#AnakKost

Packing. Sebuah ritual menuju pulang yang selalu buat pusing.

Desember 29, 2014

Saya akan pulang esok hari. Maka saya memutuskan memulai packing. Tidak banyak yang saya bawa, hanya kain, buku&komik (sekitar 10), pakaian dalam dan beberapa buah kaos. Ya,itu saja bersama gadget saya.
Saya masih bingung antara memakai carrier atau membawa tas kuliah dan 1 tas lain. Yang jelas, packing saya hentikan karena saya kebingungan. Karena ada beberapa barang yang belum bisa dimasukaan karena masih saya gunakan.
Baiklah saya harus tidur. Besok saya berencana ke perpustakaan, lalu membeli kudapan untuk pulang (karena beberapa saya makan -.-) dan packing benar-benar packing!

#JustWrite

Klewer, saya tahu kalian akan kuat

Desember 27, 2014

Masih sore, saat sebuat tweet akun promosi event di Solo mengagetkan saya. Klewer kebakaran. Ya, pasar yang baru kemarin saya datangi sekadar membeli selembar kain hitam dan kain motif burung di kios belakang. Saya pikir hanya kebakaran kecil, lalu berita-berita lain yang saya baca, yang menyebutkan banyak pemadam kebakaran diterjunkan kesana, bahkan water canon ikut serta. Dan konon api belum padam sekarang, meski hujan sempat bertandang
Sedih dan miris membaca tiap berita tentang Klewer. Saya rasa para pemilik kios yang terbakar sedih,cemas, dan kebingungan. Saya mengkhawatirkan mereka. Saya tahu yang berjualan di Klewer tidak semua pedagang besar. Tapi saya percaya, Tuhan memberi cobaan sesuai kemampuan umatnya, saya yakin, para pedagang di Klewer bisa bangkit dari keterpurukan.
Klewer mengingatkan saya pada hari dimana saya, Pinyot dan Uji ke Klewer bersama. Makan makanan yang saya lupa namanya dan diberi harga murah karena si Ibu kasian melihat kami bertiga, terlebih mengetahui saya dan Uji bukan orang Solo.Dan Ibu itu ingat anaknya yang juga kuliah di UNS. Si Ibu bahkan menambahnya kerupuk untuk kami. Ia mengajarkan untuk baik pada semua orang tanpa perlu kenal.

Saya nggak bisa berbuat banyak. Saya berdoa, semoga para korban kebakaran diberi kesabaran dan keikhlasan. Dan Tuhan mengganti apa yang hilang dengan cara-Nya. Amin

lirik

Clean Taylor Swift Lyric

Desember 26, 2014

The drought was the very worst
When the flowers that we'd grown together died of thirst
It was months, and months of back and forth
You're still all over me like I wine-stained dress I can't wear anymore
Hung my head, as I lost the war, and the sky turn black like a perfect storm

Rain came pouring down when I was drowning
That's when I could finally breathe
And that morning, gone was any trace of you, I think I am finally clean
There was nothing left to do
And the butterflies turned to dust they covered my whole room
So I punched a hole in the roof
Let the flood carry away all my pictures of you
The water filled my lungs, I screamed so loud but no one heard a thing
Rain came pouring down when I was drowning
That's when I could finally breathe
And that morning, gone was any trace of you, I think I am finally clean
I think I am finally clean
Said, I think I am finally clean

lirik

Burning Bridges lyric ( One Rupublik)

Desember 26, 2014



You and I were meant to be
Ain't no doubt about it
No way to hide that sort of thing
Now I’m waiting for something better
Ain't nothing better worth imagining

I, I keep on running
I’m building bridges that I know you never wanted
Look for my heart
You stole it away
Now on every single road that I could take
Listen, I want you to burn my bridges down
I said, I want you to burn my bridges down
Set me on Fire
You set me
Set me on Fire
You can burn my bridges down

puisi

Lenyapkan aku

Desember 26, 2014

Berlari ke hutan
Di kejar macan
Tewas diterkam tinggal namaku di batu nisan

Berjalan ke laut biru
Lepasjaket aku berenang
Dimakan paus biru
Aku hilang

Terserahlah
Lenyapkan saja aku sekarang

#Meracau

Saya

Desember 26, 2014

Saya mengantuk
Saya lapar
Saya masak nasi
Saya tidur
Saya bangun
Saya masih mengantuk
Saya minum kopi
Saya bernyanyi-nyanyi
Saya mencuci muka
Saya memasak nasi goreng
Saya tidak lagi mengantuk
Tapi saya sudah tidak lapar
Nasi goreng belum dimakan

#JustWrite

Tukang becak, ibu-ibu, dan lima belas ribu

Desember 26, 2014

Hari ini saya ke stasiun , mencetak tiket. Sebenarnya tiket bisa dicetak 1 jam sebelum keberangkatan, cuma untuk memberi rasa aman saya pergi ke stasiun tadi. Dari stasiun Purwosari, saya berjalan ke Solo GrandMall. Niatnya sih mau liat-liat diskon akhir tahun, tapi bukan itu yang akan saya bahas. Lelah berjalan dari Sta.Purwosari ke depan GM, saya memilih duduk sambil minum air putih dan mengudap 2 arem-arem yang saya beli di hik. Sambil makan saya memperhatikan jalan, hingga sebuah becak berhenti di depan saya, menurunkan seorang Ibu dan putrinya yang mungkin SMP atau SMA.
Tukang becak itu meminta 15 ribu. Saya sendiri kurang tahu dari mana mereka, tapi sependengaran saya si ibu menyebut-nyebut Paragon. Cukup jauh dan berpeluh untuk mengayuh becak di cuaca terik dengan 2 manusia di becaknya, ditambah si bapak sudah tua. Si Ibu tidak mau membayar seperti yang diminta si tukang becak, ia mengeluarkan uang yang saya sendiri kurang tahu berapa, namun sepertinya jauh dari lima belas ribu. Si Bapak Becak tetap teguh pada lima belas ribu dan si ibu kekeh nggak mau bayar segitu. Hingga si bapak becak mengayuh becaknya dan pergi meninggalkan ibu-ibu tadi. Bapak itu memilih tidak dibayar sekalian daripada dibayar rendah. Bapak itu mungkin kecewa, bisa saja si ibu adalah pelanggan pertamanya hari ini. Atau bapak itu sesungguhnya pergi lalu berharap si ibu mengejar dan membayar sesuai keinginannya. Entahlah, yang jelas saya miris melihatnya. Terlepas lima belas ribu itu kemahalan atau tidak.Si Ibu hanya kebingungan, lalu berkata,"Yoweslah," sambil memasukkan uangnya dan pergi. Tidak ada yang bisa membaca pikiran, jadi saya tidak tahu apakah si ibu merasa senang naik becak 'gratis' atau merasa bersalah.

