#JustWrite

untukmu yang sedang berduka,

Desember 27, 2018

untukmu yang sedang berduka,
Awan selalu kelabu, seiring hatimu yang tak secerah dulu. Ombak yang menggulung, menghempas, merampas, dan melibas habis apa yang ada. Beberapa kembali pada-Nya, beberapa menginap di bangsal rumah sakit dan yang tersisa kehilangan sanak saudara. Apa-apa yang hancur dan tak bersisa seperti mengisyaratkan bahwa kita memanglah tak punya apa-apa. Kita terlalu miskin untuk sekadar jemawa.
Hari ini hujan, deras. Seperti air mata yang tak henti merebas. Sepanjang tahun kita berduka, bahkan ketika kalender anyar baru saja dibuka. Alam memang sudah renta, dan kita terlalu banyak meminta. Padahal kita tak banyak memberi apa-apa.
Kalau hujan nanti berhenti, jangan terlalu berharap ada pelangi. Hidup sudah terlalu pahit untuk terus berkhayal terlalu tinggi. Hitam kita mungkin tak hilang begitu saja, sebab luka selalu butuh waktu, dan yang instan tak selalu bermutu.
Kita berduka, kita kelabu, kita membiru, tapi kita masih punya waktu. Setidaknya untuk minum susu.

27.12.18
Untuk Kalianda, Indonesia, dan semua yang berduka.

#JustWrite

Menumpuk Kesedihan

Desember 12, 2018

Semua yang ditumpuk berkemungkinan untuk menjadi buruk. Seperti baju kotor, piring kotor, atau pun kesedihan dan kecemasan. 

#JustWrite

Ocehan Tentang Novel 24

Desember 11, 2018

Foto dari MillyKitty Petstore
19 November lalu, novel kedua yang selesai kutulis—tulisan pertamaku yang selesai berjudul Odrei dan kumemutuskan untuk menyimpannya sendiri—akhirnya diterbitkan. Judulnya '24'.  Hari ini, kumemutuskan untuk berbicara sendiri tentang novel itu. Sebab sepertinya, terasa tak lengkap jika aku tidak mengoceh sendiri tentang buku pertamaku yang akhirnya diterbitkan.

Kenapa berjudul 24?

Sampai sekarang, aku masih belum bisa membuat judul dengan baik. Awalnya, 24 berjudul Biru dan Surat-suratnya, tetapi kemudian kuberpikir itu macam Biru punya banyak surat cinta yang dia simpan untuk calon-calon gebetannya. Kusempat berpikir memberi judul Langit Tanpa Biru. Namun, entah mengapa berakhir memberinya judul '24'. 24 sendiri adalah jumlah surat-surat yang Bi tuliskan sebelum ia meninggal. 24 juga umur Biru saat ia pergi meninggalkan dunia ini. Jadi, begitulah. 

Tentang apa 24 ini?

Katanya, ditinggalkan tanpa pamit adalah kehilangan yang paling sakit. Karena itu Ngit, jika pergiku tiba-tiba, bisakah kamu mengirimkan surat-suratku pada mereka? Aku minta tolong padamu untuk memberikan surat-surat itu kalau aku benar-benar pergi lebih dulu. (Potongan surat Biru kepada Langit)
Semua yang yang datang tiba-tiba memang selalu membuat manusia terkesima, apalagi kabar duka. Sebuah telepon di 17 Maret 2015 sore begitu mengagetkan Langit. Hati lelaki itu terpukul mendengar kabar Biru—kembarannya—ditemukan tidak bernyawa di dalam mobil yang terparkir di pinggir jalan raya. Sebulan setelah peristiwa duka tersebut, Langit menemukan peti berwarna hijau mint di bawah tempat tidur Biru. Peti berisikan 24 amplop surat, termasuk untuk dirinya. Surat untuknya berisikan salam perpisahan dan permintaan Biru untuk mengirimkan 23 surat lainnya. Di dalam hati, lelaki itu bertekad menjalankan permintaan terakhir kembarannya, berharap menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan besar yang tercetak jelas di otaknya.Mengapa Biru menulis surat-surat ini? Kepada siapa saja surat-surat ini dikirimkan? Adakah hubungan antara surat-surat ini dengan penyebab kematian Biru?


