nyamuk? Saya kira itu agak menyakitkan karena matinya agak lama, belum lagi kalau ketahuan. Maaf, mengapa saya malah membahas cara-cara bunuh diri. Saya kan tidak mau mengajak-ajak orang untuk bunuh diri.
Koran yang saya baca sebulan lalu berjudul Satu Keluarga Tewas Akibat Obat Nyamuk. Ceritanya begini, mereka adalah satu keluarga yang sedang berjalan-jalan. Kemudian, mereka berhenti di halaman masjid untuk istirahat. Sebab banyak nyamuk, sang ibu membakar satu sachet obat nyamuk kertas. Bodohnya, sang ayah menutup rapat pintu dan jendela. Mereka pun tertidur hingga tidak sadar tertidur untuk selamanya. Sebenarnya, saya tidak tahu juga sih, apakah mereka ini berniat bunuh diri atau tidak. Orangtua sekarang kan banyak yang tidak waras. Misal, anak diajak melempar bom dengan iming-iming surga.  Saya rasa, apa yang saya ucapkan barusan tidak begitu penting.
Jadi, saya memiliki uang 60.000 rupiah. 5000 rupiah akan saya gunakan untuk membayar angkot, 9000 untuk membayar yogurt. Dengan demikian, 60.000 dikurang 5.000 dan dikurang lagi 9.000 sama dengan .... Baiknya saya tambahkan dulu lima dan sembilan, lalu saya buang nol-nol itu agar mudah dihitung. 5+9 =14. Jadi 60.000 dikurang 14.000 sama dengan 49.000.
Dengan uang 49.000, berapa sachet obat nyamuk yanseharga g bisa saya beli jika satu sachet 1.600? Ah, ya saya tidak perlu membeli korek api karena saya sudah punya dua kotak di tas dan beberapa lagi di kamar kontrakan. Empat sembilan dibagi enam belas terdengar rumit.  Mungkin saya tidak perlu menghabiskan uang saya. Sisanya bisa menjadi warisan saya untuk kakak saya. Jadi saya putuskan membeli 22 bungkus sebagaimana umur saya hari ini. Hari ini saya berulang tahun yang ke-22. Saya ingin orang yang menuliskan nisan saya nantinya sedikit terkejut karena tanggal lahir dan mati saya sama, hanya berbeda tahun saja.
Jadilah, saya berjalan ke kasir dengan 22 sachet obat nyamuk dan sebotol yogurt.
“Dua puluh dua, ya,” sahut kasir. Saya mengangguk, ia kemudian memencet angka dua sebanyak dua kali. Lalu muncullah angka 35.200 di layar
“Empat puluh empat ribu dua ratus rupiah,” sahut si kasir. Padahal, saya baru akan menghitung sendiri. Saya merogoh kantong, memberikan dua lembar uang dua puluh ribuan dan selembar uang sepuluh ribuan.
Lalu saya mengambil ransel hitam saya, memasukkan belanjaan ke sana. Saya teguk seperempat bagian yogort dingin itu. Segar. Langkah saya terasa begitu ringan, saya sudah tidak sabar bertemu Tuhan. Kaki saya terus melangkah, tinggal sedikit lagi saya menyeberang dan saya bisa menanti angkot menuju kontakan.
Saya membayangkan Ibu saya memanggil saya, memeluk dengan erat, dan ....
***

Dan rupanya Tuhan lebih tidak sabar untuk menjemput saya. Sebuah mobil sedan menabrak tubuh saya. Saya sedang membayangkan bertemu Ibu ketika tiba-tiba sesuatu yang teramat sakit saya rasakan. Lalu berganti rasa sakit lain yang membuat saya melihat orang-orang mengerubungi saya. Motor-motor seketika berhenti, dan si pengemudi sedan terlihat menarik-narik rambutnya frustrasi.
Ransel saya terlempar jauh, saya gagal membuat judul ‘Seorang Tewas Bunuh Diri dengan Obat Nyamuk’ di koran esok hari. Saya belum sempat menulis surat perpisahan untuk kakak saya yang sekarang menjadi benar-benar sendirian. Jikalau seseorang berbaik hati mengembalikan ransel yang terlempar itu kepadanya, tentu ia bingung mengapa ada 22 sachet obat nyamuk di sana.
Rupa-rupanya, saya memang hanya bisa berencana.

19 Nov. 2018

Popular Posts

My Instagram