Saya tidak bisa berbuat banyak, seperti di bioskop, kejadian itu sekelebat lewat dan saya hanyalah penonton. Bapak itu melaju kencang dan seketika menghilang bersama marahnya. Dan selepas ibu itu pergi para tukang becak lain berkomentar. Ada yang bercanda 'duitnya untuk aku saja', atau 'aku juga gak mau dibayar gak segitu'. Saya harap si bapak becak mendapat rezeki yang cukup hari ini, dan esok.

Satu pelajaran yang saya petik tentang naik becak, rundingkan harga sebelum pergi. Sebab kejadian tadi begitu tidak mengenakkan.


Ossy.
Perempuan yang duduk di bawah pohon sambil makan arem-arem tadi siang

#JustWrite

Mampus Kau!

Desember 25, 2014

Mampus kau dimakan hiu!
Laut ganas kau ajak bercanda
 Mampus kau dilalap api
Kerosin kau ajak mandi
Mampus kau digilas besi
siapa suruh tidur di rel kereta api
Mampus kau tak kenal diri
Siapa suruh menipu diri

#JustWrite

yang berlari lalu mati

Desember 25, 2014

kemudian runtuhlah semua
bersama yang padam
dan yang terbakar

dan kau berlari 
dari api yang membara tinggi
luka itu kau bawa pergi

sudah habiskah manisnya hidupmu?
hingga di ujung jurang kau membuat janji
bersama cahaya pencabut nyawa

#tweetentahkapan


#JustWrite

rrr...

Desember 25, 2014

Malam merambat, gelap menerjang waktu, habiskan 24 untuk memula baru. Bagaimana harimu ? Masihkah kau isi dengan lelah, peluh, keluh atau rindu yang menggebu ? Atau semua telah sirna bersama sesuatu yang berakhir ? Dan lautan rindu telah bertemu pasir-pasir pertemuan. Sudahkah kau pulang ? Selalu ada pulang dari sebuah datang.

Malam bersiap pergi, seperti aku yang menanti pagi. Untuk lima hari ke depan, aku akan menanti pagi lebih dari biasanya. Menghitung hari lebih teliti dari biasanya. Sebab aku akan kembali. Euforia bertemu mama papa kelak dan candu bermain bersama dua anggota O yang lain. Aku ingin kembali.

Akan apa aku, aku tidak tahu. Esok aku tahu akan kemana dan berbuat apa. Namun lusa, masih mengawang di angkasa. Sejujurnya aku ingin menulis lagi, namun ledakan itu meredup. Mungkin harus kusiram bensin badanku, lalu menyala, meledak, dan aku menulis sesuatu yang panjang, yang baru, dan lebih baik. Aku tahu tulisanku belum baik, buruk mungkin. Tapi peduli apa dengan monyet-monyet yang berkicau. Selama kritik hanya kritik tanpa membangun, tanpa saran, mungkin tak usah dipedulikan.

#JustWrite

POLWAN, MATA dan KAKI

Desember 24, 2014





POLWAN, MATA dan KAKI

Polwan hanyalah cita-cita fiktif yang bukan takdir gue.




Cita-cita pertama gue adalah jadi Polwan. Gini awal mulanya...
Gue TK 3 tahun. Gue betah banget di TK, sampai-sampai gue nangis waktu perpisahan karena gue enggak mau keluar dari TK. 3 tahun di TK, gue melewati 3 kali karnaval tahunan. Dan 3 kali itu gue selalu memakai pakaian Polwan. Gue yakin ini karena Mama dan Papa enggak mau ribet dengan membawa gue ke salon, memakaikan gue baju daerah yang beresiko tinggi membuat gue menangis karena tidak nyaman atau gue  takut melihat wajah sendiri ketika di dandani. Alhasil gue selalu memakai baju POLWAN yang dijahitkan tukang jahit langganan Papa, bahannya tentu bahan asli PDH POLRI. Dan rambut gue yang selalu di potong pendek kayak cowok, pas banget dengan topi polwan.
SD ternyata ada karnaval lagi saudara-saudara. Dan enggak ada baju lain yang gue pakai selain baju Polwan. Dari situ setiap orang bertanya ,” Ossy mau jadi Polisi kayak Papa ya?” gue selalu mengangguk. Karena gue enggak tahu gue mau jadi apa, jadi gue iya-iya aja. Gue yakin mereka mengira gue sangat berambisi jadi POLWAN sampai enggak ada baju lain selain baju itu.
Tapi sepertinya gue mulai menggeleng ketika gue tahu kaki gue enggak akan meloloskan gue jadi POLWAN. Ketika...
“Sy, kaki kamu kok kayak pinguin sih?”
“Ossy, jalannya yang bener dong!”
“Kakimu panjang sebelah ya?”
“Baris itu kakiknya lurus, jangan kayak istirahat di tempat!”
Dan ucapan-ucapan lain yang mengomentari kaki gue yang kece ini.
Ya, waktu SD gue mulai sadar bahwa kaki yang letter O dan sedikit panjang sebelah ini enggak akan meloloskan gue jadi POLWAN. Dan karena cita-cita jadi POLWAN hanyalah jawaban iseng,gue mengikhlaskan diri untuk melupakan semua tentang POLWAN.