 Begitu Blurb-nya. 24 berkisah tentang Biru yang meninggal tiba-tiba. Nah, sebulan kemudian, kembarannya menemukan sepeti surat yang Bi tuliskan. Padahal, Bi ini paling benci menulis. Ini tentu saja bikin Langit penasaran. Kenapa anak ini nulis surat, isinya apa, untuk siapa, kenapa nulis surat dan lain sebagainya. Tentu jawabannya akan ditemukan kalau kamu membacanya haghag.

 Dari mana idenya?

   Awalnya, aku ingin menulis cerita tentang anak dengan ADHD, idenya sendiri kudapatkan saat sedang di kelas mata kuliah ADHD. Lalu, waktu itu aku sedang menggandrungi baca-baca soal OCD. Akhirnya, kumemutuskan untuk membuat cerita dua anak kembar, laki-laki dan perempuan. Anak perempuan itu ADHD dan si laki-laki OCD. Kupun pernah membaca bahwa bagian yang 'berbeda' pada anak ADHD dan OCD berada di tempat yang sama—sepertinya di limbik dan aku lupa >.<
Dan ya, kumenulis kisah mereka kecil. Beberapa bagian, yang akhirnya pernah kuposkan di sini (cerita-cerita dengan judul Kelas 4 dan Kelas 3) dan di sini (berjudul 6 yang tak tahu kapan selesai). Seminggu setelah aku menulis dua bab sepanjang 10k itu, aku membuka Pinterest dan tiba-tiba mendapatkan ide tentang menulis surat sebelum mati. Waktu itu tengah malam,kusudah mematikan lampu kamar, dan takbisa tidur sampai cerita awal-akhir selesai di kepala. Kuberpikir, seseorang harus menemukan surat itu dan dengan ikhlas mengirimkannya. Lalu kuberpikir soal saudara kembar, dan entahlah bagaimana akhirnya kumemutuskan anak perempuan ADHD dan anak lelaki OCD ini jadi tokoh di cerita surat-surat ini.  
Ternyata... kumenemukan posting saat mereka baru-akan-ditulis. Bisa baca di sini

Proses Penulisan

Kukadang merasa kalau kupenulis yang lamban, tapi kumenulis buku anak untuk tesisku selama sehari. Sebabnya, kumudah terdistraksi. FYI, sekarang kusedang menulis novel yang kumulai 1 Desember dan ingin kuakhiri sebelum Natal—keinginan yang seperti tidak tahu diri karena sudah tanggal 11 dan baru 4 bab. Namun, bukannya menulis, kumalah membuka blog dan mengoceh di sini. Padahal, kalau sedang fokus, kubisa menulis beberapa ribu kata sehari—yang sayangnya jarang sekali.
Baik, 24 kutulis pada Maret 2015. Baik cerita anak maupun memulai saat mereka dewasa. Namun, kuhentikan di bab 13 karena kuakan KKN. Selain itu, aku merasa lelah. Ya, wajar sih. Aku agak gila waktu itu. Berniat membuat 24 surat dengan 24 sudut pandang. Membuat 'suara' yang otentik untuk tiap orang itu sulit—dan kuberharap suatu hari bisa menulis dengan banyak sudut pandang cukup banyak.
Sejak kuhentikan karena mau KKN,  aku tidak menulisnya lagi, termasuk ketika kumencoba memposting bab-bab awal 24 di GWP—yang kemudian kuhapus —dan kupindahkan ke Wattpad dan Storial.
 Kumenemukan bahwa penulis pemula macamku tausah bunuh diri dengan menulis 24 pov dulu. Akhirnya, 24 kutulis ulang Juli/Juli 2016 dan kuakhiri 18 November 2016. Sempat kuperam dan tinggalkan sebelum kumengeditnya sendiri.
Juni/Juli 2017, kumengirimkan 24 ke Elex Media. Awalnya, aku sudah hopeless karena tidak kunjung mendapatkan jawaban. Tidak menyangka, 21 Desember 2017, Kak Afri mengirimkan email berisi 24 akan diterbitkan. Kudiminta self-edit sebelum akhirnya sekitar bulan Juli/Agustus, 24 mulai diedit dan akhirnya bisa terbit di bulan November.

