#JustWrite

Ketika saya terus menanam, dan menulis terlupakan

Januari 20, 2020

Saya merasa begitu jatuh di akhir tahun 2018, dan terpuruk, dan patah. Hari-hari kembali suram dan kelabu. Sampai saya berpikiran bahwa saya perlu sesuatu untuk dijadikan pelampiasan. Menulis sudah tidak lagi menjadi pelarian karen terkadang menulis terlalu frontal di blog agak menyeramkan. Pun, ketika itu menulis fiksi tidak menjadi jawaban karena semua ide yang ada terlalu suram.
Dulu sekali, tiap saya merasa Bumbalipop, semua akan lepas kalau saya menulis bebas, meracau, membuat puisi mainan. Lalu, kalau sudah pada puncaknya, saya akan memotret malam-malam, atau memotret ke kebun sendirian. Sayangnya, ketika saya terhempas itu, menulis dan memotret tidak lagi bisa. Sampai saya tiba-tiba dibawakan beberapa batang stek krokot oleh mama dan biji zinnia. Berawal dari iseng, saya mulai menanam. Mossrose/krokot adalah tanaman yang mudah sekali bertumbuh dan membanyak hingga saya merasa bahagia bisa membuat tanaman tumbuh dan berbunga berkat tangan saya. Mereka mekar, mereka membanyak. Saya mulai membeli bibit warna lain, benih vinca, dan sebagainya. Menanam menjadi pelarian. Membawa cangkul mini dan ember untuk mencari tanah terasa seperti me time. Gunting adalah teman saya dan pot serta polibag punya bagian atas setiap  gaji yang saya terima.
Kalau tidak bekerja, saya akan bercocok tanam. Kalau libur, saya akan mencari tanah dan mereplant, menabur benih. Semua yang membuat saya lupa untuk menulis.

Sekarang, tepat setahun mungkin saya bercocok tanam. Kadang, saya rindu untuk menulis, tetapi saya pun tidak lagi tahu apakah saya masih bisa menulis fiksi atau tidak. Jari saya telanjur lebih suka bertemu tanah ketimbang laptop atau pulpen. Tulisan tangan saya menuju kehancuran 
Saya mungkin akan menulis lagi, tapi saya tidak tahu, bagaimana melemaskan jari yang telanjur mati di hadapan lembaran fiksi.

Popular Posts

My Instagram