Takdir enggak bakal jadi POLWAN juga di kode lagi sama Tuhan pas gue SMP. Ceritanya kelas 7 ada test kesehatan dan waktu test mata, inilah yang terjadi.
Gue berdiri dari jarak 6 meter, memandangi kertas test mata yang gue lupa namanya
“Ini huruf apa?” tanya tester.
‘Enggak kelihatan,”
“Maju,” dan gue maju selangkah.
“Ini?” tanyanya lagi. Gue menggeleng. Lalu gue disuruh maju, di tanya huruf apa, gue menggeleng lagi, ditanya lagi, menggeleng lagi. Gue jadi merasa bodoh karena enggak hapal alfabet. Hingga tepat di depan itu kertas , antara gue dan kertas itu hanya berjarak 40 cm lah
“Ini?”
“B,” ujar gue.
“Oke, besok kamu ke dokter mata atau optik ya! Kamu harus pakai kacamata,” sahutnya. Gue mengangguk dan mengambil kertas hasil test dengan malas. Teman sebangku gue juga terdeteksi mengalami gangguan penglihatan.
Akhirnya gue sampaikan kabar duka itu ke Mama Papa.
“Mungkin keturunan Mama,” kata Mama. Ya, si Mama pakai kacamata juga.
“Makanya, jangan suka baca sambil tiduran, baca di tempat gelap, blablabla,” komentar Papa. Dan gue cuma diam, tapi enggak berani menyalahkan kenapa harus ada majalah bobo dan buku anak-anak yang membuat gue rela merusakkan mata gue.
Enggak lama dari hari pemeriksaan sekolah, gue ke optik sama Mama.
“Kanan minus 4, kiri minus 2, silinder 1,” kata Om yang periksa mata gue. mama kaget, dia sendiri cuma minus 2 dan 3. Lalu gue pulang dengan memakai kacamata. Rasanya dunia terang sekali. Rasanya tulisan di papan tulis jadi lebih jernih. Dan rasanya, gue harus menghentikan berkata bahwa gue pengin jadi POLWAN. Toh, itu cuma cita-cita rekaan karena gue enggak punya cita-cita. Dan sekarang, gue harus menerima mata gue minus 6 dan 6.5.

#JustWrite

Menjahit baju

Desember 24, 2014

Saya jarang membeli baju. Kalaupun ya, yang saya beli adalah celana dan kaos. Selebihnya, saya membeli kain, menggambar sesuka saya (yang untungnya dimengerti tukang jahit), dan membawanya ke tukang jahit. 
Ada banyak alasan kenapa saya lebih suka menjahitkan baju

1. Saya kurang begitu suka dengan baju-baju yang beredar di pasar pada umumnya, kalau ada baju yang saya suka, harganya membuat saya mengelus dada.
2. Saya nggak suka disama-samain. Beli baju apalagi yang barangnya sangat pasaran bikin saya nggak nyaman.
3. Badan saya kurus. Daripada ngabisin 10-15 ribu untuk ngecilin baju, kenapa nggak sekalian saya jahitin baju aja ? 
4. Saya selalu gemes liat kain menggemaskan meskipun nggak membelinya. Setiap liat katalog baju di asos, modcloth, dsb yang ada dipikiran saya bukan membeli mereka, tapi menyimpan gambar-gambarnya, siapa tahu jadi inspirasi.
5. Lebih murah. Ini bagi saya ya. Emang sih tergantung kainnya. Misal kain katun udah lumayan bagus, semeter 22k, 1,5 meter 30ribuan, sama ongkos jahit 25k. total 55k. Ini lebih murah kalau saya beli rayon batik yang harganya belasan semeter tapi masih bagus atau beli kain katun polos atau motif kiloan. Sekilo 60-80 rb. Dan sekilo bisa dapat 6-7 meter. Bisa dapat 4-5 baju. 

Maka saya selalu beli kain dan membawa pulang tiap liburan untuk dijahit. Kadang saya pengin belajar menjahit, saya pikir saya bisa buat baju untuk saya sendiri. Saya bisa mengalihkan budget ongkos jahit ke beli kain lain. Tapi saya nggak yakin. Motorik halus saya buruk. Saya sadar itu. Selain itu saya nggak bisa motong dan menggaris lurus. Tapi saya pengin. Mungkin nanti. Akan saya pikirkan lagi.

#AnakKost

Selesai

Desember 24, 2014

Lembar jawaban Pkn dikumpulkan di meja dosen, wajah-wajah sumringah terpancar. Bukan karena UK yang open book, tapi kuliah telah selesai juga jadi alasan. Kuliah berakhir hari ini. Diawali mengumpul UK anatomi otak, paper Pkn, Laporan skala sikap untuk UK Pengukuran psikologi, pun hasil diskusi masalah untuk uk bimbingan klinis. Dilanjutkan UK bina wicara dan UK pengembangan kreativitas dan Pkn tentunya.

Kuliah sudah selesai. Semoga tidak ada remedial apapun. Benar-benar selesai. Namun jika statistik UK4 diumumkan dan saya remedial, sudah saya kerjakan lagi soal saya kemarin dengan penuh ketelitian dan saya titipkan Pinyot.

Mereka pulang hari ini, mereka pulang esok. Saya ? Saya pulang Selasa depan. Tiket sudah terbeli, sebab kemarin saya ingin membeli tanggal 25,tapi saya takut ada kuliah di tanggal 29 atau 30. Tidak mengapa, mungkin saya bisa menikmati me time atau sekadar jalan-jalan di Solo. ^,^

Kuliah sudah selesai. Semoga semua peluh,kerja keras, minggu-minggu penuh begadang, semua usaha dan pengorbanan saya terbayar dengan hasil yang memuaskan. Saya harap tidak ada penurunan hasil.

Selamat berlibur teman-teman @UsNeed12 ( fyi UsNeed itu singkatan UNS's Special Need Education)  Semoga liburan kalian menyenangkan. Kita bertemu lagi di semester 6. ^.^

#JustWrite

Perlukah berteman dengan bibi titi teliti ?

Desember 23, 2014

Rasanya saya selalu ingin marah pada saya sendiri tiap kali saya gagal di pelajaran berhitung karena ketelitian saya. Mungkin saya memang sedikit distrakbilitas, mungkin. Semester ini, UK 1 dan 2 statistik menghasilkan nilai nyaris tidak remedial dengan kesalahan pada salah hitung. UK 3 membuahkan hasil yang memuaskan (setelah sebelumnya jawaban saya salah hitung juga sih, tapi 5 menit akhir saya koreksi dan saya benarkan). Dan UK 4, tadi pagi, saya kembali tidak teliti. Ketika yang seharusnya saya tambahkan adalah rank-nya, malah saya tambahkan bedanya. Dan yang fatal lagi, soal nomor 2, saya sepertinya salah menyalin soal. Semua teman saya mengatakan ada 2 buah 63 disana, saya merasa tidak ada. Maka sudahlah, mau benar juga jawaban saya itu seakan nggak guna kalau soal saya aja jadi beda sekali.

Mungkin saya harus berteman dengan Bibi Titi Teliti. Mungkin saya jadi lebih teliti kalau berteman dengan dia. Sudahlah, saya harap hasil belajar saya semester ini baik, seperti semester-semester lalu. Saya sudah tidak tahu lagi bagaimana agar saya bisa lebih teliti. Kadang jatuh karena nggak teliti lebih menyakitkan daripada benar-benar nggak bisa ngerjain.