kover 24

Harga: Rp58.800 Terbit: Senin, 19 November 2018 Halaman: 232

Doodle-doodle di kover 24 digambar oleh teman dekatku, sebut saja Pinyot a.k.a Opie Meilana (IG: opiedesu). Doodle itu ia gambar dalam waktu sehari. Ada peti, lembaran surat, alat tulis, kamera, hal-hal yang erat kaitannya dengan Biru. Warna mint green pun dipilih sebab itu sewarna dengan peti milik Biru. Kuharap kalian menyukai kover ini.

Apa yang mau disampaikan?

Ikhlas. Kadang, aku sulit untuk mengikhlaskan sesuatu. Menerima sesuatu yang kutaksuka, misalnya. Dan kupikir, itu salah satu hal yang ingin kusampaikan di sini. Yang lain-lain, mungkin bisa langsung dibaca saja---maafkan kemalasanku ini. Kuharap siapa pun yang membaca, bisa merasa ikhlas, terhibur, dan tidak merasa merugi sudah menghabiskan waktu untuk membacanya. >.<

Mengapa  kumemakai 'Ode' dan 'Ome' alih-alih mama papa, ibu ayah, dkk?

    Beberapa orang pernah bertanya demikian dan sebenarnya, iseng sadja. Kalau kumemakai ‘mama’ atau ‘papa’, ditakutkan aku jadi curhat atau malah memikirkan kedua orangtuaku yang bisa jadi cerita ini berubah entah menjadi apa. Ode dan Ome pun bukan bahasa manapun—sepengetahuanku sih. Jadi, Ode adalah ayah, di mana ‘d’ untuk daddy. Begitu pula Ome, di mana ‘m’ adalah Mommy. Aku tahu ini sedikit atau banyak memaksa.

 Omong-omong, 24 pernah masuk cerita pilihan mingguan di Storial.co pada Agustus 2016 dan masuk Daftar Cerita Istimewa di Wattpad. Mungkin kuharus sedikit senang dengan itu, meskipun sesungguhnya, kubukan penulis yang dikenal di platform mana pun haghag. 
Pada akhirnya, kuingin berterima kasih untuk semua. Untuk orangtuaku, keluargaku,  Kak Afri (editorku), teman-temanku yang kukenal di platform menulis itu, juga teman-temanku semasa sekolah dan kuliah. Tak lupa guru dan dosen selama kusekolah. Juga mereka yang pernah membaca 24 ketika kutaruh di platform menulis, juga para pembaca 24 dan para calon pembaca. Terima kasih banyak.
Jikalau ada pertanyaan, kritik, saran, kesan, dan semua yang berkaitan dengan novel ‘24’, jangan sungkan untuk menghubungiku di Twitter dan IG @ossyfirstan atau email ke halopluto@yahoo.com. Sekian, dan yuk #Jemput24 ^^


#JustWrite

Sekadar mengingatkan (Puisi)

Desember 08, 2018


yang sekadar semestinya hanyalah cuma-cuma
yang sekadar seharusnya seperlunya saja
di mana sekadar berarti seadanya
dan sekadar mengingatkan tak begitu bermakna
namanya saja sekadar saja
'sekadar mengingatkan'  tak begitu perlu untuk diingat
sebab yang sekadar tak seharusnya dicamkan kuat-kuat
dan kepada kaum 'sekadar mengingatkan', terkadang, diammu lebih bermakna daripada petuah mengingatkan yang hanya sekadar 
8.12.2018


Popular Posts

My Instagram