#JustWrite

Membaca petunjuk

Desember 22, 2014

Tadi siang saya menghitung hasil skala sikap yang saya sebarkan ke beberapa mahasiswa di perpustakaan, ya, itu tugas kelompok pengukuran psikologi.
Dari 20 orang, mungkin 3 atau 4 orang menjawab dengan cara diberi tanda centang atau checklist, sedangkan dalam skala tersebut kelompok kami menulis petunjuk untuk diberi tanda silang atau x.
Tidak, saya tidak menyalahkan mereka
Ya, itu memang tidak mempengaruhi jawaban.
Hanya saja saya jadi teringat dengan seorang guru di kelas 10 dulu. Sebut saja Ibu W, dia guru Sosiologi. Dia berkata bahwa membaca petunjuk pengerjaan soal,quisioner dll itu penting. Dia juga yang bilang kadang dalam test masuk kerja, cara kita menjawab soal menjadi tolak ukur. Saya pikir, itu hanya nasehat di awal pembelajaran di kelas 10 tapi tidak, Ibu sangat memperhatikan bagaimana muridnya menjawab soal. Mungkin agar kami terbiasa mengikuti petunjuk.
 Pada ulangan pertama saya mendapat nilai 50. Bukan karena jawaban saya. Tapi cara saya menjawab. Ibu W memberi petunjuk untuk menyilang, dan yang saya lakukan hanya memberi garis miring pada huruf a,b,c,d, atau e. Maka jawaban saya yang sebenarnya benar semua tidak membawa saya ke nilai 100. Dan teman saya, yang jawabannya dilingkari, bukan di silang atau 'nyaris silang' dapat 0 kalau tidak salah.
Ulangan lain pun begitu. Saya malas menulis adalah/merupakan/ialah dsb. Ada sih yang pake, tapi beberapa soal tidak. Yang jelas jawaban yang nggak pake keterangan apa yang saya jawab tidak dapat poin optimal.
Misalnya : Apa gajah itu ?
Seharusnya saya menjawab dengan gajah adalah.... tapi saya menulis mamalia bertubuh besar yang berbelalai. Saya pikir benar juga, kalau tidak ada soal diatasnya, yang baca tulisan saya nggak tahu saya jawab oke.

Oke, jadi, mari luangkan waktu membaca petunjuk.

#AnakKost

Hujan Ma, Selama Hari Mama.

Desember 22, 2014

Hujan, Ma. Sayangnya saya cuma punya Nescafe dan kopi hitam bukan kopi yang biasa mama minum. Tapi nggak apalah, tetap enak.
Katanya ini hari ibu, selamat hari ibu untuk Mama, meski saya percaya hari ibu itu tiap hari, karena mama selalu ada buat saya tiap hari.

Terimakasih ya Ma, sudah bersedia melahirkan saya. Abaikan pernyataan saya dahulu kala yang mempertanyakan kenapa saya yang lahir. Sekarang saya memilih berhenti bertanya. Terima kasih untuk semuanya. Saya salut Mama bisa berani menjadi seorang ibu buat saya, buat Obith dan Ovira. Sebab lahir ke dunia adalah takdir Tuhan, dan menjadi Ibu adalah pilihan.

Selamat hari Mama. Saya sayang mama.

#JustWrite

Saya Memilih Berhenti

Desember 21, 2014

Baiklah Tuhan, saya memilih berhenti.
Saya memilih berhenti mempertanyakan kenapa saya dilahirkan.
Saya memilih berhenti mempertanyakan kenapa saya harus hidup.
Saya memilih berhenti mempertanyakan akan jadi apa saya nanti.
Saya memilih berhenti mempertanyakan sampai kapan saya hidup.
Saya memilih berhenti mempertanyakan akan tinggal dimana saya setelah lulus nanti.
Saya memilih berhenti mempertanyakan apapun yang selalu saya tanya.
Tuhan, saya memilih berhenti.

Sebab saya tahu selalu ada karena dari mengapa.
Tapi saya tahu bahwa tidak semua tanya terjawab dengan jawaban, sebagian akan menjadi pertanyaan.
Sebab saya tahu tidak semua tanya hari ini terjawab saat ini.
Sebab saya tahu Tuhan baik, saya ada pasti untuk kebaikan.
Saya. Berusaha. Percaya.

Maka Tuhan yang saya sayang,
Saya akan melakukan apapun sebaik dan semampu saya.
Sebab saya percaya, apa yang saya lakukan hari ini menjadi sebab hal yang terjadi esok.
Sebab dengan berusaha menjadi baik, Tuhan akan memberi saya kebaikan.
Sebab saya percaya kadang jawaban ditemukan di saat perjalanan.
Maaf untuk itu semua yang saya lupa.

Dan sekali lagi, saya memilih berhenti bertanya. Saya percaya semua ada jawabannya.

#JustWrite

Saya tetap perempuan kan ?

Desember 20, 2014

Kalau saya tidak pernah menaburkan bubuk putih ke wajah seperti perempuan lain, saya tetap perempuan kan?
Kalau saya selalu menggunakan sneakers , saya tetap perempuan kan ?
Kalau saya tidak pernah memakai rok selepas lulus SMA, saya tetap perempuan kan ?
Kalau saya hanya punya ransel, ransel, dan ransel, saya tetap perempuan kan ?
Kalau saya buta soal make up, saya tetap perempuan kan ?
Kalau tidak pernah ada lipstik di bibir saya,  saya tetap perempuan kan ?
Kalau saya tidak pernah ke salon selain untuk potong rambut, saya tetap perempuan kan ?
Kalau saya tidak mengerti mengapa perempuan harus menikah, saya tetap perempuan kan ?
Kalau saya tidak berharap jadi ibu, saya tetap perempuan kan ?
Kalau saya suka sendirian, saya tetap perempuan kan ?
Kalau saya masih menstruasi, saya tetap perempuan.

#Imajinasi

Lelaki yang Menginginkan Tulang Rusuknya #cerpen

Desember 19, 2014

 
Gambar dari WiseGeek



Dan wanita berasal dari tulang rusuk lelaki. Maka Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan berpasangan, maka carilah tulang rusukmu lelaki. Karenanya...
Land menutup buku tebal bersampul linen merah yang ia ambil tanpa melihat judulnya tadi. Hari ini ia ke perpustakaan kota, bukan untuk membaca sebenarnya. Land hanya ingin lari dari kehidupan ruwetnya di rumah, di kantor, dan di klub sepakbolanya. Land memejamkan mata, perlahan-lahan ia menarik napas dan menghembuskannya. Otaknya bekerja, berusaha mencerna kalimat yang tadi dibacanya.  Lalu ponselnya bergetar membuyarkan pikiran. Land berjalan meninggalkan perpustakaan kota dan buku merah tua.
*
Maka sesungguhnya aku kehilangan rusukku. Tubuhku tak lengkap, aku tidak normal. Ya, aku cacat. Ada tulang yang hilang. Aduh, aku harus bagaimana ?. Suara-suara di pikiran Land terdengar. Sebaris kalimat di buku merah itu masih saja mengusiknya. Land memandang Ben, rekan kerjanya yang sedang menyesap kopi hitam.
“Ben, kamu sudah menikah bukan ? Bagaimana keadaan tulangmu?” tanya Land. Ben mengerutkan dahi, bola matanya kemudian bergerak ke kiri. Lalu tawanya berderai berganti Land yang kebingungan.
“Kumohon jangan tertawa Ben. Ini masalah serius, tulangmu hilang! Bukan,tulangku yang hilang.”
“Landon, itu hanya perumpamaan. Kiasan. Tulangku lengkap, buktinya aku bisa bergerak sesukaku, tidak ada kesulitan. Jadi jangan konyol!” sahut Ben sambil megangkat gelas kopinya lalu pergi meninggalkan Land bersama setumpuk kertas di tangan. Land mematung.
*
“Apa ? Kau rontgen segala demi memastikan tulangmu lengkap ? Gila... kau gila!” tutur Bu Posan, atasan Land setelah tahu lelaki berahang tegas dengan mata elang itu terlambat hari ini. Land pagi-pagi ke  rumah sakit swasta terbaik di kota untuk memastikan tulang rusuknya baik-baik saja.  
“Lalu bagaimana ? Jumlah rusuk kau kurang hah?” tanya Bu Posan lagi. Land menggeleng. Ya, lehernya bergerak ke kiri dan kanan. Tapi hatinya meracau, Land merasa kehilangan. Land merasa ia cacat sekarang. Bu Posan tertawa kecil, lalu dengan tangannya ia menyuruh Land kembali ke kubikelnya.
Land memandangi hasil rontgennya tadi. Tulangnya ada, tulangnya tidak hilang, dihitung sebelas kali jumlahnya tetap sama. 12. 12 pasang tulang rusuknya. 7 pasang rusuk sejati, 3 pasang rusuk palsu dan 2 pasang rusuk melayang.
Lalu darimana omongkosong lelaki kehilangan tulangnya? Lalu untuk apa menikah kalau tulangku tidak hilang. Lalu apa buku merah itu pendusta? Oh, aku harus segera kesana. Ya, membaca kembali buku itu.
“Aku izin ke perpustakaan kota,” sahut Land pada Bu Posan. Wanita gempal berkacamata bulat dan rambut keriting sebahu itu menyipitkan mata.
“Aku... ada buku yang harus kubaca. Sekarang.”
“Pekerjaanmu?”
“Sudah selesai semua. Ya. Sudah selesai semuanya,” sahut Land mantap. Bu Posan mengangguk, lalu dengan ujung jarinya ia mengisyaratkan Land pergi. Secercah senyum tersungging di wajah Land. Asal kau tahu, Land itu tampan!

Sesampainya di perpustakaan kota, Land menuju lantai tiga, mencari buku bersampul kain linen merah. Buku yang menguning dengan bau khas buku tua.
Dan wanita berasal dari tulang rusuk lelaki. Maka Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan berpasangan, maka carilah tulang rusukmu lelaki. Karenanya hidupmu takkan lengkap jika tulang rusukmu hilang. Carilah. Temukan. Dan kau akan lebih bahagia. Tulangmu itu ...
Land menutup lagi buku merah itu. Lalu menuruni tangga menuju lantai dua, mendekati rak buku-buku kedokteran. Mengambil setumpuk buku, tentang tulang belulang tentu saja. Diambilnya buku teratas. Sampulnya berwarna hijau bertuliskan ortopedi. Land membukanya perlahan, mencari bab tulang rusuk disana.
“Halaman 127... halaman 127,” ujarnya sambil membuka buku dengan cepat.
Tidak ada perbedaan antara tulang rusuk perempuan dan laki-laki. Semua manusia memiliki 12 pasang tulang rusuk, meski 5% manusia ada yang memiliki tulang rusuk tambahan.
“Tidak adakah informasi berapa panjang masing-masing tulang rusuk ?” Land bicara sendiri sambil mengambil buku kedua. Tidak ada keterangan panjang tiap rusuk. Ya, tidak ada. Semua buku tidak menjelaskan berapa panjang tulang rusuk, kebanyakan membicarakan panjang tungkai atau tulang paha. Dengan berat Land menghembuskan napas sebelum pergi pulang.
*
Land mengeluarkan penggaris dan meteran dari rak perkakasnya. Membawanya ke meja makan bersama hasil rontgen yang terbentang. Land duduk di depan gambar rusuknya, dengan meteran ia mengukur satu persatu tulangnya. Lalu Land menuliskan hasil pengukurannya di block note kucel.
“Aku merasa tulangku kurang panjang. Dan sepertinya memang ada yang hilang. Ya, harus kucari tulangku,” sahut Land memandangi deretan angka-angka yang ia tulis. Lalu sebuah ide terlintas, seringai mewarnai wajah Land. Kini ia tahu, apa yang harus dilakukan. Apa lagi kalau bukan mencari rusuknya yang hilang?

lirik

Can't Let Go - Landon Pigg

Desember 19, 2014



Well you're the closest thing I have
To bring up in a conversation
About a love that didn't last
But I could never call you mine
'Cause I could never call myself yours
And if we were really meant to be
Well then we just defied destiny
It's not that our love died
Just never really bloomed

Well I can't let go
No, I can't let go of you
You're holding me back without even trying to.
I can't let go
I can't move on from the past
Without lifting a finger you're holding me back.

puisi

Lempar Saja

Desember 19, 2014

Lempar sajalah aku ke bulan
Di Bumi aku bosan

Lempar sajalah aku ke laut
di daratan aku kalut

Lempar aku ke puncak pohon
di akar ku kini memohon

Lempar aku
Lempar aku
Lempar sajalah
Sudah jengah
Sudah sudahlah

19/12/2014
21 :08

#JustWrite

Aku tahu.

Desember 19, 2014

Aku benar-benar tahu, bahwa kita tidak bisa menyenangkan semua orang. Bahwa sebaik apapun kita, pasti ada orang yang tidak menyukai kita. Apalagi kalau kita buruk.
Aku tahu, kita tidak bisa menyenangkan semua orang, tapi aku lebih tahu bahwa itu bukan berarti kita tidak bisa menjadi orang yang menyenangkan. Bukan pula berarti menjadi manusia menyebalkan karena kita tidak bisa menyenangkan semua orang.

Semuanya, berawal dari menyenangkan diri sendiri. Tapi bukan berarti menjadi egois dan melakukan apapun yang penting kita senang. 
Semuanya berawal dari menjadi diri sendiri. Sebab menipu diri dan orang lain agar terlihat menyenangkan adalah kebodohan setolol-tololnya. Memakai topeng adalah wujud pengecut! Apalagi topengnya berlapis-lapis.
Semuanya berawal dari berusaha berperilaku baik. Kita bisa jadi jauh dari definisi orang baik, tapi berusaha berlaku baik adalah penting. Bukan untuk dibilang orang baik, tapi lakukanlah untukmu sendiri. Sebab jika kita baik, kebaikan akan mengikuti kita.

Aku tahu, berdekatan dengan orang menyebalkan membuat hati jadi kesal tak karuan. Maka kita perlu berusaha tidak menjadi menyebalkan, tapi ingat, lakukan apapun dengan tulus, tidak berlebihan dan dibuat-buat. Tidak menjadi menyebalkan juga bukan berarti membuat semua orang menganggap kita baik, sebab mampuslah kita melayani setiap orang agar dibilang baik dan menyenangkan. Sebab definisi baik dan menyenangkan beragam.

Introspeksi diri ketika orang-orang menjauh dari kita karena dicap menyebalkan mungkin perlu. Sebab orang lain kan yang melihat perilaku kita ? Tapi sekali lagi, filter ucapan-ucapan yang masuk. Tidak semua opini orang lain terhadap kita benar, sebagian salah. Maka jangan telan bulat-bulat, atau kita akan tersedak.

Bertemanlah dengan semua orang. Tapi bersahabatlah dengan orang-orang yang membuatmu nyaman dan menerima dirimu apa adanya. Tapi jangan lupa, mentang-mentang definisi teman dekat adalah 'menerima dirimu apa adanya', kamu jadi berlaku seenaknya. Ketahuilah, temanmu pun punya batasan menerima seseorang. Kadang terlalu menyebalkan bisa membuatmu perlahan dijauhkan dan bersiaplah kehilangan jika kamu tak merubahnya.

Aku tahu itu, sebab aku tahu, bagaimana orang-orang menyebalkan selalu ada di manapun kamu berada. Berusahalah tidak menjadi menyebalkan, tapi bukan dengan memaksa diri menjadi menyenangkan. Aku bukan orang yang baik, maka aku buka sok menggurui, aku hanya menuliskan yang ada di kepalaku, begitulah pemikiranku.



19 Desember 2014
Ossy Firstan

puisi

Mengenang Asu (Puisi dari Joko Pinurbo )

Desember 19, 2014

Mengenang Asu 
Puidi Joko Pinurbo 
 
Pulang dari sekolah, saya main ke sungai.
Saya torehkan kata asu dan tanda seru
pada punggung batu besar dan hitam
dengan pisau pemberian ayah.

Itu sajak pertama saya. Saya menulisnya
untuk menggenapkan pesan terakhir ayah:
“Hidup ini memang asu, anakku.
Kau harus sekeras dan sedingin batu.”

Sekian tahun kemudian saya mengunjungi
batu hitam besar itu dan saya bertemu
dengan seekor anjing yang manis dan ramah.

Saya terperangah, kata asu yang gagah itu
sudah malih menjadi aku tanpa tanda seru.
Tanda serunya mungkin diambil ayah.

(2012)



Entah mengapa saya suka puisi ini Pak JokPin :) 

#JustWrite

Sesal si Tua

Desember 18, 2014

Deras hujan membanjiri pagi
deru mobil mengeram tak henti
pada pelataran lelaki bungkuk terduduk
meringkuk bersama hati remuk
dalam diam menangis
senyumnya ikut mengiris

Kepalang tujuh puluh
mustahil muda gagah perkasa
takkan kembali si wanitanya
 bedebah dengan cinta  baru membara

sesal si bungkuk jadi sia-sia
sudah kepalang sudah 
umpama beras jadi bubur
dan nasi sudah jadi tai


#JustWrite

Pertanyaan untuk Para Bayi

Desember 17, 2014

Halo bayi-bayi yang baru saja merasakan dinginnya udara bumi hari ini. Bagaimana ? Perut Ibumu lebih nyamankah ? Kupikir begitu, itulah sebab kalian menangis. Konon aku tidak menangis ketika lahir, kupikir aku bingung mengungkapkan perasaanku saat itu hingga aku diam saja. Ah, kita kan tidak ingin membahas aku disini.
Hai bayi-bayi, ada yang ingin aku tanyakan padamu. Kalian baru saja lahir ke dunia, mungkin 9 bulan yang lalu Tuhan meniupkan ruh ke kalian. Apakah kalian masih ingat, bertanyakah Tuhan pada jiwa-jiwa kalian ? Bertanyakah Tuhan apakah kalian ingin hidup atau tidak ? Bertanyakah Dia ?
Sebab aku lupa.

Hai jiwa-jiwa yang baru bermekaran. Selamat datang di dunia, tempat dimana sesungguhnya aku tak pernah ingin benar-benar ada. Sebabnya kubertanya pada kalian, bertanyakah Tuhan padamu. Jika bertanya, kupikir hidup adalah konsekuensiku pernah menjawab "Ya" saat Dia bertanya mau hidup atau tidak Jika Dia tak bertanya, yasudahlah. Siapalah aku jika berhadapan dengan maha segala maha. Aku saja hanyalah mahasiswa yang diharuskan patuh pada mereka yang tak ber-maha di kampus.

Selamat merasakan bagaimana hidup bayi-bayi muda. Hidup itu patut disyukuri sebab kita sudah terlanjur ada.

#Meracau

Tulisan sebelum mengerjakan tugas. Hanya agar melek.

Desember 16, 2014

Malam. Mata saya meredup-redup dalam sunyinya malam. Saya baru saja bangun dari tidur satu jam. Tugas memberondong, sepulang kuliah saya tidur, bangun sebelum mangrib dan mengerjakannya. Namun saya lapar, saya makan dan kantuk berat datang hingga satu jam setelahanya saya memutuskan untuk tidur.

Saya sudah bangun. Mata saya masih menunjukkan tanda-tanda saya masih mengantuk. Entah sudah berapa hari yang terjadi adalah tidur tengah malam => bangun pagi => kuliah => pulang sore => tidur =>mengerjakan tugas hingga tengah malam dan terus-terusan bgtu. Bukan menunda tugas. Tapi tugas datang bersama layaknya pendemo yang menuntut harga bbm diturunkan. Mereka beramai datang dengan deadline sama dan berurutan. Ini konsekuensi kuliah awal-tengah terlalu SANTAI. Sekarang penghujung semester saya ngos-ngosan. Terserahlah, awas saja kalau setelah Natal masih kuliah juga. Konon ketua tingkat memadatkan agar libur cepat, menurut kalender kuliah terakhir 30 Desember.

Tante saya melahirkan tadi siang. Perempuan. Baguslah, cucu perempuan Mbah saya sedikit. Saya tidak tahu kapan saya menjenguk. Tugas seperti cecunguk yang harus saya bunuh. Lagipula saya ingin melihat bayi itu kalau dia agak besar sedikit. Saya kadang merasa bayi itu makhluk yang agak mengerikan. Entahlah dimana lucunya bayi baru lahir, saya juga nggak mengerti.
Saya harap term paper anatomi saya selesai malam ini. Lalu PPI saya dapat gambaran atau kalau perlu dikerjakan. Dan bimbingan klinis, saya dapat artikel yang bagus begitu. Udahlah. Semoga mata saya nggak merem terus.

#JustWrite

Bisakah

Desember 14, 2014

Bisakah aku meremas waktu?  Menyempitkannya
Biar aku tidur dan bangun tanggal tiga puluh Desember . Biar aku langsung berkemas dan berlari
kencang ke Purwosari

Bisakah Doraemon datang ? Mungkin dengan Nobita ia sudah bosan
Kuminta selesaikan anatomi otakku PPI-ku juga. Skala pun ikut serta
Tenang, tinggal itu saja. Lainnya sudah kulahap.

Jika tidak.
Bisakah aku lebih bersabar ?
Bisakah aku berkonsentrasi tanpa distraksi ?
Bisakah malas lari dariku?

Maka aku tahu. Jawabnya adalah Bisakah dengan 'kah' yang terbuang

#JustWrite

Belumkah ?

Desember 13, 2014

Belumkah kau temu arti adamu?
Sedang adamu untuk berarti
Belumkah kau jawab untuk siapa kau bertahan ?
Para penyayangmu menunggu disebut jadi jawaban
Belumkah kau mengisi pilihan akan menjadi ?
Dengarlah kode-kode Tuhan melengking tinggi-tinggi
Belumkah kau jadi berani ?
Hanya pengecut yang ingin bunuh diri
Belumkah kau pancang mimpi setinggi kelapa ?
 Mengejar mimpi kan jadi hidupmu bermakna

Belumkah kau tanya Tuhan ?
Mengapa kau masih hidup di tengah kata... belum


#JustWrite

Maafkan Saya. Lagi.

Desember 12, 2014

Pagi. Hujan membasahi besi pengaman balkon ketika saya menjemur selimut tadi pagi. Tidak, saya tidak akan membahas hujan dan matahari yang mulai merambat tinggi.
Nenek saya yang saya panggil Mbah baru saja pulang ketika saya menuliskan ini. Mungkin tak ada 10 menit ia ada di kamar saya. Dan seperti biasanya, saya hanyalah si batu yang menyesal kemudian.

Saya selalu kebingungan, ya, saya selalu bingung ketika ada keluarga yang mengunjungi saya. Saya bingung harus ngapain, berkata apa, ketika Mbah saya datang tadi. Hingga saya menyibukkan diri mengerjakan tugas saya. Saya bingung dan merasa tidak nyaman dengan situasi ini. Bukan saya tidak sayang mereka, bukan saya tidak suka kehadirannya, tapi entah mengapa saya tidak suka didatangi, sebab saya jadi bingung. S
Saya bingung jika tante saya datang, saya merasa risih jika sepupu saya mulai beraksi di kamar saya, atau om saya datang mengantar air dan mengajak ngobrol. Jujur, saya tidak suka situasi ini. saya tahu ini salah. Saya seperti makhluk jahat kalau begini. Sebab kadang mereka datang dan waktunya tidak tepat, saya merasa terganggu, kadang waktu yang saya siapkan untuk tugas dan lain-lain menjadi terbuang.Tapi saya merasa tidak nyaman, saya berharap mereka cepat pulang, lalu ketika mereka pergi saya menyesal berlaku seperti itu. Saya menyesal mengapa saya malah menyibukkan diri ketika mereka meluangkan waktu untuk menjenguk saya. Bahkan saya tidak terlalu suka ide orangtua menengok anak. Saya hanya akan bingung nanti, saya akan pusing sendiri dan tidak nyaman. Maka saya lebih suka saya yang pulang, dan meminta tidak perlu menengok-nengok saya. Percayalah, saya menjaga kepercayaan mereka. Saya hidup dengan lurus semampu saya. 
Ada hal yang saya takutkan sebenarnya. Saya takut menjadi manusia yang semakin individualis. Saya takut saya tidak butuh siapa-siapa, saya takut saya makin tenggelam dalam kesendirian dan pola hidup seperti saat ini. Saya takut itu.

Saya harap kalian mengerti saya. Maafkan saya jika saya kadang tak acuh dengan kehadiran kalian. Sebab saya tidak tahu harus bagaimana. Kunjungilah saya sesekali, sesekali berarti teramat jarang. Sebab saya tidak suka didatangi.
Sekali lagi, maafkan saya.

#JustWrite

Semester ini itu...

Desember 10, 2014

Semester ini terasa lambat. Semester ini cukup padat diawal, namun ditengah terlalu santai. Menyenangkan memang. Menyebabkan naskah yang saya coba tulis bisa selesai akhir September, lalu Oktober saya bisa membuat posting di blog UNS tiap hari dan menghasilkan reward blog terbaik kedua untuk cabang akademik. Namun, awal Desember berubah. Para dosen memberi tugas, UK-UK datang, baik take home dan on the spot (?). Praktek ini itu juga muncul. Dan parahnya hampir semua kelompok presentasi saya kelompok terakhir, untungnya tugas-tugas presentasi sudah dikerjakan tinggal menunggu presentasi.

Saya bukan orang yang terlalu suka bekerja kelompok. Saya suka. Tapi semester ini, terlalu banyak tugas kelompok, terlalu banyak kelompok, dan sedikit tugas individu. Semua yang keterlaluan tidak pernah benar-benar baik. Sepertinya, hanya di ujung-ujung inilah tugas individu berdatangan yang parahnya beramai-ramai.
Saya tidak ingin mengeluh, hanya bercerita saja. Mengeluh tugas banyak nggak akan membuat tugas saya selesai begitu saja.

Karena lambat, di tengah penuh kesantaian, saya jadi bingung dengan tanggal pulang. Tidak seperti biasanya yang bisa pesan 2-1 bulan sebelum. Saya baru pesan tadi untuk kepulangan tanggal 30. Ya, berdasarkan kalender kuliah selesai pada tanggal itu.

Saya harap saya bisa mengerjakan tiap tugas dengan baik dan semaksimal mungkin. Saya tidak ingin mengecewakan orangtua dan saya tentunya. Dan saya harap, kuliah selesai sebelum tanggal 30.

Sudah malam.

#JustWrite

Kawan. Untuk semua orang yang punya teman

Desember 05, 2014

Kawan, setiap dari kita punya privasi. Hal-hal yang memang disimpan untuk diri sendiri. Kadang bukan tak ingin berbagi. Tapi bukan manusia jika tak ada rahasia. Maka berhenti bertanya, tentang hal-hal yang tak akan kujawab, apalagi hal-hal yang akan Tuhan jawab suatu hari bukan hari ini.

Kawan, setiap orang punya hal-hal sensitif yang ia benci jika kamu menanyakannya. Maka jadilah sedikit perasa. Jika temanmu mendadak membeku dan datar menjawab pertanyaanmu, pergi jika kau bertanya, atau mendadak diam saja, hentikan bertanya itu lain waktu. Lupakan untuk menanyakannya. Sebab bisa saja itu hal yang paling ia benci. Sebab bisa saja itu hal yang tak ingin ia pikirkan sekarang atau selamanya. Sebab bisa saja ia tidak ingin mengorek masa lalu, masa kini, atau masa depan.

Kawan, ada kalanya berpikir lebih lama sebelum bertindak itu perlu. Sebab kata-kata tanpa dipikirkan bisa menjadi belati yang menghantam ulu hati. Kadang kita tidak sadar menyulut api, maka cobalah tanya ke diri. Akankah ada yang tersakiti jika kamu mengatakan sesuatu? Mari sama-sama berpikir dahulu. Sebab tidak semua orang batu, sebagian dari temanmu mungkin perasa tingkat dewa. Yang menangis hanya karena sebaris kalimat.

Jadi kawan, mari sama-sama jaga bicara kita. Sebab lidahmu belatimu

#JustWrite

29

Desember 04, 2014


Bahwa hidup hanya sekelebatan
Maka Dia suka ketidakgenapan
Akhiri aku sembilan tahun ke depan
Pengharapan

Sudah kukata sejenak adalah cukup
Asal berarti sebuah hidup

Dua puluh sembilan
Inginku sampai dua puluh sembilan
Tapi terserah Tuhan
Sebab keinginan dan kebutuhan kadang tak sejalan

#DesemberBulanBelajarBerpuisi
22;56
Ossy Firstan

#JustWrite

Untuk lelaki yang tulangnya kucuri

Desember 04, 2014

Lariku kencang
Tersungkur aku bangkit berdiri
Aku menjauh... pergi
Jarak makin terentang

Maaf sudah kucuri
Tuhan yang memberi
Kini tulangmu kubawa pergi
Rasanya tak ingin tulangmu kembali

Mungkin suatu hari aku berhenti
Mungkin kamu lelah berlari-lari
Jika ikhlas tulangmu akan kuberi
Tapi aku tak janji
Sebab inginku tulangmu kubawa mati
Sendiri
Pada suatu hari


4 Desember 2014
22:44
#DesemberBulanBelajarBerpuisi
Untuk lelaki yang tulangnya kucuri


#JustWrite

Lelaki, Perempuan dan Pencurian Tulang Rusuk

Desember 04, 2014

Lelaki. Makhluk yang pertama dicipta Tuhan. 
Perempuan. Makhluk yang dicipta Tuhan dari tulang rusuknya lelaki.
Tuhan bilang, manusia dicipta berpasangan. Maka ini berarti, setiap lelaki kehilangan tulang rusuk dan setiap perempuan adalah pencuri.

Jika perempuan adalah pencuri, maka hakikatnya perempuan harus bersembunyi, sebab selayaknya pencuri, ia tak mau mengembalikan curiannya. Jika lelaki yang dicuri, maka ia akan mencari tulang rusuk yang hilang. Maka benar jika ada yang berkata perempuan menunggu, lelaki mencari. Maka perempuan, hentikan melambai-lambaikan barang curianmu. Karena bisa saja tulang rusuk yang kau acung-acungkan itu bukan milik lelaki yang datang dan mengaku-ngaku. Mungkin saja dia malas mencari. Lalu ketika kau pasangkan sulit sekali, hingga kau menyerah dan sakit hati.

Kalau benar perempuan dan laki-laki diciptakan berpasangan, mengapa jumlahnya tidak imbang? Apakah ada satu lelaki yang tulang rusuknya dibagi-bagi? Lalu lahirlah istilah poligami. Ah, aku tak paham.

Apa yang terjadi jika seorang perempuan tidak ingin mengembalikan tulang rusuk seorang lelaki. Tidak berniat mengembalikannya pun memasangkannya. Perempuan yang ingin tulang rusuk curian itu hanya menjadi dan akan menjadi miliknya sendiri. Akankah lelaki memasangkan tulang rusuk milik orang lain? Meski tidak nyaman namun tetap akan dipasang asal terlihat lengkap tulangnya atau hidupnya.

Maka lelaki yang tulang rusuknya kucuri. Kuberi tahu ya, kusembunyikan tulangmu di bintang di angkasa luar. Bunuh dia jika kau mau mengambilnya. Aku tak berniat mengembalikan tulang rusuk yang kucuri. kumpulkan saja tulang-tulang ayam kalau kamu merasa kekurangan. Maaf aku bercanda.


Sebenernya lo nulis apa sih ci? -___-

Popular Posts

My Instagram